Latest Posts

JAGANNATH RATHA YATRA BATAM KE 5 MINGGU 24 DEC 2017
(01-NOV-2017)

he krishna karuna-sindho dina-bandho jagat-pate gopesa gopika-kanta radha-kanta namo 'stu te
O Sri Krishna yang hamba cintai, Andalah kawan bagi orang yang berdukacita, Andalah sumber ciptaan. Andalah tuan bagi para gopi dan Andalah yang mencintai Radharani. Hamba bersujud dengan hormat kepada Anda.

Latest News

TOP Commentators

Random Posts Thumbnail

Mahanila Store. Powered by Blogger.

MAHANILA STORE (HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM)

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll. Hubungi Kami di HP/WA: 0812-7740-3909

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)
Terimakasih Telah Berkunjung Ke Website Kami. Kunjungan Anda Berikutnya Sangat Kami Nantikan.

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

Cerita-cerita Rohani

cerita rohani weda

1. SEPASANG MERPATI
         Terdapatlah seekor burung merpati yang tinggal di hutan bersama istrinya. Dia telah membuat sebuah sarang dan tinggal di sana bersama-sama selama beberapa tahun. Pasangan merpati ini sangat tekun mengerjakan kewajiban rumah tangganya. Hati mereka terikat oleh kasih sayang, mereka terpikat satu sama lainnya dengan saling melirik, keindahan badan dan kata hati. Dengan demikian mereka terikat sepenuhnya satu sama lain dalam kasih sayang.
Merpati jantan dan betina begitu saling terikat sehingga mereka tah tahan terpisah bahkan sesaatpun juga disebut  dengan baghavad vismrti artinya pelupaan terhadap Tuhan dan keterikatan pada benda mati. Makhluk hidup memiliki cinta yang kekal untuk Tuhan, tetapi cinta itu terbalik menjadi kasih sayang material yang palsu ketika cinta itu berada di dunia material.
Apabila merpati betina menginginkan sesuatu apapun maka dia akan merayu suaminya dengan senyum dan kata-kata yang manis sehingga suaminya akan memenuhinya. Walaupun hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Merpati jantan itu disebut sebagai ajitendria atau orang yang tidak dapat mengendalikan indria-indrianya dan hatinya mudah luluh hanya dengan melihat wanita cantik.
Setelah beberapa waktu merpati betina hamil untuk pertama kalinya. Setelah tiba waktunya diapun menghasilkan sejumlah telur di dalam sarangnya. Tak lama kemudian anak-anak merpatipun menetas dari telur itu. Bulu-bulu dan badan anak-anak itu lembut sekali. Pasangan itu sangat sayang sekali kepada anak-anak mereka dan mereka bahagia sekali mendengar kicaunya yang menyenangkan. Perlahan-lahan anak-anak itu tumbuh semakin besar, sayap-sayap lembut mulai nampak, mereka bergerak dengan lugu di dalam sarang dan mereka mulai mencoba untuk melompat dan terbang. Melihat anak-anaknya bahagia, orang tuanyapun ikut bahagia. Hati mereka terikat oleh kasih sayang. Burung-burung bodoh itu sepenuhnya dihayalkan oleh tenaga Sri Visnu yang menghayalkan mereka terus merawat anak-anaknya.
     Pada suatu hari kedua merpati itu pergi mencari makanan untuk anak-anaknya. Mereka ingin sekali memberikan makanan yang layak untuk anak-anaknya sehingga mereka berkeliling kesemua hutan dalam kurun waktu yang lama. Pada waktu itu seorang pemburu yang kebetulan lewat di hutan melihat anak-anak merpati itu sedang bergerak-gerak disarangnya. Lalu dengan jalanya pemburu itu menangkap mereka semua. Sementara itu, orang tua merpati itu akan kembali kesarangnya setelah mendapatkan makanan secukupnya. Sang pemburu telah memasang jaring didekat sarang dan anak-anak merpati sebagai umpannya. Ketika merpati betina melihat bahwa anak-anaknya sedang tertangkap dalam jaring sang pemburu dia sangat sedih sekali dan tanpa pikir panjang dia berlari kepada anak-anaknya yang juga sedang  menangis.
Merpati betina itu selalu membiarkan dirinya diikat oleh tali-tali kasih sayang material, oleh karena itu dia sangat berduka sekali. Karena tenaga Tuhan yang menghayalkan dia sepenuhnya melupakan dirinya dan berlari kepada anak-anaknya yang sedang tak berdaya sehingga dengan segera di tertangkap oleh jaring sang pemburu. Melihat anak-anak dan istrinya, yang dia cintai melebihi napas kehidupannya sendiri, merpati jantan mulai meratap dengan hati pilu : "Oh, betapa malangnya diri ini, lihatlah, sekarang aku akan segera hancur saya bodoh sekali karena saya tidak melakukan kegiatan saleh yang benar. Saya tidak dapat memuaskan diri sendiri dan saya juga tidak dapat memenuhi tujuan kehidupanku. Keluarga tercintaku yang merupakan dasar dari keagamaanku, perkembangan ekonomi, dan kepuasan indria-indria sekarang hancur tanpa daya". Disini jelas bahwa merpati itu tidak puas dengan kepuasan indria-indria yang telah dia capai. Walaupun sepenuhnya dia telah terikat kepada istri, anak-anak dan sarangnya dia tidak dapat menikmati mereka secukupnya karena sebenarnya tidak ada kepuasan dalam hal-hal seperti itu. Oleh karena itu semua kasih sayang material burung itu hancur dalam jaring sang pemburu, dengan kata lain kematian mengkhiri segalanya.
"Aku dan istriku adalah pasangan yang ideal, dia selalu setia dan menuruti perintahku dan bahkan dia menerimaku sebagai deva yang patut untuk dia puja. Tapi kini, melihat anak-anak kita yang suci. Sekarang aku adalah orang yang merana tinggal di rumah yang kosong. Istri telah meninggal begitu pula anak-anakku lalu mengapa aku masih tetap hidup. Hatiku sedih berpisah dengan keluargaku sehingga hidup ini terasa hanya derita saja". Melihat semua kenyataan ini, dia menjadi kacau, pikirannya kosong dan akhirnya dia sendiri jatuh terperangkap dalam jaring sang pemburu.
Setelah memenuhi keinginannya dengan menangkap semua keluarga merpati itu sang pemburupun pulang ke rumahnya. Dengan cara demikian orang yang terlalu terikat pada kehidupan berumah tangga akan terganggu hatinya. Seperti merpati itu, dia mencoba untuk menemukan kebahagiaan dalam hubungan sex duniawi. Dengan sibuk memelihara keluarganya orang yang pelit dinasibkan untuk menderita bersama dengan semua anggota keluarganya. Pintu terbuka lebar bagi orang yang telah mencapai kehidupan sebagai manusia. Akan tetapi jika manusia hanya sibuk dalam mengurus keluarga seperti merpati yang bodoh itu maka dia dianggap bagaikan orang yang telah menaiki tempat yang tinggi kemudian mencoba untuk melompat dan akhirnya jatuh.*


2. PAKAIAN YOGI

      Ada seorang Yogi yang tinggal di tepi sungai. Dia hidup secara sederhana, hampir setiap hari dia mempraktekan latihan yoga, karena dia tidak punyai tanggungan lain maka dia punya banyak waktu untuk duduk dengan mata tertutup secara damai, dia bermeditasi pada Tuhan di dalam hatinya.
Pada suatu hari, setelah mandi di sungai, dia mencuci selembar kain satu-satunya yang dia miliki lalu menjemurnya di atas bebatuan di tepi sungai. Sambil menunggu pakaiannya kering, terlintas dalam pikirannya "saya sedang buang-buang waktu saja menunggu pakaian ini. Kalau saya punya selembar kain lagi, saya dapat memakainya"
Tiba-tiba seorang sadhu tua lewat. Sadhu ini bisa membaca pikiran orang lain. Dia berhenti dan berkata pada yogi muda itu, "anakku, saya tahu apa yang sedang ada dalam pikiranmu. Kau ingin menghemat waktu. Dari pada mengumpulkan benda-benda seperti itu secara berlebihan, lebih baik berbahagialah dengan apa yang telah kau miliki sekarang". Kemudian dia memberikan berkah pada yogi muda itu, lalu melanjutkan perjalanannya. Yogi muda itu mempertimbangka nasehat sang Sadhu, tetapi di memutuskan "kalau cuma selembar lagi pakaian saja kan bukan keinginan yang berlebihan ?". Kemudian dia pergi ke pasar untuk membeli satu kain pakaian lagi.
Pada hari berikutnya dia mandi sebagaimana biasanya, mencuci pakaiannya lalu menjemurnya di atas baju. Kemudian di memakai pakaiannya barunya yang bagus dan melakukan meditasi. Selesai bermeditasi dia kembali ke tempat jemuran pakaiannya, di sana di melihat seekor tikus telah melubangi pakaian tuanya itu. Pertama dia sedih tapi kemudian dia berpikir, "saya tahu ! saya akan mencari kucing untuk menghalau tikus ini". Sekali lagi dia pergi ke pasar dan membeli seekor kucing.
Dia melewatkan hari-hari berikutnya dengan bahagia dan meditasi dengan tenang. Akan tetapi ketika malam tiba kucing itu mengeong, mengganggu sang yogi. "Oh dia perlu susu", sang yogi mengeluh. Kemudian dia ke pasar lagi dan pulang membawa seekor sapi betina. Hari berikutnya berjalan dengan tenang sampai di malam hari sapi itu mulai menguak. "Saya tidak akan memerah susunya setiap hari karena terlalu menghabiskan waktu", pikir sang yogi.
Selanjutnya dia pergi ke suatu desa dan minta seorang gadis muda untuk dijadikan istrinya. Istrinya dapat mengurus susu untuk diberikan kepada sang kucing yang bisa menjauhkan tikus dari pakaian yogi tersebut. Setelah menikah sang yogi merasa bahagia sesaat. Pada suatu malam istrinya mengeluh, "Saya pusing memikirkan kau, sepanjang hari hanya meditasi saja, saya ingin sebuah rumah". Lalu sang yogi membangun sebuah rumah. Tapi istrinya kesepian, dia menginginkan anak-anak.  Demikianlah sang yogi itu semakin sedih setiap hari dan waktu meditasinya terus semakin berkurang. Dia selalu sibuk mengurus keluarga, rumah dan binatang-binatang peliharaannya. Suatu hari dia melamun merenungkan dirinya pada waktu hidup sederhana hanya dengan selembar kain lusuh. Tiba-tiba sadhu tua itu lewat lagi, dia tersenyum dan berkata, "saya tahu kau sedang murung, kukatakan lagi padamu bahwa lebih baik bahagia dengan apa yang kau telah miliki. Karena keinginan (napsu) terhadap benda-benda seperti tidak akan pernah berakhir.*




3. JARI  TELUNJUK  RAJA

Pada jaman dahulu hiduplah seorang raja dan menterinya. Walaupun raja itu kuat dan murah hati, dia memiliki watak yang sedikit keras. Meneterinya arif bijaksana, sabar dan taqwa kedapa Tuhan. Dalam urusan setiap hari, raja biasanya berfikir bahwa dirinya membuat segala sesuatunya terjadi sedangkan sang menteri mengerti bahwa segalanya karunia Tuhan. Walaupun ada perbedaan seperti ini raja tetap menghargai menterinya dan mereka bersahabat akrab.
Untuk melindungi warga negaranya dari serangan binatang yang berbahaya, raja dengan membawa busur dan anak panah sering berburu ke hutang bersama sekelompok kecil pasukan dan menterinya selalu menemani sang raja.
Pada suatu hari ketika mereka pergi berburu tiba-tiba seekor ular cobra yang besar menghadang kuda yang sedang ditunggangi oleh sang raja. Ular itu menyebarkan racun dari taring-taringnya. Kuda yang ketakutan itu meringkik sambil menaikkan kaki depannya ke atas melemparkan raja itu ke udara, lalu raja jatuh ke tanah di dekat ular cobra dan cobra itu segera menggigit jari telunjuk sang raja, kemudian ular itu pergi. Sang raja mengerti bahwa kalau jari telunjuk ini tidak segera dipotong maka racun cobra itu akan masuk dan menyebar keseluruh tubuh menuju ke jantung dan akhirnya akan membunuh raja. Tanpa ragu sang raja mencabut pedangnya yang tajam dan segera memotong jari telunjuknya.
Menterinya membalut tangan sang raja dan mencoba untuk menenangkannya dengan kata-kata yang bijaksana, "terimalah hal ini hanya sebagai karunia dari Tuhan, terimalah salah satu dari rencanaNya". Sang raja kecewa dan dia tidak dapat menghargai pandangan menterinya., "diam !" sahut raja. Tetapi menteri itu terus berbicara tentang karunia Tuhan sehingga raja menjadi sangat marah sekali dan dia memerintahkan prajuritnya, "Bawa kembali menteri yang bodoh ini ke kota dan penjarakan dia". Kemudian dengan mantap baginda raja melanjutkan acara berburunya hari itu. Walaupun dengan tangan terbalut raja terus berburu sendirian mencari binatang buas di sepanjang hutan yang lebat.
Tak lama kemudian sang raja ditangkap oleh segerombolan bandit. Mereka mengikatnya. Pimpinan mereka berkata kepada raja, "Ini hari mujurmu, aku akan mengorbankanmu kepada Devi Kali dalam pemujaanku. Tidak setiap hari beliau mendapatkan darah raja". Akan tetapi sang raja menganggap dirinya sangat sial sekali. Dengan terikat seperti itu dia tidak menemukan jalan selamat dari kematian berdarah di atas altar Devi Kali. Pimpinan bandit itu memerintahkan anak buahnya, "manusia yang akan kita persembahkan ini hendaknya dimandikan dengan bersih kemudian dibungkus dengan kain baru yang bersih". Ketika bandit melaksanakan perintah itu, salah seorang diantaranya berteriak, lihat, ada sebuah jarinya yang hilang", ketika memeriksa tangan sang raja, pimpinan bandit itu menjadi kecewa. "Kita tidak mungkin mempersembahkan manusia yang anggota badannya tidak utuh kepada Devi Kali. Kalian bodoh ! bebaskan dia, dan cari manusia lain. Tanpa diduga raja dilepaskan dari ikatannya lalu menunggangi kudanya dan berlari cepat kembali ke kotanya. Dia langsung ke penjara dimana menterinya ditahan, dia memerintahkan agar menterinya dibebaskan.
Kemudian raja memeluk menterinya dan dia meminta maaf, "atas karunia Tuhan aku telah kehilangan sebuah jari tanganku, dan sebagai akibatnya aku lepas dari maut kematian". Setelah menceritakan semua kejadian kepada menterinya raja diam sejenak lalu berkata, "aku masih bingung, kalu segala sesuatu yang terjadi karena karunia Tuhan, bagaimana tentang engkau yang dimasukkan ke dalam penjara ?".
Mentri itu menjawab, "kalau anda tidak memenjarakan saya, saya pasti akan bersama anda ketika anda ditangkap. Dengan melihat anggota badanku yang masih utuh pasti saya akan dikorbankan kepada Devi Kali oleh pemuja Kali itu".
Akhirnya raja dan mentri itu tertawa lebar, air mata membasahi wajah mereka. Bahagia karena masih hidup, mereka berdua setuju bahwa segala sesuatu adalah pasti karunia Tuhan.*



4. BENANG DAN SELIMUT
Daerah pegunungan terasa dingn di malam hari dan para peziarah mudah masih perlu waktu beberapa hari untuk tiba di sungai Gangga yang suci. Bagaikan daun-daun yang berguguran yang ditiup secara bersama-sama oleh angin, para peziarah itu bergabung dalam satu rombongan, mereka sering mendiskusikan ajaran-ajaran yang mereka dapatkan dari guru kerohanian mereka masing-masing.
Pada suatu malam, ketika mereka menjelang tidur seorang penziarah yang bernama Shivaraj berkata, "Guru saya mengatakan bahwa segala sesuatu adalah satu. Tidak ada perbedaan antara Tuhan dengan dunia atau antara Tuhan dengan sang roh". Ram das tidak setuju, kalau menurut guru saya tidak seperti itu. Beliau mengatakan bahwa walaupun segala sesuatu berasal dari Tuhan, tidak berarti bahwa segala sesuatu adalah Tuhan. Sang roh selalu tetap terpisah dari Tuhan. Itulah hayalanmu ! " Bantah Shivaraj, "Apabila setetes air masuk ke air laut maka setetes air tersebut menyatu dengan air laut. Keberadaan setetes air itu tidak ada lagi. Apabila kau mencapai pembebasan maka kau akan menyadari bahwa kau adalah Tuhan".
Terbalik itu, "jawab Ram Das, "Ketika sang roh memasuki dunia rohani sang roh hinggap pada sebuah pohon yang hijau, kelihatannya mereka menyatu, tapi baik burung parkit maupun pohon itu tetap terpisah. Begitupun pula bahkan setelah pembebasan sekali pun sang roh tetap terpisah dari Tuhan". Dengan cara seperti itu diskusi berlangsung selama satu jam lebih. "Saya tetap mengatakan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan", kata Shivaraj. Kemudian dengan mengambil contoh pakaian yang berada di dekat tempat tidur mereka, Shivaraj menambahkan "seperti kita menyebutkan pakaian kita dengan berbagai nama, apakah itu kaos, dhoti, sari dan lain sebagainya, tapi semua itu hanyalah benang saja". Ram das menggelengkan kepala. Dia tak percaya akan hal itu. Untuk membuktikan argumennya ini Shivaraj berkata, "lihatlah selimut ini, selimut ini tak lebih dari benang yang dianyam kesana kemari. Tidak ada perbedaan antara benang dan selimut.
Dengan tersenyum lebar, Ram das menarik dan melepas sehelai kain dari selimut itu, lalu dia segera berkata "kau bilang tidak ada perbedaan antara benang dan selimut ?" tentu !", jawab Shivaraj dengan keyakinan yang mengambang, "Guru saya sering memberikan contoh ini". Baiklah", Ram das tertawa, "mari kita tukar, saya akan mengambil selimutmu, kau sehelai benang ini, karena menurut anda benang dan selimut sama saja". Walaupun Shivaraj merasa enggan, tetep dia memberikan selimut satu-satunya itu kepada Ram das. Selanjutnya mereka tidur. Tetapi ditengah malam, Ram das dibagunkan oleh sebuah tepukan dipundaknya. Ternyata itu Shivaraj, "saya merasa kedinginan, bolehkah saya mengambil kembali selimut saya ?" "Oh tentu !", sahut Ram das, "Tapi apakah anda masih percaya bahwa segala sesuatu adalah satu".*


5. ASAL MULA ARJUNA DAN KARNA

     
         Dalam sejarah Padma Purana, Deva Brahma memiliki lima kepala. Kepala kelima ini menghadap ke atas dan bersinar dengan terang sekali sehingga para Deva merasa terganggu. Kemudian para Deva mohon bantuan pada Deva Siva. Deva Siva mendatangi Deva Brahma lalu memotong kelima kepala Deva Brahma dengan kuku jari tangannya. Tengkorak kepala Deva Brahma itu terus dibawa oleh Siva.
Deva Brahma menjadi sangat marah sekali kepada Rudra (Siva), kemudian dia mengambil keringat di keningnya dan membantingnya ke tanah, dari keringat itu muncullah seorang ksatria yang perkasa yang terhias dengan anting-anting, membawa anak busur, busur panah, dan memakai baju zirah. Kesatria itu berkata, "Apa yang akan aku lakukan ?" Brahma berkata "bunuhlah Rudra yang jahat ini sehingga dia tidak akan lahir lagi". Dengan busur dan anak panah yang terangkat ksatria itupun mendekati Rudra untuk membunuhnya. Melihat kepribadian yang mengerikan itu Rudra lari ketakutan menujut tempat tinggal Sri Visnu. "O Visnu, selamatkan aku dari orang ini, yang diciptakan Brahma. Lakukanlah sesuatu agar dia tidak membunuhku. Kemudian dengan tenagaNya yang menghayalkan Sri Visnu menidurkan ksatria itu. Di tempat yang tak terlihat oleh ksatria itu Rudra bersujud kepada Sri Visnu, berliau bersabda kepada Rudra, "O Rudra, kau adalah cucuku katakanlah apa yang kau inginkan".
Melihat Sri Visnu yang begitu cemerlang, Rudra menjulurkan tengkorak yang dia bawa kehadapan Visnu, "berilah aku sedekah". Kau adalah orang yang pantas diberikan sedekah", sabda Sri Visnu. Kemudian Beliau memberikan lengan kananNya. Siva memotong lengan itu dengan trisula yang tajam, dan dari lenganNya mengalirlah darah yang bagaikan emas cair. Darah itu mengisi tengkorak yang dibawa oleh Sambhu. Aliran darah itu berlangsung selama 1.000 tahun. Setelah itu Narayana bersabda kepada Sambhu, "Apakah tengkorak itu sudah penuh apa belum ?". "Tengkorak ini sudah penuh", jawab Sambhu. Setelah mendengar kata-kata Siva ini, Visnu menarik aliran darah dari lengan-lenganNya Pulih kembali.
Ketika diamati oleh Sri Hari, Siva sedang meremas darah itu dengan jari-jari tangannya dan terus memandang darah itu selama 1.000 tahun. Kemudian darah itu mengental dan menggelembung lalu tiba-tiba keluarlah seorang kepribadian yang terhias dengan mahkota di kepalanya, membawa busur panah, dengan bahu yang perkasa, tabung busur anak panah terikat di punggungnya, dia nampak bagaikan api yang cemerlang. Melihat kepribadian itu Visnu bersabda kepada Rudra, "O Brahma, siapakah orang ini (nara) yang telah muncul dari tengkorak ini". Siva berkata, "O Devata, orang ini bernama Nara, yang terbaik diantara orang yang mampu menggunakan senjata. Engkau telah memanggilnya Nara, maka dia akan dikenal sebagai Nara. Baik Nara dan Narayana akan termasyur dalam setiap jaman dan dalam pertempuran, dalam membantu para Deva dan melindungi orang-orang saleh. Oleh karena itu Nara ini akan menjadi kawan akrab Narayana. Nara akan membantu Anda dalam membinasakan para asura; dia akan menjadi Sri yang penuh pengetahuan. Dia akan menjadi penakluk di dunia.
Setelah berkata demikian Visnu dan Siva berdiri dengan rasa kagum melihat para Nara. Dengan mencakupkan tangan Nara mulai menyampaikan doa-doa pujian kepada Visnu dan Siva, "apakah yang harus saya lakukan ?", Nara menundukkan kepalanya. Nara berkata, "Brahma telah menciptakan orang yang membawa busur panah di tangannya, kau bunuhlah dia. Ingatlah orang itu sangat mengerikan, sekarang dia sedang ditidurkan oleh tenaga Sri Visnu menghayalkan, bangunkanlah dia segera". Setelah berkata demikian Nara menghilang.
Selanjutnya Nara dan Narayana mendekati tempat dimana ksatria yang diciptakan oleh Brahma itu sedang tidur. Nara menendang orang itu dengan kaki kirinya sehingga dia terbangun dan keduanya terlibat dalam pertempuran yang dahsyat. Pertempuran itu berakhir dengan kekalahan ksatria ciptaan Brahma. Selanjutnya Madhusudana pergi ke Brahmaloka dan bersabda, "O Brahma, kepribadian yang lahir dari keringatmu sekarang telah ditaklukan oleh kepribadian yang lahir dari darahKu". Mendengar hal ini Brahma merasa sedih sekali. "O Hari, tolong hidupkanlah anakku ini lagi", Brahma memohon. "Baiklah", sabda Sri Visnu. Beliau kembali ke medan pertempuran dan setelah menghidupkan ksatria itu Sri Visnu bersabda kepada mereka berdua, "Dalam periode antara Kali dan Dvapara juga kalian akan lahir dan pada waktu itu akan terjadi pertempuran. Atas kehendakKu kalian akan berhadapan lagi untuk bertempur."
Selanjutnya Sri Visnu memanggil Deva Matahari, dan bersabda, "O Matahari, diakhir dvapara yuga turunkanlah kepribadian yang lahir dari keringatnya Brahma ini ke bumi. Atas karunia Durvasa Muni, Kunti Devi akan memanggilmu dan pada waktu itu berilah di anak ini walaupun Kunti belum menikah". "Baiklah," jawab Deva Matahari." Pada masa gadisnya saya akan memberikan Kunti seorang putra yang akan dikenal dengan nama Karna. Dia akan sangat dermawan sekali, apapun yang diminta oleh para Brahma pasti akan dia berikan". Lalu Deva Matahari mohon pamit dan menghilang.
Akhirnya Sri Visnupun memanggil Indra dan bersabda, "O Indra, Nara ini lahir dari darahKu, lahirlah dia ke bumi diakhir dvapara yuga melalui Devi Kunti setelah dia menikah dengan Pandu. Anak ini akan bernama Arjuna. Aku juga akan turun ke bumi untuk menjadi kusir kereta Arjuna, disamping itu pula Aku akan menghancurkan keluarga Kuru" Indra berkata, "Baiklah, saya akan melaksanakan seperti yang Anda perintahkan". Setelah mendengar kata-kata Indra, Sri Visnu kemudian menghilang.*


6. PARASURAMA

Adalah seorang raja bernama Gandhi, yang mempunyai seorang putri yang bernama Satyavati, seorang Brahma yang bernama Rcika menimang putri ini untuk dijadikan istrinya. Akan tetapi, baginda raja menganggap Rcika tidak pantas untuk putrinya, oleh karena itu raja berkata kepada Brahma itu, "Tuhan yang baik hati, aku berasal dari dinasty Kusa. Karena kami adalah ksatria bangsawan, maka anda harus memberikan mas kawin kepada putriku. Oleh karena itu bawalah setidak-tidaknya 1.000 ekor kuda yang bersinar seperti sinar bulan dan masing-masing memiliki satu telinga hitam, baik telinga kiri maupun kanan". Dengan tuntutan baginda raja yang seperti ini, Rsi Agung Rcika dapat mengerti isi hati sang raja. Oleh karena itu, dia pergi kepada Deva Varuna untuk meminta 1.000 ekor kuda seperti yang dituntut oleh raja Gandhi. Setelah memberikan kuda-kuda ini, Rsi Rcika menikahi putri raja yang cantik itu. Selanjutnya istri Rcika Muni dan mertua perempuannya masing-masing menginginkan seoerang putra, lalu mereka memohon kepada sang Muni untuk menyiapkan sarana persembahan untuk mendapatkan putra. Dengan demikian Rcika Muni menyiapkan satu pesembahan untuk istrinya dengan mantra brahmana dan satu persembahan untuk mertua perempuannya dengan mantra Ksatria, setelah itu sang Rsi pergi mandi.
Sementara itu, karena Satyavati mengira bahwa persembahan untuk putrinya tentu lebih baik, sehingga dia meminta persembahan yang dimaksud untuk putrinya itu. Oleh karena itu, Satyavati memberikan persembahan untuk dirinya kepada ibunya dan memakan persembahan yang dimaksud untuk ibunya, (mereka saling tukar persembahan dan memakannya). Ketika Rsi Agung Rcika kembali dan mandi dan mengerti apa yang telah terjadi pada saat dia tidak ada dia berkata kepada istrinya, Satyavati, "Kau telah melakukan kesalahan yang besar, putramu akan menjadi Ksatria yang ganas dan kejam, dapat menghukum siapapun saja, dan ibumu akan memperoleh putra putra yang terpelajar dalam pengetahuan rohani". Akan tetapi, Satyavati dapat menenangkan Rcika Muni dengan kata-kata yang lembut. Satyavati mohon kepada suaminya agar putranya tidak menjadi seorang Ksatria yang ganas dan kejam. Rcika Muni menjawab, "Kalau begitu. Cucumu yang akan menjadi Ksatria seperti itu". Setelah beberapa lama, Satyavati pun melahirkan putra yang bernama, Jamdagni. Selanjutnya Satyavati menjadi sungai Kausiki yang suci untuk mensucikan seluruh dunia, dan putranya Jamdagni menikah dengan Renuka, putri Renu. Dari kandungan Renuka, Jamdagni mempunyai banyak putra yang dipimpin oleh Vasuman. Putra termuda bernama Rama atau Parasurama. Para sarjana yang terpelajar menerima Parasurama sebagai inkarnasi Sri Vasudeva, yang menghancurkan dinasty Kartavirya. Parasurama membinasakan semua Ksatria dimuka bumi ini 21 kali. Ketika raja-raja menjadi terlalu sombong karena pengaruh sifat nafsu dan kebodohan, tidak taat kepada dharma dan tidak mengindahkan hukum yang ditetapkan oleh para brahmana, Parasurama membinasakan mereka. Walaupun kesalahan mereka tidak begitu berat, namun Parasurama membunuh mereka untuk mengurangi beban bumi.
Raja Pariksit bertanya pada Sukadeva Gosvami "Kesalahan apa yang dilakukan oleh para Ksatria yang tidak bisa mengendalikan indria-indrianya, kepada Parasurama inkarnasi kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sehingga beliau menghancurkan dinasti para Ksatria berulang kali ?" Sukadeva Gosvami berkata, "Ksatria terbaik, Kartaviyarjuna, raja dan daerah Maihaya memperoleh 1.000 tangan dengan memuja dattatreya, ekspansi Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Narayana. Dia juga tak terkalahkan dan memperoleh kekuatan indria yang tak terhalangi, ketampanan, pengaruh, kemasyuran, kesaktian bhatin untuk mendapatkan segala kesempurnaan yoga, seperti anima, dan laghima. Demikianlah setelah penuh kemewahan seperti itu, dia mengembara keseluruh alam semesta tanpa halangan bagaikan angin. Pada suatu hari, ketika sedang menikmati dengan dikelilingi oleh banyak wanita cantik di sungai Narmada, Kartaviyarjuna yang sombong berkalungkan kalungan kemenangan menghentikan aliran sungai itu dengan lengan-lengannya. Karena Kartaviryarjuna mengubah aliran air ke arah yang berlawanan sehingga membanjiri perkemahan Rahvana yang berada di tepi sunga Narvada, dekat kota Mahismati. Kejadian ini tak bisa dipertahankan oleh Rahvana yang berkepala sepuluh yang menganggap dirinya sebagai pahlawan besar. Ketika Rahvana mencoba menghina Kartaviryarjuna di depan wanita cantik itu dan menyerangnya, Kartaviryarjuna dengan mudah menangkapnya dan menyerahkannya kepada penjaga kota Mahismati, bagaikan orang yang menangkap seekor monyet, kemudian melepaskannya tanpa peduli. Pada suatu ketika Kartaviryarjuna sedang mengembara di hutan sunyi dan berburu, dia mendekati kediaman Jamdagni. Rsi Jamdagni yang tekun dalam pertapaan yang keras di hutan menerima sang raja beserta para prajurit menteri dengan baik. Beliau menyediakan segala keperluan untuk menghormati para tamu, karena beliau memiliki seekor sapi Kamdhenu yang dapat menyediakan segala sesuatu. Jamdagni mampu menjamu para pengikut raja dengan pantas dan memberikan mereka makan yang berisi ghee secara mewah. Sang raja merasa heran melihat kemewahan Jamdagni yang hanya memiliki seekor sapi, oleh karena itu raja iri kepada Rsi agung itu. Inilah awal kesalahan raja. Kartaviryarjuna berpikir bahwa Jamdagni lebih kuat dan kaya daripada dirinya karena sang Rsi mempunyai permata dalam bentuk sapi kamadhenu. Oleh karena itu dia dan pengikutnya tidak begitu menghargai penyambutan Rsi Jamdagni.
Malah sebaliknya, mereka menginginkan sapi kamadhenu yang digunakan untuk pelaksanaan korban suci agnihotra itu. Jamdagni lebih kuat daripada Kartaviryarjuna karena Rsi itu melaksanakan agnihotra yajna dengan ghee yang diperoleh dari kamdhenu. Karena sombong atas kekuatan materialnya, Kartaviryarjuna menyuruh anak buahnya untuk mencuri sapi kamadhenu milik Rsi Jamadegni. Dengan demikian, merekapun melarikan sapi kamdhenu beserta anaknya menuju ibu kota kerajaan Kartaviryarjuna, Mahismati. Setelah Kartaviryarjuna lari dengan membawa kamadhenu Parasurama kembali ke asrama. Ketika Parasurama, putra termuda Jamdagni, mendengarkan tindakan Kartaviryarjuna yang nista itu, Beliau  menjadi sangat marah bagaikan seekor ular yang diinjak. Lalu beliau mengambil kapaknya yang mengerikan, perisai, busur panah dan tabung berisi anak panah-anak panah. Dengan kemarahan yang berapi-api Parasurama mengejar Kartaviryarjuna, lakasana seekor singa yang mengejar seekor gajah. Ketika Kartaviryarjuna memasuki ibu kota, Mahismati Puri, dia melihat bahwa Parasurama sedang mengejar sambil membawa sebuah kapak, perisai, busur dan anak panah-anak panah. Parasurama mengenakan sebuah kulit rusa hitam, dan ikatan-ikatan rambutnya nampak seperti matahari. Setelah melihat Parasurama seperti itu, Kartaviryarjuna segera memerintahkan pasukannya yang terdiri dari pasukan gajah, kereta kuda, dan tentara pejalan kaki yang bersenjatakan gada, pedang, anak panah, rsti, sataghni sakti dan senjata-senjata lainnya yang serupa untuk menyerang Parasurama. Kartaviryarjuna mengerahkan 17 aksauh ini tentara (1 aksau = 21.870) pasukan kereta dan gajah, 109.305 prajurit pejalan kaki, dan 65.610 pasukan berkuda) untuk menahan Parasurama. Akan tetapi, mereka semua dibunuh oleh Parasurama. Parasurama ahli sekali menghacurkan kekuatan musuh, Beliau bertempur dengan kecepatan pikiran dan angin, menebas musuhnya dengan kapaknya (parasu). Kemanapun Beliau melangkah, musuh-musuhnya berjatuhan, kaki, lengah dan bahu mereka terpotong, kusir mereka terbunuh, kuda-kuda dan gajah-gajah, tunggangan mereka, semuanya mampus. Dengan meggunakan kapak dan anak panah-anak panahnya Parasurama menghancurkan prisai, bendera, burus panah, dan tubuh-tubuh prajurit Kartaviryarjuna, yang berguguran di medan perang membasahi pertiwi dengan darah mereka. Melihat peristiwa ini, Kartaviryarjuna dengan kemarahan yang besar terjun ke medan perang.
        Lalu Kartaviryarjuna dengan 1.000 tenaganya secara bersamaan memasang anak panah pada 500 busur untuk membunuh Parasurama. Namun, Parasurama adalah ksatria yang tercanggih, dengan hanya melepaskan anak panah secukupnya pada sebuah busur. Beliau dengan segera mematahkan anak panah dan busur yang berada pada tangan Karyaviryarjuna. Ketika anak panah-anak panahnya hancur berkeping keping, Kartaviryarjuna mencabut pohon-pohon dan bukit dengan tangannya sendiri dan melemparkan kuat kuat untuk membunuh Parasurama. Tetapi Parasurama memotong lengan-lengan Kartaviryarjuna dengan kapanNya, bagaikan orang memotong kepala ular. Selanjutnya Parasurama memenggal kepala Kartaviryarjuna yang seperti puncak sebuah gunung itu. Melihat ayahnya dibunuh, kesepuluh putra Karyaviryarjuna, lari ketakutan. Setelah membinasakan musuh-musuhnya, Parasurama membebaskan sapi kamadhenu dan anaknya, lalu Beliau kembali ke asrama dan memberikan sapi itu kepada ayahNya, Rsi Jamdagni. Parasurama menguraikan tindakannya pada waktu membunuh Kartaviryarjuna kepada ayah dan saudaraNya. Setelah mendengar hal ini, Jamdagni berkata kepada putranya, "O Pahlawan Agung, putraku Parasurama yang tercinta, Engkau telah membunuh raja sebenarnya tidak perlu. Raja merupakan wakil dari semua Deva, oleh karena itu Engkau telah berbuat dosa. Putraku tercinta, kita adalah Brahmana dan dipuja oleh orang umum karena sifat kita yang suka mengampuni. Karena sifat inilah Deva Brahma, Guru kerohanian alam semesta ini mencapai kedudukannya sebagai Brahma. Kewajiban seorang brahmana adalah untuk mengembangkan sikap suka mengampuni, sifat inilah bersinar bagaikan matahari. Kepribadian Tuhan Yang Esa, Hari, puas kepada orang yang suka memberikan maaf/mengampuni. Canaknya Pandita mengatakan bahwa burung cuckoo walaupun hitam, sangat indah karena suaranya yang manis, begitu juga seorang wanita menjadi cantik karena kesucian dan kesetiaannya kepada suaminya dan orang jelek jadi bagus kalau dia terpelajar. Putraku, membunuh raja yang merupakan penguasa yang lebih daripada membunuh seorang Brahmana, tetapi sekarang kalu Engkau menjadi sadar akan Krshna dan menyembah tempat-tempat suci, maka Engkau dapat diampuni dari dosa besar ini".
Sukadeva Gosvami berkata, "Maharaja Pariksit yang baik hatik putra dinasty Kuru, ketika Parasurama diperintahkan seperti ini oleh ayahnya, Beliau segera setuju dan berkata baiklah". Selama setahun penuh Beliau berkeliling tempat-tempat suci. Setelah itu Beliau kembali ke asrama ayahNya.
Pada suatu hari, Renuka, istri Jamdagni pergi ke tepi sungai Gangga untuk mengambil air, pada saat itu dia melihat raja para Gandarva yang terhias dengan kalungan bunga padma dan sedang bermain-main dengan para Apsara (wanita surga) di sungai Gangga, Entah bagaimana dia tertarik dengan raja itu dan lupa bahwa waktu untuk api korban suci telah habis. Renuka takut akan kutukan suaminya. Oleh karena itu, ketika dia pulang dia hanya meletakkan kendi airnya di depan suaminya dan berdiri dengan tangan tercakup. Rsi Agug Jamdagni dapat mengerti perzinahan di dalam pikiran istrinya.
Oleh karena itu, Beliau sangat marah sekali dan memerintahkan putra-putranya, "Putra-putraku, bunuh perempuan berdosa ini !" Namun putra-putranya tidak menjalankan perintah ayahnya. Kemudian Jamdagni memerintahkan putra bungsunya, Parasurama untuk membunuh saudara-saudaranya yang tidak mematuhi perintahnya, dan ibunya yang telah melakuka perzinahan dalam pikirannya. Karena mengetahui kekuatan ayahNya atas pertapaan dan meditasi yang dipaktekannya, Parasurama segera membunuh ibunya dan saudara-saudaranya. Jamdagni, Putra Satyavati, merasa puas terhadap Parasurama dan menawarkan berkat apa yang dimintaNya. Parasurama menjawab, "Hidupkan kembali ibu dan saudara-saudaraku dan agar mereka lupa bahwa yang telah membunuhnya adalah diriku, berilah berkat yang aku minta, "Selanjutnya, atas berkat Jamdagni, ibu dan saudara-saudara Parsurama hidup kembali an mereka merasa bahagia, seolah-olah terbangun dari tidur yang lelap.
        O raja Pariksit, putra-putra Kartaviryarjuna tidak pernah merasa bahagia karena mereka selalu ingat akan pembunuhan ayahnya yang dilakukan oleh Parasurama. Pada suatu saat, ketika Parasurama dan saudara-saudara pergi ke hutan, kesempatan ini digunakan oleh putra-putra Kartaviryarjuna untuk mendatangi asrama Jamdagni dan membalas dendam. Oleh karena itu, ketika mereka melihat Jamdagni sedang duduk di samping api untuk melakukan yajna dan sedang bermeditasi kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa mereka menggunakan kesempatan ini untuk membunuhnya. Dengan doa yang memelas Renuka, ibu Parasurama, memohon agar suaminya hidup kembali. Akan tetapi putra-putra Kartaviryarjuna begitu kejam sehingga mereka memenggal kepala Jamdagni dan melarikannya. Sambil meratap dalam kesedihan karena kematian suaminya, Renuka memukuli badannya dan menangis dengan keras, "O Rama, O Anakku" mereka bergegas kembali ke asrama, dan melihat bahwa ayahnya telah terbunuh. Dibingungkan oleh rasa sedih, marah, berang, dan ratapan, putra-putra Jamdagni menangis, "O ayah, kepribadian yang suci, Anda telah meninggalkan kami dan pergi ke planet surga. Parasurama mempercayakan mayat ayahNya kepada saudara-saudaranya lalu Beliau mengambil kapaknya dan memutuskan untuk menghabisi semua ksatria di muka bumi ini. Kemudian Parasurama pergi ke Mahismati, kota terhukum oleh dosa pembunuhnan seorang Brahmana. Di tengah-tengah kota itu Beliau membuat sebuah gunung kepala yang lepas dari badan anak-anak Kartaviryarjuna. Dengan darah-darah anak ini, Parasurama menciptakan sebuah sungai darah yang mengerikan menggemetarkan bagi raja-raja yang tidak menghormati peradaban brahmana. Karena para ksatria melakukan kegiatan yang penuh dosa, Parasurama untuk membalas dendan atas kematian ayahNya, menghancurkan semua ksatria yang ada di muka bumi ini 21 kali. Memang, di tempat yang bernama Samanta Pancaka Beliau menciptakan 9 danau yang berisi darah-darah mereka. Kemudian, Parsurama menggabungkan kepala dengan badan ayaNya dan meletakkan di atas rumput kusa.
        Dengan mempersembahkan korban suci, Beliau mulai memuja Vasudeva, roh yang paling utama yang berada dimana-dimana. Setelah menyelesaikan korban suci ini Parasurama memberikan arah timur kepala hota, selatan kepala brahma, barat kepala advaryu, utara kepala udgata. 4 arah lagi kepada pendeta lainnya (hota, brahma, advaryu, dan udgata adalah nama-nama pendeta-pendeta yang melaksanakan yajna). Beliau memberikan arah tengah kepada Kasyapa dan tempat yang bernama Aryavarta (tempat diantara gunung Himalaya dan bukit Vindhya). Apapun yang masih tersisa Beliau berikan kepada para sadasnya, rekan-rekan para pendeta.
        Setelah melaksanakan ritual korban suci ini, Parasurama lalu mandi yang disebut dengan avabharta anana, dengan berdiri di tepi sungai Sarasavti, bebas dari segala dosa. Parasurama nampak seperti matahari di angkasa yang berawan. Demikianlah, Jamdagni dihidupkan kembali oleh Parasurama seperti sediakala, dan Jamdagni menjadi salah seorang dari 7 Rsi dalam kelompok 7 bintang (7 rsi : Kasyapa, Atri, Vasistha, Vismamitra, Gautama, Jamdagni, dan Bhardvaja). O Raja Pariksit, pada man-vatara berikutnya. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Parasurama yang bermata bagaikan bunga padma, putra Jamdagni, akan menjadi terpelajar dalam pengetahuan Veda, dengan kata lain Beliau akan menjadi salah satu dari 7 Rsi. Sekarang Parasurama masing tinggal di pegunungan yang bernama Mahendra, seorang brahmana yang cerdas. Setelah meninggalkan senjata-senjata sebagai seorang ksatria Beliau puas sepenuhnya. Para penduduk surga seperti para Siddha, Carana dan Gandharva selalu memuja dan memuji watak dan kegiatan Beliau yang mulia.
       Dengan cara seperti ini, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Pengendali Yang Paling Utama berinkarnasi pada dinasty Bhrgu dan membebaskan alam semesta terhadap beban raja-raja yang tidak diperlukan dengan membinasakan mereka berkali-kali.*


7. SIAPAKAH YANG TERTINGGI

Pada suatu ketika, sekelompok para rsi melakukan suatu korban suci veda di tepi sungai Sarasvati. Timbullah perbedaan pendapat diantara mereka mengenai siapa yang tertinggi diantara 3 kepribadian yang mulia yaitu : Deva Brahma Sir Visnu dan Deva Siva. Mereka ingin sekali mengetahui jawaban dari pertanyaan ini sehingga mereka mengirim putra Brahma yaitu Rsi Brgu untuk menyelesaikan masalah ini. Pertama-tama Rsi Brgu pergi ke Brahmaloka, tempat tinggal ayahnya. Brgu mengetes sejauh mana Brahma dalam sifat kebaikan, sehingga dia tiba dihadapan ayahnya dia tidak bersujud atau memuji Brahma dengan doa-doa pujian. Deva Brahma menjadi sangat marah karena dipengaruhi oleh sifat rajas dan nafsu. Walaupun rasa marah molonjak dihatinya, Brahma dapat menahan dengan kecerdasannya, karena dia masih ingat bahwa Brgu adalah putranya sendiri.
Lalu Brgu ke Kailasa. Disana Deva Siva berdiri dan dengan bahagia bergegas mau memeluk saudaranya. Menurut peradaban vada, anak yang baik hendaknya menghormati ayahnya, adik menghormati kakaknya dan kakak kasih sayang kepada adiknya. Akan tetapi Brgu menolak dipeluk oleh Siva dan dia berkata, "Jangan sentuh saya, kau begitu kotor. Kau pakai ular dilehermu dan kau mengolesi badanmu dengan abu kuburan, jauhi saya".
Deva Siva marah sekali, matanya merah menyala. Dia mengangkat trisulanya dan mau membunuh Brgu namun Devi Parvati datang dan bersujud dikaki suaminya dan menyampaikan kata kata yang lembut menenangkannya. Brgu pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dan pergi ke Vaikuntha, tempat bersemayamnya Narayana. Dikatakan bahwa suatu kesalahan dapat dilakukan baik dengan badan, pikiran dan kata-kata. Kesalahan Brgu yang pertama kepada Brahma adalah kesalahan dengan pikiran. Kesalahan keduanya kepada Deva Siva adalah kesalahan dengan kata-kata, karena sifat kebodohan menonjol pada Deva Siva maka ketika Brgu menghinanya dia menjadi marah dengan mata menyala.
Pada waktu itu di Vaikuntha Sri Visnu berbaring dengan kepalaNya dipangkuan permasuriNya, Devi Sri. Tiba-tiba Brgu datang langsung menendang dada Sri Visnu. Segera Sri Visnu turun dari tempat pembaringannya dan sujud di lantai kepada Brgu dan bersabda, "Selamat datang Brahmana, silahkan duduk dan beristirahatlah sejenak, maafkan saya karena tidak menyadari kedatangan anda." Pada waktu itu, Brgu bukan seorang vaisvana murni, kalau tidak dia tidak akan bertindak kasar seperti itu. Sri Visnu melanjutkan. "Sucikanlah aku dengan air cucian kaki teratai anda. O Rsi yang mulia, apakah kaki anda sakit karena telah menyentuh dadaku yang keras ? Ijinkanlah aku memijitnya".
Brgu merasa puas dan bahagia mendengar sabda Panguasa Vaikuntha. Dia tergugah kebahagiaan rohani, air mata menghias matanya sehingga dia tak sanggup untuk menyampaikan sembah sujud kepada Sri Visnu. Tak lama kemudian Brgu mohon pamit dan kembali ke tempat korban suci dan menceritakan semua pengalamannya kepada para Rsi yang berkumpul disana. Mereka semua merasa heran dan kagun dan yakin bahwa Sri Visnu adalah kepribadian yang tertinggi.
      Akan tetpi sebagai akibat dari tindakan Brgu yang menendang dada Sir Visnu, Devi Laksmi tidak dapat mentoleransinya. Beliau berkata "Aku tidak bisa mentoleransi penghinaan terhadap suamiku. Oleh karena itu, O Brgu, aku mengutukmu, bahwa sejak hari ini semua brahmin seperti dirimu akan menjadi miskin". Karena kutukan ini maka pada umumnya para Brahmana itu menjadi miskin. Namun Brgu menerima kutukan ini sebagai karunia karena ia telah insaf bahwa tujuan hidup adalah untuk memuaskan Sri Visnu. Dia mengetahui bahwa cinta kepada uang sering menjadi akar kehancuran.*


8. PERCAKAPAN DEVA SIVA DAN PARVATI DEVI

Parvati Devi berkata kepada Deva Siva, "Tuhanku, Engkau mengatakan kepada saya bahwa hendaknya seseorang menghindari berbicara dengan para mayavadi. Bagaimanakah ciri-ciri mereka dan apa yang mereka uraikan ?". Deva Siva berkata, "Orang yang dikhayalkan oleh kebodohan menjelaskan bahwa ada kepribadian lain yang lebih tinggi dari Sri Visnu, penguasa seluruh alam semesta, maka dia adalah Mayavadi. Orang yang memakai kalungan tengkorak, tulang-tulang dan mengolesi badannya dengan abu, tidak memakai tanda-tanda veda yang benar yang menganggap Sri Visnu sejajar dengan kepribadian lain seperti Brahma dan Rudra yang tidak menyembah Visnu, maka dia adalah Mayavadi.
Parvati berkata, "Tuhanku, uraian kitab suci menyalahkan memakai tengkorak, abu dan tulang-tulang, lalu mengapa anda menggunakannya ?, ceritakanlah rahasia ini dan maafkan kalau pertanyaan saya tidak berkenan". Deva Siva berkata, "Oh, Devi, dengarkanlah, aku akan menceritakan suatu rahasia yang ajaib. O Devi, hendaknya kau jangan katakanlah hal ini pada orang lain.
     Pada jaman Svayambhuva (manu) ada banyak raksasa yang sakti seperti Namuci dan lainnya. Semua Deva dipimpin Indra merasa takut dan frustasi, lalu mereka mendekati Sri Visnu untuk meminta perlindungan, para deva berdo'a, "Oh Kesava, Engkau sendiri mampu menaklukan raksasa-raksasa besar ini, yang tak mampu kami kalahkan. Lindungilah kami yang menyerahkan diri pada kaki padaMU".
Deva Siva melanjutkan, "Setelah mendegar permohonan para deva yang ketakutan itu, Sri Visnu, Purusottana, bersabda kepadaku; "O Rudra, untuk menghayalkan musuh para Deva susunlah suatu lapangan tindakan yang diikuti oleh para mayavadi. Ceritakanlah purana-purana gelap (purana-purana yang menyesatkan), juga rancanglah teks-teks suci yang membingungkan. Dengan kekuatan sugesti (bhava sakti) mu pengaruhilah para brahmana dan reksi mulia seperti Kanada, Gautama, Sakti Upamayu, Jaimini Kapila, Durvasa, Mrkandu, Brhaspati, Bhragava dan Jamadagnya untuk menguraikan purana gelap dan ajaran-ajaran yang menyababkan para asura tersesat seketika, dan untuk membingungkan orang-orang di ketiga dunia kau sendiri pakailah tanda-tanda seperti tenkorak, abu, dan tulang-tulang. Juga susunlah ajaran-ajaran yang tidak bertanda khusus yang diluar ajaran veda. Orang-orang yang memakai abu, tulang dan tengkorak dan sejenisnya akan menganggap kau sebagai kepribadian yang paling utama atau Tuhan. Dengan menerima ajaran-ajaran gelap ini maka para asura itu akan segera menentangku. O Rudra, dalam penjelmaan-penjelmaanKu, aku juga akan menyembahmu dan setiap jaman hanya untuk lebih membingungkan orang-orang jahat. Setelah menyelami ajaran-ajaran ini mereka pasti jatuh".
       Itulah sebabnya mengapa penjelmaan Tuhan sebagai Sri Rama menyembah Deva Siva. Mahadeva berkata, "O Devi, setelah mendengar sabda Sri Visnu, aku merasa lemas tak berdaya. Setelah aku menyampaikan doa-doa pujian, aku berkata, "O Devata, jika hamba laksanakan perintah anda di bumi maka hal ini akan menghancurkan hamba sendir. O Visnu tidak mungkin hamba melaksanakan perintahMU, akan tetapi hal ini sangat menyakitkan, O devi", selesai aku berkata demikian Sri Visnu bersabda, "Aku akan melindungimu, kau tidak akan hancur, lakukanlah seperti apa yang aku perintahkan. Aku akan memberikanmu sebuah mantra yang bernama Visnusahasranama (seribu nama Visnu). Semayamkanlah Aku dihatimu dan ucapkan mantra ini "ramaya namah" sembah sujud pada Sri Rama, suami Sita Devi). Mantra ini menghancurkan segala dosa dan menganugerahkan pembebesan. Ucapkanlah mantra ini setiap hari, maka kau akan bebas dari kesalahan menyampaikan ajaran mayavadi, memakai abu, tengkorak dan tulang-tulang. Pujalah aku dihatimu, patuhilah perintahKu, semua ini akan mujur bagimu. Setelah bersabda demikian, Sri Visnu menghilang.
Deva Siva melanjutkan, "Demi kebaikan para deva aku menerima jalan mayavadi, memakai kalungan tengkorak, abu dan tulang-tulang. Sesuai dengan perintah Visnu aku mulai menyusun purana sesat dan ajaran-ajaran Saiva atau Pasupata. Dengan kekuatanku, aku mempengaruhi para brahmana dan resi untuk melaksanakan missi ini sehingga kaum asura menentang Sri Visnu dan malah mereka akan menyembahku dengan persembahyangan daging, darah dan sejenisnya. Dengan menerima berkahku mereka akan menjadi sombong, terikat dengan obyek-obyek indria, penuh nafsu dan marah. Orang-orang di bumi yang menyimpang dari jalan kebenaran akan belindung pada doktrin/ajaran-ajaran sehingga mereka akan pergi ke Neraka.
      Dengan melaksanakan perintah Sri Visnu, O Devi, aku memakai tanda-tanda ini (tengkoran, abu, dan lain-lain). Ini hanya tanda-tanda luas saja untuk membingungkan orang-orang jahat, akan tetapi dihati aku selalu bersemadhi pada Sri Visnu. Parvati berkata, "O yang tak ternoda, uraikanlah ajaran-ajaran gelap yang disusun oleh para brahmana yang kuran berbhakti pada Sri Visnu. Katakanlah nama-namanya". Deva Siva menjawaba, "Dengarkanlah, O Devi, akan kuuraikan ajaran-ajaran jahat itu, hanya dengan mengingatnya bahkan orang bijaksanapun akan dihayalkan.
      Pertama-tama aku sendiri menyusun doktrin atau ajaran Saiva. Dengan kekuatanku aku telah mempengaruhi para brahmana dan resi seperti Kanada menyusun doktrin atau ajaran Vaisesika, Gautama dengan doktrin Nyana, Kapila dengan doktrin Sankhya, Brhaspati dengan doktrin Carvaka, Sri Visnu dalam penjelmaannya sebagai Buddha dengan doktrin Buddha yang palsu. Doktrin maya (ilusi) adalah doktrin jahat dan disebut dengan buddhist gadungan. Doktrin atau ajaran ini akan aku sampaikan sendiri dalam penjelmaanku sebagai seorang brahmana di Kali yuga. Ajaran ini akan melemahkan artikan ajaran-ajaran veda yang benar. Untuk membingungkan orang-orang kali yuga, aku akan menghadirkan ajaran-ajaran yang besar yang mirip dengan penjelasan veda-veda tetapi sebenarnya hanya hayalan (maya) belaka. Atas perintahku Jaimani menyampaikan doktrin purva mimansa yang menguraikan faham meniadakan Tuhan dan meniadakan arti Veda.


9. KEMEWAHAN KRSNA

Pada suatu ketika, Brahma pergi ke Dvaraka untuk melihat Krsna dan penjaga pintu segera melaporkan tentang kedatangan Brahma. Setelah menerima laporan itu Krsna segera pula bertana "Brahma yang mana, siapa namanya". Oleh karena itu, penjaga pintu itu kembali dan bertanya kepada Brahma.
Dari hal itu kita dapat mengerti bahwa Brahma adalah nama suatu pos atau jabatan dan orang yang menduduki pos itu punya nama tersendiri. Vivasvan adalah nama Deva yang menjabat di matahari sehingga pada umumnya dia dipanggil matahari atau Surya/Deva Matahari, tapi dia juga punyai nama tersendiri. Oleh karena ada ratusan ribu alam semesta Brahma dengan naman yang berbeda maka Krsna ingin tahu Brahma yang mana yang datang melihatnya.
Ketika penjaga pintu menanyakan, "Brahma yang mana anda ?, Deva Brahma menjadi heran. Dia berkata, "Beritahulah Krsna, bahwa saya adalah Brahma yang berkepala empat, ayah dari Catur Kumara". Kemudian penjaga pintu itu melaporkan seperti apa yang diuraikan oleh Brahma kepada Krsna dan Krsna mengijinkan Brahma untuk masuk. Ketika Brahma melihat Sri Krsna, dia menyampaikan sembah sujud di kaki padma Krsna. Setelah dipuja oleh Brahma, Krsna pun menghormatinya dengan kata-kata sebagaimana mestinya. Sri Krsna bertanya kepadanya, "Mengapa engkau datang kemari ?", Brahma segera menjawab, nanti akan hamba katakan mengapa hamba datang kesini. Ada suatu keraguan di pikiran hamba dan hamba mohon agar Tuanku bermurah hati untuk menghapuskannya. Mengapa paduka bertanya Brahma yang mana yang datang melihat Anda. Apa maksud pertanyaan ini, apakah ada Brahma lain selain hamba di alam semesta ini ?".
Mendengar pertanyaan ini Sri Krsna tersenyum dan segera bermeditasi dan tiba-tiba Brahma yang jumlahnya tidak terbatas segera datang. Brahma-brahma ini memiliki jumlah kepala yang bermacam-macam. Ada yang kepala 10, ada Brahma yang berkepala 20, 100, 1.000, 10.000, 1.000.000 dan lainnya ada yang berkepala 10 juta. Tak seorangpun yang dapat menghitung wajah-wajah yang mereka miliki. Hadir juga disana berbagai jenis Siva dengan jumlah kepala yang berbeda-beda, ada yang berkepala seratus ribu, dan sepuluh juga. Banyak Indra juga tiba disana dan mereka mempunyai ratusan ribu mata menyebar di seluruh tubuhnya.
         Ketika Brahma yang berkepala empat yang memerintah di alam semesta ini, melihat semua kemewahan Krsna ini, dia menjadi sangat bingung dan mengakui dirinya bagaikan seekor kelinci diantara banyak gajah. Semua Brahma yang datang melihat Krsna menyampaikan sembah sujud kepada kaki padma Krsna, pada waktu bersujud mahkota-mahkota mereka menyentuk kaki padma Krsna.
Tak seorang pun dapat mengukur tenaga Krsna yang tak dapat dipahami. Semua Brahma yang ada di sana sedang bersandar dalam satu badan Krsna. Ketika mahkota-mahkota itu beradu di kaki padma Krsna, ada suara besar seoalah-olah mahkota itu sedang menyampaikan doa-doa pujian pada kaki padma Krsna. Dengan tangan tercakup. Semua Brahma dan Siva menyampaikan doa-doa pujian kepada Krsna, "Oh Tuhan, Engkau telah begitu berkarunia kepada hamba sehingga hamba dapat melihat kaki padma Anda". Kemudian mereka berkata, hamba sangat beruntung sekali karena Anda telah memanggil hamba dengan menganggap hamba sebagai pelayan Anda. Sekarang ijinkanlah hamba mengetahui, apa perintah Anda sehingga hamba akan membawanya di kepala hamba". Sri Krsna  menjawab, "Oleh karena Aku ingin melihat kalian maka aku memanggil kalian kemari. Hendaknya kalian berbahagia. Apakah ada gangguan dari raksasa". Mereka menjawab "Atas karunia Paduka kami mendapat kejayaan dimana-mana. Beban bumi Engkau hapuskan dengan menurun ke planet itu". Inilah kemewahan Dvaraka, semua Brahma berpikir. "Sekarang Krsna di wilayahku".
Demikianlah, kemewahan Dvaraka dapat dipahami oleh mereka semua. Walaupun mereka berkumpul bersama-sama, tak seorang pun diantara mereka saling melihat. Brahma yang berkepala empat dapat melihat kemewahan Dvaraka Dharma, tempat tinggal Krsna, dan walaupun banyak Brahma hadir dari yang berkepala sepuluh sampai sapuluh juta dan juga ada banyak Siva disana, hanya Brahma yang berkepala empat saja yang dapat melihat mereka semua. Itulah tenaga Krsna yang tak dapat dipahami.
           Kemudian Krsna memerintahkan mereka semua untuk kembali ke tempatnya masing-masing dan setelah bersujud kepada kaki padma Krsna akhirnya mereka kembali. Setelah menyaksikan kemewahan-kemewahan ini, Brahma yang berkepala empat terheran-heran dan kagum. Lagi dia datang dihadapan kaki padma Krsna dan bersujud. Dia menyampaikan doa-doa pujian dan setelah itu dia pun mohon pamit ke rumahnya.


10. PERTEMPURAN ANTARA SRI KRSNA DAN DEVA SIVA

Bali Maharaja mempunyai seratus putra dan yang tertua bernama Banasura. Banasura adalah penyembah Siva yang mulia, dia setia melayani Siva. Karena itu Siva memberikan dia lengan yang jumlahnya seribu. Banasura menjadi mabuk karena kekuatan yang dimilikinya. Pada suatu hari dia datang menghadap Deva Siva dan berkata "aku bersujud kepada Anda yang bagaikan pohon surgawi yang memenuhi keinginan orang yang berkeinginannya tidak terpenuhi. Seribu lengan yang anda berikan bagaikan beban saja karena tidak ada yang menandingi aku dalam pertempuran selain Anda. Semuanya lari ketakutan melihat kesaktianku"  Mendengar hal itu Deva Siva menjadi marah. "Bodoh ! Seseorang Kepribadian akan menjatuhkan benderamu dan kau akan takluk". Mendengar kata-kata itu Banasura malah senang dan dia pulang sambil menunggu kapan kekuatannya akan hancur.
Di Kota kerajaannya yaitu Sonitapura, Banasura mempunyai seorang anak gadis yang bernama Usa. Usa tinggal di istana kaputren. Pada suatu malam Usa bermimpi bertemu dengan pemuda tampan, dalam mimpi pemuda itu menghilang dan Usa terjaga sambil berteriak, diantara teman-teman gadisnya, "Dimanakah kau kekasihku" di sangat sedih sekali. Salah seorang teman akrabnya berkata, "Siapa yang kau cari, putri, siapa yang kau rindukan, kau kan belum punya kekasih". Usa berkata, "dalam mimpi aku bertemu dengan pemuda tampan yang mencuri hatiku. Dialah yang sedang aku cari. Teman akrab Usa itu bernama Cintralekha. Lalu Citralekha berkata, aku akan menghapus deritamu, siapapun di diketiga dunia ini pasti akan kutemukan. Setelah berkata demikian Citralekha menggambar jenis para deva, Gandharva, Siddha, Carana, Pannagas, Daitya, Vidyadhara, Yaksa dan Manusia. Citralekha juga menggambar para Vrsni temasuk Surasena, Valsudeva, Balarama, Krsna dan ketika Usa melihat gambar Pradyumma dia menjadi malu dan ketika dia melihat Aniruddha, dia menundukkan wajah, sambil tersenyum dia berkata, "dialah orangnya". Selanjutnya Citralekha terbang ke Dvaraka dan membawa Aniruddha yang sedang tertidur ke Sonipatura khususnya ke istana kaputren tempat tinggalnya Usa.
Tanpa sepengetahuan Banasura, Aniuddha tinggal bersama Usa di kaputran, Lama-kelamaan para penjaga kaputren curiga melihat Usa selalu ceria seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Para penjaga itu melaporkan hal ini kepada Banasura dan dia bergegas menuju kaputren. Disana dia melihat Aniruddha sedang duduk berdua bersama Usa. Banasura marah sekali dan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Aniruddha sehingga terjadilah pertempuran yang sengit. Aniruddha mampu mengalahkan semua prajurit itu namun dengan tali nagapasanya,  Banasura menangkapnya kemudian dia tahan. Mendengar Aniruddha ditahan, Usa merasa sedih dan diapun sedih dan kehilangan. Setelah mendengar dari Narada tentang apa yang telah terjadi terhadap Aniruddha. Krsna bersama kekuatan pasukannya pergi ke Sonitapura. Ikut pula Balarama. Pradyumma, Gada, Samba, Satyaki dan lain-lainnya, mereka mengepung dan menghancurkan kota Sonitapura. Banasura menjadi sangat marah dan dengan dibantu oleh Deva Siva, bersama putra-putra Siva dia mulai menghadapi Krsna Balarama dan pasukannya. Maka terjadilah pertempurann yang maha dahsyat, yang merindingkan bulu roma,  antara Sangkara berhadapan dengan Krsna, Pradyumma melawan Kartikeya, roma, antara Sangkara Siva berhadapan dengan Krsna, Pradyumma melawan Kartikeya. Balarama melawan Kumbhanda dan Kuparkarna, dan Satyaki menghadapi Banasura, Brahma dan para deva lainnya bersama dengan para Sidha. Carana, Rsi-Rsi yang mulia, Gandharva, Apsara dan Para Yaksa, semua datang dengan kapal terbang mereka di angkasa untuk menonton pertempuran itu. Dengan anak-anak panah tajam yang lepas dari busur sarnga, Krsna menghancurkan berbagai jenis pengikur Siva; para bhuta, pramatha, Guhyaka, Daikini, Yatudhan, Vetala, Vinayaka, Preta, Mata, Picasa, Kusmanda dan Brahma raksasa.
      Deva Siva, pemegang Trisula, melepaskan bermacam-macam senjata untuk menyerang Krsna. Tapi Sri Krsna sedikitpun tidak merasa kewalahan. Beliau menghalau semua senjata yang dilepaskan oleh Siva. Siva melepaskan senjata Brahmastra. Krsnapun melumpuhkannya dengan Brahmastra pula, senjata angin dihalau dengan senjata gunung, senjata api dengan senjata hujan dan senjata pasupatastra Siva ditaklukan dengan narayanastra. Setelah membingunkan Siva, dengan membuat lemas menguap dengan senjata yang membuat orang menguap, kemudian Krsna menghancurkan tentara Banasura dengan pedang, Gada dan anak panah-anak panah. Kartikeya terluka parah oleh anak panah-anak panah Pradymana sehingga dia meninggalkan medan perang dengan menungganggi burung meraknya dan Kupakarna tewas ditangan Balarama. Ketika tentara Barasura melihat bahwa kedua pimpinan mereka telah binasa mereka menjadi kocar-kacir kesegala arah. Banasura geram sekali melihat pasukannya kacau balau. Dia meninggalkan perang melawan Satyaki, dia langsung mencari dan menyerang Krsna. Banasura menggunakan 500 busur dan 2000 anak panah sekaligus untuk menyerang Krsna. Namun Sri Krsna merontokkan semua anak panah itu. Dengan ahli Krsna menjatuhkan kusir kereta Banasura dan juga menghancurkan kereta dan kuda-kudanya, lalu Krsna meniup sankhanya.
         Ibu  Banasura yang bernama Kotara ingin menyelematkan anaknya sehingga dia tiba-tiba muncul dihadapan Krsna dalam keadaan telanjang dengan rambut yang terurai. Krsna segera memalingkan wajah untuk menghindari melihat wanita telanjang, dan Banasura menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari medan perang. Kemudian Deva Siva datang dihadapan Krsna. Akhirnya dia mengeluarkan senjata yang bernama Siva Jvara yang memiliki tiga kaki, tiga kepala, enam lengan dan sembilan mata. Senjata ini sangat panas sekali dan biasanya dilepaskan pada waktu peleburan. Namun kini senjata itu sedang melesat menyerang Krsna. Narayanapun mengeluarkan senjata saktinya yang bernama Visnu Jvara. Senjata ini sangat dingin sekali. Maka terjadilah pertarungan antara Siva jvara dan Visnu jvara. Siva jvara dibelenggu oleh kekuatan Visnu jvara sehingga dia merasa tersiksa sekali. Karena tidak dapat menemukan tempat berlindung akhirnya. Siva jvara yang ketakutan itu berlindung pada kaki padma Krsna dan dengan tangan tercakup dia mulai menyampaikan doa-doa pujian kepada Krsna. Karena puas dengan doa-doa Siva jvara maka Krsnapun menarik kembali Visnu Jvaranya. Selesai bersujud pada Krsna Siva jvara itupun menghilang.
Tiba-tiba Banasura muncul lagi dengan menaiki kereta dan langsung menyerang Krsna dengan ribuan senjata pada seribut ditangannya. Krsna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa melepaskan Cakra Sudarsana dan memotong lengan-lengan Banasura seolah-olah memotong cabang-cabang pohon. Deva Siva kasihan melihat penyembahnya yang lengannya sedang dipotong sehingga dia mendekati Cakrayudha (Krsna) dan menyampaikan doa-doa pujian lalu dia berkata, "O Devata, Banasura adalah pemujaku, bermurah hatilah padanya seperti Anda berkarunia kepada Prahlada, pemimpin para sura. Sri Krsna bersabda "Aku tidak akan membunuh Banasura karena aku telah memberikan berkat pada Prahlada bahwa Aku tidak akan membunuh keturunannya. Hanya untuk menghancurkan kesombongannya dan untuk mengurangi beban bumi Aku memotong lengan-lengannya dan sekarang dia masihg memiliki empat lengan dan dia tak perlu merasa takut lagi. Selanjutnya Banasura menyampaikan sembah sujud kepada Krsna dengan menyentuhkan kepalanya ke tanah. Kemudian Banasura membawa Aniruddha dan Usa yang sedang menaiki kereta ke hadapan Krsna. Tak lama kemudian Krsna bersama-sama pasukannya kembali ke Dvaraka. Disana dirayakan pula upacara pernikahan antara Aniruddha dengan Usa. Siapapun yang bangun dipagi hari dan mengingat cerita kemenangan Krsna dalam pertempurannya melawan Deva Siva maka dia akan tidak pernah ditaklukkan. Siapapun yang dilindungi oleh Krsna maka tak seorangpun yang dapat membinasakannya dan kalau Krsna mau membinasakan seorang maka tak seorangpun mampu untuk melindunginya.*
11. NARA DAN NARAYANA

Nara Narayana Rsi lahir sebagai Putra Dharma dan istrinya Murti, Putri Prajapati Daksa. Mereka adalah Rsi terbaik dan damai secara sempurna. Pada waktu munculnya Nara Narayana seluruh dunia merasa riang dan bahagia, pikiran setiap orang menjagi tenang dan sejahtera dan dengan demikian semua arah mata angin, sungai-sungai dan gunung-gunung menjadi menyenangkan. Di planet-planet surga alat-alat musik dibunyikan, para penduduk surga menaburkan bunga-bunga dari angkasa. Para Rsi yang mulia mengucapkan mantra-mantra veda, penduduk surga yang dikenal sebagai para Gandarvha dan para Kinnara menyanyi, para bidadari dan segala tanda-tanda mujur nampak. Pada waktu itu para deva dan juga Brahma menyampaikan doa-doa pujian.
Para deva berdoa, "Marilah kita menyampaikan sembah sujud kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat rohani, yang telah menciptakan alam material ini sebagai tenaga luarNya dan yang sekarang telah muncul dalam wujud Nara Narayana Rsi di rumah Dharma". Nara Narayana Rsi memandang paradeva dengan penuh karunia lalu beliau pergi ke Badarikasrama. Nara Narayana Rsi mengajarkan pelayanan Bhakti kepada Tuhan yang menghentikan kegiatan material dan mereka sendiri mempraktekan pengetahuan ini secara sempurna. Beliau masih ada bahkan sampai sekarang, kaki padmaNya dipuja oleh orang-orang suci yang mulia.
Raja Indra menjadi takut karena dia berpikir bahwa Nara Narayana Rsi akan menjadi perkasa karena pertapaan keras yang dilakukanNya sehingga surka akan dikuasaiNya. Tanpa mengetahui kemuliaan rohani inkarnasi Tuhan, Indra mengirim deva Asmara beserta pengikutnya menciptakan suasana yang romantis, Deva Asmara menyerang Nara Narayana Rsi dengan anak panah-anak panah dalam bentuk lirikan dan pendangan wanita-wanita cantik. Dengan mengerti kesalahan yang dilakukan oleh Indra Nara Narayana Rsi tidak menjadi bangga. Kalau seseorang menjadi bangga karena pertapaannya maka pertapaan itu dianggap material. Beliau berkata sambil tersenyum kepada Deva Asmara dan pengikutnya, yang bergetar ketakutan, jangan takut, O Madana, O deva angin dan istri-istri para deva, terimalah hadiah yang kuberikan ini dan berkahilah asmaraku dengan kehadiran kalian. Ketika Nara Narayana Rsi berkata yang menghilangkan rasa takut para deva, mereka menundukkan kepalanya dengan perasaan malu dan menyapa Tuhan sebagai berikut : Oh Devata, Engkau selalu bersifat rohani, diluar jangkauan hayalan, oleh karena itu Engkau tak tergoyahkan. Para deva memberikan banyak rintangan bagi orang yang menyembah Anda untuk melampaui tempat tinggal para deva yang bersifat sementara dan mencapai tempat tinggal Anda yang paling utama. Namun karena Anda adalah pelindung langsung para penyembahMu maka mereka dapat menghalau semua rintangan yang diberikan oleh para Deva.
Ketika para Deva sedang menyampaikan kata-kata itu tiba-tiba Tuhan yang perkasa menciptakan banyak wanita cantik, terhias dengan perhiasan dan pakaian yang indah dan mereka semua tekun dalam pelayanan Bhakti kepada Tuhan. Nara Narayana Rsi memperlihatkan karuniaNya yang tiada sebabnya kepada para deva untuk membesarkan mereka dari kebanggaannya. Walau para deva sombong dengan keindahan badan dan teman-teman gadis wanitanya yang cantik, Tuhan memperlihatkan bahwa beliau dilayani oleh wanita yang jumlahnya tak terhingga, yang jauh lebih cantik dari wanita surga, yang bahkan tak dapat dibayangkan oleh para deva. Ketika para deva yang berada disana melihat kecantikan para wanita yang diciptakan oleh tenaga kebatinan Nara Narayana Rsi dan mencium keharuman badan-badan mereka, pikiran deva-deva ini menjadi kebingungan. Tuhan tersenyum dengan lebar dan berkata kepada para deva yang sedang bersujud dihadapannya, "Pilihlah salah satu diantara wanita-wanita ini, mana yang kalian anggap cocok ambillah sebagai hiasan di planet-planet surga. Dengan mengucapkan getaran suci "om'  para deva memilih urvasi dan setelah mohon pamit mereka membawanya ke surga. Setelah mendengar tentang kekuatan Nara Narayana Rsi yang paling utama, Indra menyadari kesalahannya dan dia menjadi takut sekaligus kagum.



12. HADIAH DARI DEVA MATAHARI

Lima Pandava mewarisi untuk memerintah dunia ini Duryadhan, misan Pandava yang iri, selalu merencanakan untuk menghancurkan merekan sehingga dia dapat menjadi raja. Namun untuk membinasakan Pandava bukanlah pekerjaan mudah karena mereka mempnyai kawan yang spesial yaitu Krsna. Semua orang tahu bahwa kekuatan Krsna tidak terbatas. Namun dengan suatu tipu daya dalam permainan judi, Duryadhan dapat membuang misannya ke hutan selama 13 tahun. Lima Pandavapun tinggal di hutan bersama istri mereka, Draupadi. Untuk membantu para Pandava selama masa pengasingan mereka, Deva Matahari memberikan panci khusus kepada Draupadi sebagai sebuah hadiah. Dengan panci itu Draupadi selalu dapat memberikan makanan pada keluarganya dan juga kepada tamu yang jumlahnya tak terhitung. Satu-satu aturannya adalah setelah Draupadi makan pada hari ituu maka panci itu tidak lagi menghasilkan makanan untuk hari itu. Besoknya panci itu dapat lagi menghasilkan makanan. Walaupun mereka tinggal di hutan mereka tidak pernah kelaparan. Duryodhan dan saudara-saudaranya sering memata-matai Pandava selama pengasingannya di hutan. Pada suatu hari, ketika kemping di hutan, Duryodhan dikunjungi oleh seorang yogi ahli kebathinan yang terkenal yaitu, Durvasa. Dia melayani dengan penuh perawatan dan perhatian. Kapanpun Durvasa mengatakan dirinya lapar, bahkan tengah malam sekalipun, Duryodhan secara pribadi akan membawakan makanan. Durvasa merasa puas dengan pelayanan Duryodhan, dan setelah beberapa hari, dia berkata. "mintalah berkat kepadaku. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan". Duryodhan gembira sekali, inilah yang dia harapkan. Tapi dia tak ingin yogi itu mengetahui bahwa suatu yang dia minta adalah hal yang jahat. Dengan lugu dia berkata, "Engkau sangat baik sekali, sesuatu yang kuminta adalah untuk misanku yang tercinta yaitu Para Pandava.  Aku hanya ingin mereka merasakan kebahagiaan dengan bergaul dengan anda. Beruntung sekali mereka tidak jauh dari tempat ini. Aku hanya menginginkan agar Anda mengunjungi mereka".
Durvasa setuju dengan permohonan yang sederhana ini. Duryodhan memperhatikan ketika sang Rsi pergi bersama dengan 10 ribu muridnya. Dia berpikir. "Para Pandava pasti sudah selesai makan siang. Sekarang mereka tidak akan pernah dapat memberikan makanan pada Durvasa dan semua muridnya. Tak dapat kubayangkan kutukan mengerikan apa yang akan dia berikan pada mereka". Pandava yang tertua Yudistira bersama dengan saudaranya menyambut Durvasa, dan murid-muridnya ketika mereka tiba di perkemahannya. Para Pandava terkejut melihat tamu begitu banyak. Sambil tamu-tamu itu berjalan menuju perkemahan, Yudistira berbisik pada Draupadi. "Cepat, ambillah panci ajaibmu sehingga kita dapat mempersembahkan sesuatu kepada mereka untuk makan". Tapi saya telah selesai makan, sekarang panci itu kosong sampai besok", jawab Draupadi. Setelah beramah-tamah sebentar dengan sang Rsi Yudistira memohon, "Durvasa yang saya cintai, Anda telah berjalan cukup lama didalam hutan, mohon mandilah, disaat Anda kembali maka makanan akan sedang menunggu Anda". Durvasa dan murid-muridnya pergi ke sungai dengan bahagia. Sementara itu para Pandava merasa panik/bingung. Mereka tahu siapa itu Durvasa, tentan bagaimana dia mudah kecewa dan tentang bagaimana kekuatan-kutukannya. Draupadi menangis. Dalam keadaan seperti itu satu-satunya yang dapat dia lakukan yang mungkin membantu adalah berdoa dengan tulus kepada Sir Krsna, "O Penguasa alam semesta, O  penguasa para deva, lindungilah kami, tanpa Engkau kami akan hancur". Secara ajaib, seolah-olah entah darimana Krsna datang dihadapan Draupadi. Beliau mendengarkan semua situasi yang diungkapkan oleh Draupadi tapi beliau tidak memberikan jalan penyelesaian, malah beliau berkata, "Draupadi aku lapar, maukah kau memberi sedikit makanan". Sambil kebingungan Draupadi menjawab, "Saaya kan sudah mengatakan padaMu, panci yang kau diberikan oleh Deva Matahari padaku sedang kosong. Besok panci itu baru memberikan makanan lagi. Sekarang saya punya dua masalah, saya tidak dapat memberikanMu makanan dan saya juga tidak dapat memberikan makanan pada Durvasa dan murid-muridnya. Krsna hanya tersenyum, "jangan cemas, bawalah panci itu kemari". Masih dalam keadaan bingung, Draupadi mengambil dan memberikan panci itu kepada Krsna, Krsna mengamatinya, "Oh ini kelihatannya lezat," kata Krsna setelah menemukan sepotong sayur yang lezat kecil melekat pada panci itu, lalu beliau memakannya. Kemudian Krsna menyuruh Bima untuk memanggil Durvasa dan yang lainnya yang sedang berdiri sebatas pinggan didalam ari sungai. Mereka semua sedang melakukan sesuatu yang aneh, mereka sedang menggosok-gosok perutnya seolah-olah penuh dengan makanan.
Bhima mendengar Durvasa berkata, "Oh tidak lihat Bima datang membawa gada, kalau kita menghinanya dengan menolak makan makanan yang telah disiapkan Draupadi, maka dia akan menjadi marah. Tapi bagaimana kita semua telah merasa sangat kenyang sekali. Aku tak dapat makan apapun lagi, biar bagaimana enaknya". Bhima sulit percaya pada mata dan telinganya. Kesepulun ribu murid Durvasa itu berkata, saya juga bahkan saya tidak dapat berpikir untuk makan sekarang. Ketika Bhima mendekati mereka malah lari kedalam hutan sambil masih basah dan setengah berpakaian. Bhima tertawa lalu dia kembali untuk  mengatakan semuanya kepada Pandava lainnya. Draupadi berkata, "saya menyadari apa yang telah terjadi. Kalau engkau menyiram air pada akar pohon maka cabang, ranting dan daun serta bunga-bunganya akan diuntungkan. Krsna bagaikan akar sebatang pohon. Apabila Krsna puas maka setiap orang akan dipuaskan, termasuk Durvasa dan ribuan pengikutnya. Atas pengabdian Bhakti Draupadi dan karunia Krsna, para Pandava diselamatkan dari rencana jahat Duryodhan.


13. NARADA MUNI DAN MARGARI

Pada suatu hari, setelah mengunjungi Narayana di Vaikuntha, Rsi mulia Narada pergi ke Prayaga untuk mandi di pertemuan tiga sungai   yaitu : Gangga, Yamuna dan Sarasvati. Ditengah perjalanan yang melalui hutan Narada Muni melihat seekor rusa menggelepar kesakitan. Lebih lanjut Narada Muni melihat seekor babi tertusuk oleh sebuah anak panah kakinya juga patah dan dia menggelepar kesakitan. Ketika Narada Muni berjalan lebih lanjut, Dia melihat seeokor kelinci juga sedang menderita. Narada Muni menjerit hatinya melihat mahluk hidup yang menderita seperti itu.
Tak lama kemudian Narada Muni melihat seorang pemburu dibalik sebatang pohon. Dia sedang memegang anak panah dan siap untuk membunuh binatang lagi. Badan pemburu itu kehitam-hitaman, matanya dan dia nampak kejam dan mengerikan. Seolah-olah adalah Deva kematian, Yamaraja, yang sedang berdiri disana dengan busur-busur dan anak panah-anak panah yang dipegagnya. Ketika Narada Muni meninggalkan jalan yang dilaluinya dan pergi mendekati pemburu itu, semua binatang itu kabur sang pemburu ingin mencaci maki Narada, tapi karena kehadiran Narada dia tak dapat bilang apa-apa. Malah dia menyapa Narada dengan sopan, "O gosvami, wahai orang suci, mengapa kau meninggalkan jalanmu dan datang kepadaku dengan hanya melihatmu semua binatang yang akan aku buru lari". Nara Mudi menjawab, aku datang padamu untuk menghilangkan suatu keraguan dipikiranku. Aku heran apakah semua babi dan binatang lainnya, yang setenga mati itu milikmu. "Ya, apa yang kau katakan itu benar," jawaba sang pemburu.
Kemudian Narada Muni bertanya "Mengapa kau tidak membunuh binatang-binatang itu sepenuhnya, mengapa kau biarkan mereka sekarat dengan menusukkan anak panah ke tubuhnya ?". Sang pemburu menjawab "O, Orang suci yang terhormat, namaku Margari musuh para binatang. Ayahku yang mengajarkanku cara membunuh binatang seperti itu. Apabila aku melihat sekarat itu, aku merasa senang". Narada muni berkata "Aku ingin minta sesuatu darimu". Kemudian Sang pemburu menjawab, "Kau boleh ambil binatang manapun atau sesuatu apapun yang kau sukai". Aku punya banyak kulit binatang, apakah kau menyukainya. Aku akan memberikanmu kulit rusa atau kulit macan". Narada Muni berkata, "aku tidak menginginkan kulit rusa atau kulit macan". Narada Muni berkata, "aku tidak menginginkan kulit apapun juga. Aku hanya minta satu hal sebagai sumbangan darimua. Aku minta padamu kalau kau membunuh binatang, bunuhlah sampai mati jangan biarkan mereka sekarat". Sang pemburu menjawab, "Tuan yang mulia, apa yang kau minta ini, apanya yang salah dengan binatang-binatang itu, maukah kau menjelaskan hal ini padaku".
Narada Muni menjawab, "Kalau aku membiarkan binatang-binatang itu sekarat maka kau secara sengaja memberikan penderitaan pada mereka. Oleh karena itu sebagai balasannya kau akan harus menderita pula. Wahai pemburu, urusanmu adalah membunuh binatang. Dengan kegiatan itu kau akan mendapatkan reaksi dosa sedikit tapi jika secara sadar kau memberikan mereka penderitaan yang tidak diperlukan dengan membiarkan mereka sekarat maka kau akan menerima reaksi dosa yang paling besar. Semua binatang yang telah kau bunuh dan kau berikan penderitaan yang tidak diperlukan akan membunuhmu satu persatu dalam setiap penjelmaan. Inilah hukum alam, mamsa berarti daging. Mam sah khadati iti mansah artinya, sekarang aku makan daging binatang yang pada suatu hari nanti akan makan dagingku.
Dengan cara seperti itu, melalui pergaulan Rsi agung Nara Muni, sang pemburu sedikit disadarkan terhadap kegiatan berdosa yang dilakukannya. Oleh karena itu dia menjadi takut. Kemudian pemburu itu mengakui semua kegiatan berdosanya dan dia berkata, "Aku telah diajarkan berbuat seperti itu sejak kecil. Sekarang aku bingung bagaimana aku bisa bebas dari kegiatan berdosa yang tak terbatas ini. Tuan yang mulia, katakanlah bagaimana aku bebas dari reaksi-reaksi dosaku. Sekarang aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada Anda dan bersujud dikaki padma anda, mohon bebaskanlah aku dari reaksi-reaksi dosa. Narada menjamin sang pemburu, kalau kau mendengar ajaran-ajaranku, aku akan mecari jalan agar kau dapat dibebaskan.
Sang pemburu berkata, "Tuan apapun yang anda katakan akan aku lakukan". Narada segera memerintahkan dia, pertama-tama patahkan busur panahmu, kemudian aku akan mengatakan hal lebih lanjut yang mesti kau lakukan". Sang pemburu menjawab, "kalau aku patahkan busurku, bagaimana aku memelihara kehidupanku". Narada Muni menjawab, "jangan cemas, aku akan menyediakan makananmu setiap hari". Mendengar kata-kata Narada Muni itu sang pemburu segera mematahkan busurnya dan bersujud pada kaki padma sang rsi, menyerahkan diri.
Setelah itu Narada Muni mengangkat dia dengan tangannya dan memberikan pelajaran ajaran untuk kemajuan rohani, "pulanglah dan sumbangan kekayaan apapun setelah itu pergilah ke suatu sungai, dirikanlah sebuah pondok disana dan didepannya tanamlah pokoh tulasi ditempat yang agak tinggi. Setelah menanam Tulasi di depan rumahmu, kelilingilah tanaman tulasi itu layani dan ucapkan Maha Mantra Hare Krsna secara terus menerus. Aku akan mengirimkan makanan kepada kalian setiap hari. Kau dapat ambil makanan sesuai yang kau perlukan. Tiga ekor binatang yang sekarat itu dipulihkan kembali kesadarannya oleh Narada Muni. Memang, kemudian binatang itu bangun dan berlari. Melihat hal ini sang pemburu tersentak kaget, lalu dia menyampaikan sembah sujud kapada Narada Muni dan dia kembali pulang. Kemudian Narada Muni melanjutkan perjalanannya. Setelah pemburu itu dirumah dia melaksanakan semua ajaran-ajaran guru kerohaniannya yaitu Narada Muni. Berita bahwa sang Pemburu telah menjadi seorang vaisnava terbesar di seluruh desa sehingga para penduduk desa memberikan dia sedekah. Dalam satu hari saja makanan yang diberikan oleh mereka cukup untuk dimakan oleh 10 atau 20 orang, tapi Margari hanya menerima seperlunya sajaa. Pada suatu hari. Narada Muni dan kawannya yaitu Parvata Muni pergi untuk melihat muridnya, Margari, sang pemburu. Dari kejauhan sang pemburu dapat melihat rsi-rsi yang mulia sedang datang ke rumahnya. Dengan riang gembira dia berlari menyambut guru kerohaniannya, tapi dia tak dapat bersujud karena semut-semut sedang berlarian kesana kemari disekitar kakinya. Dengan hati-hati dia menghalau semut-semut itu dengan selembar pakaiannya lalu dia dandavat untuk menyampaikan sembah sujud.
Narada Muni berkata "Pemburu yang kucintai, tingkah lakumu yang seperti itu sama sekali tidak mengherankan. Seseorang yang berada dalam pelayanan bhakti maka penderitaan pada yang lainnya karena rasa iri".
Lalu sang pemburu menerima kedua rsi itu dihalaman rumahnya. Dia membentangkan tikar pandan dan mohon agar mereka berkenan duduk. Dia mengambil air dan dengan penuh pengabdian dia mencuci kaki kedua rsi tersebut. Pemburu dan istrinya meminum dan memercikkan air basuhan kaki-kaki rsi itu diatas kepala mereka. Ketika sang pemburu mengucapakan maha mantra Hare Krsna di dapan guru kerohaniannya, badannya gemetaran dan air mata kebagian rohani mulai mengalir dari matanya. Dia mengangkat tangannya dan mulai menari.
Tatakala Parvata Muni melihat gejala-gejala kebagian rohani sang pemburu, dia berkata, "Narada anda adalah permata cintamani. Atas karunia Anda, bahkan orang yang lahir rendah sekalipun seperti pemburu ini dapat dengan segera menjadi terikat kepada Krsna. Narada Muni bertanya kepada sang pemburu, "O Vaisnaya, apakah kau memperoleh makan secukupnya ?". Sang pemburu menjawab, "Guru Maharaja yang hamba cintai, siapapun yang anda kirim, mereka selalu memberikan saya sesuatu, janganlah kirim begitu banyak biji-bijian. Kirimlah cukup untuk dua orang saja". Narada Muni memberkahinya, "Semoga kau mujur". Setelah itu Narada Muni dan Parvata Muni menghilang dari tempat itu.

14. BERKAH SADHU

Seorang sadhu (orang suci) dan muridnya sedang berjalan-jalan melalui sebuah kota. "Marilah kita buat perjalanan ini merupakan suatu pengalaman yang bermakna, kata sadhu itu kepada muridnya. Secara kebutulan Pangeran Kerajaan itu sedang menunggangi kuda putih lewat disamping mereka.
"Salam orang suci, berilah aku berkah Anda", kata pangeran itu. Dengan mengangkat telapak tangannya, sang sadhu menjawab, "Semoga kau hidup selamanya", murid sadhu itu bertanya, guru maharaj, mengapa Engkau memberkahinya untuk hidup selamanya". Sadhu menjawab, "sekarang dia sedang menikmati kehidupan dalam kepuasan indria indria. Dia memburuh binatang sebagai sarana olah raga sehingga apabila dia mati dia akan menderita karena dosa ini. Oleh karena itu yang terbaik baginya adalah hidup selamanya seperti keadaannya sekarang ini".
Tak lama kemudian mereka melihat seorang sisya kerohanian yaitu seorang Brahmacari, berpakaian saffon, meminta minta sedekah untuk guru kerohaniannya. Ketika Sisya itu melihat sang sadhu, dia mencangkup tangannya dan menyampaikan salam hormat. Sebagai jawaban sadhu berkata, "Semoga kau mati segera". Lagi murid bertanya, "mengapa Anda mengutuknya untuk segera mati? Sadhu tertawa, "itu bukanlah kutukan tapi sebuah berkah. Saat ini dia murni dan tak berdosa. Akan tetapi kalau dia terus hidup, masa depannya bisa ditentukan. "Mengapa demikian, "tanya muridnya. "Karena selalu ada bahaya untuk jatuh dalam kehidupan duniawi. Tapi kalau dia mati sekarang pasti dia akan diangkat ke planet-planet yang lebih tinggi".
Ketika mereka mendekati pasar sang murid menutup hidungnya. Udara berbagu amis berasal dari bangkau binatang yang dikuliti, dipotong berkeping-keping dan digangung di depan toko penjualan daging. Pemilik toko yang berwajah kemerah-merahan memanggil sadhu itu. "Hello, apakah ada berkah untukku hari ini, Sekali lagi sadhu itu mengangkat telapak tangannya, "Ya. Aku berkahi kau, jangan mati dan jangan hidup". Pemilik tokok daging itu mengguman, "berkah aneh macam apa itu". Setelah meninggalkan pasar itu, muridnya bertanya, "Apa maksud Anda dengan berkah itu". "Tidakkah kau tahu bahwa tukang jagal itu saat inipun dalam keadaan neraka tanya sadhu itu. Muridnya menganggukkan kepala. Dia telah membunuh begitu banyak binatang yang tak bersalah dan dengan kegiatan itu ia pasti akan ke neraka selama beribu-ribu tahun, jadi dia akan menderita kalau dia hidup atau kalau dia mati".
Berikutnya mereka lewat di sebuah tempat sembahyang (temple) dimana seorang penyembah sedang mempersembahkan doa-doa pujian dengan tulus hati kepada Tuhan penyembah sedang mempersembahkan doa-doa pujian dengan tulus hati kepada Tuhan bahkan penyembah itu tidak menyadari sang sadhu yang sedang mendekat. Namun sadhu itu berkata, "semoga kau hidup atau semoga kau mati". Ijinkanlah saya menebak apa maksud berkah itu. "kata muridnya. "Karena terus ingat dengan Tuhan seorang penyembah selalu bahagia. Dengan demikian tidak ada pebedaan bagi seorang penyembah apakah dia hidup atau mati. Dia akan terus mengingat Tuhan dalam kehidupan ini maupun dalam penjelmaan berikutnya". Dengan tersenyum sadhu itu menjawab,"kau sedang belajar dengan baik".


15. KEMULIAAN BUNGA CAMPAKA

Bunga campaka (bunga kamboja) selalu dicintai oleh Sri Visnu, khususnya pada segunung Meru emas dapat diperoleh hanya dengan mempersembahkan sekuntum bunga kamboja kepada Sri Visnu.
Pada jamam dahulu, ada raja yang arif dan bijaksana, yang mengetahui semua kitab suci, memerintah di kerajaan Aryavarta. Dia adalah soerang raja yang kuat dan perkasa. Akan tetapi diistana kerajaan ada seorang mantri yang jahat. Karena bergaul dengan mentri yang jahat ini rajapun menjadi jahat. Dia banyak melakukan kegiatan yang berdosa : korupsi, menghukum orang yang tidak bersalah, tidak, tidak pernah lagi melakukan korban suci, tidak menghormati tamu dan para brahmana dan dia memelihara banyak pelacur.
Pada suatu ketika, raja yang berhati busuk itu bernafsu pergi ke rumah seorang pelacur dimalam hari. Melihat kedatangan sang raja, pelacur yang bernama Ujjwala bangun dan menyambutnya. Setelah mencuci kaki sang raja, pelacur itu memeluknya lalu mendudukannya di atas tempat tidur. Kemudian pelacur yang masih mudah itu dengan tersenyum memberikan kalungan bunga kaboja kepada sang raja. Sekuntum bunga kamboja dari kalungan bunga itu jatuh dari tangan sang raja dan karena kebingungan sang raja berkata,  om namo narayana". Semua dosa sang raja terhapus karena telah mengungkapkan nama "Narayana" dan karena telah mempersembahkan bunga kamboja tersebut.
Semua warga negara yang telah mengaur siasat untukmembunuh sang raja menyerbu rumah pelacur itu. Tanpa perlawanan yang berarti sang rajapun tewas malam itu juga. Yama, Deva kematian sangat marah pada raja yang penuh dosa itu. Dia mengirim utusannya untuk menyeret sang raja. Yamaduta dengan cepat datang untuk mengambil roh sang raja itu. Namun pada waktu itu datang pula Visnuduta (utusan Visnu) yang memegang sankha, gada dan cakra. Visnuduta menyerang dan mengalahkan yamaduta lalu membawa sang raja naik kekapal rohani. Dan mereka berangkat ke vaikuntha, tempat tinggal Sri Visnu yang paling utama. Raja itu mencapai pembebasan yang disebut dengan sarupya mukti yaitu mendapatkan bentuk rupa yang sama dengan narayana. Setibanya di Vaintkunta Visnu sendiri bangkit dan memeluknya sang raja dengan keempat lengannya. Tuhan bersabda, "O raja, Aku bahkan melindungi orang yang hanya sekali saja mengucapkan, namo narayana. Dia kuanggap sebagai saudaraku, dia adalah ayahKu. Aku akan memenuhi keinginan orang yang mengingat nama Narayana. Wahai raja kau adalah penyembahKu.
Sambil mencakup tanan sang raja berkata, "O lautan karunia, Anda telah memberikan hamba segala sesuatu. Bahkan pendosa besar seperti hamba ini Engkau angkat ketempat tinggalMu yang paling utama ini. Kemudian Visnu memberikan prasada (makanan) pada sang raja sampai sekarang sang raja tidak kembali lagi ke dunia material, dunia penuh kesengsaraan dan dunia yang bersifat sementara.

16. KEMULIAAN RAMA

Pada jaman Satya, hiduplah seorang vaisya yang bernama Parasu. Dia seorang vaisya yang saleh, namun karena nasib malang dia meninggal diusia mudanya. Istrinya yang bernama Jivanti sangat cantik. Setelah kematian suaminya dia pulang kepada orang tuanya. Banyak orang yang memuji kecantikan Jivanti sehigga dia menjadi sombong dengan kemolekan tubuhnya dia memikat banyak lelaki hidung belang. Wanita yang bernfasu ini akhirnya menjadi pelacur. Ayahnya merasa terpukul dan malu melihat tingkah laku anaknya itu. Dia berkata, "Hai pendosa, setelah kau lahir di keluargaku mengapa kau bawakan aku aib". Aku tidak sudi melihatmu, enyahlah dari rumah ini, pergilah sejauh-jauhnya". Mendengar kata-kata  ayahnya ini, Jivanti pergi sambil matanya merah karena marah. Di tempat lain dia tetap jadi pelacur. Pelanggannya berasal dari berbagai golongan lelaki bahkan dari kaum, candala dan perempuan ini melayani mereka dengan senang hati. Dia tidak pernah memikirkan apa yang terjadi terhadap penjelmaannya yang berikutnya.
Pada suatu ketika, seorang penjual burung kerumah pelacur itu untuk menjual burung parkit. Pelacur Jivanti membeli burung parkit yang masih mudah itu. Dia rajin memberikan burunya makan dan karena dia tidak punya anak, dia menganggap burung itu sebagai anaknya sendiri. Dengan getaran suara yang indah pelacur itu mengajarkan burungnya untuk mengucapkan nama Rama setiap hari, sehingga burung itu selalu mengucapkan nama Rama. Karena mengucapkan nama Rama maka dosa-dosa burung dan pelacur itu dihancurkan. Setelah beberapa waktu mereka mati bersamaan. Yamaduta datang menyeret jiva mereka. Visnudutapun datang. Mereka sangat marah yamaduta sedang mengikat kedua roh itu. Kemudian mereka memberikan pelajaran tentang siapa yang harus yamaduta seret dan siapa yang tidak boleh mereka ambil, namun yamaduta tidak dapat terima. Malah dia menantang Visnuduta sehingga terjadi pertempuran yang dahsyat. Yamaduta yang dipimpin oleh Canda menghadapi Visnuduta yang dipimpin oleh Suprakasa. Pertempuran berakhir dengan kekalahan Yamadutha. Sambil berlumuran darah Yamaduta pergi menghadap Yama, Deva kematian. Yamaduta berkata, "O Putra Matahari, walaupun pelacur dan burung itu penuh dosa, karena kemuliaan nama Rama mereka pergi ke tempat tinggal Visnu. Katakanlah pada kami mengapa hal ini bisa terjadi. Yamaraja berkata, "Orang yang mengucapkan nama Rama tidak berhak dihukum. Sri Visnu adalah junjungannya orang-orang di bumi dengan kebhaktian mengucapkan nama-nama : Govinda, Kesava, Hari, Jagadisa, Visnu, Narayana, Madhava dan nama-nama suci Tuhan lainnya tidak pantas aku hukum walaupun mereka adalah pendosa besar.
Demikianlah, Yamaraja memberikan pelajaran penjang lebar kepada anak buahnya tentang siapa yang harus mereka seret ke neraka. Sebagai kesimpulannya Yamaraja mengatakan urusan Yamaduta maupun Yamaraja. Seribu nama Visnu sama dengan tiga nama Rama dan Tiga nama Rama dengan satu nama Krsna. Formula untuk jaman kali sekarang ini adalah mengucapkan Maha Mantra HARE KRSNA HARE KRSNA KRSNA KRSNA HARE HARE HARE RAMA HARE RAMA RAMA RAMA HARE HARE.

17. CAKRIKA

Pada jaman dvapara, ada seseorang pulinda (orang yang hidup di gunung, golongan orang dibawah Sudra) yang bernama Cakrika. Namun dia memiliki sifat kebrahmanaan; toleransi, berbuat kekerasan, mengendalikan marah, nafsu dan indria-indria lainnya. Dia tidak mempelajari kitab suci namun entah bagaimana dia mempunyai pelayanan Bakti yang spontan kepada Sri Visnu.
Setiap hari dia mengingat nama Pemegang Cakra, Hari Kesava, Vasudeva dan Janardana Setiap saat dia mempersembahkan buah-buahan yang dia peroleh dari hutan pegunungan kepada Sri Visnu. Namun sebelum dia mempersembahkan buah-buahan yang dia peroleh dari hutan pegunungan kepada Sri Visnu. Namun sebelum dia mempersembahkan buah-buahan itu, dia mencicipi dulu apakah buah itu manis atau tidak. Kalau buah-buahan itu manis rasanya maka dikeluarkan lagi dari mulut dan dengan senang hati dia mempersembahkan buah-buahan itu kepada Visnu.
Pada suatu hari, ketika dia sedang berkeliling di hutan tiba-tiba dia menemukan sebiji buah yang masak. Pohon itu bernama Prilaya. Dia tidak pernah menemukan buah itu sebelumnya. Dengan bahagia dia memetik dan memasukkan buah itu kedalam mulut untuk mencicipi rasa buah itu.
Tiba-tiba buah itu masuk sampai kedalam kerongkongannya. Sambil memegang lehernya agar buah itu tidak masuk kedalam perutnya dia berpikir, "Kalau aku tidak mempersembahkan buah ini kepada Sri Visnu, maka pendosa seperti aku ini akan lahir lagi kedunia material". Sambil terus meditasi pada Visnu Cakrika akhirnya memutuskan untuk memenggal lehernya, karena dia tidak mau makan-makanan yang belum dipersembahkan. Pelan-pelan di mengambil kapaknya dan memotong lehernya. Dengan berlumuran darah dia mengeluarkan buah itu dari kerongkongannya dan mempersembahkannya pada Visnu. Setelah itu dia jatuh ketanah dan mati.
Melihat Cakrika meninggal, Visnu merasa sedih "tidak ada penyembah seperti dia, karena dia telah memotong lehernya hanya demi memuaskan aku, karena penyembanhnya itu telah berbakti begitu tulus kepadaKu, bagaimana Aku harus membayar hutang kepadanya. Aku tidak tahu harus memberikan Dia kedudukan Brahma atau Siva agar Aku bisa bebas dari hutang ini"
Kemudian Sri Visnu mendekati Cakrika dan menyentuhkan tanganNya pada kepala Cakrika, karena sentuhan itu Cakrika hidup kembali. Selanjutnya Visnu membersihkan debu-debu yang berada pada tubuh Cakrika dengan pakaiannya sendiri bagaikan seorang ayah yang membersihkan debu pada badan anaknya. Cakrika yang melihat Sri Visnu hadir secara pribadi dihadapannya, dia menundukkan kepala dan tangannya tercakup dia menyampaikan doa-doa pujian.
Cakrika berdoa, "O govinda, Kesava, Hari, Visnu, walaupun hamba tidak tahu memuji Anda namun bibir ini ingin memuji Anda juga. Atas karunia Sri Visnu Cakrika pun dengan bahasa yang indah menyampaikan doa-doa pujian untuk memuliakan dan mengagungkan Tuhan Visnu. Kemudian Sri Visnu bersabda, "Wahai PenujaKu O Cakrika, pilihlah berkah apa yang kau inginkan".
Cakrika berkata, "O Devata, dengan melihat Anda tidak ada yang ingin lagi hamba capai. Namun apabila Anda menginginkan agar hamba minta sesuatu maka berkahilah agar hamba melakukan pelayanan Bhakti yang murni kepada Anda dalam setiap penjelmaan hamba". Setelah mendengar kata-kata Cakrika ini, Sri Visnu merasa puas lalu memeluknya dengan keempat lenganNya. Tuhan bersabda, wahai Cakrika yang Aku cintai, Aku puas dengan pengabdianmu. Setelah bersabda demikian Sri Visnu menghilang. Akhirnya Cakrika meninggalkan anak istrinya untuk pergi ke Dvaraka. Disana dia melanjutkan pengabdian sucinya pada Sri Visnu dan setelah beberapa waktu dia meninggalkan badan kembali pulang, pulang kepada Tuhan Yang Maha Esa , Sri Visnu.


18. ANJANEYA MAKAN MATAHARI

Pada suatu hari, Deva Siva dan istrinya Parvati Devi melihat para kera sedang bermain-main di lereng Gungung Kailasa. Mereka ingin bermain seperti itu pula. Sehingga mereka mengambil wujud kera dan menikmati berayunan di cabang-cabang pepohonan, mereka juga menikmati buah-buahan segar yang ada disana. Mereka menjadi kera hanya sebentar saja, akan tetapi setelah mereka kembali ke wujud semula yaitu sebagai Deva Siva dan Parvati, Parvati terkejut sekali. Dia menyadari bahwa dia telah hamil. Tak lama kemudian dia melahirkan seekor kera bayi.
Melihat istrinya kecewa, Siva memanggil Deva Vayu yaitu Deva angin. "Bawalah bayi ini pergi, carilah seseorang untuk merawatnya". Karena Vayu adalah Deva Angin yang bertiup kemana-mana maka dia mengetahui segala sesuatu. Dia mengatakan tentang sekelompok manusia kera yaitu para Vanara yang tinggal di tengah hutan Kishkinda. Dia juga mengetahui tentang pemimpin mereka yaitu Raja Keshari dan Ratu Anjana yang sedan tidak bahagia karena tidak mempunyai anak.
Ketika raja dan ratu sedang duduk di tempat sembahyang, berdoa untuk mendapatkan anak, Vayu yang tidak kelihatan, meletakkan bayi kera itu dipangkuan Anjana. Karena merasa riang bahwa doa untuk mendapatkan anak dipenuhi maka raja dan ratu memberikan bayi itu nama Anjaneya (putra Anjana). Pertumbuhan anak itu sangat cepat sekali, tidak seperti bayi biasanya. Rasa laparnya terus bertambah sehingga ibunya kesulitan mencarikan dia cukup makanan. Pada suatu hari anak itu menangis, Aku masih lapar, apa yang dapat aku makan lagi".
Ibunya sudah tidak punya makanan lagi. Tapi ibunya berpikir bahwa anaknya sudah cukup besar untuk mencari makanan sendiri didalam hutan. Dia melihat matahari di angkasa  di senja itu dan berkata, "Akut tidak punya makanan lagi untukmu, Nak!" tapi kalau kau mau, kau bisa cari sendiri buah-buahan di hutan. Kau akan tahu buah mana yang enak untuk kau makan karena manapun yang merak seperti matahari pasti matang. Anjaneya adalah anak yang pintar. Dia berkata, "terima kasih atas nasehatmu, Ibu ! Tapi semua buah di hutan terlalu sedikit bagiku. Matahari berwarna merah; oleh karena itu dia pasti masak, dan matahari adalah buah yang besar, bukan ?, pasti dia akan memuaskan rasa laparku". Ibu mencoba untuk menjelaskan bahwa itu bukan gagasan yang baik, tapi Anjaneya tidak mau mendengarkannya. Dengan kekuatan dari ayahnya Siva dan Vayu, dia meloncat tinggi ke angkasa dan membesarkan diri sebesar-besarnya.
Deva matahari yang duduk di atas kereta yang ditarik oleh 8 kuda yang bersinar terang benderang melaju dengan cepat di angkasa. Tapi Anjaneya menangkapnya kemudian menelannya. Seluruh angkasa menjadi gelap gulita. Indra, raja surga bertanya kepada Agni (Dewa api) "apakah yang menyebabkan kegelapan yang mendadak ini ?". "Sesuatu pasti menghalangi matahari, lepaskan petir Anda kepadanya", kata Deva Agni. Lalu Indra melepaskan senjata petirnya yang mengerikan itu, senjata itu menggelegar di angkasa dan dengan sinar-sinar bintang, Indra melesat menujut matahari sambil menaiki Gajahnya.
Petir itu menghantam sisi wajah Anjaneya, menyakitkan rahangnya. Anjaneya mengambil petir itu darinya. Ketika Indra tiba melihat seekor kera yang besar sedang memegang senjatanya. Karena bingung dia lari menemui Brahma, kakek para Deva. Indra menceritakan apa yang telah dilihatnya namun Brahma hanya tersenyum saja. "Kera ini memiliki kekuatan dari Siva sehingga kau tak bisa memaksa dia untuk membuka mulutnya. Kau harus minta kepadanya secara baik-baik agar dia mau melepaskan matahari dari mulutnya. Kemudian Brahma, Indra, Vayu, Agni bersama dengan jutaan Deva lainnya mendekati Anjaneya. Mereka memohon "Tolonglah, buka mulut Anda". Mengapa aku harus melakukannya ?", jawab Anjaneya sambil mulutnya tetap tertutup (dia menyakut lewat katupan giginya).
"Kalalu kau lakukan, kau akan berusia panjang", kata Brahma. "Kalau kau lakukan, kau akan termasyur", kata Indra. "Kalau kau lakukan, api tidak akan membakarmu", kata Agni." Kalau kau lakukan, kau akan secepat angin", kata Vayu. Akan tetapi Anjaneya tidak peduli dengan kata-kata mereka. Dia tetap menyimpan matahari didalam mulutnya. Yang dia inginkan sekarang adalah bagaimana agar rahangnya berhenti sakit. Brahma dapat membaca pikiran Anjaneya. Dia berkata "Anjaneya, aku tahu bagaimana cara menyembuhkan rahangmu itu". Anjaneya melihat padanya dengan keraguan. Apakah ini suatu tipuan. Namun Brahma memercikkan air dari mangkok ajaibnya pada pipi Anjaneya dan seketika sakitnya hilang. Anjaneya tersenyum pada Brahma.
Kemudian Brhaspati, Guru para deva, datang mendekat, "Anjaneya, kami tahu kau lapar oleh karena itu kau mencoba untuk makan matahari", Brhaspati berkata, "Matahari bukanlah makanan yang baik. Dia bukan makanan sama sekali. Kami akan memberikanmu berkah agar dengan mudah mengumpulkan buah-buahan dari seluruh dunia untuk memuaskan rasa laparmu". Namun Anjaneya masih tidak mau melepaskan matahari dari dalam mulutnya. Dia masih sedang mempertimbangkan berkah itu. Brhaspati melanjutkan, "Kami akan memberkahimu agar kau bisa meramu obat-obatan dari pepohonan, sehingga kau akan dapat membuat berbagai jenis obat". Berpikir bahwa berkat ini cocok untuknya, Anjaneya setuju untuk membuka mulutnya. Matahari keluar dari mulutnya sehingga angkasa terangk kembali.
Dari sejak itu Anjaneya dipanggil "Hanuman" artinya seseorang yang rahangnya disembuhkan. Hanuman banyak makan buah-buahan yang lezat dan dia memiliki pengetahuan tentang tanaman-tanaman yang menyembuhkan. Dia menjadi terkenal di seluruh India dan di seluruh dunia sebagai abdi Sri Ramachandra yang mulia.

Tapi itu cerita lain lagi.

19. MUNCULNYA DEVI EKADASI

Pada jaman Satya ada seorang raksasa yang bernama Mura. Dia sangat sakti dan mengerikan sehingga dia mampu menaklukkan semua deva. Para Deva pergi dari surga dan terkatung-katung di bumi. Dengan dipimpin oleh Indra, para deva menghadap Deva Siva, "Wahai deva Siva yang mulia, para deva jatuh dari surga dan mengembara di bumi dan tinggal bersama orang-orang disana. Katakanlah apa yang harus kami lakukan".
Mahadeva berkata, "Wahai para deva, pergi dan carilah perlindungan pada Penguasa seluruh alam semesta yaitu Sri Visnu. Beliau pasti akan melindungi kalian". Kemudian para deva pergi ke lautan susu menghadap Sri Visnu. Indra dan para deva lainnya menyampaikan doa-doa pujian dan dia juga mengatakan apa yang sedang diderita oleh para deva karena raksasa Mura. Setelah mendengar doa-doa pujian para deva itu Sri Visnu bersabda, "O Indra, raksasa macam apakah dia, bagaimana bentuknya, kesaktian apa yang dia miliki, dimanakah tempatnya, katakanlah padaKu".
Indra berkata, "O Devata, dulu ada seorang raksasa yang mengerikan yang bernama Tajalengka yang lahir di keluarga Brahma. Anaknya bernama Mura, dia sangat sakti dan ditakuti oleh para Deva. Dia tinggal di kota Candravati, kota raksasa Mura. Melihat para deva datang Mura meraung dengan keras sehingga para deva lari kocar kacir keseluruh arah. Melihat Visnua menyerang semua antek-anteknya Mura dengan anak panah-anak panahNya ratusan orang raksasa itu menemui ajalnya, sisanya kabur. Sehingga Mura marah sekali, lalu dia datang menghadapi Visnu. Maka terjadilah pertempuran yang seru selama 1.000 tahun para deva. Karena capek Visnu meninggalkan pertempuran dan pergi ke Badarikasrama dan masuk ke sebuah goa yang bernama Simhavati. Disana Beliau tidur untuk istirahat. Mura terus mengikutiNya. Melihat Visnu sedang berbaring Mura senang sekali, dia berpikir, "akan kubunuh musuh para Asura ini". Akan tetapi sebelum dia melakukan niatnya tiba-tiba dari tubuh Sri Visnu muncullah seorang Devi yang cantik yang memegang berbagai jenis senajata di tangan-tangannya.
Sesaat kemudian mereka sudah terlibat dalam pertarungan seru. Devi itu sangat ahli dalam perang sehingga dalam waktu singkat beliau dapat memenggal kepala raksasa Mura. Mura mati, kepalanya berguling jatuh disamping Sri Visnu. Selanjutnya Visnu bangun dari tidurNya. Melihat kepala Mura disampingNya beliau merasa heran, "Siapa yang telah membunuh raksasa yang sakti dan mengerikan ini. Orang itu baik sekali padaKu". Perlahan-lahan sang Devi datang mendekat Sri Visnu sambil mencangkupkan tangan beliau berkata, "O Devata, hamba adalah Yogamaya (Tenaga dalam) Anda, atas karunia Anda hamba telah membinasakan raksasa Mura ini".
Sri Visnu bersabda, "Oleh karena kau mucul pada hari kesebelas maka Aku memberikanmu nama Devi Ekadasi. Wahai Devi Ekadasi aku puas terhadap apa yang telah kau lakukan untukku, sekarang mintalah, apa yang kau inginkan pasti akan au penuhi".
Devi Ekadasi berkata, " O Penguasa para deva, jika engkau bersengan hati terhadap hamba maka hamba mohon agar siapapun yang berpuasa pada hari kemunculan hamba ini dibebaskan dari reaksi-reaksi dosa dan dikaruniai pembebasan. Jadikanlah hamba hari suci yang paling Engkau cintai diantara semua hari suci dan semoga hamba dikenal seluruh dunia dan disetiap jaman".
Sri Visnu bersabda, "O Devi, apa yang telah kau minta aku penuhi. Kau akan menganugerahkan segala keinginan. Para penyembahKu diseluruh dunia akan melakukan puasa Ekadasi sambil menyembahKu pasti mereka akan mencapai pembebasan. Setelah bersabda seperti itu Sri Visnu menghilang.

20. MUNCULNYA TULASI DEVI

Dalam suatu lila (Kegiatan) Radharani merasa tidak senanga dengan Tulasi sehingga beliau mengatakan agar Tulasi ke Dunia material.
Tulasi Devi turun ke bumi sebagai putri raja Dharma dhvaja, Beliau menginginkan Narayana sebagai suaminya. Kemudian beliau melakukan pertapaan di Badari kasrama selama ribuan tahun. Atas kehendak Krsna, Brahma datang pada Tulasi. Brahma menyuruh agar Tulasi menikah dengan seorang Asura yang bernama Sanckhacuda. Pertamanya Tulasi menolak namun Brahma menjelaskan bahwa nantinya Tulasi akan mendapatkan Narayana sebagai suaminya. Untuk lebih meyakinkan Tulasi Devi, Brahma memberikan dia suatu mantra agar pada waktu kembali lagi dunia Devi, Brahma memberikan dia suatu mantra agar pada waktu kembali lagi ke dunia rohani Radharani tidak akan marah padanya.
Tulasi Devi setuju atas gagasan Brahma itu. Brahma minta pada Tulasi agar tinggal dulu di Badarikasrama untuk menunggu kedatangan Sankhacuda. Adalah seorang prajapati yang bernama kasyapa. Dia mempunyai 17 istri. Salah satu diantaranya bernama Danu. Salah satu putra Danu bernama Vipracitti dan putranya Dambha. Dhamba adalah seorang penyembah Visnu yang mulia. Setelah menikah dia tidak mempunyai putra sehingga dia melalukan pertapaan keras untuk mendapatkan putra di Puskara. Selama 100.000 tahun dia memuja Krsna disana. Pada waktu dia sedang bertapa, sinar yang kuat dan terang benderang keluar dari kepalanya dan menyebar keseluruh dunia. Para deva menjadi kalang kabut karena sinar itu. Mereka datang pada Brahma namun Brahma menyuruh para deva pergi kepada Sri Visnu. Setelah menyampaikan doa-doa pujian Sri Visnu bersabda, "O para deva, jangan takut, penyembahKu, Dambha sedang bertapa untuk mendapatkan putra, Aku akan datang dan memberkatinya". Lalu Visnu pergi pada Dambha dan bersabda, "O Dambha Aku puas dengan tapasyamu, mintalah berkah apa yang kau inginkan".
Melihat Sri Visnu berdiri dihadapan dan bersabda seperti itu Dambha menyampaikan doa-doa pujian dan berkata, "O Devata, berikanlah hamba seorang putra yang akan menjadi penyembahMu dan yang tak terkalah oleh para deva dan yang akan menaklukkan ketiga dunia".
Sri Visnu bersabda, "Aku penuhi". Lalu beliau menghilang. Setelah beberapa waktu istri Dambha mengandung. Sudama adalah seorang Gopa (penggembala sapi) yang dikutuk oleh Radharani untuk turun ke dunia material dan Sudamalah yang masuk kedalam kandungan istri Dambha. Tak lama kemudian lahirlah seorang bayi yang diberikan nama Sangkhacuda. Anak ini cemerlang seperti bulan. Setelah cukup dewasa dia bertapa di Puskara memuja Brahma untuk mendapatkan kesaktian. Brahma puas dan memberkahinya agar tak terkalahkan Sankhacuda sebuah Kavaca (jimat) Sri Krsna yang akan membuat dia menang dimana-mana". Pergilah kau ke Badarikasarama dan menikahlah dengan Tulasi", kata Brahma kemudian menghilang.
Sangkhacuda pergi ke Badarikasrama dan bertemu dengan Tulasi Devi. Setelah memperkenalkan diri, merekapun menikah atas anjuran Brahma yang juga datang ke Badarikasrama.
Pada suatu hari, dikerajaan Sankhacuda diadakan pertemuan yang dihadari oleh Para Danava beserta guru mereka Sukracarya. Sukracarya menceritakan kisah antara para deva dan para Asura yang secara alamiah selalu bermusuhan. Sang guru menyemangatkan mereka untuk menaklukkan para deva.
Setelah segala sesuatunya disiapkan merekapun menyerang surga dan dapat ditaklukan. Sankhacuda mengendalikan ketiga dunia. Dia menjadi Indra, Kuvera, Bulan Matahari, Yama dan Vayu. Selama dia memerintah tidak ada kelaparan, kekeringan dan planet-planet semua jujur.
Para deva minta bantuan pada Brahma tapi Brahma menganjurkan agar menghadap Sri Visnu. Bersama Brahma merekapun datang pada Visnu dan menceritakan semua kesulitannya. Mendengar pengaduan para deva itu Sri Visnu tersenyum dan bersabda, "Wahai para deva, aku mengetahui semua tentang Sankhacuda. Dia adalah rekan akrabKu di Goloka Vrndavana. Deva Siva telah ditugaskan oleh Krsna untuk membinasakan Sankhacuda dengan Trisulanya. Karena itu pergilah kepadanya Dia akan mengatasi semua ini sesuai dengan kehendakKu".
Mendengar perintah itu para deva menghadap Siva dan menceritakan semua kejadiannya. Selanjutnya Siva mengirim utusan pada Sankhacuda. Utusan ini bernama Puspadanta. Puspadanta menyampaikan amanat Siva kepada Sankhacuda, "Wahai penguasa para Danava, kembalikan kerajaan para Deva kalau tidak kau harus bertempur melawanku".
Mendengar hal ini Sankhacuda tertawa dan berkata "aku akan mengembalikan kerajaan para deva setelah aku dapat dikalahkan oleh Siva. Hey Siva aku pasti akan menghadapimu". Utusan Siva kembali untuk menyampaikan kata-kata Sangkhacuda. Perangpun disiapkan oleh kedua belah pihak.
Tak lama kemuian perang dahsyat yang mengerikan pecah. Siva dengan semua pengikutnya beserta Devi Kali dan semua pengikutnya bertempur melawan Sankhacuda beserta pengikutnya. Pasukan Siva mampu memporak-porandakan pasukan Sankhacuda sehingga mereka kocar-kacir, berantakan. Melihat banyak prajurit dan panglimanya tewas Sankhacuda geram sekali dan dia berkata pada deva Siva, "Hey Siva, aku siap berdiri disini untuk menghadapimu. Majulah ! Sankhacuda melepaskan senjata-senjata saktinya menyerang Siva, Sivapun menghadapinya.
Deva Siva tak mampu menaklukannya, karena Sankacuda melepaskan senjata-senjata saktinya menyerang Siva, Sivapun menghadapinya.
Deva Siva tak mampu menaklukannya, karena Sankhacuda mempunyai dua kesaktian yang tak terkalahkan yaitu : Kavaca Krsna yang sedang dikalungkan pada lehernya dan kesaktiannya istrinya yaitu Tulasi Devi. Selama dia memakai kavaca (jimat)  Krsna dan selama istrinya setia maka Sankhacuda tidak akan mati atau tua. Mengerti akan hal ini, Visnu datang menyamar menjadi seorang Brahmin. Dan pada suatu kesempatan dia menemui Sankhacuda dan minta kavacanya. Sankhacuda sangat dermawan pada para Brahmin oleh karena itu dia memberikan kavaca itu yang merupakan nafas kehidupannya. Setelah menerima kavaca tersebut Visnu pergi dan lagi menjadi Sankhacuda. Kemudian Sankhacuda palsu ini pergi ke tempat Tulasi Devi. Tulasi devi menyambut sebagaimana menyambut suami yang menang dari pertempuran. Sementara Tulasi devi sedang bermain-main bersama Sakhacuda yang dianggap sebagai suaminya, Sankhacuda yang asli bertempur melawan Siva. Karena kedu kesaktiannya sudah hilang maka dengan mudah Deva Siva memenggal kepala Sankhacuda dengan trisulanya.
Sankhacuda dibebaskan dari kutukan Radhaa dan dia kembali ke Goloka Vrndavan dengan badan Gopanya yang rohani. Tulang-tulang Sankhacuda kemudian membentuk Sankha. Semua sankha di seluruh dunia berasal dari Sankhacuda. Air yang keluar dari sankha sangat suci dan memuaskan Sri sri Lakshmi Narayana.
Sementara itu Tulasi Devi masih asyik bermain-main bersama Sankhacuda palsu ditaman istana namun pelan-pelan dia menyadari bahwa yang sedang diajak itu bukan suaminya. Ini semua kehendak Krsna, ingatan dan pelupaan berasal dari Beliau. Lalu Tulasi devi bertanya, "siapa kau sebenarnya, katakanlah cepat !" tiba-tiba Sankhacuda palsu mengambil wujudnya yang sebenarnya yaitu sebagai Visnu.
Tulasi menjadi sangat marah sekali setelah menyadari apa yang telah terjadi, dia berkata, "hai Visnu, kau tak kenal belas kasihan, hatimu keras bagaikan batu karang. Karena kesetiaanku telah kau hancurkan maka suamiku kini pasti telah gugur. Karena hatimu keras seperti batu maka aku mengutukMu agar kau menjadi batu", kemudian Tulasi devi menangis.
Atas kehendak Krsna Deva Siva datang ketempat itu untuk mengatur segalanya. Deva Siva berkata, "O Tulasi Devi janganlah menangis, setiap tindakan akan reaksinya. Wahai wanita mulia, pertapaan yang dulu kau lakukan sekarang telah berbuah. Tinggalkanlah badanmu. Terimalah badan rohani dan dapatkanlah Visny sebagai suamimu, kau sejajar dengan laksmi devi. Badan yang kau tinggalkan akan menjadi sungai suci yang bernama Gandaki. Rambut-rambutmu akan menjadi tumbuhan tulasi, sarana yang paling penting dalam memuja Tuhan Sri Visnu. Tumbuhan Tulasi akan terkenal diseluruh dunia. Dalam wujud rohani sebagai kepribadian pohon Tulasi kau akan selalu bersama Visnu.
"Sebagai akibat dari kutukanmu Sri Hari (Visnu) akan menjadi batu di tepi sungai (Gandaki). Ulat-ulat yang giginya sangat tajam yang jumlahnya tak terhitung akan mengerat, menikis dan memotong batu itu. Pacahan batu itu akan dikenal sebagai Salagrama. Batu salagrama sangat mujur dan tak berbeda dengan Visnu sendiri.
Salagrama akan menikah dengan Tulasi. Siapapun yang menyimpan Salagrama, Tulasi dan Sankha dalam satu tempat maka dia akan bijaksana dan dicintai oleh Sri Visny". Setelah berkata demikian Deva Siva menghilang.
Setelah mendengar kata-kata Siva seperti itu Tulasi devi merasa bahagia. Beliau meninggalkan badannya dan mengambil badang rohani. Sri Visnu lalu membawanya ke Vaikuntha (dunia rohani). Sungai suci Gandaki segera terwujud dari badan Tulasi dan ditepinya Sri Visnu menjadi sebuah gunung batu dan ulat-ulat yang bergigi tajam mulai menggigit dan memotong batu itu. Pecahan batu yang jatuh ke sungai itu sangat mujur sedangkan batu yang berada di pasri yang kering dikenal sebagai Pingala. Batu-batu itu tidak mujur.

21. MUNCULNYA TUHAN JAGANNATHA

Festival Ratha Yatra Tuhan Jagannatha, Subhadra dan Balarama dirayakan setiap tahunnya di Jagananatha Puri, India. Di Jagannatha Puri Tuhan Jagannatha muncul adalah suatu episode yang menarik dalam sejarah Veda.
Raja Indradyumna adalah seorang penyembah Sri Visnu yang mulia dan dia sangat ingin sekali bertemu langsung dengan beliau. Pada suatu hari, atas kehendak Tuhan, seorang penyembah datang ke istana sang Raja dan dalam suatu diskusi dia mulai menceritakan tentang inkarnasi Tuhan yang bernama Nila Madhava. Setelah mendengar topik ini, raja Indayumna menjadi bersemangat sehingga dia mengirim para brahmana ke berbagai arah untuk menemukan Sri Nila Madhava. Namun mereka semua gagal dan kembali ke kerajaan. Hanya ada satu brahmana yang tidak kembali, dia bernama Vidyapati.
Setelah berkeliling ke berbagai tempat, akhirnya Vidyapati tiba di sebuah wilayah yang berpenduduk non Arya yang disebut dengan kaum Sabara. Disana dia tinggal yaitu dirumah pimpinan mereka yaitu Visvasu. Ketika dia tiba dirumah itu, tuan rumah sedang tidak ada, yang ada hanya putrinya yang bernama Lalita. Tak lama kemudian tuan rumah itu datang dan menyuruh putrinya untuk melayani sang tamu brahmana. Selama beberapa waktu Vidyapati tinggal disana dan atas permohonan Visvasu dia menikah dengan Lalita.
Pada waktu Vidyapati tinggal di rumah Sabara itu, dia memperhatikan beberapa keanehan pada Visvasu. Setiap malam sang Sabara keluar, dan pada hari berikutnya dia kembali dengan bau wewangian seperti kapur barus dan kayu cendana. Vidyapati menanyakan hal ini kepada istrinya dan istrinya mengatakan bahwa ayahnya keluar ke sebuah tempat yang rahasia untuk memuja Sri Nila Madhava.
Vidyapati merasa bahagia mendengar hal ini. Sebenarnya Lalita telah diperintahkan oleh ayahnya agar tidak mengatakan kepada siapapun tentang Sri Nila Madhava, tapi dia telah melanggar perintah itu. Vidyapati ingin segera melihats Sri Nila Madhavi. Dan akhirnya pada suatu hari, atas permohonan yang berulang kali dai putrinya Lalita, Sabara Visvasu menutup mata Vidyapati dan membawanya untuk melihat Sri Nila Madhava.
Menjelang keberangkatan Vidyapati, secara diam-diam istrinya mengikat sedikit biji sawi pada ujung pakaian Vidyapati, dengan cara seddemikian rupa agar mengambil berjalan biji-biji sawi itu tercecer untuk menandai jalan. Setelah mereka tiba ditempat itu, Sabara Visvasu membuka penutup mata Vidyapati dan Vidyapati dapat melihat keindahan Arca Sri Nila Madhava yang ajaib. Vidyapati menari dalam kebahagiaan rohani dan menyampaikan doa-doa pujian. Disini dimengerti dengan jelas Sri Nila Madhava adalah inkarnasi Tuhan dalam bentuk ARCA Vigraha. Tuhan muncul dalam bentuk arca untuk menerima persembahan para penyembahNya, khususnya bagi penyembah yang belum maju. Oleh karena Tuhan tidak dapat dilihat oleh siapapun kecuali oleh para penyembah murni maka beliau muncul sebagai Arca. Beliau menerima pelayanan para penyembah dan membantu mereka untuk mengembangkan cinta kasih rohani. Secara pribadi Vidyapati telah  merasakan karunia Sri Nila Madhava
Setelah Vidyapati selesai menyampaikan doa-doa pujian, Sabara Visvasu menempatkan dia dekat Arca kemudian dia pergi untuk mengumpulkan akar-akaran dan bunga-bunga hutang sebagai sarana persembahyangan. Ketika Visvasu telah pergi, Vidyapati melihat suatu kejadian yang ajaib. Seekor burung gagak yang sedang tertidur jatuh dari pohon dan tenggelam didalam danau dibawah pohon itu. Burung yang mati tenggelam itu segera mengambil wujud berlengan empat dan kembali keangkasa rohani (vaikuntha). Melihat hal ini, sang brahmana memanjat pohon itu untuk menenggelamkan diri seperti burung gagak itu.
Namun ketika dia mau melompat, terdengarlah suara dari angkasa, "O Brahmana, oleh karena kau telah melihat Sri Nila Madhava, hendaknya kau beritahukan pada Raja Indradyumna". Mendengar sabda itu Vidyapati turun dan menunggu. Sabara Visvasu segera kembali dengan membawa bunga-bunga hutan dan akar-akaran dar hutan. Lalu dia mulai memuja Sri Nila Madhava seperti biasa dia lakukan setiap hari, tatkala sedang sibuk sembahyang Tuhan bersabda, "Selama berhari-hari aku telah menerima persembahan bunga dan akar-akaran hutan yang sederhana yang kau persembahkan kepadaKu. Sekarang aku ingin persembahan yang mewah dari penyembahKU raja Indradyumna. Ketika Visvasu mendengar sabda ini dia berpikir, "aku akan dijauhkan dari pelayanan pada Sri Vila Madhava", oleh karena dia mengikat menantunya, Vidyapati dan menahannya di dalam rumah. Setelah beberapa waktu atas permohonan putrinya Lalita, Vidyapati dibebaskan dan diijinkan pergi. Sang Brahmana segera pergi pada raja Indradyumna dan menceritakan semua pengalamannya. Dalam kebahagian rohani yang besar baginda raja pergi bersama pasukannya untuk mengambil Sri Nila Madhava. Dari biji-biji sawi yang dicecerkan oleh Vidyapati, tumbuhlah tanman sawai yang kecil-kecil. Dengan mengikuti sawi ini sang raja tiba ditempat Sri Nila Madhava. Namun dia tidak menemukan Arca tersebut. Karena tidak dapat melihat bentuk Arca yang indah itu maka raja Indradyumna mengepung desa Sabara dan menangkap pimpinannya yaitu Visvasu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara dari angkasa, "Lepaskan Sabara ini!" dipuncak Bukit Nila bangunlah sebuah tempat sembahyang. Disana sebagai Daru Brahmana atau kebenaran mutlak yang terwujud dalam bentuk kayu, kau akan melihatKu, tapi tidak akan dapat melihatKu dalam bentuk Nila Madhava".
Untuk membangun tempat sembahyang, raja Indradyumna mengambil batu dari tempat yang bernama Baulamala untuk dibawa ke Bukit Nila Kandara. Tempat suci Sri Ksetra atau Puri berbentuk sebuah sankha, dan pusar  Sankha itulah Baginda raja membangun tempat sembahyang. Di puncak tempat sembahyang itu sang raja membuat sebuah kelasa atau menara lancip dan dipuncak menara itu sebuah cakra ditempatkan.
Kemudian raja Indradyumna ingin agar Deva Brahma yang mengupacarai  tempat sembahyang itu. Dia pergi ke Brahmaloka dan menunggu sebentar disana. Sebentar di Brahmaloka sama dengan berabad-abad dibumi sehingga tempat sembahyang yang terletak didekat laut itu terkubur dalam pasir pantai.
Pada waktu Indradyumna ada di Brahmaloka, pertama Suradeva dan kemudian Galamadhava yang menjadi raja diwilayah tersebut. Raja Galamadhavalah yang menggali tempat sembahyang itu dari dalam pasir. Tak lama setelah tempat sembahyang itu telah digali datanglah raja Indradyumna dari Brahmaloka. Indradyumna menuntut bahwa dialah yang telah mendirikan tempat sembahyang itu, Galamadhava juga menuntut hal yang sama.
Pada sebatang pohon beringin dekat tempat sembahyang itu hiduplah seekor burung gagak yang bernama Bhusandi. Dia hidup sepanjang jaman dan dia selalu menyanyikan nama suci Rama. Dari pohon beringin itu dia menyaksikan dari awal tentang tempat sembahyang tersebut, sehingga dia memberitahukan bahwa Raja Indradyumna yang mendirikan tempat sembahyang itu. Karena ditinggalkan ke Brahmaloka lalu tempat sembahyang itu tertutup oleh pasir pantai. Dia juga mengatakan bahwa raja Galamadhavalah yang menggali tempat sembahyang itu dari dalam pasir. Karena raja Galamadhava telah merahasiakan hal yang sebenarnya maka Brahma memerintahkan dia untuk tinggaldi luar halaman tempat sembahyang, disebelah barat danau yang bernama Indradyumna Sarovara. Kemudian Indradyumna mohon pada Brahma agar mengupacarai temapt sembahyang dan daerah Sri Ksetra itu. Tapi deva Brahma berkata. "Sri Ksetra ini terwujud dari Tenaga Dalam Tuhan dan Tuhan mewujudkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, diluar kekuatanku untuk mensthanakan Tuhan disini. Tuhan Jagannatha dan tempat tinggalNya secara kekal berada di dunia material atas karuniaNya sendiri. Oleh karena itu aku hanya akan menempatkan bendera di puncak tempat sembahyang dan memberikan berkah ini, siapapun yang dari jauh melihat dan bersujud pada bendera ini, dengan mudah akan mencapai pembebasan.
Setelah beberapa waktu, Indradyumna merasa tidak semangat dan sedih karena gagal melihat Sri Nila Madhava. Dengan menganggap hidupnya tak berarti dia berbaring di atas rumput kusa memutuskan untuk berpuasa sampai meninggal. Pada waktu itu Jagannatha bersabda padanya dalam mimpi, "Baginda raja yang aku cintai, jangan cemas, Aku akan terapung dilautan dalam wujudKu sebagai Daru Brahman, ditempat yang bernama Bankimulan".
Dengan sejumlah pasukan sang raja pergi ke tempat itu dan melihat sebatang kayu besar yang bertanda Sankha, cakra, gada dan bunga padma. Walaupun sang raja menyuruh banyak orang dan gajah mengangkat kayu itu namun Daru Brahman bahkan tidak dapat digerakkan. Akan tetapi pada malam itu Jagannatha bersabda dalam mimpi sang raja. "Bawalah pelayanku yang dulu yaitu Sabara Visvasu, yang biasanya melayaniKu sebagai Nila Madhava dan tempatkanlah sebuah kereta keemasan di depan Daru Brahnab!".
Baginda raja raja mulai bekerja sesuai dengan petunjuk dalam mimpi. Dia membawa Sabara Visvasu dan menempatkan dia disamping Daru Brahman dan disamping lain ditempatkan Brahmana Vidyapati. Didepan Daru Brahman di tempatkan sebuah kereta keemasan kemudian dia mulai Kirtana (menyanyikan nama-nama suci Tuhan). Sang raja berdoa pada Daru Brahman agar berkenan naik keatas kereta. Daru Brahman dengan mudah dapat diangkat dan ditempatkan diatas kereta. Ditempat itu deva Brahma memulai korban suci dan menyetanakan Arca Suci Nrismhadeva. Arca Sri Nrimhadeva itu masih ada sampai sekarang. Beliau terletak disebelah barat Mukti Mandapa.
Untuk membentuk Arca Jagannatha dari Daru Brahman, raja Indradyumna memanggil banyak pemahat yang ahli dalam membuat arca. Akan tetapi tak seorangpun dapat menyentuh Daru Brahman. Ketika mereka memahat, pahat-pahat mereka hancur berkeping-keping. Akhirnya Tuhan sendiri yang datang menyamar sebagai tukang pahat tua yang bernama Ananta Maharana.
Dia berjanji bahwa kalau dia diijinkan bekerja didalam kamar yang pintunya dikunci, tertutup selama 21 hari maka Arca itu akan terbentuk. Segala sesuatu disiapkan. Sesuai dengan petunjuk pemahat tua itu maka pemahat yang lain-lainya, disuruh membuat tiga kereta.
Kemudian pemahat tua itu membawa Daru Brahman ke dalam tempat sembahyang dan menutup pintu. Sebelum dia menyuruh raja untuk berjanji bahwa tidak boleh membuka pintu sedikitpun juga sebelum 21 hari berlalu. Akan tetapi setelah 14 hari berlalu, sang raja tidak lagi mendengar suar pahat sehingga dia atas nasehat permaisurinya secara paksa membuka pintu tempat sembahyang itu dengan tangannya sendiri.
Didalam, sang raja tidak melihat pemahat itu, tapi dia melihat bahwa Daru Brahman telah berwujud dalam tiga bentuk sebagai Jagannatha, Subhara dan Balarama. Dia mendekati ketig Arca itu dan dia melihat jari-jari tangan dan jari-jari kaki Arca itu belum selesai. Mentri raja yang bijaksana itu memberitahukan pada raja bahwa pemahat tua itu adalah Jagannatha sendiri, dan karena sang raja telah melanggar janjinya dengan membuka pintu sebelum waktunya maka Jagannatha mewujudkan diriNya seperti itu.
Sang raja telah menganggap dirinya berbuat salah yang besar sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dengan demikian lagi dia berbaring diatas rumput kusa dan berpuasa. Tuhan Jagannatha datang dalam mimpinya dan bersabda, "Secara kekal Aku bersemayam disini di Nilacula dalam bentuk Jagannatha sebagai Daru Brahman. Aku tidak mempunyai tangan dan kaki maerial namun dengan indria-indria rohaniKu, aku menerima semua persembahan yang dipersembahkan dalam Bhakti oleh para penyembahKu dan untuk keuntungan seluruh dunia Aku bergerak dari satu tempat ketempat lain. Kau telah melanggar janjimu, namun hal itu adalah bagian dari LilaKu untuk mewujudkan bentuk Jagannatha ini guna melindungi kata-kata veda yang kekal. Bagi para penyembah yang matanya diolesi dengan salep cinta kasih rohani akan selalu melihatKu sebagai Syamasundara, yang memegang seruling. Jika keinginanmu adalah untuk menyembahKu dalam kemewahan dari waktu ke waktu agar Aku dihiasi dengan tangan dan kaki yang terbuat dari emas dan perak. Hendaknya kau harus tahu bahwa anggota-anggota badanKu adalah perhiasan dari segala perhiasan". Dalam Svetavatara Upanisad 3.19 dinyatakan :
Apano pado javano grahita
Pasyayty acaksuh sa srnoty akarnah
Sa vetti vedyam na ca tasyasti vetta
Tam ahir agryam purusan mahantam
"Tanpa tangan dan kaki beliau bergerak dan menerima tanpa mata Beliau melihat, dan tanpa telinga beliau mendengar. Beliau mengetahui segala yang dapat diketahui namun tak seorang pun yang mengetahuiNya. Mereka menyebutNya sebagai kepribadian Asli yang paling utama".
Untuk melindungi kata-kata veda inilah, Sri Jagannatha mengambil wujudnya tanpa tangan dan kaki. Namun Sri Jagannatha dapat menerima 56 jenis makanan dan keliling seluruh dunia dengan kereta ajaibNya.
Mendengar sabda Sri Jagannatha ini, dalam mimpinya ini raja Indradyumna berdoa, "O Tuhan yang hamba cintai, berkahi orang yang lahir dalam keluarga para pemahat Arca yang telah mewujudkan bentuk Anda agar setiap jaman mereka membantu dalam pembuatan kereta-kereta Anda".
Sri Jagannatha tersenyum dan menjawab, "Hai itu Aku penuhi". Keturunan Visvasu yang biasanya melayaniKu sebagai sebagai Sri Nila Madhava, hendaknya dari generasi ke generasi melayani Aku. Mereka dikenal sebagai para Dayita. Keturunan Vidyapati yang lahir dari istri brahmananya hendaknya melakukan pemujaan Arca kepadaKu dan keturunannya yang lahir dan istri sabarinya. Lalita, hendaknya masak makananKu, mereka dikenal sebagai para Suyara". Kemudian Baginda raja berkata pada Sri Jagannatha, :"Tuhan yang hamba Cintai, berkahilah hamba. Biarkanlah pintu-pintu tempat sembahyang Anda tertutup hanya 3 jam setiap hari sehingga penduduk dari seluruh alam semesta dapat darshan pada Anda. Semoga acara makanMu berlangsung terus sehingga jari-jari tangan padma tidak pernah kering".
Tuhan Jagannatha menjawab, "Tathastu, aku penuhi, dan untuk dirimu apa yang kau minta ?". Baginda raja menjawab, "hamba ingin agar hamba tidak punya keturunan dimasa depan nanti tak seorangpun yang menuntut tempat sembahyangMu sebagai miliknya. Hanya ini yang hamba mohonkan". Tuhan Jagannatha bersabda, "Tathastu, Aku penuhi". Dengan cara demikian Sri Jagannatha, Subara dan Balarama muncul kedunia material ini untuk keuntungan semua mahluk. Apakah keuntungan itu.
Pratimam tatra tam drstva
Svayam devana nirmitam
Anayasena vai yanti
Bhavanam me tato narah
"Sri Narayana bersabda pada Laksmi Devi", ditempat tinggal yang bernama Purusottama ksetra, yang jarang dicapai diantara ketiga dunia, Arca Kesava, yang dibentuk oleh Tuhan sendiri, bersthana. Kalau seseorang hanya melihat Arca itu maka dengan mudah dia akan mencapai tempat TinggalKu".
22. TUHAN JAGANNATHA DAN TALAM EMAS

Bandhu Mohanti bukanlah seorang Brahmana, tapi dia adalah penyembah Jagannatha yang mulia. Walaupun dia begitu miskin namun dia yakin bahwa Jagannatha adalah kawan sejatinya dan akan datang membantunya bila diperlukan.
Sepanjang hari Bandhu Mohanti hanya membaca tentang Tuhan Jagannatha, melupakan anak, dan istrinya bahkan tidak tahu banyak suami adalah seorang penyembah Jagannatha. Dia hanya tahu bahwa suaminya punya kawan yang bernama Jagannatha. Dia sangat kesal karena Bandhu Mohanti lebih menghabiskan waktunya untuk kawannya daripada untuk dirinya. Pada suatu hari dia bertanya, "Siapakah kawanmu itu".
"Kau tidak tahu dan kau tidak dapat mengetahuiNya. Dia sangat kaya, punya rumah besar. Dia adalah seorang Maharaja, pakaian, tingkah laku, gaya hidupnya dan segalanya tentang Dia adalah maha mewah. Dia juga sangat baik hati, "jawab Bandhu Mohati".
"Suatu saat, mari kita mengunjunginya", pinta istrinya. "Bagaimana kau pergi dengan pakaian lusuh", jawab suaminya. "Kalau kita kesana kita harus membawa oleh-oleh dan anak-anak kita harus berpakaian yang baik. Kau harus pakai kalung dan gelang emas kalau tidak penjaga pintu dirumah kawanku itu tidak akan mengijinkan kita masuk. Oleh karena aku tidak punya uang untuk membeli semua itu maka aku tidak pergi menemuinya, "dia menambah. Istri Bandhu Mohanti menjawab, kalau kawanmu itu sejati dan setia. Dia pasti akan menerima dan menghormatimu dengan tidap perduli pakaian apapun yang kau kenakan". Oleh karena kau begitu miskin, mengapa kau tidak mendekatinya untuk minta bantuan.
Bandhu Mohanti tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh istrinya sehingga dia menjadi marah lagi. Pada suatu ketika, di desa Bandhu Mohanti terjadi bencana kekeringan, banyak yang meninggal karena kelaparan. Sebagian besar penduduk desa itu adalah petani seperti Bhandu Mohanti sendiri. Bhandu Mohanti selalu bilang sama mereka, "kawanku sangat kaya, kalau Dia mau, kita bisa diselamatkan". Istrinya memaksa Bhandu Mohanti untuk menemui kawan agungnya.
Bandhu Mohantipun berangkat menuju rumah kawannya itu. Dia ditemani oleh anak istrinya. Mereka berjalan sejauh 30 mil. Setelah tiga hari akhirnya mereka tiba di Puri. Namun mereka tiba disana pada tangah malam sehingga tempat sembahyang Jagannatha, pintu-pintunya sudah tertutup. Jadi mereka beristirahat di Pejanala, sebelah selatan tempat sembahyang itu, tempat itu adalah selokan tempat pembuangan ari berasal dari dapur dan disini pula sapi-sapi datang untuk minum air.
"Dimanakah Dia, Kawan kayamu di Puri ini" tanya istrinya dengan cemas. "Dimanakah rumahnya kapan kita akan kesama" istrinya bertanya lagi. "Sekarang Dia sudah dekat", jawab Bandhu Mohanti. Dia tidak ingin menceritakan bahwa kawannya itu adalah Tuhan Jagannatha. Anak-anak mereka lapar dan menangis. Lalu ibunya memberikan air beras yang dari Pejanala untuk diminum. Selanjutnya mereka semua tidur. Karena istrinya merasa kasihan melihat anak-anaknya dia terbangun. Tiba-tiba dia melihat brahmana muda yang gelap sedang membawa bermacam-macam makanan yang ditempatkan pada sebuah talam emas diatas kepalanya. Brahmana itu mendekati dan berkata "Dimanakah Bandhu Mohanti, Dimanakah Bandhu Mohanti". Sang istri mendengar suara ini dan dia menyahut dengan keras, "ya, kami disini, ada apa".
Sang brahmana muda tersenyum secara ajaib dan berkata, "kawan Bandhu Mohanti menyuruhku membawa makanan ini untuknya, segera karena akupun banyak pekerjaan yang harus dikerjakan". Sang istri tidak mau mengganggu saminya yang sedang tidur setelah perjalanan yang jauh. Sang Brahman mudah sudah akan mau pergi sehingga dia tidak punya waktu untuk bertanya tentang apapun. Dia menerima semua makanan itu dan membangunkan anak-anaknya. Mereka kecuali Bandhu Mohanti makan semua makanan itu, lalu tidur lagi. Perut mereka sudah puas sekarang. Ketika Bandhu Mohanti bangun, istrinya menceritakan semua yang telah terjadi. Bandhu Mohanti mulai menangis "Mengapa kau tidak membangunkan aku. Kau diberkahi dapat melihatnya, aku tidak pantas bahkan hanya untuk melihatnya". Pikirannya mengembara mengenang apa yang baru saja terjadi. Istrinya tidak tahu ada apa sebenarnya.
Dalam kebahagiaan rohani yang besar Bandhu Mohanti makan dari talam emas itu, sisa makanan yang ditinggalkan oleh anak-anaknya. "Tapi apa yang harus aku lakukan dengan piring emas ini ?", dia bertanya pada dirinya sendiri. Bandhu Mohanti membersihkan dan dengan penuh bhakti menyimpan talam itu dibawah bantalnya. Pada pagi harinya, terjadi kegemparan di dalam tempat sembahyang. Talam emas yang sangat mahal yang dipakai oleh Tuhan Jagannatha hilang. Hal ini segera dilaporkan pada Baginda raja Virakisora yang memerintahkan di Puri pada waktu itu.
Tak lama kemudian politi menangkap Bandhu Mohanti yang sedang berada di luar tempat sembahyang itu. Talam emas dikembalikan dan sang raja akan menjatuhkan hukuman berat pada Bandhu Mohanti. Istri dan anak-anaknya menangis dan memohon. Hal ini semua dilakukan oleh kawan suami saya yang kaya". Bandhu Mohanti tidak dapat berbuat apa-apa, dia juga menangis. Tak pernah mereka membayangkan nasib malang menimpa seperti ini. Sang raja akan memberikan putusan pada keesokan harinya.
Malam itu sang raja bermimpi. Tuhan Jagannatha hadir dalam mimpinya dan bersabda, "Wahai raja, jika seorang kawan datang kerumahmu, apakah salah kau menyambunya dan memberikan dia makanan dengan talam emasKu sendiri. Apakah kau juga akan menghukumKu ?, Bebaskan dia". Sang raja terkejut mendengar hal ini, selanjutnya dia membebaskan Bandhu Mohanti. Dia juga memerintahkan agar keturunan Banhu Mohanti diijinkan untuk melayani didalam tempat sembahyang. Bahkan sampai sekarang keturunan Bandhu Mohanti melayani masak untuk Tuhan Jagannatha.

23. KEINGINAN YANG DIPENUHI

Ada seorang pujari di Jagannatha Puri yang bernama Somanath Khuntia. Pada suatu hari dia sedang berdiri dihadapan Arca dan pasangan penganten baru dari Bengal datang menemuinya. Sang suami bernama Deepan Ghosh dan istrinya bernama Shubhashree.
Sang suami bertanya pada pujari, "Apakah yang berwajah hitam ini, Jagannatha". Dapatkah dia mendengar doa-doa dan dan menjawabnya, mungkin tidak, karena dia terbuat dari kayu dan tidak punya telinga. Kau sebagai pendeta Jagannatha, hanya menipu para penziarah yang tidak bersalah yang datang dari tempat yang jauh. Kau hanya tertarik mengambil uang dari mereka atas nama Jagannatha tapi Dia tidak pernah menjawab doa-doa kami".
Karena ini hari pertama Khuntia itu menjadi punjar, dia tidak mengerti apa yang dimaksud Tuan Ghosh, dia hanya menjawab, "Ya. Jagannatha mendengar kalau kau berdoa dengan tulus".
Deepan Ghosh adalah orang yang kaya raya oleh karena itu bicaranya pedas, "aku tulus tapi kau tidak, apa gunanya melakukan puja dan doa-doa pada sebatang kayu itu", ini seperti itu terus menerus berlangsung. Yang kau panggil Jagannatha itu tidak akan pernah mendengarmu".
Ketika orang itu terus menantang Jagannatha, pujari muda itu berkonsultasi pada pimpinan pujari yang sedang menghias Jagannatha dengan kalungan bunga. Pimpinan pujari menasehatkan, "katakan pada orang itu untuk datang lagi pada perayaan "Candana Lagi" Tuhan Jagannatha, setelah tengah malam. Pada waktu itu Jagannatha diolesi dengan tapal candana yang wangi sebelum Beliau tidur. Kalau siapapun yang berdoa pada jam itu maka beliau akan memenuhinya".
Ketika Tuan Ghosh lagi menghina Tuhan Jagannatha istrinya bersujud dan menyampaikan doa-doa pujian. Pada waktu dia pergi, istrinyapun mengikuti dengan diam saja. Hal yang aneh Tuan Ghosh bersama istrinya datang lagi pada perayaan "candana lagi" (Dia menemui pujari dan bertanya, "Jadi apakah sekarang waktu yang baik bagi Jagannatha untuk mendengar, kalau begitu aku minta sesuatu padaNya". Pujari menanyakan apa yang akan dia inginkan. Tuan Ghosh bilang, "dapatkah dia memberikannya. Tanyakan sama dia dulu. Pujari muda itu kesal berkata, "Ya, Beliau akan memberikannya, katakanlah padanya apa yang kau mau".
Tuan Ghosh melihat sesaat pada istrinya yang cantik. Kulitnya kuning langsat, dia pakai sari Benares yang mewah, wajahnya bersinar seperti seorang yang cantik. Tuan Ghosh sangat menyayanginya namun dia ada rasa untuk hal-hal spiritual. Kemudian setengah bergurau dan setengah tulus dia berpaling pada Jagannatha dan meminta. "Katakanlah padaNya untuk memberikan aku pembebasan. Aku minta Moksa".
Khuntia muda itu pergi pada pimpinan pujari yang sedang mengoleskan tapak kayu cendana pada dahi Jagannatha. Secara wajar pada saat yang membahagiakan itu Jagannatha akan menganurgerahkan apapun yang diminta. Kemudian dengan suara keras, sehingga tuan itu juga mendengar pujari menyampaikan doanya, "Oh Jagannatha, orang ini, Deepan Ghosh dari Bengal mohon pada Anda agar diberikan pembebasan, penuhilah keinginannya". Pujari muda itu kembali mengatakan pada Tuan Ghosh bahwa doanya sudah disampaikan. Tuan Ghosh menjawab, "hah, Arca kayu ini, memenuhi doaku ! Sungguh ajab, jangan menipuku! Jangan berpikir aku ini bodoh ! aku tak dapat diolok-olok dengan mudah!" lalu dia pergi.
Enam bulan kemudian, ketika pujari sedang melewati pintu timur tempat sembahyang mendengar namanya dipanggil dengan suara speaker yang keras. "Sri Somatha Khuntia, datanglah ketempat informasi karena seorang wanita dari Bengal datang menemui Anda". Dia merawa kaget. "Wanita mana yang manu menemuiku" Karena dia sudah hampir lupa dengan kejadian enam bulan lalu. Segera dia datang ketempat informasi. Setelah melihat wanita itu, dia masih tidak ingat. Wanita pemakai sari putih seperti seorang janda. Melihat pujari muda itu, wanita itu berlari dan bersujud, dikakinya. Sambil menangis dia berkata, "Sebenarnya Jagannatha Anda sangat Agung. Beliau dapat mendengar. Sekarang saya telah janda karena suamiku Deepan Ghosh tiba-tiba meninggal sebulan yang lalu", Pujari Sri Somanatha berdiri tak bicara apa-apa.

24. TUHAN JAGANNATHA DAN DASIA BOURI

Dasia bouri tinggal di desa Baligram, 30 mil dari Puri. Dia punya seorang istri tidak mempunyai ana.Dia seorang penenun. Biasanya dia selalu menyakikan nama suci Jagannatha di pondoknya, bibirnya selalu menyanyikan nama suci Tuhan secara spontan, walaupun dia tidak bisa  membaca dan menulis namun dia dapat menyanyikan lagu-lagu yang baru tentang Jagannatha. Dia sering merasakan seolah-olah dia dipeluk oleh Tuhan. Suatu saat dia mendengar bisikan, "Aku telah menciptakan semua orang. Semuanya adalah anak-anakku. Tidak ada perpisahan antara Aku dan setiap orang.
Waktu festifal Ratha vatra telah dekat, Jagannatha akan keluar sehingga orang-orang dari segala kasta dan agama akan melihat Beliau. Oagi itu Dasia Bouri pergi ke Puri berjalan kaki. Sepanjang jalan dia menyanyikan lagu-lagi bhakti pada Jagannatha sehingga memikat para peziarah lainnya. Ketika dia tiba, waktu untuk menarik kereta dimulai. Dia tidak datang berdiri dekat tempat sembahyang tapi dia menunggu dijalan Balagandi.
Pelan-pelan kereta Subhadra dan Balarama keluar dan bergerak lari. Kemudian terhias dengan mewah kereta Jagannatha menyusul diiringi dengan suara kartal dan sankha. Kereta itu diatarik oleh puluhan ribu penyembah. "Betapa besarnya, Mata yang indah penuh cinta kasih rohani! Wajah itu bagaikan angkasa! Betapa mengundang senyumnya! Menjulur kedepatn Tangan perkasaNya ingin memeluk kita semua", pikir Dasia Baouri. Dia ingin pergi menarik kereta itu namun keinginannya tak terpenuhi karena dia lahir kedunia, dikeluarga yang rendah yang bahkan tak layak untuk disentuh.
Ketika kereta Jagannatha mendekati tempat sembahyang yang bernama Gundica, Dasia Bouri kembali pulang sambil terus terkenang akan Bentuk Tuhan. Dia tergugah oleh perasaan cinta kasih dan pelayanan bhakti rohani pada Tuhan Jagannatha. Sepanjang jalan dia menyanyi dan hatinya menyimpan Tuhan Jagannatha.
Istrinya sedang menunggu. Dia telah menyiapkan makanan sederhana yang berkuah. Ditengah-tengah mangkok nasi itu, sehelai daun bayam yang hitam sedang mengapung. Dasia Bouri melihatnya sebagai salah satu mata Jagannatha yang besar.
Seluruh atmosfer rumahnya digenangi oleh kehadiran Tuhan yang rohani. Melihat suaminya menari, sang istri berpikir bahwa suaminya kemasukkan hantu. "Makanan ini seperti Tujan pujaanku, bagaimana aku dapat memakannya", kata Dasia Bouri. Kemudian Tuhan Jagannatha muncul padanya dan bersabda, "Oh Dasia Aku selalu bersamamu, mintalah apa yang kau sukai, Aku siap menganugerahkannya".
Menjelang tidur, Dasia Bouri berbisik pada Jagannatha, "Oh Tuhan, hamba hanya minta ini. Adapun yang hamba persembahkan, terimalah. Tuhan mengangguk tanda setuju lalu menghilang. Pagi harinya. Dasia Bouri memetik kelapa dikebunnya. Kelapa ini harus dipersembahkan pada Tuhan tapi bagaimana kalapa ini dapat dikirim pada Jagannatha. Atas kehendak Tuhan, pimpinan pujari didesanya akan pergi ke Puri bersama beberapa penyembah untuk membawa persembahan. Dengan tunduk hati Dasia memohon pada brahmana pendeta itu. "Oh kawan mohon bawalah kelapa ini pada Jagannatha atas nama saya karena saya tidak masuk ke dalam tempat sembahyang. Tolong kembalikan kalau Jagannatha tidak menerimanya dengan senang hati. Persembahkanlah kelapa ini seadanya tanpa diapa-apakan lagi".
Setiba di Puri Pendeta itu darshan pada Jagannatha, semua makanan telah diap dipersembahkan namun pendeta itu mempersembahkan kelapa Dasia. Lalu dia keluar mengambil kelapa itu dan mempersembahkannya sesuai dengan keinginan Dasia. Dia berdoa, "Oh Tuhan terimalah persembahan dari Dasia Bouri ini. Dia berasal dari desa Baligram. Dia lahir di kasta yang tidak diijinkan untuk masuk ke dalam. Tapi dia mohon, kalau Anda tidak menerimanya dengan tangan Anda sendiri maka kelapa ini dikembalikan saja". Banyak orang-orang disekitarnya, pada waktu sang pendeta sedang memegang kelapa itu dihadapan Jagannatha. Tiba-tiba di merasakan tangannya seolah-olah membeku lalu kelapa yang dipegannya lenyap secara ajaib. Semua orang dan sang pendeta terkejut atas keajaiban ini. "Bagaimana mungkin di Kali Yuga ini Tuhan menerima persembahan langsung dengan tanganNya sendiri dari orang seperti Dasia Bouri", pikir pendeta itu.
Sebenarnya pendeta itu mempersembahkan kelapa Dasia Bouri bukan langsung dalam altar tapi di Garuda stamba melalui sedikit cela disana. Tiba-tiba pujari lain yang berada dekat altar Jagannatha berteriak. "Oh, keajaiban apa ini, pecahan cangkang kelapa berserakan disekitar ini, Wahai celaka!". Kejadian ini segera diketahui oleh orang-orang secara mendetail
Setelah kejadian ajaib di dalam tempat sembahyang itu, semua orng menginsafi, termasuk sang pendeta, bahwa Tuhan dan para penyembahNya tak dapat dipisahkan. "Aku berada dimana para penyembah murniKu berada".
Pada suatu hari Dasia Bouri pergi ke Puri mmebawa sekeranjang mangga, untuk Tuhan Jagannatha. Tiba-tiba di Puri dia melihat Jagannatha sedang duduk di Nila Cakra di puncak tempat sembahyang itu. Jagannatha menerima semua mangga itu sehingga keranjang kosong. Beberapa pujari melihat menghilangnya mangga-mangga itu secara ajaib lalu mereka berlari ke dalam altar. Disana mereka melihat kulit-kulit mangga berserakan. Air mangga membasahi dan jatuh dari wajah Jagannatha. Siapa yang menganggap penyembah seperti itu "Rendah atau tidak layak disentuh".
Setelah Dasia Bouri meninggal, raja di Puri mengijinkan keturunannya untuk melayani Jagannatha pada waktu festival Ratha yatra.

25. TUHAN JAGANNATHA DAN GITA PANDA

Tidakkah kau punya perasaan. Selama tiga hari anak-anakmu kelaparan! Beberapa lama mereka harus hidup tanpa makanan. Berhentilah membaca syair-syair yang tak berguna itu! Pergi dan mintalah makanan dilima desa hari ini"!
Walaupun dia diperintahkan oleh istrinya untuk meminta makanan dari sejak pagi, Panda tidak menjawab. Setelah mandi pagi, dia melanjutkan membaca Bhagava Gita sebagai biasanya kebiasaannya setiap hari. Tapi kali ini istrinya bereteriak dengan keras, "Betapa kamu mahkluk yang tidak tahu malu! Ucapan mantra-mantramu hanya menemukan jawaban dalam tangis anak-anakmu yang menangis kelaparan, walaupun kau terus membaca Gita, dapatkah kita dikasih makan oleh hal itu. Keluar dan mintalah makanan segera.
Panda balik berteriak, "O Jagannatha, kau wanita yang tak punya hati!, tidakkah kau mengijinkan aku bahkan untuk menyelesaikan mantra sehari-hariku. Paling tidak, biarlah yang lain diberikan kesempatan untuk membaca Gita. Apakah hanya karena aku menikah denganmu, aku tidak diijinkan untuk membaca Gita ?".
Istrinya menjawab, "Buanglah buku itu jauh-jauh! Mengapa kau menikahiku kalau kau punya kebiasaan seperti ini dan juga mengapa kau punya tiga anak ?"
Gita Panda menjawab, "ingatlah hal ini. Buku ini tidak dibuat oleh manusia. Sri Krsna yang tak lain adalah Jagannatha sendiri., menyampaikan Gita ini dimedan perang Kurusetra. Ini bukan novel murahan. Sekali kau mulai, kau harus menyelesaikannya. Ini sabda Tuhan sendiri. Sabarlah dan biarkan aku menyelesaikannya".
Istrinya mulai menangis sambil berkata, "Bagaimana bisa orang kejam seperti kau ada didunia ini, Oh ... apa jadinya nasib kita. Kau seorang pendeta, panda besar. Kau hanya menasehatiku, tapi aku juga tahu sedikit tentang Gita. Dalam Gita Tuhan mengajurkan agar pertama-tama kita harus melakukan kewajiban terlebih dahulu. Apakah ini berarti hanya membaca Gita saja ?"
Gita Panda menjawab, "Gita mengatakan bahwa segala sesuatu haru diserahkan pada Tuhan, inilah inti sari Gita, baik dalam keadaan bahagia maupun susah, beruntung atau malang. Beliau adalah pelaku segala sesuatu. Tidak ada yang bebas dariNya, tidak ada alasan bersedih pada waktu kesulitan maupun bahagia pada waktu dapat untung banyak. Beliau telah mentakdirkan segalanya. Tak seorangpun dapat membantah argumen ini. Mengapa bicara begitu gila. Aku tak dapat membantah kebenaran dalam kitab suci!".
Istrinya berkata, "Berikan aku pulpen. Aku akan mencoret kalimat itu!". Suaminya  memberikan dia pulpen dan dia benar-benar mencoret Gita, "oh lihatlah, betapa mudahnya menghapus kalimat-kalimat ini". Melihat kesalahan yang dilakukan oleh istrinya. Gita Panda berkata, "Adalah suatu kesalahan menulis ulang apa yang telah disampaikan oleh Tuhan sesuai dengan maksudmu sendiri. Semua hasil yang kuperoleh dari membaca Gita ditiup angin oleh tindakan kekanak-kanakan dan jahatmu ini. Gita panda berbaring terlentang diatas lantai dengan Gita diatas dadanya. Dia sangat sedih dan marah. Air matanya dari pipinya. Istrinyapun mulai menangis tersedu-sedu diikuti oleh anak-anak mereka.
Istrinya minta maaf pada suaminya namun dia tak dapat tidur dimalam hari. Akankah dia dimaafkan oleh Tuhan Jagannatha. Dia punya lima anggota keluarga yang mesti dipelihara, dua anak perempuan, satu lelaki, dia dan suaminya. Pekerjaan suaminya adalah meminta-minta dan membaca Gita di pintu gerbang tempat sembahyang, di Jagannatha Puri. Mereka menderita karena miskin. Suaminya dikenal sebagai pandita, guru besar Gita dan orang-orang memanggilnya Gita Panda.
Kejadian ini terjadi pada abad kelimabelas ketika terjadi kekeringan di daerahnya Gita Panda. Banyak orang menjadi pengemis. Tak seorangpun disekitar daerahnya dapat memberikan sedekah. Gita Panda tak punya perlindungan lain kecuali Tuhan. Dia yakin akan kehendakNya sehingga dia tidak dapat minta-minta pada waktu sulit itu, tapi istrinya yang selalu cemas.
Gita Panda tinggal di tempat tinggal Tuhan, Nila cala dhama, Bukit Biru, yang dikenal sebagai Puri. Di Puri segala sesuatunya memancarkan kebiru-biruan, tempat sembahyang, angkasa atau lautan, Gita Panda bahwa Tuhan Jagannatha yang berada didalam tempat sembahyang menyediakan makanan bagi setiap insan. Disamping itu pula Devi kekayaan, Maha Laksmi tinggal didalam tempat sembahyang. Mengapa takut kelaparan di tempat suci ini.
Ketika Gita Panda sedang memimpikan semua ini, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ketika membuka pintu, istrinya melihat seseorang yang sedang berdiri sambil memikul beras, ghee, dahl, curd, keju, kunyit dan biji sawi diatas pundakNya. Istrinya Gita Panda bertanya dengan hormat, "Tuan, rumah siapa yang Anda cari, saya akan menunjukkannya".
"Apakah ini rumah Gita Panda ?", jawab pemikul itu.
"Ya, benar ", kata sang istri.
"Makanan ini dikirim untuknya. Kawannya, Jagu, telah mengirimnya. Aku telah diupah untuk membawanya. Ambillah". Sang istri terkejut dan tak percaya. "Bawalah makanan ini kedalam". Hal yang aneh terjadi! Rumah Gita Panda penuh dengan makanan secara tiba-tiba. "Apakah kasta Anda, kau tidak nampak sang istri. "Ibu yang baik, Aku adalah seorang pemerah susu, putra Vrajaraja. Kau tidak mengetahui Aku. Tapi suamimu mengetahui Aku dengan baik. Kawannya mengatur untuk mengirim semua makanan ini untuk kalian. Sekarang ijinkanlah Aku pergi karena Aku punya kesibukan yang lain".
"Oh, betapa indahnya Dia berkata-kata", pikir sang istrinya. Dia berkata "Panda sedang tidur. Ijinkan saya menyiapkan makanan Anda. Anda telah bekerja keras untuk kami, makanlah sesuatu dari rumah kami sebelum Anda melanjutkan perjalanan".
"Tidak, Ibu. Terima kasih, tapi Aku tak punya waktu lagi. Disamping itu Aku tak dapat makan karena lidahKu perih tergores-terkais".
"O.. kasihan!, siapa yang melakukan hal ini ?", tanya ibu itu.
"Jangalah tanyakan itu. Panda telah mengetahuinya. Dia tidak akan keberatan kalau aku pergi tanpa makan".
Sang istri tidak dapat membujuknya untuk tinggal. Kemudian sang istri menyiapkan makanan untuk anak-anaknya. Pemikul makan itu segera menghilang secara misterius.
Makanan telah siap ketika Gita Panda bangun. Dia kaget melihat istrinya sedang makan. "Bagaiman tanpa beras kau menyiapkan hidangan makanan ?". Salah satu kawanmu yaitu Jagu, mengirimkannya melalui seorang kuli, kesini dan lihatlah. Dapur kita penuh dengan makanan, tapi sayang kulit itu menghilang tanpa menerima makanan apapun karena lidahnya terkais/tergores", kata istrinya.
Rasa haru menggerayangi Gita Panda. Dia melihat pada istrinya sambil terheran-heran. "Kita harus segera pergi ketempat sembahyang", kata Panda. Mereka bersama-sama masuk kekamar/ruang sembahyang. Istri Padan masih kebingungan . "Oh Tuhan!", jerit panda. "Pergi dan lihatlah lebih dekat Tuhan Jagannatha sedang duduk di altar", kata Panda. Mereka berdua dapat melihat dengan jelas arca Jagannatha. Bahkan mereka dapat melihat lidahnya. Lidahnya terkais dan berdarah. Melihat hal itu, sang suami dan istrinya membenturkan kepala mereka ke tembok dan berdoa, "Oh Tuhan, kami adalah insan yang jatuh, mohon maafkanlah kami". Mereka mendengar suara bergema, "Aku selalu membantu siapapun yang berdoa padaKu".

Jaya Jagannatha !.


26. TUHAN JAGANNATHA DAN PUTRI VISNUPRIYA

Para dokter Rajasthan berusaha mencari obat untuk menyembuhkan penyakit yang tak dapat disembuhkan selama bertahun-tahun. Walaupun semua korban suci dan puja pada deva telah dilakukan untuk penyembuhan namun penyakit sang ratu semakin memburuj setiap hari.
Raja Jayasinha yang memerintah di Rajasthan sangat cemas terhadap kesehatan ratunya yang tercinta. Dia merasa tidak ada gunanya hidup kalau ratu meninggal. Karena rasa sedih ini, raja mengabaikan kewajiban-kewajibannya. Dia menghabiskan semua waktunya untuk kesejahteraan sang ratu. Kematian sudah diambang pintu. Wajah sang ratu pucat dan cekok. Putri muda yaitu Visnupriya, duduk disamping ibunya. Doa-doanya tidak terjawab, semua deva seolah-olah telah berubah  menjadi batu.
Pada suatu hari Visnupriya mendengar suara manis dari seorang pengemis sedang menyanyikan dijalan diluar jendela kamar ibunya. Dia menyuruh seorang dayang untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya, "Seorang yogi dari Sri Ksetra sedang menyanyikan lagu-lagu Tuhan Jagannatha. Dia memberikan sebiji maha prasada yang diambil dari mangkoknya ketika kami bertanya kepadanya", kata dayang itu pada Visnupriya. "Ratu kita mungkinkah disembuhkan kalau beliau menerima prasada ini. Tuhan Jagannatha akan menjawab doa-doa kita kalu kita tulus", tambah dayang itu.
Dengan senang hati Visnypriya segera menerima mahaprasada itu. Walaupun dia tidak pernah pergi ke Orssa untuk mengunjungi tempat sembahyang Jagannatha yang megah, dia berpikir, "Ya, Jagannatha adalah rohani dan makanan yang telah dipersembahkan kepadaNya juga rohani!" Dia mendekati ibunya sambil membawa mahaprasada itu. Sang ratu sudah seperti kerangka. Waran tubuhnya pucar pasi seperti hantu. Visnupriya melihat pada wajah ibunya dan berkata dengan keras, "Ibu, bukalah mulutmu, ini maha prasada dari Jagannatha, dokter yang paling utama bagi semua orang".
Tiba-tiba secercah sinar matahari menerpa wajah ibunya. Ibunya membuka mata dan makan maha prasada it, walaupun lidahnya tidak merasakan apa-apa. Sentuhan rohani memasuki tubuhnya. Ketika maha prasada itu melewati kerongkongannya, tubuhnya disucikan, karena semua dosa dihapuskan. Kecerahan mulai nampak diwajah sang ratu. Tapi pada malam itu penyakit sang ratu meningkat lagi, dia sangat menderita. Putri sang ratu menyanyikan lagi-lagi pelayanan bhakti tentang masa kanak-kanak Krsna, sambil duduk disamping ibunya.
Pada masa lalu, sang ratu bersama baginda raja pergi ke Puri dan tinggal disana selama beberapa hari. Pada kesempatanitu sang ratu berdoa pada Jagannatha, O Jagannatha, semoga hamba mendapatkan seorang putri sehingga hamba dapat menghabiskan waktu istirahat bersamanya. Dan semoga Tuhan Jagannatha sendiri yang menjadi menantuku". Sang ratu terkenang "Putriku Visnupriya terlahir karena karunia Jagannatha".
Sepanjang malam sang ratu dijaga oleh para dayang. Pagi harinya sang ratu merasa lebih baik. Pada suatu malam ketika Visnupriya sedang mendampingi ibunya, dia tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi bahwa Jagannatha sedang berdiri dengan tanganNya terbentang, menunggu untuk dikalungi bunga oleh Visnupriya. Jagannatha mencoba menyembunyikan senyum yang dimainkan oleh bibirNya. Visnupriya merasa dirinya seolah-olah dipeluk olehNya. Betapa kebahagiaan rohaninya dipeluk oleh Jagannatha. Visnupriya merasakan kebahagiaan rohani. Tidurnya Visnupriya dibangunkan oleh Ibunya. Ibunya menyuruh dia untuk istirahat sebentar agar tidak ikut sakit.
Setelah bermimipi seperti itu Sang putri sulit untuk tidur dimalam hari. Hanya ketika dipanggil oleh ibunya dia keluar dari mimpinya. Mimpi-mimpi itu selalu terkenang dihatinya. Dia heran, bagaimana dia dapat menjadi pelayanan Jagannatha dan bagaimana Dia menjadi segala-galanya bagi Visnupriya. Setelah kejadian dirumahnya ini, Visnupriya yakin bahwa Jagannatha adalah Sri Krsna sendiri. Kalau tidak bagaimana mungkin maha prasada dapat menyembuhkan ibunya yang hampir meninggal. Lama telah waktu berlalu, kapan dan siapapun yang berasal dari Puri datang kekerajaan Rajasthan sang raja melayaninya seperti seorang raja.
Pada suatu ketika, pimpinan pujari Jagannatha yaitu Talucha Mahaprata datang ke kerajaan Rajasthan, dekat perbatasan Kashmir. Dia datang untuk menyebarkan maha prasada di kerajaan itu. Dikatakan maha prasada dimask oleh Maha Lakshmi, permaisuri Jagannatha sendiri dan diberkahi oleh devi Vimala, ibu tempat sembahyang di Puri (Jagannatha) untuk menyembuhkan dan penyucian segalanya. Maha prasada itu sangat enak dan bahkan rasa takut terhadap kematian dihapuskan hanya dengan merasakan sedikit saja. Mengetahui cinta kasih rohani sang putri terhadap Jagannatha, Talucha Maha Patra datang keistana sambil membawa maha prasada.
Dengan merasakan maha prasada ini untuk yang kedua kalinya Visnupriya mendapatkan suatu penglihatan yang lain lagi. Dengan senyum dibibirNya, Visnupriya mendengar Tuhan bersabda, "Aku, Sri Visnu adalah milikmu karena kau adalah kekasihKu". Rasa kebahagiaan rohani mengisi hati Visnupriya. Dari sejak itu, dia selalu menyimpan gambar Jagannatha di dekat hatinya. Semakin merasakan kehadiranNya semakin Visnupriya bebas dari rasa lapar dan haus. Dia tenggelam dalam kesadaran rohani, penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan yang Maha Kuasa.
Setelah beberapa waktu tinggal disana Talucha Maha Patra bersiap-siap untuk berangkat. Sang ratu memberikan dia banyak hadiah untuk dipersembahkan pada Jagannatha. Talucha Maha Patra juga bertanya pada sang putri kalau dia ada sesuatu yang akan diberika pada Jagannatha.
Visnupriya termenung, "paling tidak hal ini hendaknya disampaikan bahwa aku menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya dan ku selalu menungguNya untuk muncul sehingga aku dapat jatuh bersujud di kakiNya. Aku tak punya apa-apapun sebagai persembahan karena Jagannatha telah memiliki memiliki seluruh alam semesta". Kemudian Visnupriya mulai menulis sepucuk surat yang bertinta emas kepada Tuhan Jagannatha, "Beliau berada dimana-mana bagaikan angkasa, ada ruangan yang cukup untuk menampung semuanya dalam bentangan tanganNya. Kau tidak harus pergi kemana-mana karena Beliau selalu bersamamu". Inilah sloka Sankrit yang terlintas dalam pikirannya. Dia menulisnya dan memberikan sloka itu pada sang pujari beserta 10 keping uang emas.
Dalam perjalannya kembali ke Puri, Talucha Maha Patra ingin mengetahui isi suratnya, lalu dia membuka dan membacanya. Dia berpikir, "Ap-apaan ini, walaupun ia putri raja yang terdidik, dia telah menulis hal-hal yang tak masuk akal ini". Mengapa aku harus membawa surat ini pada Jagannatha. Kemudian dia membuang surat yang berisi sebuah sloka disampig jalan dan melanjutkan perjalanannya.
Tak lama kemudian Pujari itu tiba dirumahnya di Puri, karena lelah dia segera beristirahat. Ketika sedang tidur, Jagannatha bersabda padanya dalam mimpi "Kau bawa kepintgan uang emas yang diberikan oleh Visnupriya tapi kau membuang surat itu seperti sampah. Bukankah surat itu bukan untukmu, apakah ini yang namanya kewajibanmu karena pikiranmu yang sedikit duniawi kau menganggap surat itu omong kosong belaka, tapi bagiku goresan pena itu lebih berharga dari kepingan uang emas itu, karena goresan pena itu ditulis dengan cinta kasih padaKu. Besok pagi lihatlah, aku telah memungut surat itu sesaat kau membuangnya. Dan sekarang aku sedang mendekapnya dihatiKu".
Talucha Maha Patra segera bangun dari mimpinya, setelah menyelesaikan acara paginya, dia bergegas ketempat sembahyang dan membuka pintunya. Dengan rasa rendah hati, takut, cemas, malu dia pergi pada Jagannatha. Setelah melihat bahwa surat itu berada di  dada Tuhan dia bersujud dandavat dihadapan Jagannatha dan berdoa, "OhTuhan, karena kebodohan hamba telah berbuat kesalahan yang mengerikan, mohon maafkanlah hamba".
Pagi itu para penyembah mulai menyanyikan doa-doa pagi. Tuhan Jagannatha menikmati semua ini. "WajahNya yang kehitam-hitaman nampak lebih indah dari sebelumnya, indah kehitaman laksana angkasa itu sendiri, Beliau misterius bagi semuanya tapi Beliau begitu bahagia secara kekal abadi", pikir Talucha Mahapatra.
Dengan cara demikian, pimpinan pujari Jagannatha menginsafi apa itu pelayanan bhakti yang sebenarnya. Sementara itu Visnupriya tenggelam dalam memikirkan Tuhan sepanjang hidupnya.
Jaya Jagannatha!

27. MUNCULNYA NAVADVIPA

Parvati bertanya, "Tuanku mohon uraikanlah dengan sebenarnya kapan dan bagaimana Srimati Radhika menciptakan Navadvipa". Deva Siva menjawab, O Parvati, dengarkanlah apa alasannya sehingga Navadvipa muncul seperti apa yang telah termuat didalam Ananta Samhita dan seperti apa yang telah aku dengar dari bibir padma Sri Narayana sendiri.
Bagaikan seekor kumbang yang bermain pada setangkai bunga padma, Krsna menikmati kegiatan bersama gopi Viraja didalam hutan yang indah di Vrndavana yang menyenangkan, Radhika yang berwajah laksana bulan rohani mendengar tentang kegiatan Krsna ini dari salah seorang Sakhi sehingga beliau bergegas untuk menemui Krsna. Melihat Radha akan datang Krsna menghilang dengan tiba-tiba dan gopi Viraja berubah bentuk menjadi sebuah sungai.
Kemudian lagi Radha mendengar bahwa Krsna sedang bermain-main bersama Viraja, tapi ketika beliau tiba ditempat permainan, Radha tidak menemukan mereka, Radha mulai khusuk memikirkan Krsna.
Lalu Radha mengumpulkan para sakhi ditempat antara sunga Gangga dan Yamuna. Di sana beliau menciptakan sebuah tempat yang indah sekali, terhias dengan tanaman-tanamam menjalar, pepohonan dengan kumbang jantan dan betina betebangan disekitarnya, rusa jantan dan betina dengan riang gembira bermain-main dan seluruh tempat itu beraromakan keharuman dari bunga-bunga seperti bunga Jasmine, mallola dan malati. Tempat tinggal rohani itu diperindah dengan hutan-hutan Tulasi dan terhias dengan bermacam-macam kunja.
Atas perintah Radha sungai Gangga dan Yamuna dengan air dan tebing-tebing mereka yang menyenangkan bertindak sebagai sebuah benteng untuk melindungi kebun-kebun yang ada di tempat tersebut, deva Asmara rohani beserta dengan musim semi, secara kekal di sana dan burung-burung menyanyikan nama suci Krsna secara terus menerus.
Radha yang berbusana dengan beraneka warna mulai mengalungkan sebuah melody yang sangat manis dan merdu pada sebuah seruling untuk memikat Krsna. Karena terpikat oleh melody itu Krsna pun muncul di tempat yang indah tersebut.
Radha, Pemikat Krsna, melihat bahwa Krsna telah datang, lalu beliau menggandeng tangan Krsna dan merasakan kebahagiaan rohani. Krsna dapat mengerti akan perasaan Radha, kemudian Krsna berkata-kata dengan suara yang terhias dengan cinta kasih rohani. "O Radha, Engkau adalah nafas kehidupanKu. Tak ada yang lebih aku sayangi selain diriMu. Oleh karena itu Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu. Karena hanya untukku kau telah menciptakan tempat yang indah ini.
Aku akan mengubah tempat ini, mengisi dengan sakhi-sakhi yang baru dan kunja-kunja yang baru pula dan Aku akan tinggal disini berasamaMu. Para penyembah akan memuliakan tempat ini sebagai "Nara Vrndavana atau Vrndavana baru". Karena tempat ini mirip dengan sebuah pulau atau dvipa maka orang-orang bijaksana akan menyebutnya dengan nama "NAVADVIPA". Atas kehendakKu. Kau telah menciptakan tempat ini demi kebahagiaanKu, maka Aku akan tinggal disini secara kekal. "Bagi orang yang datang kesini dan memuja Kita maka sudah pasti orang itu akan mencapai pelayanan Bhakti yang kekal kepada kita dalam rasa seorang sakhi".
"Oh Radha, tempat ini murni seperti Vrndana. Jika siapapun yang datang kesini hanya sekali saja maka dia akan memperoleh hasil dari pergi berziarah keseluruh tempat suci. Dengan segera dia akan mencapai pelayanan Bhakti rohani dan memuaskan kita". Deva Siva melanjutkan, "O Parvati yang paling beruntung, setelah berkata seperti itu, Krsna kekasih rohani Radha, menyatu dengan tubuh rohani Radha dan mulai tinggal disana secara kekal".
Melihat bentuk SAT CIT ANANDA itu yaituu warna tubuh luarnya cemerlang seperti emas cair tetapi didalamnya adalah Krsna sendiri, maka Lalita meninggalkan bentuk cantiknya untuk melayani GAURANGA. Melihat Lalita telah mengambil wujud seperti itu maka Visakha dan semua Sakhi lainnya juga mengambil bentuk badan lelaki untuk melayani dan mendapatkan kasih sayang SRI GAURANGA. (Mereka semua termasuk Lalita, Visakha dan para Sakhi lainnya mengambil wujud badan lelaki yang sesuai untuk melakukan pelayanan bhakti rohani pada SRI GAURANGA).
Pada waktu itu, gema suara, "Jaya Gaurahari", menempati keempat arah. Mulai sejak itu para penyembah memanggil bentuk Krsna ini sebagai GAUHARI. Radha adalah Gauri artinya warna tubuh yang cemerlang bagaikan emas cair dan Krsna adalah Hari. Ketika mereka bergabung/menyatu dalan satu bentuk maka mereka disebut "GAUHARI".
Mulai sejak saat itu, Krsna yang bermata laksana padma, Pemain seruling dan yang memiliki badan berlekuk tiga serta bentuk Radhika Devi yang bermata laksana bunga padma bergabung dalam SATU BENTUK.
"O Parvati, topik ini sangat rahasia sekali, sehingga hendaknya tidak pernah disampaikan kepada orang bodoh yang bukan penyembah. Berikanlah Uraian ini kepada para penyembah yang pikirannya murni".
Jaya Gauhari!

Dari : Navadvipa Mahatmya.

28. MAHA PRASADA

Sambil memainkan Vinannya, Narada terus menerus menyanyikan kemuliaan Gauranga. Narada Muni berkeliling dunia menginformasikan kepada para deva tentang kemunculan Sri Caitanya. Tergugahlah oleh rasa kebahagiaan rohani, Narada Muni jatuh ke tanah berulangkali. Sesaat dia mengis dan sesaat dia tertawa dengan keras. Seluruh tubuhnya bergetar dan dia bersuara dengan suara yang tersendat-sendat. Kadang-kadang Narada meraung dengan keras, "Gaura! Gaura! Gaura!". Tidak mungkin bagi Narada untuk melupakan minuman kekelan cinta kasih rohani pada Sri Gauranga Mahaprabhu, yang badan rohaniNya indah, yang lebih cemerlang dari matahari, yang baru saja dilihatnya. Kemudian Narada pergi ke gunung Kailasa untuk menemui Deva Siva guna menceritakan tentang pengalamannya dengan Krsna.
Narada Muni mendekati rumah Deva Siva. Nandi, bantengnya Deva Siva sedang menjaga pintu. Setelah menyampaikan rasa hormat pada sang rsi, Nandi memberitahukan pada Siva dan Parvati tentang kedatangan Narada. Dengan bahagia, Siva dan Parvati menyambut Rsi Narada. Narada bersujud pada kaki Siva dan Parvati. Karena merasakan kebahagiaan rohani atas kehadiran seorang vaisnava seperti Narada Deva Siva segera mengangkat dan memeluknya. Dalam kasih sayang ibu, Katyayani berkata pada Narada, "O Rsi Agung apakah kau baik-baik saja. Semua kebenaran dalam keempat belas dunia kau ketahui, pada hari yang mujur ini, kau datang dari mana ". Narada Muni berkata, "Wahai Devi Kalyayani dan Mahesa (Siva), dengarkanlah cerita ajaibku. Kalian bagaikan ayah dan ibu alam semesta. Kalian selalu ingin menyelamatkan roh-roh yang yang jatuh. Sekarang dengan menyentuh kaki kalian, aku akan menceritakan suatu hal yang rahasia yang telah kalian lupakan".
Pada suatu saat Uddhava bertanya kepada Krsna, "Tuanku, apa yang akan terjadi terhadap bumi jika Anda menghilang, masih adakah penyembah tinggal disini bagaimana roh-roh yang terikat di kaliyuga mencapai pembebasan ?". Untuk menjawab pertanyaan Uddhava, Sri Krsna memberikan dia pelajaran tentang keinsafan diri. Beliau mengajarkan Uddhava suatu filsafat yang memungkinkan seseorang mencapai pembebasan dengan melihat Tuhan berada dimana-mana.
Setelah mendengarkan pelajaran dari Krsna, Uddhava memukul dadanya dan mengungkapkan perasaannya, "Krsna aku yakin bahwa Engka berada dimana-mana. Kaki padmaMu lebih kucintai dari Dirimu sendiri Aku tidak dapat menemukan kata-kata yang pantas untuk memuliakan para penyembah yang berlindung pada kuku-kuku jari kaki padmaMu yang bagaikan bulan". Pada waktu itu, Uddhava mengatakan sloka ini (S.B.11.6.46). "Hanya dengan menghiasi diri kami dengan kalungan bunga, minyak wangi pakaian dan perhiasan-perhiasan yang telah Engkau pakai dan dengan makanan sisa makananMu (maha prasad), kami para pelayanMu dapat menaklukan Maya, TenagaMu yang menghayalkan. Oleh karena itu aku selalu meninggikan maha prasadMy".
Narada melanjutkan, "Mendengar percakapan antar Krsna dan Uddhava ini, aku menjadi kaget. Walaupun aku telah berada di jalan pengabdian sudah lama dan selalu mengucapkan nama suci Tuhan, namun aku tidak ada gagasan terhadap kekuatan maha prasada Krsna. Hanya dengan kekuatan maha prasad Tuhan Uddhava telah menjadi kuat, penyembah murni yang mengajarkan amana Tuhan.Di hadapan Tuhan Uddhava memuliakan maha prasad itu.
Narada berkata "Akan tetapi, dihatiku, merasa sedih karena aku tidak pernah merasakan maha prasada. Lalu aku berpikir bagaimana cara aku merasakan maha prasadNya. Kemudian aku mengunjungi Vaikuntha dan melakukan bermacam-macam pelayanan bhakti kepada Lakshmi Devi. Karena puas denganku, Lakshmi Devi dengan kasih sayang rohani berkata , "katakanlah kepadaku. Narada apa yang kau inginkan. Aku akan memberikan berkah". Mendengar hal ini, aku memutuskan untuk mengungkapkan keinginanaku, dengan tangan tercangkup aku berakat pada Lakshmi Devi, "Telah lama hamba merasa sedih dihati. Semua orang tahu bahwa hamba adalah pelayan Anda. Namun entah bagaimana, hamba tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk merasakan maha prasad Devata (Tuhan). Berkarunialah pada hamba agar hamba dapat menerima segenggam maha prasad Narayana. Inilah satu-satunya keinginan hamba".
Lakshmi Devi menjadi terkejut dan heran mendengar permintaan Narada ini. Dengan tunduk hati dia berkata, "Narada, Narayana menyuruhku untuk tidak menyebarkan maha parasdNya kepada siapapun juga. Bagaimana aku dapat melanggar perintah suamiku ini, wahai Narada yang aku cintai. Tapi dengar, aku akan melanggar perintahNya dan memberikan kau sedikit maha prasadNya. Akan tetapi dengan kedudukanku yang sulit seperti ini, kau harus menunggu untuk beberapa waktu. Lalu aku akan mengumpulkan maha prasadNya untukmu". Dengan mengerti situasi sepenuhnya, Lakshmi Thakurani menjawab dengan kata yang lembut dan manis seperti itu.
Beberapa waktu kemudian, Tuhan Narayana dengan perasaan bahagia mengambil tangan Lakshmi Devi dan duduk berdampingan. Pada waktu itu, Lakshmi Devi ingin meminta kepada Tuhan tentang maha prasadNya tapi dia takut. Dengan suara yang tunduk hati, Lakshmi Devi berkata, "Tuhanku, ada sesuatu yang ingin saya minta padaMu tapi saya takut mengatakannya. Saya punya masalah dan saya perlu pertolonganMu. Tuanku, selamatkanlah pelayanMu ini, dengarkanlah. O tempat tinggal segala sifat rohani, saya bersujud di kakiMu". Tersenyum lebar dengan tanda pertanyaan di MataNya Tuhan Narayana melirik pada cakra sudarsanaNya. Dengan gemetaran Sudarsana berkata, "Tuanku, hamba tidak tahu masalahnya, tapi kelihatannya Lakshmi Devi punya suatu masalah".
Lalu Lakshmi Devi berkata, "Bukanlah kesalahan Sudarsana, tapi permintaan Narada Muni membuat saya kesulitan dan cemas. Walaupun tak seorang pun yang mengetahui, Narada Muni telah melakukan pelayanan bhakti selama 12 tahun. Karena puas aku memberikan dia suatu berkah. Berulang kali Narada meminta hal yang sama. Dia tidak menginginkan apa-apa selain maha prasad Anda. Walaupun saya tidak punya kekuatan untuk melanggar perintahMu, saya telah ceroboh berjanji pada Narada untuk memberikannya. O Tuanku, selamatkanlah saya dan sibukkanlah saya dalam pelayanan bhakti pada kaki padmaMu".
Dengan megerti akan dilemanya, Narayana berkata, "Dengarlah, O Lakshmi yang kuncintai, kau telah berbuat satu kesalahan besar. Baiklah, tanpa sepengetahuanKu, kau dapat secara rahasia memberikan maha prasadKu pada Narada". Setelah beberapa hari berlalu, ibu alam semesta, Lakshmi Devi memberikanku sedikit maha prasad Narayana. Aku menghormati maha prasad itu sampai puas, tentu sinar rohani Sri Narayana yang tiada taranya mengalahkan sinar jutaan bulan dan matahari dan keindahanNya yang tak terlukiskan membuat jutaan deva asmara (kamadeva) merasa malu. Akan tetapi, dengan sentuhan maha prasad Tuhan, sinar dan kekuatan rohaniku miningkat 100 klai lipat. Dengan merasakan kebahagiaan rohani yang dalam, aku menyanyikan Hare Krsna dan memainkan vinaku sambil aku pergi ke Kailasa menemui kalian".
Deva Siva berkata pada Narada, "Aku harus mengatakan, Narada, kau tampak bersinar luar biasa. Narada setelah kau mendapatkan maha prasad Tuhan, yang sangat jarang dicapai, kau makan sendirian, tanpa memberikan sedikitpun kepadaKu. Karena kasih sayang kau datang menemuiku tapi mengapa kau tidak membawaku sedikit kekayaan yang jarang didapatkan ini (maha prasad) ?". Mendengar pernyataan Deva Siva yang tidak puas ini Narada menundukkan kepalanya karena malu. Kemudian Narada ingat bahwa dia masih punya sebiji maha prasad dengan senang hati dia segera memberikannya pada Deva Siva. Mengherankan! Mahesa Thakura (Siva) mulai menari tak terkendalikan dalam cinta kebahagiaan rohani pada Tuhan. Bumi bergetar dengan sentakan kakinya. Semua orang tercengang, melihat Gunung Semeru bergoyang kebahagiaan rohani karena kekuatan tarian Siva. Vasumati (Ibu Bumi) juga bergoyang membahayakan. Dibanjiri oleh kebahagiaan Krsna, Deva Siva sepenuhnya melupakan dirinya. Tari peleburannya mendorong bumi mendekati planet bawah yaitu Rasatala, dasar alam semesta. Kepala Ananta Deva meregang sampai menyentuh punggung Kurma. Terkejut karena sentuhan aneh yang meggelitik ini, Kurma menjulurkan kepalaNya keluar dan menatap Ananta. Nama suci Tuhan yang diraungkan dengan keras oleh Deva Siva menembus lapisan alam semesta dan bergem ke seluruh arah. Melihat seluruh alam semesta bergoyang dalam kebahagiaan rohani dan karena tidak dapat menahan beratnya tarian Deva Siva, Ibu bumi berlari ke Gunung Kailasa. Dengan tangan tercakup Ibu Bumi mohon pada Devi Katyayani, "O Parvati Devi, aku akan mati kalau suamimu terus menari. Aku juga melihat bahwa seluruh dunia material dalam keadaan bahaya. Oleh karena itu lakukanlah sesuatu kalau ingin menyelematkan ciptaan ini dari kehancuran".
Setelah mendengar permohonan Ibu Bumi ini, Parvati bergegas ketempat Pasupati (Siva) yang sedang menari dalam kebahagiaan rohani. Dengan tangan tercakup, Parvati berkata dengan keras untuk membuyarkan kekhusukan Siva. Kebahagiaan rohaninya dibuyarkan oleh suara Parvati yang keras, Deva Siva kembali pada kesadaran luarnya. Dia merasa sedih, "Devi, apa yang telah kau lakukan ini tidak pantas, mengapa kau menghalangi kebahagiaan rohaniku ?, dengan berbuat demikian, praktis kau telah membunuhku. Kau bertindak seperti musuhku. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan rohani seperti itu sebelumnya dalam seluruh hidupku. Mengapa kau menghentikannya ?"
Dengan perasaan yang sedih Parvati berkata, "Tuhanku, lihatlah Bumi dihadapanmu, tekanan tarianmu mendorongnya ke dasar alam semesta. Karena Engkau sepertinya menghancurkan alam semesta, maka saya telah berkata-kata yang keras seperti itu kepadamu. Maafkanlah kesalahan saya". Dengan tersenyum puas, Deva Siva memaafkan istrinya. Melihat suaminya dalam keadaan tenang, Parvati dengan tunduk hati bertanya, "Prabhu, setiap hari Engkau menari dalam kebahagiaan rohani kesadaran Krsna yang murni. Mengapa hari ini tarianmu sampai menekan bumi jatuh ke Rasatala. Sinar rohanimu cemerlang seperti 10 juta matahari. Saya tidak pernah melihat bentuk agungmu itu. Katakanlah, mengapa hari ini kau memperlihatkan Krsna prema yang tak terbatas seperti itu ?".
Deva Siva menjawab, "Devi, dengarlah berita bahagia tentang keberunganku. Hari ini, Rsi mulia Narada memberikanku sedikit prasad Narayana. Walaupun dimuliakan dalam veda-veda, maha prasad Visnu sanga jarang didapatkan atau dipahami. Diseluruh tiga dunia sisa makanan Tuhan yang bercampur dengan minuman kekekalan dari bibir Krsna sangat sulit didapatkan. Hari ini hidupku telah sukses. Atas karunia Narada Muni aku telah menerima maha prasad Narayana. Inilah kekayaanku yang sejati dan sumber kebahagiaan rohaniku".
Terganggu oleh pernyataan suaminya, Mahamaya (Parvati) berkata, "Selama ini, saya pikir kau selalu baik dan berkarunia padaku. Sebagai suami dan istri kita adalah satu, karena kau telah menerimaku sebagai bagian dari setengah tubuhmu. Tapi hari ini cinta palsumu terungkap, cintamu hanya pura-pura saja. Kau menipuku! Setelah mendapatkan maha prasad yang jarang diperoleh itu, kau sendiri yang makan semuanya, bahkan kau tidak memberikanku sebintik pun juga". Sulpani (Siva pemegang trisula) merasa bersalah. Siva berkata, "O Bhavani (Parvati, Ibu alam material) kau memang tidak pantas menerima kekayaan rohani ini". Kata-kata ini membuat Adya sakti (Parvati) sangat marah sekali. Parvati berkata, "Salah satu namaku adalah Vaisnavi; aku juga mempunyai pelayanan bhakti kepada Sri Visnu. Sekarang ini aku mengikrarkan sebuah sumpah suci. Jika Sri Narayana menganugerahkan kasih sayangNya padaku, maka aku akan memastikan bahwa maha prasad Tuhan akan disebarkan kepada setiap orang di seluruh alam semesta, bahkan kepada anjing dan serigala".
Pada waktu itu, penguasa Vaikuntha, Visnu sendiri tiba di Kailasa untuk memenuhi sumpah Parvati. Dengan hormat Parvati berdiri menyampaikan sembah sujud kepada Tuhan Visnu. Dengan air mengalir dimatanya, Parvati menceritakan semua masalahnya. Kemudian Sri Visnu bersabda dengan suara yang manis, "Katyani janganlah berada dalam kebodohan. Kau adalah adya saktiKu dan melalu dirimu Aku mewujudkan ciptaan material ini. Aku tahu bahwa kau mempunyai pengabdian suci padaKu. Kau adalah prakrti svarupiniKu (bentuk tenaga Visnu). Kau selalu tekun berbhakti kepadaKu, tanpa dirimu maka ciptaan material tidak akan berada. Seluruh ciptaan memujamu dan juga suamimu Deva Siva sebagai Hara dan Gauri. Percayalah, Aku akan menjaga sumpahmu. Aku sendiri yang akan menyebarkan maha prasadKu pada setiap orang di seluruh alam semesta. Dengarkanlah, Katyani Devi, sekarang Aku akan menceritakan suatu rahasia tentang episode masa lalu, yang akan menghalau kesengsaraan dunia material. Tak seorangpun yang mengerti maksud dalam dari cerita mengenai para deva yang mengocok lautan minuman kekalan. Mereka menggunakan Gunung Mandara sebagai tongkat pengocok dan ular Vasuki sebagai talinya. Pertama yang keluar dari pengocokan itu adalah kalpa taru, pohon yang memberikan kekayaan yang tak terbatas dan memenuhi segala keinginannya.
Dalam pohon yang khusus itu ada sinar rohani yang berasal dari bentuk indah Sri Caitanya. Kepribadian dari karunia murni yang paling utama. Tidak akan pernah ada suatu bentuk atau inkarnasi yang sejajar dengan bentuk Sri Caitanya Mahaprabu. Beliau adalah permata dari semua inkarnasi. Beliau akan muncul di bumi dan memperlihatkan kegiatan-kegiatan rohani. Dengan mengajarkan kesadaran Krsna, Aku akan menyebarkan karuniaKu pada orang-orang secara umum.
Pada jaman Kali Aku akan muncul dalam bentuk keemasan Sri Gauranga Mahaprabu untuk menyebarkan sankirtana yajna, pengucapan nama suciKu secara beramai-ramai. Dengan mengambil bentuk avatara keemasan itu, Aku akan memenuhi sumpahMu, Parvati dan menganugerahkan Krsna prema pada setiap orang. Simpanlah topik yang rahasia in. Dalam bentuk Sri Gauranga, intisari dari semua inkarnasi dan yang penuh dengan segala sifat-sifat rohani, Aku akan menyelamatkan orang-orang Kali Yuga. Deva Siva dan Parvati Devi bahagia setelah mendengar sabda ini. Sambil memainkan vinanya Narada Muni meninggalkan Gunung Kailasa.

Gaura Bhakta Vrnda Ki Jay!
29. MUNCULNYA SRI CAITANYA MAHAPRABHU

Untuk memenuhi keinginan khusus didalam hatiNya Krsna, Vrajendra Kumara memutuskan untuk menurun di Planet ini. Oleh karena itu, pertama-tama Sri Krsna menginginkan keluarga Beliau yang lebih atasan untuk turun ke bumi. Sebelum muncul sebagai Sri Caitanya Krsna memohon kepada para penyembahNya yaitu Sri Sacidevi, Jagannatha Misra, Madhavendra Puri, Kesava Bharati, Isvara Puri, Advaita Acarya, Srivasa Pandita, Acaryaratna, Vidyanidhi, dan Thakura Haridasa, untuk turun mendahuluiNya. Ada juga Sri Upendra Misra, seorang penduduk dari daerah Srhatta, beliau adalah seorang penyembah Sri Visnu yang agung, seorang sarjana terpelajar, orang kaya dan memiliki segala sifat yang baik.
Upendra Misra mempunyai tujuh orang putra yang semuanya kepribadian suci dan sangat berpengaruh yaitu : Kamsari, Paramananda, Padmanabha, Sarvesvara, Jagannatha, Janardana dan Trailokyanatha. Putra kelima yaitu, Jagannatha Misra memutuskan untuk tinggal di tepi sungai Gangga di daerah India. Jagannatha juga dikenal sebagai Purandara. Sama halnya seperti Nanda Maharaja dan Vasudeva, beliau memiliki lautan segala sifat baik. Istri beliau, Srmati Sacidevi adalah seorang wanita suci yang memiliki pengabdian yang tinggi kepada suaminya. Ayah Sacidevi bernama Nilambara dan nama lainnya juga Cakravarti. Pada masa kemunculan Krsna Nilambara adalah penjelmaan dari Gargamuni di Radhadesa, wilayah Bengal tempat sungai Gangga tidak nampak, Nityananda Prabhu, Ganggadasa Pandita, Muraji Gupta, Mukunda muncul. Pertama-tama Sri Krsna, Vrajendra Kumara, menganjurkan para penyembahNya yang tidak terhitung jumlahnya muncul dan pada akhirnya Beliau muncul sendiri. Sebelum kemunculan Sri Caitanya Maha-Prabhu, semua penyembah Navadvipa biasanya berkumpul di rumah Advaita Acarya. Dalam pertemuan para penyembah ini, Advaita Acarya membacakan Bhagavad Gita dan Srimad Bhagavatam, menentang filsafat yang berangan-angan pikiran dan kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil dan menetapkan jalan pelayanan Bhakti yang ajaib, pelayanan Bhakti kepada Krsna di jelaskan melalui segala kesusastraan Veda. Oleh karena itu, para penyembah Krsna tidak mengenal proses filsafat yang berangan-angan pikiran, yoga kebatinan, pertapaan yang tidak diperlukan dan apa yang namanya saja upacara-upacara keagamaan. Mereka tidak menerima proses lain kecuali proses Bhakti. Di rumah Advaita Acarya semua vaisnava berbahagia karena selalu berbicara Krsna, menyembah Krsna, dan menyanyikan Hare Krsna Maha Mantra. Akan tetapi Sri Advaita Acarya merasa sedih melihat orang yang tanpa kesadaran Krsna, dan mereka sibuk dalam kepuasan indria-indria saja. Melihat situasi ini beliau berpikir dengan serius tentang bagaimana agar orang-orang ini bisa diselamatkan.
Sri Advaita Acarya berpikir, "Jika Krsna sendiri muncul untuk menyebarkan pemujaan dengan cara Bhakti, maka pembebasan bagi semua orang akan dimungkinkan". Dengan pemikiran inilah Advaita Prabhu berjanji untuk mengundang Sri Krsna turun, kemudian beliau menyembah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krsna, dengan daun-daun Tulasi dan ari Gangga. Dengan demikian Krsna pun tertarik untuk turun. Sebelum kemunculan Sri Caitanya Mahaprabhu, delapan putri lahir satu demi satu dari kandungan Sacimata, istri Jagannatha Misra. Namun setelah mereka lahir, mereka semua meninggal. Jagannatha merasa sangat sedih sekali atas kepergian anak-anaknya satu demi satu. Oleh karena itu Beliau menyembah kaki padma Sri Visnu untuk mendapatkan seorang putra. Selanjutnya Jagannatha Misra mendapatkan seorang Putra yang bernama Visvarupa yang sangat perkasa dan berkualifikasi tinggi, karena beliau adalah inkarnasi dari Baladewa. Kebanyakan Baladewa yang sebagai Sankarsana yang berada di dunia rohani adalah unsur dan penyebab perwujudan kosmik material ini. Bentuk semesta yang besar disebut Visvarupa yang merupakan inkarnasi dari Maha sankarsana. Dengan demikian kita tidak menemukan sesuatupun didalam alam ini kecuali Tuhan sendiri. Bagaikan benang-benang dalam sebuah pakaian baik yang memanjang maupun melebar, begitu pula segala sesuatu yang kita lihat dalam manifestasi kosmik ini adalah berada dalam Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa secara langsung dan tidak langsung. Hal ini tidak begitu ajaib bagi Beliau. Karena Mahan Sankarsana adalah unsur dan penyebab manifestasi kosmik ini maka Beliau berada pada setiap kosmik itu. Oleh karena itu Sri Caitanya menerima Beliau sebagai saudar tuaNya. Dua bersaudara, Krsna dan Balarama di dunia rohani tetapi mereka hadir di bumi ini sebagai Caitanya dan Nitai. Oleh karena itu kesimpulannya adalah bahwa Nityanda Prabhu adalah Sankarsana Baladeva yang asli.
Suami dan istri (Jagannatha Misra dan Sacimata) telah mendapatkan Visvarupa sebagai putra mereka, dan hati mereka sangat bahagia sekali. Karena rasa bahagia ini maka mereka mulai memuja dan melayani Kaki Padma Sri Govinda. Pada bulan Januari 1.406 Saka Era Sri Krsna memasuki tubuh Jagannatha Misra dan Sacidevi. Jagannatha Misra berkata kepada Sacimata, "saya melihat sesuatu yang mengagumkan! Badanmu bersinar terang, seolah-olah nampak bahwa Devi keburuntungan secara pribadi sedang bersemayam di rumah kita sekarang. Kemanapun mereka memberikan kekayaan, pakaian padi kepada saya dengan sukarela.
Setelah percakapan ini, baik suami dan istri merasa gembira dan mereka melayani Salagram sila secara besama-sama. Jagannatha Misra dan Sacimata bukanlah manusia biasa yang hatinya tercemar dan oleh karena itu mereka tak pernah lupa dengan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Apabila hati yang tak tercemar maka dikatakan dalam keadaan Vasudeva.  Vasudeva medapatkan Vasudeva/Krsna dalam kedudukan rohani. Dimengerti bahwa Sacimata tidak menjadi hamil seperti hamilnya wanita biasa karena hubungan indria-indria. Seseorang hendaknya tidak berpikir bahwa kehamilan Sacimata seperti kehamilan wanita biasa, karena hal itu akan membuatnya berbuat suatu kesalahan. Seseorang dapat mengerti kehamilan Sacimata apabila dia maju dalam kesadaran rohani dan sepenuhnya tekun dalam pelayanan Bhakti kepada Tuhan. Sehubungan kemunculan Sri Caitanya Mahaprabhu dijelaskan dalam Caitanya Caritamrta dengan kata-kata, "Vesese sevana govinda carana", artinya, Jagannatha Misra dan Sacidevi mulai memuja kaki Padma Sri Govinda secara khusus. Hal ini menunjukkan bahwa tepat seperti Krsna muncul di dalam hati Devaki melalui hati Vasudeva, begitu pula Sri Caitanya di dalam hati Saci melalui hati Jagannatha Misra. Inilah keajaiban kemunculan Sri Caitanya Mahaprabu. Oleh karena itu hendaknya seseorang tidak berpikir kemunculan beliau seperti manusia biasa/makhluk hidup lainnya. Hal ini memang sedikir sulit dimengerti, tetapi bagi para penyembah tidak akan mengalami kesulitan untuk menginsafi pernyataan yang diberikan oleh Krsna dan Kaviraja Gosvami ini.
Dengan cara ini kehamilan Sacimata mendekati 13 bulan, tetapi belum juga ada tanda-tanda kehadiran seorang putra. Oleh karena itu, Jagannatha Misra menjadi sangat cemas, kemudian Nilambara Cakravarti (kakek Sri Caitanya) membuat perhitungan secara astrologis, dan beliau mengatakan bahwa pada bulan phalguna (maret april) seorang putra akan lahir. Dengan demikian pada tahun 1.407 Saka Era, pada malam purnama keadaan mujur yang diinginkan pun muncul. Menurut Jyotir Veda/astronomi Veda apabila figur singa muncul didalam Zodiak pada waktu kelahiran (lagna) hal ini menunjukkan kunjangsi planet-planet yang tinggi, suatu daerah dibawah pengaruh segala hal yang menyejahterakan tatkala bulan tak bernoda (Sri Caitanya) muncul Rahu, Planet hitam yang menutupi bulan purnama segera mengucapkan tetnang , "Krsna Hari" lalu suara itu membanjiri ketiga dunia. Pada waktu kemunculan Sri Caitanya Mahaprabu ini terjadi gerhana matahari dan secara wajar orang-orang berdiri di dalam ari dan menyanyikan, "Hare Krsna Hare Krsna Krsna Krsna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare" Demikianlah, semua orang menyanyikan Maha Mantra Hare Krsna selama gerhana matahari dan pikiran mereka merasakan sesuatu keajaiban. Oleh karena itu ketika seluruh dunia sedang menyanyikan nama suci Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dalam bentuk Gauhari menurunkan Diri Beliau sendiri di atas bumi ini. Seluruh dunia merasa bahagia. Pada saat semua wanita menggetarkan nama suci Mari di bumi ini di planet surga tarian dan musik sedang terjadi.
Dalam suasana seperti itu kesepuluh arah menjadi riang gembira laksana gelombang-gelombang sungai. Selanjutnya semua mahluk baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak dilimpahi dengan kebahagiaan rohani. Demikianlah, atas karunia yang tiada sebabnya dari Bulan Purnama, Gauhari, Mawar daerah Nadia yang bagaikan Udayagiri, (tempat matahari nampak untuk pertama kalinya). Terbitnya Beliau diangkasa menghapuskan kegelapan kehidupan yang berdosa sehingga ketiga dunia menjadi bahagia dan menyanyikan nama suci Tuhan.
Pada waktu itu, Sri Advaita Prabu di rumahNya sendiri di Santipura sedang menari dalam keriangan, ikut pula Waridasa Thakura bersamaNya menari dan menyanyikan Hare Krsna dengan suara keras. Tak seorangpun yang mengerti mengapa mereka menari. Melihat gerhana matahari ADVAITA Acarya dan Waridasa Thakura segera pergi ke tepi sungai Gangga dan mandi disana dengan penuh kebahagiaan. Advaita Acarya memberikan berbagai sumbangan kepada para brahmana pada saat gerhana matahari itu. Ketika melihat bahwa seluruh dunia bersuka ria, Waridasa Thakura merasa heran, secara langsung dan tidak langsung beliau mengungkapkan kepada Advaita Acarya, "Tarian Anda dan pemberian sumbangan itu sangat memuaskan diri saya. Saya dapat mengerti bahwa ada maksud khusus dibalik tindakan Anda ini. "Acaryaratna (Candrasekara) dan Srivasa Thakura dilimapahi oleh kebahagiaan dan segera pergi ke sungai Gangga dan mandi didalam air Gangga. Pikiran mereka penuh kebahagiaan, mereka menyampaikan Maha Mantra Hare Krsna dan memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuannya. Dengan cara seperti ini, semua penyembah dimanapun mereka berada, disetiap kota dan desa menari melakukan Sankirtana dan memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pada waktu gerhana matahari itu hati mereka benar-benar bahagia. Para Brahmana yang terhormat dan para wanita yang mulia membawa piring penuh dengan berbagai hadiah datang untuk melihat bayi yang baru lahir, warna Bayi itu warna emas alami.
Mereka semua dengan perasaan bahagia memberikan berkat-berkatnya kepada bayi itu. Dengan menyamar, membusanakan diri mereka seperti istri-istri para Brahmana, semua wanita Surga termasuk istri Deva Brahma, istri Deva Siva, istri Sri Nrsimha, istri Deva Indra, dan istri Rsi Vasistha serta seorang penari surga yang bernama Ramba datang membawa berbagai jenis hadia untuk Bayi itu. Diangkasa semua deva termasuk penduduk Gandharvaloka, Siddhaloka, dan Caranaloka menyampaikan doa-doa pujian sambil menari dengan diiringi oleh lagu-lagu dan musik-musik. Begitu pula di Navadyipa semua penari profesional, ahli musik dan para pemberi berkat berkumpul besama, siapa yang pergi, siapa yang menari dan siapa yang menyanyi. Mereka juga tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan satu sama lainnya. Akan tetapi pengaruh kedukaan segera hilang dan mereka menjadi berbahagia. Jagannatha Misra juga  dilimpahi oleh kebahagiaan. Candrasekara Acarya dan Srivasa Thakura pergi ke Jagannatha Misra. Mereka melakukan ritual-ritual yang berdasarkan prinsip-prinsip keagamaan tentang perayaan waktu kelahiran. Jagannatha juga memberikan berbagai sumbangan, kekayaan dan apapun yang dimilikinya disumbangkan kepada para brahmana, para penyanyi profesional, penari dan fakir miskin. Dengan cara seperti itu pula beliau menghormati mereka semua. Istri Srivasa Thakura, Malini ditemani oleh istri Candrasekara dan wanita lainnya datang kesana dengan penuh kebahagiaan untuk memuja bayi itu dengan sarana seperti, vemilion, kunyit minyak wangi, fused rice, pisang dan buah kelapa.
Pada suatu hari, tidak lama setelah Sri Caitanya Mahaprabhu lahir, istrinya Advaita Acarya; Sitadevi, yang dipuja oleh seluruh dunia, mohon pamit, kepada suaminya untuk melihat Bayi yang paling utama tersebut dengan membawa segala jenis hadiah dan sumbangan berbagai perhiasan emas, termasuk; gelang tangan, gelang-gelangan, kalung dan gelang kaki. Ada juga perhiasan sutra dan renda untuk pinggang, lengan dan kaki serta sebuah pakaian bayi yang terbuat dari sutra. Kemewahan yang lainnya seperti kepingan emas dan perak juga dihadiahkan kepada sang Bayi. Dengan naik didalam sebuah tandu yang tertutup dengan kain dan ditemani oleh para pembantu, Sita Thakurani pergi ke umah Jagannatha Misra sambil juga membawa benda yang menyejahterakan seperti rumput yang segar, bij bijan, kunyit, kumkuma serbuk kayu cendana, dan geracana yang semuanya tersimpan pada sebuah keranjang besar. Ketika Sri Thakurani tiba di rumah Sacidevi dengan membawa berbagai makanan-makanan dan hadiah lainnya, beliau merasa heran melihat Bayi yang baru lahir itu, karena kecuali warna badan Bayi itu yang berbeda, Bayi itu adalah Krsna Gokula sendiri secara langsung. Melihat sinar badan bayi itu, yang mirip dengan bentuk sebuah emas, Sita Thakurani merasa sangat senang dan karena kasih sayang seorang ibu, hatinya seolah-olah mencair. Beliau memberkahi bayi itu dengan menempatkan rumput segar dan padi diatas kepala sang bayi dan berkata, "Semoga Anda panjang umur. "Akan tetapi karena takut hantu dan tukang sihir wanita, Shita Thakurani memberikan nama Nimai pada bayi itu karena mahluk seperti itu takut dengan pohon nima. Disamping itu pula karena Sri Caitanya Mahaprabhu lahir dibawah pohon nima maka beliau diberikan nama Nimai. Tak lama kemudian, Sacimata dan Putranya sudah bisa meninggalkan rumah bersalin. Sita Thakurani memberikan mereka segala jenis perhiasan dan pakaian, lalu beliau memberikan penghormatan kepada Jagannatha Misra. Mereka semua saling menghormati sehingga Sita Thakurani merasa bahagia kemudian beliaupun pulang.
Demikianlah, Ibu Sacidevi dan Jagannatha Misra telah mendapatkan seorang putra yang merupakan 'Suami Devi Keberuntungan terpenuhilah keinginan mereka. Di rumah mereka selalu tersedia kekayaan dan biji-bijan. Saat mereka melihat Sri Caitanya Mahaprabhu, kebahagiaan mereka semakin bertambah. Mereka sangat menyayangi Sri Caitanya Mahaprabhu. Jagannatha Misra adalah seorang vaisnava yang ideal. Beliau mempunyai sifat : damai, terkekang dari kepuasan indria indria, murni dan terkendalikan. Oleh karena itu beliau tidak mempunyai keinginan untuk menikmati kemewahan material. Kekayaan apapun yang diperolehnya karena pengaruh putra rohaninya, disumbangkannya kepada para brahmana untuk kepuasan Sri Wisnu. Setelah memperhitungkan kelahiran Sri Caitanya Maha Prabu, Nilambara Carkavarti mengatakan kepada Jagannatha Misra bahwa beliau melihat gejala-gejala yang berbeda terhadap kepribadian agung ini, baik pada badan maupun pada waktu kelahiranNya. Dengan demikian Nilambara Cakravarti mengerti bahwa pada masa mendaatang anak ini akan menyelematkan ketiga dunia.
Dengan cara seperti ini, Sri Caitanya Mahaprabhu, atas karunia beliau yang tiada sebabnya, memunculkan DiriNya di rumah Sacidev. Sri Caitanya sangat berkarunia kepada siapapun yang mendengarkan cerita kelahiran Nya ini sehingga orang itu akan mencapai kaki padma Tuhan.
Demikian meletakkan kaki padma Sri Caitanya Mahaprabhu, Nityananda Prabu, Acarya Advaitacandra. Svarupa Damodara, Rupa Gosvami dan Raghunatha dasa Gosvami di atas kepala saya Krsna dasa Kaviraja Gosvami telah menguraikan 'KEMUNCULAN SRI CAITANYA MAHAPRABHU'.
Jaya NITAI
Jaya NITAI

30. SRI CHAITANYA DAN PENJUAL PISANG

Kolavecha Shridhar adalah seorang penyembah Krsna yang mulia, tapi dia miskin. Dia menjual pisang, mangkok-mangkok terbuat dari daun-daun pisang di pasar. Dia menggunakan 50 persen dari keuntungannya untuk memuja sungai Gangga dan 50 persen lagi digunakan untuk memelihara keluarganya.
Pada suatu hari, Sri Chaitanya, yang sebenarnya adalah Krsna dalam penjelmaanNya sebagai seorang penyembah, datang ke pasar. Dia berkata pada Shridhar, "Aku suka beberapa buah pisang, tapi harga yang kau berkan terlalu mahal".
Karena tidak mengetahui junjungannya, Shridhar protes, "Keuntungan yang kuperoleh, aku pakai untuk memuja Ibu Gangga, Aku tak dapat menurunkan harga lagi".
"Tapi Aku tidak dapat membayarnya kalau terlalu mahal, berikan Aku harga yang pantas", kata Chaitanya.
"Tidak, harganya sudah tetap, tidak bisa ditawar-tawar lagi", kata Shridhar. Sri Chaitanya tidak menunggu jawaban lebih lanjut lagi, Dia merenggut sesisiri pisang lalu kabur. Shridar berteriak memanggilNya, "Hey! kembali, Kau pencuri !", Namun Tuhan telah menghilang.
Beberapa hari kemudian, Chaitanya kembali ke pasar dan lagi bicara pada Shridar, "Tuan, Aku ingin membeli beberapa buah pisang tapi harganya terlalu tinggi".
Shridar menjadi marah, "aku tidak akan menjual pisang kepadaMu dengan harga berpapun. Beberapa hari yang lalu Kau telah mencuri keuntungan yang kupakai untuk memuja Ibu Gangga. Kau pikir siapa    diriMu ?". "Baiklah Tuan, Aku Chaitanya dari Navadvipa", jawab Sri Chaitanya dengan sopan.
Shridar dengan teliti mengamati orang yang sedang berdiri dihadapannya; tinggi, kuat dan dengan badan yang kuning keemasan. EkspresiNya murni dan cerah, WajahNya penuh dengan pengetahuan dan cinta kasih sayang rohani Shridhar menyimpulkan, "siapa lagi orang ini kalau bukan Krsna dalam bentukNya yang keemasan". Kemudian dia bersujud ke tanah dengan menyampaikan doa-doa pujian dengan segala ketundukan hati. "Tuhanku, maafkanlah hamba. Saya tidak mengerti bahwa yang datang adalah Engkau, sumber dari ibu Gangga, ambilah semua pisangku ini".
Sri Chaitanya tersenyum lebar. Sambil tertawa Beliau mengangkat Shridhar dari tanah memeluknya dengan kasih sayang rohani. Dalam kebahagiaan rohani Shridar juga mulai tertawa. Dia menginsafi bahwa adalah lila Tuhan untuk mencuri pisangnya.
Setelah beberap waktu, seorang pelayan Tuhan datang ke tempat Shirdar menjual pisang dan berkata, "O penyembah yang beruntung, Tuhan ingin agar Anda ikut dalam Kirtan Beliau, menyanyikan kemuliaan Sri Krsna dengan alat-alat musik dan menari dalam kebahagiaan rohani. Jadi datanglah. "Sri Chaitanya ingin aku ikut kirtan ?". Shridhar riang gembira, kemudian pingsan kebahagiaan rohani. Dia terbangun dan sudah melihat dirinya berada di tengah-tengah para penyembah yang sedang kirtan dan dengan bahagia dia ikut menyanyi dan menari. Selesai kirtan Sri Chaitanya mengajak Shridhar ke suatu tempat. Atas kekuatanNya, Tuhan mengungkapkan bentuk AslinNya sebagai Krsna, Penggembala sapi rohani. Hiasan bulu burung merak, di rambutNya dan Beliau berdiri sambil memegang seruling ditanganNya.
Sekarang Shridhar dapat melihat dengan matanya sendiri bahwa Sri Chaitanya dan Krsna sebenarnya adalah Kepribadain yang sama. Shridhar merasa terkejut. Siapa yang dapat membayangkan kejadian seperti itu. Kemudian Sri Chaitanya, berkata, "Aku sangat bahagia atas ketabahan hatimu dalam memuja Ibu Gangga ketika kau menjual pisang kepadaKu, kau tak mundur seincipun (tetap mempertahankan harga pisang). Tindakanmu dalam menggunakan keuntungan dari penjualan pisan untuk memelihara keluarga dan untuk pemujaan patut diteladani. Sekaran apakah sesuatu yang dapat Aku lakukan untukmu ?".
Shridhar merasa tak enak dipuji seperti itu, "Engkau adalah junjungan hamba. Hamba hanya puas karena telah menjadi penyembahMu. Hamba tidak menginginkan apa-apa lagi". Tidakkah kau ingin bebes dari dunia material ini dan kembali ke Dunia Rohani ?", Sri Chaitanya menawarkan." O Paduka, hamba hanya ingin apa yang Engkau inginkan. Hamba bahagia tinggal disini dan memastikan bahwa Engkau akan mendapatkan semua pisan yang kau minta. Semoga pertemuan ini berlangsung terus menerus".
Sri Chaitanya merasa bahagia dengan kesederhanaan Shridhar dalam ketabahannya melakukan pelayanan bhakti. Kini Shridhar tetat sebagai penyembah Tuhan yang secara kekal menyediakan pisang dan mangkok-mangkok yang terbuat dari daun pisang kapanpun Sri Chaitanya menginginkan.
Sri Chaitanya Mahaprabhu Ki Jay.


31. SRI NITYANANDA DAN PARA PENCURI

Di Navadvipa hiduplah seorang putra Brahmana. Dia Brahmana nama saja!. Hatinya jahat, dia menjadi pimpinan gerombolan pencuri. Melihat Sri Nityananda memakai perhiasan emas, permata di anggota badanNya Brahmana pencuri itu ingin merampoknya. Dengan menyembunyikan maksud-maksudnya, pencuri itu selalu tinggal bersama Sri Nityananda Prabhu.
Sri Nityananda Prabhu yang mahakuasa, mengetahui bahwa orang ini adalah penjahat. Seorang brahmana yang baik bernama Hiranya Pandita tinggal di Navadvipa. Sri Nityananda Prabhu tinggal di rumah brahmana penyembah yang beruntung ini.
Sementara itu, sang brahmana pencuri menemui para pencuri lainnya dan mengatakan rencananya, "hey kawan, mengapa bersedih, Ibu Durga telah membawakan kekayaan yang banyak, tidak jauh dari sini. Pada anggota-anggota badan Avadhuta Nityananda ada banyak perhiasan emas, permata dan intan berlian. Tidak ada yang semewah perhiasan-perhiasan ini. Ibu Durga telah menaruhnya di satu tempat yaitu di rumah Hiranya. Kita akan merampoknya. Ambillah pedang dan perisai kalian, nanti malam kita akan pergi kesana menyerangnya". Para pencuri itu setuju dengan rencana ini dan pada malam yang telah ditentukan mereka bertemu lagi.
Mereka membawa senjata lengkap seeprti : pedang, trisula dan lainnya.Gerombolan pencuri itu pergi ke suatu tempat. Sri Nityananda sedang makan, dan ara penyembah kirtan, memuji nama suci Sri Hari. Rekan-rekan Sri Nityananda gila kebahagiaan rohani kepada Krsna. Satu penyembah meraung bagaikan singa, yang lainnya mengeluarkan suara laksana guntur yang lainnya sedang merasakan minuman kekalan cinta kasih rohani kepada Krsna, menangis. Dan yang lainnya lagi ada yang menepuk tangan sambil tertawa dengan keras, "Hai! Hai! Hava! Hava! Dibanjiri dengan Krsna prema. Tak seorangpun yang tidur. Sang mata-mata kembali kepada para pencuri. "sang Avadhuta sedang makan. Semua orang terjaga", lapor mata-mata itu. Para pencuri berkata, "biarkan Dia makan, ketika mereka tidur baru kita serang".  Bahagia karena akan dapat merampok kekayaan yang banyak, para pencuri itu duduk dibawah sebatang pohon. Salah satu diantara mereka berkata, "gelang emas yang ada ditangan dan lenganNya untukku". Yang lainnya bilang, "aku akan mengambil permata dileherNya". Yang lainnya bilang, aku akan mengambil anting-antingNya". Demikianlah pikiran mereka terus bergelut seperti itu.
Atas kehendak Sri Nityananda Prabhu, Devi tidur datang dan meletakkan tirainya pada para maling itu. Seketika mereka tidur. Mereka semuanya sadar tidak sadar karena tenaga Maya yang menghayalkan bahkan sampai pagipun mereka masih tidur. Ketika gagak-gagak berbunyi "caw, caw, caw, caw!", para pencuri itu bangun. Mereka sedih. Buru-buru mereka menyembunyikan pedang dan senjata-senjata lainnya di dalam hutan. Kemudian para pencuri mandi di sungai Gangga. Selesai itu mereka bertengkar. Salah satu diantara mereka bilang, "Kamu yang pertama tidur". Yang lainnya bilang, "kamu yang tidur lelap dan ngorok". Brahamana jahat yang memimpin para maling itu berkata, "mengapa kita bertengkar, apapun yang terjadi semua kehendak Devi Durga. Satu hari barangkali lewat tapi itu bukan berarti bahwa semua hari-hari berlalu. Aku pikir Devi Durga membingungkan kita. Kitatidak memujanya kita pergi. Inilah alasan semua kejadian ini. Nanti malam kita akan memuja Devi Durga. Kita akan mempersembahkan daging dan anggur. Lalu kita akan pergi ke tempat yang sama lagi". Mereka semua setuju kemudian memuja Durga Devi.
Malam itu mereka mengasah senajatanya, memakai pakaian hitam lalu berangkat. Malam itu sangat gelap. Semua orang tertidur. Para pencuri berkumpul. Mereka mendekati rumah tempat Nityananda bermalam, tiba-tiba mereka melihat banyak orang yang tinggi sedang menjaga keempat arah para pengawal itu berulang kali mengucapkan nama suci Sri Hari. Mereka seperti raksasa, kuat dan perkasa. Senjata-senjata mereka terangkat. Para pencuri itu melihat bahwa masing-masing mereka dapat membunuh 100 pencuri. Pengawal yang besar itu memakai kalungan bunga di leher mereka dan badannya diolesi dengan tapal kayu cendana. Berulang kali mereka melakukan Sangkirtana, mengucapkan nama-nama suci Tuhan. Nityananda sedang tidur, para pengawal itu menyanyikan, "Krsna! Krsna".
Meihat pemandangan ini para pencuri itu terkejut. Mereka meninggalkan rumah itu dan duduk bersama-sama. Para pencuri itu saling bicara, "darimana pengawal ini datangnya". Aku dengar Avadhuta yang suci ini punya ilmu yang tinggi. Dia dapat melindungi Dirinya sendiri. Kita telah melihat pengawal itu. Aku pikir mereka itu bukan manusia, aku pikir Avadhuta ini punya tenaga kebathinan yang tinggi. Itulah sebabnya orang-orang memanggilnya Gosai (penguasa) Pencuri lain bilang dengan pakaian mewah seperti yang dilakukan oleh Avadhuta ini disebut Gosai ?". Brahmana yang menjadi pimpinan gerombolan pencuri itu berkata, "Aku tahu alasanya. Pasti ada orang pembesar kerajaan yang datang untuk melihat sang Avadhuta. Para pengawal itu pasti anak buahnya. Pengawal itu adalah agamawan yang fanatik, itulah sebabnya mereka selalu mengucapkan "Hari! Hari". Kalau mereka berjaga disana sebaiknya kita tidak kesana. Setelah beberapa hari mereka akan pergi. Sekarang mari kita pulang selama 10 hari kita akan tinggal di rumah saja". Ketika pimpinan mereka selesai bicara seperti itu, merekapun pulang kerumah masing-masing.
Sementara itu Sri Nityananda Prabhu, bulan dari para Avadhuta, menikmati lila sesuai dengan kehendakNya. Siapapun yang menyembah, kaki padma Beliau dan mengingatNya maka segala rintangan akan dihancurkan. Sri Nityananda melakukan kirtan diseluruh Navadvipa. Atas kehendakNya Beliau menikmati lila makan dan tidur. Setiap anggota badanNya terhias dengan perhiasan yang mewah. Beliau persis seperti Putra Rohani. Balarama. Memang Sri Nityananda adalah penjelmaan dari Balaramaji.
Setelah tiba waktunya, para maling itu membuat suatu rencana dan pergi kerumah, tempatnya Nityananda. Atas rencana Tuhan, ada awan yang besar. Kegelapan membutakan, malam terasa menakutkan. Tak seorangpun yang keluar jalan-jalan. Pada malam yang mengerikan masing-masing pencuri itu melengkapi diri mereka dengan 4 atau 10 buah senjata. Mereka mulai bergerak mendekati rumah itu. Namun tiba-tiba semua pencuri itu menjadi buta. Salah satu diantara mereka jatuh ke parit dan digigit oleh nyamuk-nyamuk dan kalajengking. Yang lainnya jatuh kesemak-semak berduri, badannya ditusuk oleh duri-duri, ada yang demam, kaki dan tangan mereka patah. Mereka sangat tersiksa sekali.
Pada waktu itu, Indra mengirim hujan badai ke tempat itu. Batu-batu perbukitan beterbangan mengenai badan-badan mereka. Mereka semua tenggelam dalam kesengsaraan yang mengerikan. Mereka sudah diambang kematian. Karena mengetahui bahwa orang-orang ini adalah musuh Sri Nityananda maka Indra menjadi marah sehingga dia menyaksikan mereka dengan sangat menyengsarakan.
Setelah beberapa waktu sang Brahmana pimpinan maling itu menjadi beruntung. Dia dapat mengerti. Dihati sang brahmana berpikir, "Nityananda bukanlah manusia. Beliau berkepribadian Tuhan Yang Maha Esa sendiri. Aku adalah pendosa besar. Segala yang kulakukan adalah jahat. Aku ingin merampok kekayaan Tuhan. Sri Nityananda adalah satu-satunya tempatKu berlindung.
Sambil berpikir seperti ini brahmana itu mulai bermeditasi pada kaki Padma Nityananda. Tiba-tiba bencana itu lenyap. Pada saat itu, sang brahmana bebas dari dosa selama jutaan kali kelahiran. Sang brahmana berdoa, "selamatkanlah hamba, O Nityananda, O pengembala sapi, Krsna, O pelindung semua insan, selamatkanlah hamba !". Engkau berkarunia pada insan-insan yang jatuh. Hamba telah banyak membunuh brahmana dan sapi. O Tuhan, tidak ada pendosa yang lebih besar dari hamba. Selamatkan hamba dari reaksi dosa yang berbahaya ini. Hamba menyerahkan diri pada Engkau. Kelahiranku demi kelahiran hamba adalah pelayanMu. Hidup atau mati hamba ingin menjadi abdiMu".
Mendengar doa-doa ini, Sri Nityananda yang penuh karunia membebaskan semua pencuri itu. Dengan cara demikian pencuri itu sadar kembai. Tiba-tiba mereka bebas dari kebutaan, hujan badai menghilang. Sesaat kemudian mereka dapat melihat jalanan lagi. Mereka pulan dan mandi di sungan Gangga.
Pimpinan pencuri itu menangis dan menangis. Dihatinya dia berlindung pada kaki padma Nityananda. Sementara itu Nityananda sedang duduk dan melirik penuh karunia pada insan-insan yang jatuh di dunia ini. Para penyembah sedang kirtan, memuji nama suci Sri Haru, Sri Nityananda meraung dalam kebahagiaan rohani. Pada waktu itu, brahmana pencuri datang. Dia gemetaran. Berulang kali brahmana itu meraung dalam kebahagiaan yang besar. Dia tidak berada pada kesempatan luarnya. Dia menangis. Tergugah oleh kemuliaan Sri Nityananda brahmana itu menari dengan riang, "selamatkanlah hamba O Tuhan Nityananda, yang menyucikan insan-insan yang jatuh!". Sang brahmana meraung dan tangan-tangannya terangkat.
Melihat hal ini para penyembah terkejut dan heran "Bagaimana seorang pencuri bisa seperti ini". Penyembah lain berkata, "mungkin ini tipuan, sebentar lagi dia akan menyerang". Yang lainnya berkata, "Tuhan Nityananda penyelamat roh-roh yang jatuh, atau karunia beliau hati seseorang akan disucikan".
Melihat tanda-tanda kebahagiaan rohani sang brahmana yang tidak ada hentinya, Sri Nityananda tersenyum lembut dan bertanya,  "O brahmana, katakanlah padaKu, Aku lihat kegiatanmu sangat ajaib, apa yang telah kau lihat, apakah kau telah mendengar kemuliaan Krsna ?, katakanlah sejujurnya". Mendengar kata-kata Tuhan itu sang brahmana yang sekarang sudah jadi orang suci tidak punya kekuata untuk berkata apapun. Dia hanya menangis. Dia jatuh ketanah dan berguling-guling secara spontan dia tertawa, menangis, menari dan menyanyi. Setelah beberapa saat brahmana itu menjadi tenang. Kemudian berkata pada Sri Nityananda, "O Devata, rumah hamba di Nadia. Hamba seorang brahmana nama saja, tindakan hamba seperti seorang candala. Dengan bergaul dengan orang-orang jahat hamba menjadi pencuri". Selanjutnya sang brahmana itu menceritakan semua kejadian ketika dia mau mencuri perhiasan-perhiasan Nityananda. Dan karena dia ingat dengan Sri Nityananda dia dan kawan-kawannya diselamatkan. Selesai menceritakan semuanya, sang brahmana menangis dengan keras. Mendengar semua kejadian ini semua orang bersujud pada brahmana itu. Lalu brahmana itu berkata pada Tuhan Nityananda, "O Tuhan, ijinkanlah hamba pergi, hamba tak ingin hidup lagi. Dihati hamba ingin mengganggu Anda, untuk menebus semua ini hamba akan menenggelamkan diri ke sungai Gangga.
Mendengar kata-kata Brahmana yang tulus ini para penyembah dan Sri Nityananda merasa senang, Sri Nityananda berkata, "O brahmana kau sangat beruntung dari kelahiran  demi kelahiran kau adalah pelayan Krsna. Kalau kau tidak mendapatkan karuniaNya bagaimana mungkin hal yang ajaib in terjadai padamu. Sri Chaitanya telah turun untuk menyelematkan roh-roh yang jatuh dan untuk menyucikan dunia ini. Dengarkanlah brahmana, kalau kau tidak berbuat dosa lagi, Aku akan menerima semua karmamu. Berhentilah berbuat kekerasan, mencuri dan yang lain-lainnya, berjalanlah dijalan kebenaran. Ucapkanlah nama suci Sri Hari dan kau juga akan dapat menyelamatkan yang lainnya. Pergilah pada pencuri dan penjahat lainnya, ajak mereka kejalah dharma".
Setelah berkata itu, Tuhan Nityananda mengambil kalungan bunga yang ada dileherNya dan dengan bahagia memberikannya pada Brahmana itu. Ada suara besar, "Jaya! Jaya!:. Sang brahmana sekarang telah lepas dari ikatan material. Dengan memegang kaki padma Tuhan Nityananda sang brahmana menangis dan menangis. "O Tuhan Nityananda, berilah perlindunganMu pada roh yang jatuh ini". Sri Nityananda yang adalah karunia sindhu, lautan karunia, meletakkan kaki padmaNya diatas kepala sang brahmana. Ketika kepalanya menerima karunia dari kaki padma Nityananda maka semua kesalahan bramana itu hancur berkeping-keping.
Dari sejak saat itu, kapanpun para pencuri datang kerumahnya, dia membimbing mereka kejalan dharma. Dia mengajarkan mereka untuk berlindung kepada Sri Chaitanya sehingga semua para pencuri itu berubah menjadi orang suci. Setelah bergaul dengan san brahmana mereka semua mengucapkan ratusa ribu kali nama suci Sri Hari. Mereka semua menjadi ahli dalam melakukan pelayanan bhakti kepada Sri Visnu.
Wabai saudara-saudaraku, mohon sembahlah, mohon sembahlah Tuhan Nityananda, atas karuniaNya kita akan mencapai Tuhan Chaitanya.


32. PENGABDIAN SUCI SRI MAHAVENDRA PURI

Pada suatu ketika, Sri Madhavendra Puri pergi ke Vrndavana dia tiba di Bukit Gorvadhana. Mandhavendra Puri hampir gila kebahagiaan rohani cinta kasih rohani pada Tuhan dan dia tidak tahu apkah hari malam atau siang. Kadang-kadang dia jatuh ke tanah. Dia tidak dapat membedakan apakah dia berada di tempat yang pantas atau tidak.
Setelah mengelilingi bukit itu, Madhavendra Puri pergi ke Govinda kunda dan mandi, lalu dia duduk dibawah pohon untuk beristirahat malam. Ketika dia sedang duduk dibawah pohon, seorang pengembala sapi yang tidak dikenal datang membawa semangkok usu, meletakkannya di Madhavendra Puri dan, tersenyum menyapanya sebagai berikut, "minumlah susu yang telah aku bawakan ini. Mengapa kau tidak minta makan untuk dimakan. Meditasi apa yang sedang kau lakukan."
Ketika dia melihat keindahan itu, Madhavendra Puri menjadi sangat puas. Dengan mendengar kata-kata manisNya, dia melupakan rasa lapar dan dahaga. Madhavendra Puri berkata, "Siapakah Engkau Dimana kau tinggal dan bagaimana kau tahu kalau aku sedang puasa". Anak itu menjawab, "Tuan, Aku adalah seorang penggembala sapi dan aku tinggal di desa ini. Di desaku tidak ada orang yang berpuasa di desa ini seseorang dapat meminta makanan dari yang lainnya dan memakannya. Beberapa orang hanya minum susu, tapi jika seseorang tidak minta makanan, Aku akan menyediakan makanan baginya. Para wanita yang datang kemari untuk mengambil air melihatmu dari mereka mengirimKu untuk membawakan  kau susu ini". Selesai berkata demikian Anak itu pergi, tiba-tiba Dia tidak terlihat lagi dan hati Madhavendra Puri merasa heran.
Setelah minum susu itu, Madhavendra Puri mencuci dan meletakkan mangkok itu disampingnya. Dia melihat-melihat kejalan, tapi anak itu tidak pernah kembali Madhavendra Puri tidak dapat tidur. Dia duduk dan menyapa maha mantra Hare Krsna, pada akhir malam dia tertidur sebentar. Dalam mimpi Madhavendra Puri melihat anak yang sama satu lagi. Anak itu datang dihadapannya, memegang tangannya membawa kesemak-semak dan berkata "Aku tinggal disini, oleh karena itu aku sangat menderitadari rasa dingin, hujan, angin, dan panas. Tolong ajaklah orang-orang desa ini untuk mengeluarkan Aku dari semak-semak ini, dan tempatkanlah Aku dengan baik di puncak bukit. Bangunlah tempat sembahyang di puncak bukit atau sthanakan Aku ditempat sembahyang itu, setelah itu bersihkanlah Aku dengan air yang banyak sehingga Badanku akan bersih. Selama berhari-hari, Aku telah menerima pelayananmu karena cinta kasih sayang rohanimu padaKu. Dengan demikian aku akan muncul, dan dengan kehadiranKu semua roh-roh yang jatuh akan diselamatkan.
Namaku adalah Gopala, Aku pengangkat Bukit Govardhana, Aku disthanakan olehh Vajra, dan disini aku adalah penguasa. Ketika orang muslim menyerang, pujari yang melayaniKu menyembunyikanKu di semak-semak dihutan ini. Kemudian dia lari, takut akan serangan itu. Oleh karena pujari itu pergi, aku tinggal disemak-semak in, kemudian dia lari". Setelah berkata demikian, anak itu menghilang. Lalu Madhavendra Puri termangu dan memikirkan mimpinya.
Madhavendra Puri mulai bersedih, "Aku telah melihat Krsna, tapi aku tidak mengenalNya. "Dia jatuh ketanah dalam kebahagiaan rohani.
Madhavendra Puri menangis untuk beberapa waktu, kemudian dia memantapkan pikirannya guna melaksanakan perintah Gopala. Demikianlah dia menjadi tenang dia menjadi tenang. Setelah mandi pagi, Madhavendra Puri memasuki desa dan mengumpulkan semua orang-orang desa, lalu dia berkata, "Pemilik desa ini yaitu Govardhana dhari sedang berbaring didalam semak-semak belukar mari kita kesana dan mengangkatnya dari tempat itu. Semak-semak itu cukup lebat dan kita tidak akan dapat memasukinya oleh karena itu bawalah sabit, skop dan peralatan lainnya untuk membuat jalan".
Setelah mendengar hal itu semua orang dengan ditemani oleh Madhavendra Puri pergi ketempat itu dengan bahagia. Sesuai dengan petunjuknya, mereka menebas semak-semak dan buat jalan lalu masuk hutan itu. Ketika mereka melihat Arca yang tertutup oleh debu dan rerumputan mereka terkejut dan bahagia. Setelah mereka membersihkan badan arca, salah satu diantaranya berkata, "Arca ini sangat berat, tak seorangpun dapat menggerakkanya"" Oleh karena arca ini sangat berat maka beberapa orang yang lebih kuat berkumpul bersama untuk mengangkatNya ke puncak bukit. Madhavendra Puri juga ikut bersama.
Sebuah batu yang sangat besar digunakan untuk singgasana dan Arca diistanakan diatasnya. Batu besar lainnya diletakkan dibelakang Arca untuk menopangNya. Semua pendeta brahma berkumpul  bersama dengan 9 mangkok air dan air dari Govinda kunda dibawa kesana. Ketika Arca telah diistanakan, 900 pot air diambil dari Govinda kunda. Pada upacara penyethanaan arca itu, beberapa orang menyanyi dan yang lainnya menari. Semua susu asam dan ghee yang ada di desa itu dibawa untuk festival itu. Para penduduk juga membawa daun tulasi, bunga-bunga dan pakaian kain-kain yang banyak sekali. Kemudian Madhvendra Puri sendiri yang memulai abhiseka (upacara memandikan Arca). Lalu dilanjutkan dengan mempersembahkan bhoga yang luar biasa banyaknya, tumpukan bhoga itu seperti gunung, kemudian ararti dan akhirnya Arca ditidurkan. Festival ini sangat besar dan meriah. Hal ini terjadi karena kehendak Gopala.
Setelah Arca berbaring di tempat tidur, Madhavendra Puri mengumpulkan semua brahmana yang telah menyiapkan prasad dan berkata, "sekarang berikan prasada pada setiap orang secara besar-besaran, dari anak-anak sampai pada orang-orang tua. Semua orang yang berkumpul di sana duduk dan menghormati prasad pertama. Para Brahmana dan istri-istrinya prasad pertama. Bukan hanya penduduk itu saja yang menerima prasad tapi juga penduduk dari desa lainnya, mereka juga melihat Arca Gopala. Mereka terkejut dan kagum terhadap pengaruh Madhavendra Puri. Mereka melihat bahwa perayaan Annakuta itu (festival mempersembahkan bhoga) yang telah dilakukan pada jaman Krsna, sekarang langsung lagi atas karunia Madhavendra Puri.
Semua Brahmana yang hadir pada waktu itu didiksa oleh Madhavendra Puri dalam jajaran vaisnava, dan beliau juga menugaskan mereka dalam berbagai jenis pelayanan bhakti. Ketika diumumkan keseluruh desa bahwa Sri Gopala telah muncul di puncak Govardhana maka semua penduduk dari desa tetangga datang untuk melihatNya. Satu  persatu penduduk dari masing-masing desa itu mohon pada Madhavendra Puri agar mereka diizinkan untuk merayakan Annakuta selama sehari. Jadi setiap desa-desa itu bergiliran mengadakan Annakuta. Para penduduk desa-desa itu membawa makanan sebanyak-banyaknya pada Gopala sesuai dengan kemampuan desanya masing-masing. Demikianlah berita tentang Arca itu menyebar keseluruh wilayah dan akhinya ada orang dari Mathura yang menyumbang untuk membangun tempat untuk sembahyang (temple) dan juga ada orang sannyasi dari Bengal datang, Madhavendra Puri sangat menyukai mereka dan minta asgar mereka tinggal di Vrndavana.
Dengan cara seperti itulah Arca Gopala dipuja ditempat sembahyang secara sangat mewah selama dua tahun dan pada suatu hari Madhavendra Puri bermimpi, dalam mimpi Madhavendra Puri melihat Gopala yang bersabda, "Temperatur badanKu masih belum menurun, bawalah tapal kayu cendana dari provensi Malaya dan olesilah di badanKu untuk menyejukkanKu. Bawalah tapal kayu cendana dari Jagannatha Puri, pergilah segera, karena tak ada orang yangdapat melakukannya."
Untuk menjalankan perintah ini, Madhavendra Puri berjalan ribuan mil dari Vrndavana ke Jagannatha Puri. Dalam perjalanannya, dia singgah di Remuna, India Selatan, di Mandir (tempat sembahyang) Arca Gopinatha. Madhavendra Puri berfikir, "aku akan bertanya pada pujari, makanan apa saja yang dipersembahkan pada Gopinath sehingga aku akan dapat membuat sesaji yang sama untuk Gopala." Setelah ditanyai, pujari menjelaskan, pada malam hari, sweet rice (nasi manis) dalam 12 mangkok dipersembahkan pada Gopinatha. Karena rasanya seperti minuman.
Kekekalan (amrta) maka sweet rice itu dinamakan amrta keli. Sweet rice ini dimuliakan di seluruh dunia sebagai gopinatha Ksira, yang ini tidak dipersembahkan ditempat lain di dunia.
Ketika Madhavendra Puri sedang berbicara dengan pujari, sweet rice diletakkan dihadapan Arca sebagai persembahan. Melihat hal ini Madhavendra Puri berfikir", Jika tanpa aku minta, sedikit Sweet rice diberikan padaku, lalu aku akan dapat merasakannya sehingga aku akan dapat membuat sajian yang sama untuk Sri Gopala". Madhavendra Puri menjadi sangat malu sekali, tat kali dia menginginkan untuk merasakan sweet rice itu, dan dia segera mulai memikirkan Sri Visnu. Sambil dia berfikir seperti itu, persembahan selesai dan arati dimulai. Arati Madhavendra Puri menyampaikan sembah sujud pada Arca, lalu meninggalkan mandir itu. Dia tidak berkata apa-apa lagi pada siapapun. Madhavendra Puri menghindari untuk meminta minta, kalau seseorang memberikan dia makanan, dia akan memakannya kalau tidak dia puasa. Seorang peramahamsa seperti Madhavendra Puri selalu puas dalam pelayanan cinta kasih rohani pada Tuhan. Lapar dan haus material tidak mempengaruhi kegiatannya. Ketika dia menginginkan untuk merasakan sedikit sweet rice yang akan dipesembahkan pada Arca dia menganggap dirinya telah berbuatu suatu kesalahan karena telah menginginkan makan apa yang akan dipersembahkan pada arca. Madhavendra Puri meninggalkan mandira dan duduk dipasar yang sepi didesa itu, sambil berjapa. Sementara itu pujari menidurkan Arca.
Selesai melakukan kewajibannya, pujari itupun istirahat. Dalam mimpi dia melihat Arca Gopinatha datang dan bersabda. "Bangunlah dan buka pintu tempat sembahyang. "Aku telah menyembunyikan semangkok sweet rice untuk sannyasi Madhavendra Puri. Semangkok sweet rice ini berada di belakang pakaianKu. Kau tidak melihatnya karena tipuanku. Seorang sannyasi yang bernama Madhavendra Puri sedang duduk di pasar yang sepi. Bawalah semangkok sweet rice ini kepadanya".
Bangun dari mimpinya pujari itu berpikir bahwa bijaksana kalau mandi dulu sebelum memasuki ruang arca. Kemudian dia membuka pintu mandira. Sesuai dengan petunjuk Arca sang pujar menemukan semangkok sweet rice itu untuk diberikan kepada Madhavendra Puri. Sambil mencari cari Madhavendra Puri dia berteriak, "Siapa yang bernama Madhavendra Puri datanglah dan ambilah mangkok ini. Gopinatha telah mencurinya untuk Anda, nikmatilah prasad ini dengan penuh kebahagiaan. Anda adalah orang yang paling beruntung diketiga dunia. "Mendengar panggilan ini, Madhavendra Puri keluar dan memperkenalkan dirinya. Kemudian pujari itu memberikan semangkok sweet rice itu padanya dan bersujud. Ketika pujari itu menceritakan tentang semangkok sweet rice yang dicuri itu oleh Gopinatha, Sri Madhavendra Puri terserap dalam cinta rohani Krsna, sehingga pujari itu terkejut. Sang pujari menyampaikan sembah sujud pada Madhavendra Puri lalu kembali mandi. Dalam kebahagiaan rohani, Madhavendra Puri menghormati prasad yang telah dibeirkan oleh Krsna itu. Kemudian dia mencucik dan memecahkan mangkok itu berkeping-keping (mangkok itu terbuat dari tanah) Dia mengikat serpihan-serpihan mangkok itu pada pakaian luarny. Setiap hari Madhavendra Puri makan serpihan mangkok tanah itu, dan setelah makan dia segera merasakan kebahagiaan rohani. Terus dan terus berjalan, akhirnya Madhavendra Puri tiba di Jagannatha Puri, sujud pada Tuhan Jagannatha dan tenggelam dalam kebahagiaan  rohani. Madhavendra Puri menceritakan semuanya tentang arca Gopala pada para penyembah disana. Mereka menjadi kaget sekali. Dan mereka siap membantu Madhavendara Puri untuk mengumpulkan camphor (kapur barus) dan kayu cendana setelah mengumpulkan semuanya Madhavendra Puri dengan dibantu oleh beberapa penyembah pergi ke Vrndavana. Dia singgal lagi di Remuna, di Mandira Gopinatha.
Ketika sang pujari melihat Madhavendra Puri dia bersujud kemudian memberikannya sweet rice. Madhavendra Puri, malam itu beristirahat disana, diakhiri malam dia bermimpi, Gopala datang dan bersabda, "O, Madhavendra Puri Aku telah menerima semua camphor dan kayu cendana itu. Sekarang gilinglah kayu dan camphor itu lalu lumurkan pada badan Gopinatha sampai kayu dan campor itu habis. Tidak ada perbedaan antara BadanKu dan Badan Gopinnatha. Oleh karena itu jika kau mengolesi tapal cendana pada badan Gopinatha, maka secara alami kau juga akan mengolesi BadanKu sehingga temperatur badanku akan menurun. Hendaknya kau jangan ragu-ragu melaksanakan perintahKu ini. Lakukanlah apa yang diperlukan." Setelah memberikan instruksi ini Gopala menghilang dan Madhavendra Puri terbangun. Dia segera memanggil para pelayan Gopinatha.
Madhavendra Puri berkata, "Olesi tubuh Gopinatha dengan camphor dan tapal kayu cendana yang telah kubawa untuk Gopala di  Vrndavana. Lakukanlah hal ini secara teratur setiap hari. Kalau tapal kayu cendana dioleskan pada tubuh Gopinatha maka Gopala akan merasa sejuk. Para pelayan Gopinatha merasa sangat senang mendengar bahwa di musim panas semua tapal kayu cendana akan diolesi  tubuh Gopinatha. Demikianlah, tapal kayu cendana diolesi pada tubuh Gopinatha sampai pesediaannya habis selama itu pula Madhavendra Puri tinggal disana. Diakhir musim panas Madhavendra Puri pergi ke Jaganatha Puri dan dia tinggal disana selama Caturmasya.
Menjelang keberangkatannya kedua rohani, Madhavendra Puri mengucapkan sebuah sloka. Sebenarnya sloka ini diucapkan oleh Srimati Radharani dan atas karunia Beliau slokai ini terwujud pada kata-kata Madhavendra Puri. Sloka ini hanya dimengerti dan dirasakan oleh tiga orang saja yaitu : Srimati Radharani, Sri Caithainya Mahaprabhu dan Sri Madhavendra Puri. Sloka ajaib itu adalah :
Ayi dina dayardra natha he
Mathura natha kadavalokyase
Hrdyam tvad aloka kataram
Dayita bhramyati kim karomy aham
Arti sloka ini tercantum dalam kitab suci rohani Sri Caitanya Caitamrta, Madhya Lila Bab 4, Teks 97. Dengan mengucapkan sloka ini Sri Madhavendra Puri mencapai tujuan hidupnya yang tinggi.
Sri Madhavendra Puri Ki Jay!

33. SRI KRSNA SEHARI

Si Balarama dipanggil Douji  artinya kakak yang melindungi adiknya. Setelah mengangkat bukit Govardhan Sri Krsna banyak membunuh raksasa termasuk Sankhasura dan Aristasura. Balarama belum membunuh raksasa dalam waktu yang cukup lama. Karena ingin berpakaian seperti Krsna, pada suatu saat Balarama minta pada Krsna agar dia dapat memakai bulu burung merak dan seruling Krsna, selama sehari saja. Krsna yang sayang pada kakakNya setuju, lalau memberikan bulu merak san serulingNya pada Balarama.
Krsna dan Balarama berpelukan dengan erat kemudian dengan teratawa bahagia Balarama pergi sambil memainkan seruling Krsna. Sementara itu di Mathura, raja jahat, Kamsa akan mengirim raksasa Keshi (dalam bentuk kuda) ke Vrndavana untuk membunuh Krsna. Raksasa Keshi bertanya pada Kamsa, "Bagaimana aku bisa mengenal Krsna".  Kamsa mengatakan padanya bahwa sangat mudah mengenalNya karena dialah satu-satunya yang memakai bulu burung merak dan memainkan seruling.
Ketika Balaramaji asyik menikmati kegiatanNya sebagai Krsna sehari, raksasa kuda Keshi, yang mengerikan membadai datang ke Vrndavana. Melihat Balarama memakai bulu burung merak pada mahkotaNya dan sedang memainkan seruling, Keshi meringkik dengan keras dan memberikan tendangan-tendangan yang sangat kuat pada Balarama. Tendangan itu dapat mematikan gajah yang besar. Tendangan ini menerbangkan Balarama jauh dari pandangan raksasa Keshi itu. Dengan berpikir bahwa dia telah membunuh Krsna maka dia pergi. Balaramaji bangun terhuyung-huyung dan dia mulai menanghis. DadaNya terasa sakit dan nafasNya seperti sesa. Balarama merasa lapar, dan sangat habis lelah habis terbang cukup jauh.
Setibanya di rumah Balarama segera menemui Krsna dan mengembalikan seruling dan bulu burung merakNya. Balarama mengatakan pada Krsna bahwa dia tidak akan pernah lagi memakainya sehingga nanti akan ada raksasa lagi yang datang menendangnya dengan mengira dirinya Krsna. Kemudian Balaramaji menemui Ibunya Rohini dan tidur dipangkuannya.
Krsna memakai kembali bulu burung merak itu dengan menyelipkan serulingNya dalam ikat pinggangNya. Kemudian Krsna bermain-main di desaNya. Tiba-tiba raksasa itu datang lagi dan dengan mudah Krsna dapat membunuhnya.
Srila Prabhupada menulis, Balarama adalah Visnu yang asli, oleh karena itu siapapun yang mengingat lila atau kegiatan in, pagi dan malam maka dia akan menjadi seorang penyembah mulia kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan dengan demikian hidupnya akan sukses.
Sri Balaramaji Ki Jay !.


34. SRI KRSNA PENGEMBALA SAPI

Ketika Krsna berusia lebih dari tiga tahun, Beliau ditugaskan oleh orang tuanya untuk menjaga anak sapi. Disaat yang menyejahterakan ini, Nanda maharaja sendiri yang memilih sekelompok anak sapi untuk Krsna, dan diadakanlah sebuah festifal yang berwarna kemerah-merahan. Ketika Dua saudara ini (Krsna dan Balarama) sedang menggembalakan anak-anak sapi mereka, orang tua mereka tergugah dengan berbagai perasaan. Nanda Maharaja dan Ibu Jasoda membantu Krsna dan Balarama pada saat Mereka akan mengembalikan anak sapi-anak sapi ke hutan. Kedua anak itu (Krsna dan Balarama) segera menguasai teknik mengendalikan sapi. Lalu Krsna minta agar Ayah dan Ibunya kembali pulang. Nanda Maharaja membiarkan mereka menggembalakan anak-anak sapi sesuai dengan keinginan Mereka, namun sebagai orang tua yang menyayangi putranya, Nanda Maharaja menasehati keduanya agar tidak masuk dalam kedalam hutan yang lebat karena saat ini adala hari pertama dan Balarama agar pulang sesegera mungkin.
Ada kejadian menyenangkan yang terjadi sebelum Dua bersaudara itu pergi menggembalakan anak-anak sapi ke hutan pada pagi itu. Pada hari pertama Krsna ditugaskan menggembalakan anak-anak sapi, Ibu Yasoda membawakan beberapa sepatu yang bagus dan sebuah payung untuk Krsna. Sebelum mereka pergi, Ibu Yasoda menyuruh Balarama "Jagalah adimu", pastikan Dia memakai sepatunya dan payung ini".
Ibu Yasoda telah menyiapkan semua ini namun Krsna berkata "aku tidak akan memakai semua ini, mengapa Aku memakai sepatu dan payung sementara anak-anak sapiKu tidak memakainya" Krsna merasa bahwa Beliau tak mau memakai sepatu dan payung, kecuali kalau Ibu Yasoda membelikan 4 sepatu untuk setiap 1 anak sapi yang beliau jaga. Selain itu pula, Ibu Yasoda harus membelikan payung untuk semua anak sapiNya dan menyuruh beberapa penyembah untuk memayungi setiap anak sapiNya. Kalau Ibu Yasoda melakukan semua ini barangkali Krsna akan memakai sepatu dan payung. Yasoda melakukan semua nini barangkali Krsna akan memakai sepatu dan payung. Menurut tradisi, semua leluhurNya adalah penggembala sapi dan anak sapi, sehingga Krsna heran mengapa Ibu Yasoda begitu memperhatikanNya dan tidak memberikan perhatian yang sama terhadap anak-anak sapiNya. Beliau menjelaskan pada IbuNya, "Dharmo raksati raksitah", kalau seseorang menekuni dharma dan mengikuti prinsip-prinsip dharma maka dia dilindungi oleh dharma itu.
Jadi Krsna berkata kepada Ibu Yasoda, "Mengapa sapi dan anak-anak sapi adalah dharma kita. Marilah kita menjaga mereka dan merekapun akan menjaga kita". Akhirnya Krsna dan juga Balarama tidak menerima sepatu atau payung itu. Krsna lebih suka menjadi pelayanan sapi-sapi walaupun Beliau adalah Goloka Pati, Penguasa Goloka. Dengan demikian Krsna tekun dalam Lila mengembalakan anak-anak sapiNya.


35. DUA KRSNA MENJADI SATU

Kisah kemunculan Krsna secara keseluruhan sangat ajaib. Krsna muncul baik pada Devaki maupun pada Yasoda pada waktu yang bersamaan. Pada Ibu Yasoda, Krsna muncul berlengan dua sebagai Yasodanandana, dan pada Ibu Devaki, Krsna muncul berlengan empat sebagai Devakinandana.
Tidak lama setelah Krsna muncul, Ibu Yasonda melahirkan Yogamaya, adik perempuan Krsna. Oleh karena itu Ibu Yasoda melahirkan dua orang anak pada malam yang sama; Akan tetapi sungguh ajaib, Ibu Yasoda sama sekali tidak menyadari lahirnya anak yang kedua karena beliau tertidur. Ketika Vasudeva datang dari Mathura dan memasuki kamar tidur Ibu Yasoda di Gukula, beliau tidak melihat Krsna. Kemudian Yogamaya sebagai penggatinya.
Di dalam Visnu Purana diceritakan bahwa ketika Ibu Yasoda terbangun, beliau tidak melihat Devakinandana dan Yogamaya, tapi beliau hanya melihat Krsna yang berlengan dua. Maka dengan demikian, tak seorangpun di Gokula yang mengetahui tentang kelahiran Yogamaya atau penukarannya dengan Devakinandana.
Di dalam Vaisavava Tosani, Srila Sanatana Gosvani menjelsakan bahwa Devikinandana yang berlengan empat menyatu dengan Yasodananda yang berlengan dua, segera setelah Vasudeva meletakkan Devakinandana pada tempat tidur Ibu Yasoda di Gokula. Srilala Rupa Gosvami (menyatakan bahwa Sri Vasudeva (Devakinandana) yang dibawa oleh Vasudeva (Ayah, Krsna) masuk kedalam badan Krsna yang telah muncul sebagai putra Ibu Yasoda. Oleh karena itu dua bentuk, yaitu Bentuk Vasudeva (Krsn) dan Krsna menjadi satu. Atas tenaga Krsna yang tak dapat dipahami, kemunculan dua Krsna secara terpisah, pada Ibu Devaki dan pada Ibu Yasoda telah menjadi satu anak kecil yang berbaring disamping Ibu Yasoda.
Sri Krsna Janmastasmi Ki Jay!





36. MUNCUL SRIMATI RADHARANI

Tempat munculnya Srimati bernama Raval. Kemudian suatu hari, Vrsabhanu Maharaja pergi kesungai Yamuna untuk mandi. Disana beliau melihat pemandangan yang sungguh menakjbkan. Ditengah-tengah sungai Yamuna beliau melihat setangkai bunga padma keemasan yang bersinar bagaikan satu juta matahari. Di tengah-tengah bunga padma keemasan ini, Bayi Srimati Radharani berada.
Kemudian, Deva Brahma datang ke tempat itu. Deva Brahma mengatakan kepada Vrsabhanu bahwa pada penjelmaannya yang lalu, Vrsabhanu dan istrinya, Kirtida Sundari telah melakukan pertapaan yang keras untuk mendapatkan permasuri Sri Visnu sebagai putri mereka.
Vrsabhanu mengambil putri itu lalu membawanya pulang. Ternyata bayi itu dalam keadaan buta. Kemudian Narada Muni datang. Narada Muni mengatakan pada Vrsabahanu bahwa kendatipun putri Srimati Radharani dalam keadaan buta, hendaknya segala upacara yang mujur dilaukan. Vrsabhanu menyenggarakan segala jenis upacara suci yang mujur dan beliau juga mengundang semua penduduk sekitarnya untuk hadir.
Salah satu yang datang adalah keluarga Nanda Maharaja. Nanda Maharaja datang bersama istrinya dan bayi Krsna. Ketika para ibu-ibu yang yang lainnya sedang asyik berbincang-bincang, Krsna turun dari pangkuan ibuNya dan merangkak mendekati tempat dimana Srimati Radharani sedang berbaring. Ketika Krsna telah mendekat Srimati Radharani dapat mencium wanginya tubuh Krsna. Pada waktu itulah Srimati Radharani membuka Mata Padma Beliau. Dengan demikian Kepribadian pertama yang Beliau lihat adalah Kekasih Kekal Beliau yaitu Sri Krsna.
Srimati Radharani Ki Jay!


37. SRI RADHIKA STAVA
Oleh Srilila Rupa Gosvami

Radhe jaya madyava dayite
Gokula taruni mandala nahite
1 damodara rati vardhana vese hari niskuta vrnda vipinese
2 vrsabhanudadhi nava sasi lekhe lalita sakhi guna ramita visakhe
3 karunam kuru mayi karuna bharitesanaka sanatana varnita carite
O Radha! O kekasih Madhava! Engkau yang disembah oleh semua gadis Vraja muda Gokula!  
    Segala pemujian kepadaMu! Segala pemujian kepadaMu!

(1-3) Engkau yang memakai busana sedemikian rupa untuk meningkatkan cinta dan ikatan Sri Damodara pada DiriMu! O Permaisuri Vrndavana, taman kesenangan Sri Hari Mu! O Permasuri Vrndavana tamah kesenangan Sri Hari! O bulan baru yang terbit dari lautan Raja Vrsabhanu! O Kawan Lalita! Engkau yang membuat Visakha setia padaMu karena sifat-sifatmu yang mulia, yaitu ramah, murah hati dan setia pada Krsna! Engkau yang penuh Karunia! Sifat-sifatmu iuraikan oleh rsi-rsi yang mulia Sanaka dan Sanatana! O Radha, mohon memberi karunia pada hamba.





KRISHNA CARITAM


Kemunafikan mewabah dan sejumlah asura (yang berwatak raksasa) menyamar sebagai raja yang korup dalam segala tingkatan. Dijejali dengan kadar beban seperti itu, Ibu Pertiwi, mengambil wujud seekor sapi berangkat ke Gunung Meru, tempat persidangan para Dewa, dipimpin oleh Dewa Brahma. Dalam aksesn suara yang sedih, Ibu Pertiwi melaporkan penderitaannya. Seluruh tubuhnya basah dengan air mata, berbicara dalam kesedihan yang sangat menekan akibat tidak seimbangnya unsur kebaikan dan keburukan. Raksasa Kalanemi, yang dihancurkan oleh Vishnu di masa lampau, telah lahir dalam bentuk Kamsa, Penguasa di Mathura. Tidak sanggup memikul bebanm yang berat ini, Ibu Pertiwi dalam bentuk sapi mengatakan sengaja datang kehadapan para dewa untuk mohon bantuan. “Dewaku yang terhormat, maukah anda berbuat untuk meringankan bebanku, sehingga aku tidak tenggelam dalam jurang yang amat dalam ?” Mendengarkan hal ini, Brahma menyampaikan kepada para dewa, bahwa ada satu jalan untuk mengurangi beban bumi yakni meminta bantuan kepada Vishnu, karena hanya Vishnmu yang dapat melakukan tugas berat seperti itu.
Brahma, Ibu Pertiwi dan para dewa mohon bantuan Vishnu. Selanjutnya, ditemani oleh para dewa, resi dan makhluk kahyangan lainnya, Brahma pergi ke lautan Susu, tempat Vishnu berbaring di atas tempat tidur gulungan Naga Ananta, dengan lambang burung garuda yang agung. “Sembah sujudku kepada-Mu, Brahma mengawali kontaknya dengan Vishnu : “Yang berwajah ribuan, yang berlengan tak terhitung, dna yang berkaki tak terbatas, kepada-Mu, pencipta, pemelihara dan lebur yang tak terbatas, sangat halus dari yang terhalus, amat luas dari yang paling besar, sumber alam semesta, intelek dan kesadaran. Murah hatilah kepada kami. O Tuhanku, bumi tertekan oleh asura seluruh hidupnya goncang telah datang menghadap ke mari, mohon perlindungan agar bebannya disingkirkan”.
            Mendengarkan ucapan Brahma seperti itu, Vishnu yang selalu siap memperbaiki keseimbangan antara baik dan buruk di dunia ini, tersenyum lembut sambil memberikan jaminan kepada para dewa dengan setuju untuk turun sekali lagi ke dunia ini. Berbicara dalam tekanan yang berat seperti guntur, Vishnu menyatakan “Kesaktianku akan lahir dalam kandungan Devaksi, Istri Vasudeva sebagai anak kedelepan. Dialah yang membunuh Kamsa, titiasan Kalanemi. Tenaga dalamku. Juga lahir di sana sebagai Balarama, yang membasmi siapa saja yang berlagak congkak. Janganlah ragu, asura akan hancur sebelum lirikanku menimpa mereka”. Sesudah mengatakan hal itu, Vishnu lenyap, yang sebelumnya juga sudah menyarankan agar para dewa pun turun pula ke bumi untuk bersama-sama memerangi asura, dan meminta para wanita sorga lahir enjadi gasi gembala sapi dan para resi lahir dalam wujud sapi di kawasan Vraja yang luhur itu. vasudeva mengawini Devaki dan Kamsa berusaha untuk membunuhnya. Tempat yang dipilih Tuhan untuk turun kembali adalah Mathura, yang saat itu diperintah oleh Kamsa yang sombong dan angkuh. Adik Kamsa, Devaki, baru saja kawin dengan Vasudev yang agung dari dinasti Yadu. Kamsa memilih kereta untuk mengantarkan kedua mempelai dan langsung memegang tali kekang, diiringi ratusan kereta berlapis emas. Di tengah jalan, terdengar suara gaib dari langit, yang tiba-tiba memanggil Kamsa. “ sahabat yang tolol, “ucap suara itu, “putra kedelapan mempelai yang kau antar ini, akan membunuh dirimu”. Karen panik dan marah, Kamsa menghentikan kereta, menghunus pedang, menarik rambut adiknya, siap untuk menyembelihnya. Cepat Vasudeva mengajukan pertimbangan, meniru air muka seperti bunga padma, meskipun hatinya sangat sakit. “Selamatkanlah jiwanya, wanita lembut ini adalah adikmu sendiri. Dan adik tak buahnya seperti anak bagimu.
Aku berjanji untuk menyerahkan setiap bayi yang lahir dari rahimnya nanti kepadamu, untuk menghindarkan bahaya ang menimpamu”.



Devaki dan Vasudeva dalam Penjara
Mendengarkan janji Vasudeva, Kamsa menyekap Vasudeva dan Devaki dalam penjara di istana dengan penjagaan yang luar biasa ketatnya. Setiap tahun Devaki melahirkan seorang anak. Dalam enam tahun sudah enam orang anaknya lahir, dan kesemuanya dibunuh oleh Kamsa yang jahat itu. sesudah Kamsa membunuh Keenam anak Devaki, terlihatlah pancaran sinar Vishnu yang agung dalam bentuk Ananta Sesha masuk ke rahim Devaki sebagai anaknya yang ketujuh. Ha itu sekaligus merupakan sebab kebahagiaan dan kedudukan. Dalam hal ini Vishnu melakukan tindakan pendahuluan seperlunya, dengan menugaskan Dewi Maya atau yogamaya untuk memindahkan embrio tersebut ke rahim Rohini, istri Vasudeva yang lain, yang tinggal jauh di Mathura yakni di perkampungan penggembala sapi di baha pimpinan Nanda yang lembut dna baik hati. Diperintahkan seperti itu, sanga dewi pun siap melakukan amanat-Nya, dna sesudha mengelilingi Vishnu, lalu turun ke bumi.

Embrio Dipindahkan dan Devaki Dilaporkan menggugurkan Kandungan
Embrio itu dipindahkan dan Rohini pun hamil, sedangkan di Mathura diumumkan Devaki keguguran. Sesudah itu masuklah Vishnu ke dalam rahim Devaki seperti janji-Nya, sebagai anak Devaki yang delapan. Tatkala bagian Vishnu itu turun ke bumi semua planet berputar dalam orbitnya yang cemerlang di sorga, dan iklim pun teratur dan ramh. Tak seorang pun sanggup menatap wajah Devaki karena berseri memancarkan sinar, dan siapa pun yang merenungkan sinar tersebut merasakan kebahagiaan yang besar sekali.
Devaki yang sedang membawa Tuhan di dalam rahimnya sambil mengumunmkan pujian.

Krishna Lahir
Pada hari kedelapan musim hujan bulan Bharadrapada, lahirlah Krishna dari kandungan Devaki. Pada hari itu di waktu fajar, kelopak bunga padma universal mulai mekar sebagaimana mestinya. Lintasan horizon cemerlang dengan kebahagiaan seolah-olah sinar bulan tiba-tiba menerangi permukaan bumi. Nilai kehidupan mengecap gairah baru, angin bertiup kencang dan sungai pun mengalir tenang. Api menyala lembut dan suci, awan pun temaram indah sekali, dan begitu tengah malam bayi pun lahir ke dunia ini. Tentu saja dia bukan bayi sembarangan. Bayi itu adalah bentuk Vishnu Sendirian, bayi ajaib yang merata bunga padma, bertangan empat membawa kerang, gada, cakra, dan bunga, dengan tanda shriyatsa di dada-Nya, dengan rambut lebat sedikit keriting gemerlapan, berkalung manik kaustubha tergantung di leher-Nya, berpakaian sutra kuning dengan warna kulit ynag indah seperti awan menjelang hujan lebat. Dengan pandangan sedikit ragu Vasudeva memperhatiokan Vishnu yang kini lahir sebagai anaknya. Pikirannya bingung dan terpana, bersujud penuh hormat dan mulai memanjatkan doa kehadapan Vishnu, yang juga tersenyum dan berkata lembut kepada Vasudeva dan Devaki. Sang bayi menceritakan kelairann-Nya sebelumnya, dan tugas-tugas-Nya sekarang ini.

Pertukaran Bayi
Lalu disuruh-Nya Vasudeva membawa-Nya ke Gokula dengan menyeberangi Yamuna untuk ditukar dengan bayi perempuan anak Yashoda, istri Nanda, yang tepat lahir di saat yang bersamaan. Sesudah memberitahu hal itu, Vishnu kembali seperti bayi yang baru lahir di hadapan kedua orang tuanya.
Melalui Maya Vishnu yang spiritual, keanehan mulai terjadi. Rantai baja yang membelengu tangan Vasudeva lepas, dan di tengah malam yang gelap gulita itu tiba-tiba para penjaga semuanya tidur sekali. Seluruh penduduk Mathura lainnya tidur nyenyak tidak sadarkan diri. Semua pintu penjara tebuka lebar dengan sendirinya, seperti lenyapnya malak ketiga matahari mulai terbit, begitu Vasudeva maju membawa bayi di atas kepalanya dengan alas keranjang kecil. Saat itu sungai Yamuna banjir besar, penuh dengan ratusan putaran air yang sangat berbahaya, namun Vasudeva tetap tabah menyerabgjinya. Nagashehsha, pelayan Vishnu, mengikuti Vasudeva dan menangkis hujan lebat dengan kepalanya yang mekar di atas keranjang bayi seperti payung. Begitu Vasudeva masuk ke dalam sungai, air sungai pun mulai nak semakin tinggi sehingga Vasudeva merasa khawatir, baik terhadap keselamatan dirinya sendiri maupun bayi yang ada di atas kepalanya. Air sungai Yamuna terus naik untuk mendapat karunia sentuhan spritual. Begitu permukaan air mencapai bahu Vasudeva, Vishnu yang berbaring sebagai abyi di dalam keranjang menyembulkan kaki-Nya dari keranjang memberi kesempatan disentuh oleh sungai Yamuna. Sesudah sungai Yamuna menyentuh kaki Vishnu, segera air pun surut kembali. Mudah sekali Vasudeva menyeberangi sungai itu sekarang dna dengan cepat tiba di Gokula, yang semua penghuninya tidur lelap, damai sekali. Vasudeva menaruh bayinya di tempat baru lahir tidur Yashoda, dan ditukarnya dengan bayi perempuan yang baru juga lahir, lalu kembali.
Setibanya di Mathura, rantai baja yang membelenggu kaki dna tangannya dikenanakknya kembali seperti semula. Semua pintu tertutup sendiri dan para pengawal pun sadar akan tugasnya. Segala sesuatunya berjalan normal seolah-olah tidak ada peristiwa yanghebat tadi. Yashoda tidak sadar bahwa bayinya tertukar. Bahkan tidak tahu apakah bayi yang dilahirkannya itu laki-laki atau perempuan. Yang kini ada di sampingnya hanyalah bayi mungil yang berwarna lembut seperti awan akan hujan. Di Mathura pun tak ada yang tahu apa yang terjadi. Padi itu Kamsa hanya menerima laporan bahwa yang bayi yang kedelapan itu lahir perempuan.

Kamsa Membunuh Anak Yashoda
Takut dan tegang, Kamsa bergegas ke tempat Vasudeva ditahan. Devaki mohon kepada kakaknya untuk menyelematkan sang bayi, yang tentu saja permohonannya itu sia-sia. Kaki bayi itu dipegang kuat-kuat oleh Kamsa lalu dibantingnya ke atas lempengan batu hitam. Tiba-tiba sang batyi terbang ke udara dan secepat itu berubah bentuk menjadi dewi bertangan delapan. Bayi itu tidak lain dari Dewi Yogamaya sendiri yang lahir atas perintah Vishnu dalam rahim Yashoda. Sang dewi berbicara memenuhi ruangan sambil tertawa : “Sia-sia saja engkau membantu ku ke atas batu, Kamsa. Yang akan membunuhmu telah lahir, dewa dari para dewa, yang membunuhmu dalam penjelmaanmu sebelumnya”. Sesuidah berbicara demikian, sang dewi lenyap, diirngi doa pujian dari para dewa di udara.
Diperingatkan seperti itu, Kamsa tidak berdaya sama sekali Vasudeva dan Devaki pun dibebaskan. Malam itu Kamsa mengadakan sidang khusus, menugaskan asura dan daitya melaksanakan keputusan rapat untuk mencari bayi yang lahir hari itu, khususnya bayi yang memperlihatkan kekuatan istimewa. Semau bayi itu akan dibunuh.

Upacara untuk Menghormati Kelahiran Krisna
Sementara itu, jauh dari Mathura “kota yang berpintu tinggi dengan bahan batu kristal, dengan daun pintunya tebuat dari emas berukir”. Sedang dilaksanakan upacara besar, di kawasan Vraja yang banyak hutannya. Merasa bahagia atas kelahiran anak laki-kainya dam umur yang sudah lanjut. Nanda Maharaja mengundang brahmana untuk melaksanakan upacara kelahiran bayi, bercampur bedak cendana. Seluruh kampung berpesta ria. Para tetangga berkumpul di rumah Nanda, menyanyi dan menari sambil mempersembahkan rumput suci sebagai ucapan selamat dan menerima hadiah sebagai imbalan. Itulah upacara tradisional. Para brahmana menerima hadiah sapi dan sejumlah beras. Musik dan tarian tentu tidak ketinggalan. Pokoknya setuiap orang diundang untuk berpesta. Para gadis gembala sapi datang dengan hiasan indah, dengan kecantikan wajah seperti bunga padma, begitu pula para Pemuda yang juga gembala sapi, semuanya bergegas ke rumah Yashoda. Pesta meriah itu berlangsung beberapa hari. Angin sejuk berhembus sepoi, reruputan hijau tumbuh subur. Nanda dan Yashoda adalah orang tua yang paling berbahagia. Sesaat sesudah itu, tatkalah Nanda harus ke Mathura membayar pajak tahunan kepada raja, Vasudeva bergegas mendekati kereta nanda. Sesudah menanyakan kesehatan anak Rohini, memberikan nasehat agar secepatnya pulang ke Gokula, demi keselamatan anaknya di rumah. Tak ada tanda-tanda apa pun yang menunjukkan identias Krishna yang sebenarnya, yang kini sebagai bayi di samping tempat tidur Yashoda. Memang Vasudeva ingin mengatakan bahwa bayi itu adalah anak Vasudeva, bukan anak kandung Nanda. Tetapi demi keamanan, dia Cuma mengatakan perlu berhati-hati karena ada ciri-ciri yang amat buruk. Nanda bergegas kembali ke kampungnya.
Benar saja, ciri-ciri buruk yang disyaratkan Vasudeva benar-benar mulai nampak.

Raksasa Perempuan Putana Berusaha Membunuh Krishna
Pertama-tama datanglah ke Gokula raksasa perempuan bernama Putana, lewat udara dengan bentuk yang berubah-ubah. Saat ini dia muncul sebagai wanita cantik dan muda beliau, dengan senyum manis dan lirikan memikat. Rambutnya di jalin rapi dihiasi dengan bunga melati, pinggangnya ramping dengan bokong bulat dan besar, dengan dada yang indah sarat dengan dandanan yang kaya. Wajahnya yang ayu dipercantik lagi dengan anting-anting emas gemerlapan. Memegang bunga padma di tangannya, masuk dengan anggun ke rumah Yashoda, menimbang bayi Krishna di pangkuannya, sesaat rencana jahatnya tertunda. Tentu saja Krishna yang berbaring dengan mata terpejam tahu niat buruk kedatangan Putana. Lalu Putana menyusui bayi Krishna. Buah dada Putana sudah dipolesi dengan ramuan racun kelas satu. Mengetahui hal itu segera bayi Krishna menyusun pada Putana, sekalian mengisap jiwa Putana. Karena diisap buah dada dan juga jiwanya, Putana meraung kesakitan seraya berusaha melepaskan sang bayi dari pangkuannya. Tetapi bayi Krishna tidak dilepaskan. Badan Putana basah dengan keringat, tangan dan kakinya menggelepar memuku-mukul, sambil meratap dan menangis. Suara tangisnya keras sekali, menyebabkan bumi bergoncang menanggung gema tangisan Putana. Tetapi Krishna bertahan sehingga Putama mati dan kembali ke bentuk aslinya dengan mulut besar menganga, badannya terletak dekat kandang sapi. Begitu dia jatuh, badannya yang besar itu menimpa pepohonan seluas dua belas mil. Mulutnya besar dengan dua set gigi yang mengerikan, lobang hidungnya menyerupai gua, buah dadanya menjulang seperti bukti dan perutnya kini nampak menyerupai danau kering. Bayi Krishna bermain-main tanap rasa takut di dada raksasa itu, mengangumkan sekali lagi penduduk Vraja. Dengan gugup, dia diambil oleh Yashoda dan Rohini diajak ke dalam untuk melaksanakan upacara menangkal roh-roh jahat, dikpiasi dengan bulu ekor spai dan dimandikan dengan berbagai cara, sambil mengucapkan doa-doa. Sementara itu para muda-mudi kampung gembala sapi, mencincang tubuh Putana secara bertahap dan membawanya keluar kampung untuk dibakar.

Putana Memperoleh Moksa atau Pembebasan
Begitu tubuh Putana dibakar menimbulkan bau harum yang sangat aneh, seperti bau cendana dan agara. Setiap orang bertanya : “Apakah yang berbau harum itu ? Dari manakah datangnya ?” Hanya sedikit yang mengetahui bahwa bau harum itu datang dari tubuh raksasa yang dibakar itu, karena telah disucikan berkat sentuhan Vishnu atau Krishna. Meskipun Putana bermaksud jahat, seluruh dosanya dilebur.

Episode Raksasa dalam Kereta
Kejadian lain segera menyusul. Saat itu bayi Krishna baru berumur satu bulan. Oleh orang tua-Nya dia dibaringkan pada sebuah kereta bayi. Kereta bayi itu ditendang oleh Krishna sehingga jatuh berserakan, karena mengetahui ada raksasa masuk kekamar-Nya.

Raksasa Trinavarta berusaha Membunuh Bayi Krishna
Trinavarta aalah anak buah Kamsa. Bahaya yang ditimbulkannya hampir sama dengan yang lainnya, karena tujuannya sama : ingin membunuh Krishna. Trinavarta datang dalam bentuk angin puyuh, menutupi seluruh Gokula dengan awan dan angin berdebu membutakan semua penduduk.
            Suaranya tak tertahan riuhnya, menakutkan setiap orang. Angin berdebu menimbulkan kegelapan. Pohon-pohon tumbang dan diterbangkan angin dahsyat kian kemari. Yashoda tidak mampu melihat, ebgitu pula orangorang di sekitarnya. Serangan Trinavarta sangat fatal. Dalam keadaan seperti itu, di saat tak seorang pun sanggup membuka mata, raksasa itu menculik Krishna. Ketika badai debut sedikit reda, barulah Yashoda tahu bahwa Krishna sudah hilang. Tangis pun berkepanjangan sambil berusaha mencari kian kemari. Bahkan ada yang jatuh ingsan, seperti sapi kehilangan anaknya. Sementara itu Krishna sedang gendong oleh Trinavarta jauh di angkasa. Dalam pangkaun raksasa itu, Krishna memperkuat genggaman-nya. Kecepatan terbang Trinavarta tertekan, karena sang Bayi mulai terasa seberat Gunung. Begitu Trinavarta merasa heran, Krishna memperketat cengkeraman-nya di leher musuh-nya sehingga raksasa itu sama sekali tidak bisa bergerak. Bola matanya keluar dari kelopak matanya, lalu dalam rintihan yang amat menyayat hati, Trinavarta jatuh ke bumi. Krishna masih tetap berpegangan di lehernya. Bumi bergetar pada waktu raksasa itu jatuh dan mati, namun sangat mengherankan, Krishna tidak cedera sama sekali. “Hebat sekali,. “teriak setiap hadirin.

Nanda Melaksanakan Upacara Penyucian
Dalam pada itu, Nanda mulai khawatir terhadap segala kejadian ynag aneh itu, dan kemudian terasa terobati, ketika menerima kunjungan Garga Muni yang brahmana, atas anjuran Vasudeva, yang sangat memperhatikan perkembangan kedua anaknya yang cukup jauh di luar Mathura. Nanda memohon kepada orang suci itu untuk mempimpin upacara penyucian kelahiran secara diam-diam, agar tidak tercium oleh anak buah Kamsa yang jahat itu. garga Muni, pendeta dinasti Yadu setuju terhadap usul tersebut. Upacara penyucian kelahiran bayi dan langsung pemberian nama, merupakan tradesi sejak jaman dahulu kala. Anak rohini diberikan nama Rama.
            Karena diramalkan mempunyai kekuatan yang luar biasa, bala, lalu namanya menjadi Balarama. Anak yang kedua, yang berkulit hitam dengan rambut yang lebat sekali, kata Garga Muni, harus diberi nama Krishna, meskipun anak ini banyak pula memiliki nama dan bentuk yang lain. Sang pendeta memang thau identitas sebenarnya dari anak itu, namun hal itu tidak diutarakannya kepada Nanda Maharaja “O Nanda, anakmu ini sebaya dengan Vishnu dalam sifat, keagunguan, kekuatan dan kemashyuran-Nya”. Kata Garga Muni singkat. Nanda maharaja senang hatinya. Beberapa waktu berlalu, Krishna dan Balaram mulai merangkak dengan tangan dan lutut-Nya, bermain-main di sekitar Gokula. Kedua anak itu yang, satu hitam dan yang satu putih merupakan sumber kebahagiaan yang tak habis-habisnya bagi penduduk kawasan itu. lonceng kecil di sekitar korset dna pergelangan kaki-Nya menimbulkan suara lembut gemerincing begitu bayi itu merangkak. Yashoda dan Rohini, yang air susunya selalu penuh karena dorongan kasih syang yang murni segera menimbang-Nya, meskipun anaknya itu berlumurna debu dan Lumpur dari jalan dan lorong Gokula yang suci. Kedua anak itu pun menyusun dengan lahapnya menyusul bujukan dari Ibu-Nya masing-masing.

Masa Kanak-Kanak Krishna dan Balarama
Setelah mencapai usia cukup untuk berlari-hari, Krishna dan Balarama berkelana dengan bebas, memberikan kepuasan kepada anak-anak gadis Vraja penggembala sapi, dengan pergelangan di ekor anak sapi. Tentu saja anak sapi yang tak bertali itu lari kian kemari dengan gairah, menabrak pagar bambu, periuk tempat susu mentega, susu asam dan sebagainya. Para tetangga biasanya mengadukan kenakalan sumber kesayangan kampung ituk epada Yashoda, tetapi tak seorang pun serius mempermasalahkan kenakalan yang menyenangkan itu.

Pemakan Lumpur-Begitu Krishna memasukan Lumpur ke dalam mulut-Nya, Yashoda melihat Susunan Alam Semesta
Laporan tentang kesalahan tingkah laku Krishna makan Lumpur pada waktu berman-main dengan teman-Nya sebaya. Saat ini Yashoda benar-benar marah, mencomeli-Nya sambil menanyakan apakah benar demikian. Krishna gigih tidak mengakui tuduhan itu. “Kalau demikian adanya coba buka mulut-Mu”, perintah Ibu-Nya. Ketika Krishna membuka mulut-Nya, sejenak Yashoda sempat mengawasi seluruh alam semesta, terdiri dari obyek yang bergerak dan tidak bergerak, kubah ethereal, hal-hal yang luar biasa permukaan bumi dengan Gunung-gunungnya, benua dan lautnya, angin, spai, bulan, bintang kemintang, seluruh sistem planet, bahkan termasuk pikiran dan inderia, nampak di dalam ruangan mulut anaknya. Kagum dan tkaut, Yashoda bertanya kepada dirinya sendiri : “Mimpikan aku ? “Apakah ini khayalan atau pikiranku sendiri ? Atau kekuatan dewani dari anakku sendiri ?” Sesaat kemudian Krishna menutupi mulut-Nya. Sekali lagi Krishna memperlihatkan sifatnya yang berseloroh, seperti tak bersalah. Melalui kekuatan maya Vishnu, Yashoda melupakan semua yang pernah dilihatnya. Diraih dan didekapnya Krishna dalam pangkuan penuh kasih sayang .yashoda ibu yang menyenangkan dan Krishna biasa-biasa saja.

Pencuri Susu
Pada suatu hari, tatkala Yashoda mengaduk susu untuk membuat mentega sambil menyanyi keic, tiba-tiba Krishna menangkap tingkat pengaduk susu menghentikan ibu-Nya bekerja. Sambil tersenyum dia minta menyusun. Segera Yashoda menimbang-nya ke pangkuannya. Tiba-tiba Yashoda bangkit dan bergegas ke sebelah, teringat akan periuk susu yang dijerangnya di atas tungku yang mungkin mendidih. Kini Krishna menjadi nakal, pura-puira menangis sambil menyambar periuk berisi mentega. Secara-sembunyi-sembunyi dimakan-Nya isi periuk itu beramai-ramai bersama teman-teman-Nya di dalam ruangan. Yashoda cepat kembali ketempat tadi, dilihatnya Krishna duduk di atas lumping dikeliling oleh teman-teman-Nya, makan mentega sambil tertawa-tawa. Yashoda berlari mengajar-Nya dengan tingkat di tangannya, dengan marah sekali.

Krishna diikat di Lumpang : Membebaskan dua orang Gandharya
Yashoda mencari tali untuk mengikat Krishna di lumping, agar tidak melakukan kesalahan yang lebih banyak lagi. Krishna bertingkah demikian rupa sehingga betapa pun panjangnya tali yang disamping ibu-Nya, tetap saja tidak cukup untuk mengikat-Nya. Semua tlai sudah disambung, tetapi tetap saja kurang panjang. Melihat ibu-Nya amat kesal, akhirnya Krishna membiarkan diri-Nya diikat di lumping. Yashoda paus terhadap hukuman itu. Bgitu Yashoda pergi, Krishna menyeret lumping besar itu, sengaja lewat di antara dua batang pohon arjuna besar dan tinggi yang tumbuh di halaman rumah ibu-Nya. Pohon itulah Krishna lewat dengan lumping-Nya dan tiba-tiba kedua pohon itu tumbuh berdekatan. Di sela kedua pohon itu tumbang dengan suara gemuruh dengan cabang, ranting dan daunnya berserakan. Yashoda bergegas keluar, begitu pula penduduk kampung lain menyaksikan pemandangan aneh yang tidak masuk akal. Tentu saja Krishna melakukan hal ini dengan maksud tertentu. Dia tahu bahwa pohon kembar itu adalah dau orang Gandharva, dikutuk seorang Bahmana dalam penjelmaannya terdahulu, yang bisa dibebaskan kembali berkat sentuhan kaki pada Krishna. Gandharva itu adalah anak menikmati ke mudahan kedudukan ayahnya. Suatu hari mereka bercinta dengan para bidadari telanjang bulat di taman ayahnya. Saat itu Narada lewat. Mereka tetap saja asyik tak tahu diri. Karena itulah mereka dikutuk Narada adar turun menjadi dua batang pohon kembar itu yang seketika lenyap berganti rupa menjadi da Gandharva. Dengan badan yang bersinar mereka sujud di depan Krishna dan selanjutnya minta diri lalu terbang kembali ke sorga. Dalam peristiwa yang hebat itu, para dewa pun muncul di langit dengan kendaraan sorgawinya sambil menghujankan bunga pilihan. Seperti penduduk Vraja, para dewa pun ikut menyaksikan lila dari anak yang luar biasa itu.

Para gembala pindah dari Gokula ke Vrindayana
Peristiwa yang terjadi berturut-turut di Gokula itu menyebabkan Nanda dan orang-orang tua berpikir keras sekali. Memperhatikan tanda-tanda yang mulai nampak, mereka pun berunding dan mengambil keputusan untuk pindah pidana ke Vrindavana. Semua penduduk Gokula siap berangkat. Semau harta benda dan sapi serta anak-anaknya sudah siap di depan diikuti oleh semau penduduk. Yang tua dan anak-anak diangkut dengan kereta. Sebuah pemandangan yang amat menyenangkan. Para pendeta mengucapkan doa pujaan, terompet dan tanduk sapi ditiup di segala arah begitu rombongan itu bergerak maju. Para Gopi, gadis desa gembala sapi naik ke atas kereta dengan pakaiannya yang indah kuning, keemasan, mengenakan kalung mata uang emas di lehernya masing-masing, sambil asyik menceriterakan tingkah laku Krishna seharian, sambil kereta bergerak maju. Akhirnya mereka tiba di Vrindavana dengan bukti Govardhana di sampingnya dan pasir terpian sungai Yamuna di dekatnya, setiap orang merasa lega dan berbesar hati.
Di sini rumput tumbuh hijau dan subur di waktu musim panas, sama seperti di waktu musi hujan, sebuah kawasan yang tepat untuk menggembalakan ternak mereka.
Di sinilah Nanda bersama semua kerabatnya bermukim ddengan bentuk pemukiman setengah melingakr, menyerupai bulan sabit. Krishna dan Balarama tumbuh dengan cepat. Segera mereka mulai menggembalakan sapinya di padang rumput. Di sanalah mereka sibuk bermain-main sepanjang hari, mengenakan bulu merak di rambut-Nya, memakai karangan bunga hutan, bermain seruling dengan buluh hutan. Rambut-Nya dicukur menyerupai sayap burung, memberikan kesan sebagai putra mahkota, bagian dari dewa perang, ynag selalu riang gembira sambil bermain-main bersama teman-teman-Nya.

Kehidupan di Hutan
            Demikianlah pemelihara seluruh dunia itu turun sebagai gembala ternak. Hutan bergema dengan dengungan suara lebah dan lengkingan suara merak begitu Krishna dan Balarama bernyanyi bersama-sama diiringi tarian dari teman-teman-Nya sesama gembala. Mereka mencari tempat teduh di bawah pohon yang rindang, kadang-kadang memoles dirinya dengan bahan tambang bijih besi yang berwarna warni di kawasan bukti Govardhana ; kadang-kadang tidur di atas tanah beralaskan dedaunan, kadang-kadang meniru lengingan suara merak dengan serulingnya. Di waktu sore mereka kembali pulang bersama ternak piaraannya masing-masing ke kampung, sedangkan penduduk kampung di siang hari merasa sepi karena di tinggal ke hutna oleh Krishna dan Balarama. Penduduk kampung merasa hidup kembali dengan kembalinya Krishna dari menggembalakan sapi bersama teman-teman dan sapi-sapinya yang suci itu.

Raksasa Vatsasura berusaha Membunuh Krishna
Di Vrindavana pun bahaya selalu mengancam. Suatu hari, ketika Krishna dan Balarama sedang mengembalikan sapi-Nya, datanglah seorang raksasa Vatsasura menyamar sebagai anak sapi dengan niat membunuh dua bersaudara itu. usahanya itu gagal, karena Krishna melihatnya dan segera menangkap kedua kaki belakang dan ekornya lalu diputar-putarnya berkeliling hingga mati, kemudian lemparkan ke pucuk hutan buah apel. Teman-teman-Nya para Gopa, Pemuda gembala sapi hingar bingar berteriak, Jagoan, bagus sekali”.

Raksasa Rakasura Berusaha Membunuh Krishna
Selanjutnya datang pula raksasa yang berpakasa, Bakasura, mengubah bentuk berupa burung bangau raksasa. Mengepak-ngepakan sayapnya yang besar, tiba-tiba menukik dan menyamar Krishna dengan paruhnya yang panjang dan tajam, lalu terbang kembali. Setiap orang tertegun membantu melihat kejadian itu. tetapi Krishna sudah mempunyai sebuah rencana. Terjepit dalam paru Bakasura yang berupa bangau sangat besar, Krishna sekarang mengeluarkian panas badan-Nya demikian rupa sehingga langit-langit paruh Bakasur terasa terbakar.
Krishna dilepaskannya dari cengkeraman paruhnya, kemudian diserangnya lagi dengan paruhnya yang tajam itu. sementara itu, Krishna, pelindung dharma dan kebajikan, menangkap kedua belah paruh Bakasura dan merobeknya dengan sangat mudah, seolah-olah merobek rumput dalam permaianan. Di langit gemuruh suara kerang dan gendering dibunyikan oleh makhluk kahyangan memuji kehebatan perbuatan Tuhan.

Ular Aghasura menelan para gembala beserta ternaknya
Untuk membalas dendam kematian saudaranya. Putana dan Bakasura, suatu hari raksasa Aghasura yang ebat itu masuk ke Vrindavana dalam wujud ular yang luar biasa besarnya, menyerupai Gunung. Begitu Krishna dan teman-teman-Nya bermain-main dalam hutan sambil mengembalikan ternak, Aghasura berbaring di jalan, tidak bergerak dengan mulutnya mengangga lebar seperti gua yang besar sekali. Dagunya rata diatas tanah, sedangkan parhnya bagian atas menyentuh awan I langit. Lidahnya menjulur seperti jalan raya, napasnya seperti letusan gelombang. Tidak sadar adanya bahaya yang menghadang, teman-teman Krishna semuanya berjalan ke dalam semua muut Aghsura tanpa curiga sedikit pun. Saat itu, Krishna yang mengetahui segala-galanya nmenilai situasi dan masuk ke dalam mulut naga yang seperti gua. Disanalah tiba-tiba Krishna membesarkan tubuh-Nya sedemikna rupa sehingga pernapasan raksasa itu tersumbat, matanya merah seperti lautan api, dan bola matanya keluar dari kelopaknya. Karena semua kekuatan napas raksasa itu habis, matilah Aghasura. Krishna menghidupkan kembali semua teman dan sapi beserta anak-anak sapi. Sementara itu terjadilah hal yang ajaid. Sebuah sinar gaib dan sangat kuat keluar dari badan raksasa itu seolah-olah seluruh mata angin menyala gemilang, segera sianr itu masuk ke dalam tubuh Krishna. Agha, seperti juga yang lainnya disucikan oleh sentuhan Tuhan. Semau teman dan sapi beserta anak selamat. Diajaknya ke tepi sungai dan disanalah Krishna berkata : “Indah sekali tepian sungai ini. Pasirnya lembut, bersih, cocok sekali sebagai tempat kita bermain-main. Dikeliling oleh pepohonan yang indah diselingi oleh lengingan suara burung dna dengungan suara lebah yang tertarik kepada bunga-bunga padma. Marilah kita makan siang disini”. Semua temannya setujua dan duduk bersama-sama dalam sebuah lingkaran dengan Krishna sebagai titik pusatnya, bersinar sepertu bunga padma. Krishna menyelipkan serulingnya ke dalam balitan selendang-Nya yang berwarna kuning, dan dengan tingkat di ketiak kiri-Nya duduk bersama teman-teman-Nya menikmati makan siang terdiri dari nasih putih bercampur dadih. Tepat saat itu anak-anak sapi menyebar. Krishna, menyuruh teman-teman-Nya meneruskan makan, sedangkan Dia sendiri mengumpulkan anak-anak sapi itu.

Dewa Brahma mencari anak-anak gembala dan kawanan sapi
Saat ini Dewa Brahma yang berkepala empat mendapat kesempatan untuk memperlihatkan tipu dayanya, merasa gembira melihat bentuk TUhan yang lain. Brahma turun ke bumi dengan kendaraannya seekor angsa, mengambil sebuah anak gembala dan sapinya dan membawanya ke tempat yang jauh serta disembunyikan di sebuah gua. Ketika Krishna kembali, Dia tidak bertemu dengan kawanan sapi dan teman gembala-Nya. Segera dia tahu, itulah ulah Brahma. Kini dia memutuskan memperbanyak Diri-nya, menciptakan anak-anak gembala dengan anak-anak sapinya persis seperti yang diculik Brahma, dengan sejumlah dan ciri yang serupa.
Sesudah sore, dengan tingkat yang sama, seruling dan kain gendongan yang sama, kawanna anak-anak pengembala itu lengkap dengan anak-anak sapinya masing-masing kembali kekampung Vraja, di tunggu oleh ibunya masing-masing. Segalanya berjalan biasa, dan tak ada yang hirau terhadap adanya perubahan kehidupan. Bahkan para ibu itu merasakan semakin sayang kepada anaknya, begitu pula induk sapi kian sayang kepada anaknya. Tidak ada yang merasa curiga. Demikianalh Krishna, dalam bentuk anak-anak muda penggembala sapi dan anak-anak sapi berlalu setahun penuh. Kemudian Brahma kembali ingin melihat apa yang terjadi selam ini. Diperhatikannya semua anak penggembala sapi dan anak-anak sapi yang berkeliaran di dalam hutan. Brahma tahu semuanya itu bukan yang sebenarnya, tetapi diperhatikannya terus untuk mencari apa bedanya. Sambil menatap mereka, tiba-tiba Brahma melihat semua gembaal muda belia itu berkulit gelap seperti awan akan hujan dengan pakaian kuning saffron, masing-masing bertangan empat membawa kerang, cakra, gada dan bunga padma, bermahkota, anting-anting, kalung mutiara dan karangan bunga hutan.

Brahma bersujud dan mengembalikan barang curiannya kepada Krishna
Brahma bingung dan membantu, berdiri seperti patung. Sadar bahwa dia sedang berdiri menyaksikan Krishna lila, cepat turun dari kendaraannya, angsa dan bersujud lurus di depan kaki Krishna, menyentuhnya, dengan puncak mahkota kepalanya. Air matanya lebat bercucuran membasahi jari kaki Krishna. Kemudian sesudah menerima karunia Krishna, Brahma kembali ke istananya dan Krishna mengajak Gopa sejati itu kembali dari pengasingannya. Hebat sekali, meskipun anak-anak pengembala itu sudah berpisah dengan Krishna selama setahun penuh, mereka tidak menyadarinya. Maya Krishna membuat mereka lupa terhadap kejadian itu semua dan terus saja asyik makan siang, ketika Krishna pergi dari sana. Bagi mereka, hal itu Cuma sekejap waktu berlalu. Begitu sore tiba, semuanya kembali ke Vraja.

Balarama Membunuh Keledai Raksasa Dhenukasura
Kini Krishna sudah menginjak usia pauganda, masa kanak-kanak antara enam dna sembilan tahun. Kini dia berkelana ke dalam hutan lebih leluasa. Para Gopa berkumpul mengelilingi-Nya sepanjang hari sambil bermain dan menggembalakan sapi. Suatu hari mereka mendesak Krishna untuk mengumpulkan buah pohon palmra yang tumbuh di dalam hutan yang sangat lebat, tempat tinggal Dhenukasura yang ahli tenung, dengan kesaktian hebat dalam bentuk seekor keledai. Setiap orang takut sekali berhadapan dengan raksasa itu. Krishna dan Balarama masuk ke kawasan tersebut atas permintaan teman-teman sepermainannya. Balarama masuk dan mulai mengguncang pepohonan itu dengan lengan-Nya yang panjang, menyebabkan buah pohon palmyra berjatuhan banyak sekali. Mendengarkan suara riuh itu, Dhenukasura cepat bergegas ke tempat itu menampakkan dirinya dengan segala kemarahannya kepada Balarama, melenguh dengan keras sekali, menendang dada Balarama dengan kaki belakangnya. Dengan ringan Balarama menangkap kaki belakang Dhenukasura. Memelintirnya dengan keras lalu melemparkannya ke puncak pohon palmyra yang tinggi. Dhenukasura tersangkut dan mati. Pepohonan berguncang dahsyat seperti di landa angin puyuh, dan bersamaan dengan itu buahnya pun berguguran seperti hujan ke bumi menyenangkan siapa saja. Demikianlah hutan itu dibebaskan dari kehidupan Dhenukasura, dan teman-teman gembala Krishna leluasa menggembalakan sapi-sapinya tanpa rasa was-was sama sekali.

Penumpang ular Kaliya
Pada suatu hari dalam perjalanan-Nya ke sungai besar Yamuna yang biasanya bersinar cemerlang dengan ombak busanya seolah-olah tersenyum, Krishna melihat beberapa sapi dan anak sapi telentang pingsan di pinggir sungai itu sesudah minum air sungai. Di dasar sungai itu bersembunyi ular naga yang sangat menakutkan. Setiap bernapas keluarlah bisa yang sangat ampuh dari mulutnya yang banyak itu bercampur dengan semburan api. Kaliya, ular besar dengan kepala yang banyak sekali. Uap api yang keluar dari mulutnya merusak pepohonan yang tumbuh di pinggiran sungai. Ketika Kaliya muncul ke permukaan air, burung-burung di udara seperti dipanggang karena panas uap yang keluar dari napas Kaliya. Semua ini diketahui oleh Krishna. Kaliya bersembunyi di sana, lari dari lautan karena takut kepada Garuda. Tetapi tentu saja hal ini berarti malapetaka besar bagi penduduk Vraja. Untuk mengusir naga dari sana, Krishna memanjat sebatang pohon kedamba yang tumbuh dekat pinggiran sungai. Dengan melilitkan kain di pinggang-Nya, Krishna melompat ke dalam sungai dengan gagah berani. Loncatan ini menimbulkan gelombang di permukaan sungai. Gelombang merambat ke dua belah tepi sungai. Beberapa cipratan air sungai sempat menimpa rumput di tebing sungai dan rumput pun terbakar akibat panasnya hawa semburan napas sang naga. Suara deburan sungai itu membangunkan sang naga dari tidurnya. Teman-teman Krishna pingsan memikirkan nasib yang bakal menimpa Krishna. Tetapi Krishna sambil menyelam ke dalam sungai, meninjukan tangannya mengawali tantangan. Majulah sang naga ke arah Krishna, matanya  merah membara, mahkotanya gemerlapan dengan bisa yang menakutkan sekali. Di sekitarnya banyak ular lainnya, sama perkasanya dan serupa pula kekuatan bisanya, termasuk ratusan peri berbentuk ular, dihiasi dengan berbagai permata berharga yang bisa ditemukan di dalam air. Badannya melingkar membelit Krishna, mengigit dengan taringnya yang beracun. Teman-teman Krishna, sesudah menyaksikan pemandangan yang menakutkan itu berlari ketakutan ke Vraja meminta bantuan. Terjadilah kelumpuhan yang amat besar. Setiap orang merasa ketakutan dan berlari ketempat kejadian. Krishna nampak lemah tka berdaya. Melihat hal ini, tiba-tiba Nanda lemas dan pingsan jatuh ke tanah tidak sadarkan diri. Begitu pula Yashoda. Para gopi sangat sedih dan menangis tersedu sedan hingga kejang.
            “Lebih baik kita mati saja,” keluh mereka,” Kita tidak tahan hidup begini. Apakah artinya hari tanpa matahari ? Apakah artinya malam tanpa bulan ? Apa artinya Vraja tanpa Krishna ?” Balarama pun sudah tiba di pinggir sungai. Melihat keadaan gopi, Nanda dan Yashoda, Balarama berteriak mengingatkan kemampuan Krishna yang sebenarnya : “Apa artinya semau ini, o Dewa dari semua dewa ! Engkau adalah pusat segala ciptaan, seperti as bagi roda. Krishna, perlihatkanlah Diri-Mu yang kini sedang bertingkah sebagai anak-anak. Taklukanlah naga yang bertaring hebat itu dengan lengan-Mu yang mempunyai kekuatan tak terbatas”. Diberikan peringatan seperti itu oleh Balarama, Krishna tersenyum lembut dan segera melepaskan diri-Nya dari belitan naga itu. Ubun-ubun kepala impinan naga diinjak Krishna, ditekan-Nya kuat-kuat, sambil menari-nari tanda berjaya. Berulang-ulang kepala naga itu diinjak keras, terasa memar dan mulai lemas. Memperhatikan keadaannya seperti itu semua ular peri mengelilingi Krishna, dengan sedih mohon pengampunan agar tidak membunuh suami mereka. Kaliya, setelah mati, ikut memperkuat permohonan para istrinya, mohon karunia Tuhan. “Hamba tidak kaut untuk menyanyikan keagungan-Mu, O Tuhanku, Berikanlah kami ampun, berkat karunia-Mu”. Mendengarkan permohonan Kaliya beserta istrinya demikian, Krishna yang maha pemurah memerintah Kaliya kembali ke lautan, dengan jaminan bahwa burung Garuda tidak akan mengganggunya laki. Krishna keluar dari sungai meningggalkan jejak kaki padma-Nya yang suci di atas kepala naga, sementara sang naga beserta bersuka ria. Nanda dan Yashoda tersenyum lebar, seperti bunga padma mekar tertimpa sinar matahari pagi.

Balarama Membunuh Raksasa Pralamba
Masih saja ada raksasa menunggu saat untuk menyerang seperti sebelumnya. Kemenangan Krishna terhadap Kaliya belum lagi reda dari pembicaraan penduduk kampung, datang lagi raksasa Pralamba, menyamar sebagai gembala sapi menggabungkan diri dengan kawanan Krishna dan Balarama. Tentu saja Krishna tahu identitas raksasa itu, tetapi membiarkannya dengan menyuruh teman-teman-Nya bermain kejar-kejaran sambil yang satu menggendong yang lain. Demikianlah sambil berlari-lari dan saling gendong, akhirnya mereka tiba di sebuah pohon beringin. Begitu Krishna menggendong Shridaman di punggung-Nya, raksasa Pralamba menyambar Balarama dan menyeret-nya hingga jauh di luar kawasan permainan itu. balarama segera menambah berat badan-Nya, sehingga Pralamba tidak kuasa melangkah lagi. Saat itu, raksasa itu kembali ke wujud asalnya, matanya menyala karena marah, alisnya berkerut bengis sekali, rambutnya gemerlap seperti api berkobarkobar, segera membubung ke langit dengan kekuatan yang seru. Dengan cepat Balarama menghantam kepala raksasa itu, tak buahnya seperti Indra menghantam Gunung dengan halilintarnya yang dahsyat. Dengan hantaman perkasa itu kepaap Pralamba hancur, berteriak sangat mengerikan, dan jatuh lunglai di atas tanah. Sementara itu Krishna dan teman-teman-Nya berdiri sambil menonton.

Krishna menepan Api Hutan
Ada lagi bahaya lain yang tersembunyi di dalam hutan. Suatu hari, tatkala para gembala itu asyik bermain-main, mereka kehilangan jejak sapi-sapi-Nya. Krishna naik ke pohon yang paling tinggi, berteriak keras-keras memanggil sapi-sapi-Nya dengan menyebut nama sapi satu persatu. Mendengar seruan Krishna yang mereka cintai, sapi-sapi itu pun membalas dengan enguhannya masing-masing dengan sekuat-kuatnya. Tetapi bertepatan dengan kejadian itu, terjadilah kebakaran hutan yang hebat sekali. Cepat sekali api menjalar ke segala penjuru. Dihembus oleh angin kencang, apiti ut ganas sekali melalap apa saja yang ada di sana, bergerak maupun tidak bergerak, kobaran lidahnya dahsyat luar biasa. Melihat kejadian ini serta khawatir akan nyawanya sendiri, para gopa, spai dan anak sapi secara naruiah berpaling kepada Krishna, mohon penyelamatan diri. Mendengarkan permohoann mereka, dengan tenang Krishna menjawab “Jangan khwatir. Pejamkanlah matamu”. Sementara kawan-kawan dan sapinya memejamkan mata, Krishna menampung lidah ai yang dahsyat dengan kedua telapak tangan-Nya an Balarama Memimpin teman-teman-Nya siap kembali ke Vraja.
Waktu berlalu dan musim pun berganti. Musin hujan tiba, dengan awan yang gelap, penuh dengan petir menutupi seluruh langit. Bumi yang seperti dipanggang, menerima hujan yang lebat sekali dan rerumputan pun bersemi hijau. Anak-anak sungai kini mengalir riang seperti pikiran manusia tanpa hambatan. Tatkalah Krishna memasuki hutan, keindahan musim hujan di perindah lagi dengan kehadiran-Nya. Lalu tiba musim gugur, saat bunga padma mekar sepenuhnya. Ikan saphari yang kecil berkilat di sekitar lubangnya di dalam air dan burung merak tidak lagi bernapsu, tenang-tenang saja di dalam hutan. Danau-danau mulai menipis airnya, tetapi dihiasi dengan bunga tunjung berwarna putih. Langit seluruhnya bebas dari awan, seperti hati para pertapa yang bebas tanpa napsu. Malam pun bertaburan bintang kemintang. Bumi pun cerah temaram, hari demi hari dan hutan pun sarat dengan bau bunga padma yang lembut. Mewangi, yang selalu diusik oleh Krishna bersama kawan gembalanya. Cantik seperti aktor yang sudah matang, agung dengan hiasan bulu merak di rambut-Nya, telingga-Nya dihiasi bunga karnikara, berpakaian sutra kuning saffron seperti emas cair, mengenakan karangan bunga yang terbuat dari lima jenis bunga serta meniup seruling-Nya dengan sentuhan bibir-Nya yang agung, Krishna memberkahi setiap orang dengan kehadiran-Nya. Mendengarkan aluna suara seruling-Nya yang lembut mempesona yang menyentuh hati semua makhluk, para wanita Vraja selalu teringat Krishna di relung sanubarinya. Begitu Krishna memainkan nada-nada suling-Nya, bahkan para wanita kahyangan pun yang bergerak di udara dengan kendaraan sorganya terpukau sambil menjatuhkan hujan bunga. Saking asyiknya kain yang mereka pakai pun hampir lepas ikatannya. Mendengarkan alunan nada-nada seruling Krishna, bahkan sungai pun bergairah penuh napsu, burung-burung yang hinggap di dahan kayu tertutup dedaunan segar asyik menatap Krishna dengan matanya yang tak berkedip. Begitu pula anak-anak sapi lupa menyusun dari susu induknya, diam terpesona seraya melongo sehingga air susu induknya tumpah ke tanah.


Krishna Mencuri Pakaian Para Gopi
Para gadis Vraja selalu memikirkan Krishna. Bulan pertama di musim dingin, mereka melaksanakan sumpah atau tapabrata untuk Sang Dewi. Mandi disungai Yamuna menjelang subuh, dan sesudah itu mereka menggambar wujud pujaannya di atas pasir, lalu dipujanya dengan mempersembahkan bunga wewangian, dupa, serbuk kayu cendaan dan persembahan lainnya. Setiap gadis melakukan pemujaan itu dengan doa yang sama : O dewi, Penguasa Maya alam semesta ! Pada suatu hari, dalam pelaksanaan tapabrata seperti itu, seperti biasa para gadis itu menaruh pakaiannya di tepi sungai sebelum mandi telanjang bulat di sungai, sambil bersenda gurau riang gembira, betapa pun juga, sepanjang hari mereka selalu bersama Krishna, baik dalam hati, kata-kata maupun dalam perbuatan. Hari itu, Krishna melihat mereka dari kejauhan, dengan diam-diam mengambil semua pakaian mereka, lalu memanjat pohon kedamba di dekat mereka mandi dan sambil tersenyum simpul kepada Diri-Nya sendiri, Krishna menggantung semua pakain itu di cabang pohon tersebut, yang kini nampak seperti bendera berkibar-kibar dair kejauahn. Bersamaan dengan itu, Krishna pun meniup seruling-Nya dengan merdu sekali. Kini para gadis itu pun sadar bahwa Krishna telah mempermainkan mereka. Namun dengan serentak mereka seperti di landa rasa malu dan cinta. Lalu Krishna berbicara kepada mereka, bahwa pakaiannya akan dikembalikan jika mereka datang menghadap Krishna dengan kemauan sendiri. Merasa segan dan malu, para gadis itu pun saling toleh seama mereka, namun tak seorang pun berani keluar dari dalam sungai. Mereka berembug dan akhirnya berkata : “Krisha yang terhormat, janganlah kami diperlakukan semena-mena. Kami tahu bahwa Engkau, anan Nanda adalah pujaan seluruh Vraja, termasuk pujaan kami. Tetapi kami mohon, kembalikanlah pakaian kami karena kami sudah menggigil kedinginan”. Dengan dalih apa pun juga, Krishan tetap bertahan. Dengan wajah tersenyum, Krishan mendesak mereka untuk patuh.
Terhadap desakan itu, semua gadis keluar dari sungai menggigil kedinginan sambil menutupi dada dan auratnya dengan telapak tangannya masing-masing. Krishna, memiliki alanakgah sucinya hati merka. Krishan menyatakn bahwa dengan masuk ke dalam sungai telanjang bulat, sambil melaksanakan tapabrata, mereka telah melakukan kesalahan kepada para dewa. Untuk menebus dosa ini, ujar Krishna, kalian harus menundukkan kepala sambil mengangkat kedua tangan ke atas kepala. Sesudah itu barulah kalian menerima pakaianmu” Mendengarkan perintah yang penuh dengan isyarat agaam itu, para gadis itu pun mengangkat sebah tangannya ke atas kepala, sedangkan tangan kiranya tetpa menutupi bagian vital kewanitaannya. Krishna tetpa mendesak, Katanya dengan penuh kepastian, “Untuk menghormati Tuhan tidak benar hanya dengan sebelah tangan. Karena merasa tak berdaya sama sekali, dan menyadari bahwa Krishan menghendaki penyerahan diri sepenuhnya, mereka pun melaksanakan perintah itu sepenuhnya, sehingga seluruh dosa, cacat dan kesalahannya sirna. Segera setelah itu, Krishna membagi-bagikan pakaian mereka masing-masing. Dengan malu-malu, para gadis itu mengenakan pakaiannya sendiri-sendiri. Setelah mengetahui ketulusan hati mereka, Krishna berkata : “O
Gadis yang suci murni ! Jiwa ragamu telah kuketahui. Cita-citamu kubenarkan, dan segera akan terlaksana. Keinginanmu untuk selalu bergaul dengan-ku tak terhambat, karena hal itu tidak menjurus kepada samsara. Kini kembalilah ke Vraja, karena niatmu sudah tercapai. Suatu malam di musim gugur kalian akan bergembira ria bersama-Ku. Diberitahu seperti itu, para gadis itu kembali ke Vraja. Hatinya terbenam memikirkan Krishna.

Istri-istri Brahmana Menjamu Para Gopa
Pada suatu hari para gopa merasa lapar. Krishna menyuruh mereka meminta makanan di sebuah aula tempat para brahmana melaksanakan upacara. Mereka kembali dengan tangan hampa. Akhirnya Krishna memberitahu mereka agar mendekati istri-istri pendeta. Mengetahui bahwa itu adalah kehendak Krishna, para istri pendeta pun mempersembahkan makanan yang banyak sekali.



Krishna membujuk Para Gembala memuja Bukit Govardhana dengan Akibat Kemarahan Indra
Pada suatu hari Krishna melihat penduduk Vraja giat mengumpulkan persiapan upacara untuk memuja dewa hujan, Indra. Pura-pura bodoh, Krishna bertanya kepada ayah-Nya tentang semua seluk-beluk persiapan tersebut. Nanda menjelaskan kepada-Nya bahwa dewa Indra adalah dewa hujan dan awan adalah perwujudan kasih sayangnya. Karena itu tepat sekali kalau indra dipuja. Tetapi Krishna mempunyai pendapat lain. Kepada ayah-Nya dan para tetua kampung, Dia mengusulkan : “Kita, bukanlah petani. Jgua bukan pedagang atau saudagar. Kita adalah penggembala di dalam hutan dan sapi adalah pujaan kita …..Apa hubungan kita dengan Dewa Indra ? Ternak dan Gunung adalah pujaan kita. Para brahmana memuja dengan doa ; petani memuja tuan tanah ; tetapi kita menggembalakan ternak di dalam hutan dan Gunung harus memuja Gunung” Dianjurkan-Nya agar doa dan persembahan ditujukan kepada bukti yang ada di dekat pemukiman mereka, bukti Govardhana. Semau bahan yang dikumpulkan untuk pemujaan Indra agar dimanfaatkan untuk pemujaan bukti. Setiap orang setuju melaksanakan saran Krishna dan menggumumkan rasa syukur dengan hati yang suci” Demikianlah penduduk Vraja memuja Bukti Govardhana, menyuguhkan makanan kepada para brahmana dan memberikan keyakinan yang lebih besar lagi di hati penduduk kampung, Krishna mengubah bentuk-nya dan duduk di puncak bukti sambil berkata, “Aku adalah Gunung”, dan memakan semua persembahan itu sendirian. Pada saat yang bersamaan, dalam bentuk Krishna sehari-hari bersama dengan teman-teman-Nya mereka mendaki ke puncak bukti untuk melakukan pemujaan. Merasakan pemujaannya dihentikan, Dewa Indra marah sekali. Seketika dikumpulkannya awan dalam jumlah yang besar siap untuk menghancurkan kampung Vraja. Dengan perintah agar kawasan Vraja dibanjiri, Indra mengeluarkan perintah : “Aku sendiri ikut membantu memperkuat banjir yang kalin lakukan”. Secepat kilat awan dahsyat memenuhi angkasa dan hujan pun turun lebat sekali. Bumi, horizon dan langit semuanya dicampur menjadi satu dengan hujan lebat tak henti-hentinya. Seluruh kampung gelap gulita dan di mana-mana air melulu. Ternak semuanya kedinginan dan melindungi anak-anaknya dengan sisi badannya masing-masing. Penduduk Vraja merasa khawatir akan keselamatan keluarga dan sanak saudaranya. Sekali lagi mereka berpaling kepada Krishna untuk mohon bantuan.

Krishna Mengangkat Bukit Govardhana
Mengetahui bahwa banjir besar itu adalah akibat kemarahan Indra. Krishna memutuskan untuk bertindak. Dengan cepat diangkat-Nya bukti Govardhana tinggi-tinggi dengan jari kelingking tangan kiri-Nya seperti bermain-main. “Bukit ini demikian tingginya, cepatlah masuk ke bawahnya supaya tidak kebanjiran perintah Krishna kepada para gembala. Semua penduduk berkumpul diatas Gunung bukti Govardhana, Nanda dan Yashoda, goa dan gopi, ternak dan anak-anak sapi.
Selama tujuh hari siang malam awan yang dikirim Indra menjatuhkan hujan di kawasan Vraja, tetapi tak ada artinya bagi Nanda dan anak buahnya karena semua itu dilindungi oleh Krishna. Melihatdirinya terkecoh seperti itu. Indra segera menghentikan perbuatannya. Sesudah hujan redan dan langit jernih kembali, Krishna mengembalikan bukti itu ke tempatnya semula. Dengan sikap rendah hati sepenuhnya Indra turun dari langit dengan kendaraannya yang cepat terbangnya, Gajah Airavata, dan bersujud kepada Krishna. Mengambil air dari sebuah periuk tanah, Indra melaksanakan upacara agung mencuci kaki padma Krishna disaksikan oleh semua penduduk Vraja. Sesudah itu, Krishna dan Indra saling berpelukan dan akhirnya Indra kembali ke sorga. Krishna dengan semua ternak dan para gembalanya kembali ke kampung Vraja, ditunggu oleh istri dan anggota keluarga lainnya.

Krishna menyelamatkan Nanda dari Varuna
Kini Krishna bukan anak-anak lagi, begitu pula penduduk Vraja sulit sekali mengatakan betapa hebatnya semua perbuatan Krishna. Dan pada suatu hari ketika mereka tahu bahwa Krishna menyelamatkan Nanda dari Dewa Varuna yang kuat itu, mereka pun yakin bahwa Krishna itu adalah Vishnu yang turun ke Vraja sebagai pemimpin mereka. Mereka mendesak agar Krishna mau memperlihatkan identitas diri-Nya yang sebenarnya, meskipun dia sudah banyak memperlihatkan kehebatan-Nya, termasuk secuil kemewahan Vaikuntha, yang sudah mereka sempat saksikan, tetapi akhirnya mereka lupakan, karena terlalu asyik memikirkan Krishna. Terhadap permohonan itu, Krishna hanya berkata : Teman-temanku, sekitarnya aku berhak menerima puja-puji darimu, apa perlunya kali sibuk mendiskusikan aku ? Apakah kalian malu bergaull dan bersahabat dengan-Ku ? Jika kali menghargai-Ku, dan sekiranya Aku pantas menerima semua itu, puaskanlah dirimu dengan kelahiran-Ku sebagai keluargamu. Aku telah lahir sebagai keluargamu. Janganlah berpikir yang lain tentang diri-Ku”. Mendengarkan, kata-kata Krishna seperti  itu, para gopa diam membisu. Setelah mereka berpisah, Nanda memberitahu ramalan yang diucapkan oleh Garga Muni ketika orang suci itu melaksanakan upacara penyucian terhadap kelahiran Krishna sekian kalinya. Dan keajaiab-keajaiab telah ditunjukkan-Nya berulang-ulang. Sehingga mereka menjadi yakin bahwa Krisna adalah bukan manusia biasa. Ia adalah kepribadian Tuhan. Ia turun ke Wraja untuk membantu para Gopa dan Gopi mengatasi kesulitan mereka. Bukan saja untuk Wraja dengan para GOpa dan Gopinya bahkan untuk dunia dan umat manusia, Krisna bersenang-senang dengan para Gopi.
Pada suatu saat, ketika musim semi sebagaimana biasanya Krisna dengan para Gopa dan Gopi pergi mengembalikan ternaknya ke hutan. Di tepi sungai Yamuna yang suci itu ia berkumpul.
Pagi yang cerah, angin sumilir mengamburkan bau harusm menyedapkan indria. Krisna meniup serulingnya dengan suara menggetarkan bathin para pendengarnya. Lebih-lebih para Gopi yang sudah terbiasa bergaul erat dengan seruling itu. mereka lalu mendekat dan mendekat mengelilingi Krisna. Diantara para Gopi muncul Radha dengan penampilan yang paling istimewa. Kulitnya yang putih lembut, dikombinasi dengan pakaiannya dengan warna cerah lembayung, Sungguh sangat mempesona. Kehadirannya tidak menyebabkan iri para Gopi yang lain, karena Krishna dapat membagi kasih yang sama terhadap semuanya. Maka permainanpun dapat dimulai. Krisna meniup serulingnya dengan lembut lalu disambut nyanyian para Gopi dengan dentakan tumit dan keplokan tangan yang mengiringi nyanyian itu. Radha menari-nari dihadapan Krisna dengan gairahnya. Mereka membentuk lingkaran, menari dan menyanyi bersama-sama. Krisna berpasangan Radha, yang kelihatannya sangat mesra sekali. Tapi Gopi yang lainpun merasakan berpasangan dengan Krisna pula. Akhirnya semua merasakan kemesraan pula. Demikianlah Krisna dapat memuaskan semua orang. Seharian mereka bersennag-senang, bernyanyi menari bersama. Ketika mentari telah bergerak condong kebarat, berhentilah permainan mereka. Mereka bersama-sama mengaso di bawah pohon yang rindang. Krisna duduk dikeliling oleh para Gopi. Ada yang memijit-mijit paha, mengurut punggungnya, memegang kepalanya, membelai rambutnya, pahanya, pinggangnya, dadanya ditingkah dengan sikap humor dan cuitan mesra, lengkap dengan lirikan dan senyum nais tak terhingga.

Krishna lenyap, Para Gopi memerankan Krishna Lila
Menerima perhatian dan cinta seperiti itu dari Krishna, tiba-tiba para gopi merasa bangga dna mulai menganggap dirinya lebih baik dari para wanita lainnya di dunia ini. Secepat itu KRishna mengetahui sikap kebanggaan mereka dan tiba-tiba Krishna lenyap tak tentu rimbanya. Sementara itu, para wanita Vraja, seperti kawanan Gajah betina kehilangan pejantannya, merasa sedih sekali. Dengan ahti sedih bercampur rindi memikirkan Krishna sepenuh kalbu, mereka berkeliling dari satu semak ke semak lainnya mencari Krishan. Tak henti-hentinya mereka mencari Krishna sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Mereka bertanya kepada pepohonan, perdu dan juga bumi. Tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Lalu dalam keadaan rindu yang amat pilu, mereka pun mulai meniru Krishna dalam berbagai gerakan dan adegan. Seorang gopi berperan sebagai Putana, sedang yang lainnya memerankan Krishna, demikianlah Krishna ditimang dan disusui oleh Putana. Ada pula yang berperan sebagai kereta bayi yang menggemparkan itu. begitu pula ada yang berperan sebagai Krishna dan Balarama bersama para gembala berkeliaran di dalam hutan. Ada pula yang meniru gaya jalan-Nya Krishna seraya menyuruh temannya memperhatikan keanggungan Krishna sambil mempermainkan seruling. Sisanya asyik pula bermain menjadi Krishna, untuk melindungi mereka dari serangan hujan dan badai. Mungkin konsepsi ini kemudian tumbuh dan berkembang menjadi tari dengan segala seginya, dengan lakon yang makin lama makin jauh dari tema Krishna.

Para Gopi menyaksikan jejak kaki Krishna
Sementara sibuk dalam lakon seperti itu, salah seorang gopi tiba-tiba menyaksikan jejak kaki padma Krishna, berisi tanda-tanda suci seperti bendera, bunga padma, halilintar, cakra dan bulir padi. Mulailah mereka mengikut ijejak itu dan diketahui pula ada jejak kaki wanita di samping jejak kaki Krishna.
Melihat hal itu, hati mereka diiris rasa irihati, meskipun tidak tahu siapa wanita beruntung itu, diam-diam menculi Krishna dari pelukan mereka. Dengan penuh gairah, mereka saling memperlihatkan bagaimana jejak kaki wanita itu lenyap, lalu mereka pun menduga, karena kaki wanita itu lenyap, lalu mereka pun menduga, karena kaki si wanita luka kena duri, lalu digendong oleh Krishna. Di temapt lain tatkala mereka menemui jejak kaki padma Krishna tertancap lebih dalam jika dibandingkan dengan yang ada di tempat lain, mereka pun membayangkan bahwa tentu di sini wanita itu telah naik ke bahu Krishna untuk memetik bunga di atas pohon. Juga mereka menduga di sebuah tempat, yang katanya tentu disana Krishna duduk untuk memasang karangan untuk mahkota wanita itu.

Radha dan gopi merindukan Tuannya
Kini tiba gilirannya Radha merasa bangga. Tatkala Radha dan Krishna jauh masuk ke dalam hutan. Radha berkata kepada Krishna : “Aku tidak sanggup berjalan lagi. Gendonglah aku dan bawalah ke mana Engkau pergu !” Krishan setuju, lalu tiba-tiba lenyap meninggalkan pasangan-Nya siap untuk digendong. Mulailah Radha berkeluh kesah : “O Tuhan O Kekasih yang terbaik ! O Yang Berlengan perkasa ! Dimanakah Engkau ? Aku adalah abdi-Mu dan kini kesedihan. Temanilah daku, Sahabat ! Perlihatkanlah Dirimu sekali lagi kepadaku”. Tetapi Krishna tetap menghilang. Sementara itu para gopi lainnya yang siap mencari-cari Krishna bersuara dengan Radha, dan mengajknya kembali ke pinggir sungai Yamuna. Pikiran mereka penuh dengan Krishna, dan mereka pun asyik membicarakan Krishna dengan sepenuh hati : “O sahabat, Engkau bukan saja anak Yashoda. Engkau adalah hati semua makhluk. O Yang Tercinta, dalam hal apakah kaki bukan milik-Mu ? Jika Engkau ingin menghancurkan kami, mengapa engkau menyelamatkan kami dari ular yang berbisa, dari api dan dari banjir besar ? Mengapa tidak dibiarkan saja kami mati ? Apa maksud-Mu, O pahlawan yang tercinta mempermainkan kami para wanita yang lemah ini ? Derita apakah yang hendak kami dera, tatkala kami menikmati senyum-Mu yang indah, gerak leher-Mu yang agung berombak keluhuran kata-kata-Mu  ?” Tetpai, Krishna tidak muncul jua. Demikianlah dalam rasa putus asa mendera rindu dendam yang sangat getir, para gopi menangis sedih sekali, sehingga segala hal, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak ikut bersedih hati mendengarkan isak tangis mereka.

Krishna muncul kembali
Seperti pada waktu menghilang, demikian pula Krishna, yang wajah-Nya ceria dengan senyuman memikat muncul kembali dengan tiba-tiba, berpakaian kuning dengan mengenakan karangan bunga hutan. Begitu melihat Krishan, indera para gopi pulih kembali, seperti pikiran orang mati yang hidup kembali. Tiba-tiba bangkit dari lautan keputusasan, mereka mengilingi Krishna, sinar matanya gairah kembali. Menanggapi semau keluhan mereka, Krishna berkata bahwa semua itu dilakukan-Nya untuk Menguji cinta mereka. Segera para gopi memasang selendangnya masing-masing di atas tanah tempat Krishna duduk. Mereka menatap wajah kekasihnya tajm-tajam sambil menyentuh dengan belaian penuh mesra. Ada yang meremas telapak tangan-Nya, sedangkan yang lainnya asik membelai lengan Krishna dengan penuh kasih sayang. Yang lainnya, tidak tahan menahan rindu yang membara, dengan bergairah meremas telapak kaki Krishna seraya menempatkannya di dada mereka yang mulus dan ranum. Lalu, Krishan mendamaikan mereka dengan pandangan-Nya yang lembut, kata-kata-Nya yang merdu menawan sambil berjalan menuju pinggir Sungai Yamuna yang menyenangkan itu. di sanalah lebah-lebah berdengung, angi semilir sepoi-sepoi basa membawa bau bunga mandara dan kunda yang mekar semerbak, diterpa sinar bulan musim gugur yang jaya enghalau kelamnya malam. Ombak sungai, tak buahnya seperti lambaian tangan manusia memeprbaikan pasir di tepi sungai. Sambil berdiri, Krishna meminta para gopi mengakhiri kemarahannnnya. Krishna mengakui ketlusan mereka yang sudah melepaskan segala-galanya, termasuk hubungan keluarga, tradisi sosial, pertimbangan baik dan buruk. “Hutang itu tidak mampu aku lunasi, dan berlangsung selama-lamanya,” ucap Krishna.

Tarian Rasa
Mendengarkan kata-kata Krishna, semau cermin hati para gopi bersih kembali dan sirnalah kesedihan mereka akibat perpisahan tadi. Disanalah, di tepi Sungai Yamuna, Krishna mulai tarian rasa yang agung bersama para gopi. Setiap orang berusaha mencari posisi sedekat mungkin dengan Krishan, sehingga dengan sikap seperti itu tidak mungkin membentuk sebuah lingkaran. Karena itu Krishna memperbanyak diri-Nya seketika sehingga setiap gopi mendapat pasangannya masing-masing. Saling berpegangan tangan mereka pun membentuk sebuah lingkaran besar sambil menari-nari. Setiap gopi mendapat seorang Krishna untuk pasangannya. Dalam tarian rasa yang melingar tak henti-hentinya itu, gemerincinglah suara sentuhan gelang kaki, gelang tangan dan perhiasan korset di pinggang para gopi bersentuhan dengan perhiasan Krishna, menimbulkan paduan harmoni dewani yang luhur sekali. Dipeluh oleh Krishna, yang kini kelihatan seperti batu sapphire yang terpasang pada perhiasan kalung emas, para gopi terus menari dan menyanyi ; wajahnya berseri cantik sekali, bintik-bintik keringat menghias dahi mereka. Krishna menari-hari di tengah lingkaran besar ini. Demikianlah dalam lila ini Tuhan Yang Maha Esa seperti anak kecil bermain-main dengan bayangannya sendiri. Begitu tarian berlangsung, para dewa beserta istrinya masing-masing berkerumum di angkasa dengan kendaraan sorgawinya, menyaksikan adegan itu dengan rasa kagum bercampur bahagia. Bulan dan bintang pun ternganga kagum .semua unsur terpana. Malam pun diperpanjang enam bulan, sama dengan semalam Brahma.
Tatkala setiap orang merasa payah tetapi sangat bahagia, tarian itu pun berakhir. Dengan enggan para gopi kembali ke rumahnya masing-masing. Fajar pun merekah. Mungkin episode ini kemudian tumbuh dan berkembang menjadi tari dengan segala seginya, dengan lakon yang kian lama kian jauh dari tema Krishna.

Nanda dan Ular Python
Di kampung Krishna yang tercinta, kehidupan berlangsung seperti biasanya, penuh cinta tetapi juga penuh bahaya. Pada suatu hari, tatkala semua para gemlaba bersama Nanda, sunanda dan yang lain-lainya pergi ke tempat suci dan Nnada pun tertidur disamping tempat suci, temapt pemujaan Dewi Parvati, tiba-tiba dari semak belukar muncullah sekor ular python mendekati Nanda siap untuk menelannya hidup-hidup. Ketakutan, Nanda berteriak memanggil Krishna. Mendengar teriakan itu, setiap orang bangun dan segera mengambil kayu bakar dari tumpukan api unggun yang sedang menyala, memikul sang ular. Tetapi ular itu kuat sekali bertahan. Tanpa mentucapkan kata sepatah pun, Krishna maju dan menginjakkan kaki-Nya di atas kepala python itu. tiba-tiba ular itu mengelupas dan aneh sekali, muncullah orang Pemuda yang gagah sekali tampangnya. Dialah Sudharsana, pemusik sorga, yang dalam hidupnya terdahulu kean kutukan sehingga turun ke dunia menjadi ular, karena memperolok-olok seorang resi. Kutukan itu menyebutkan bahwa kehidupannya sebagai ular berakhir kalau menerima sentuhan kaki padma Krishna. Akhirnya hal itu terbukti, dan demikianlah Sudharsana yang tampan itu bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa sambil mengucapkan doa pujaan. Sesudha itu dia mengelilingi Krishan berulang-ulang penuh rasa hormat dan kagum. Sesudah itu dia minta diri dan terbang ke sorga.

Shankhachura berusaha membelokkan para gopi
Ada lagi kejadian yang lain. Krishna dan Balarama berkelana di hutang bersama para gopi. Krishna meniup seruling. Jari jemari-Nya menari-nari di atas lubang seruling yang memantulkan nada-nada indah memukau. Alis mata-Nya menari-nari, sementara dagu kiri-Nya hampir menyenuh bahu-Nya asyik meniup seruling dengan sikap berdiri yang anggun menawan. Mendengarkan alunan seruling ini para gopi asyik melamun didendang semadhi membayangkan Krishna pujaannya, sehingga tidak sadar sleendangnya lepas dari bahunya. Begitu pula dandanna rambutnya lepas berderai. Saat itulah datang yaksha yang bernama Shangkhachura menghalau para gopi menuju ke utara. Mendengarkan jeritan mereka, tiba-tiba Krishna dan Balarama mengajar yaksha dan sesudha dekat. Krishna memenggal kepala yaksha itu. Putuslah kepalanya. Begitu pula kalung yaksha itu yang terbuat dari permata sorga. Badannya menggelepar dengan semburan darah bercampur udara yang keras, sekeras tinju tangannya yang perkasa.

Raksasa Arishta berusaha mencabut Nyawa Krishna
Beberapa saat sesudah kejadian tadi, datang lagi Raksasa yang mengerikan berbentuk banteng, bernama Arishta, badannya dahsyat dengan gumpalan punuk yang membukit, berlari-lari menggoncangkan bumi menuju Vraja. Dia menyuruk-nyuruk dengan tingkah yang amat menakutkan. Kalau berlari ekornya ke atas, tanduknya yang perkasa membongkar bumi sehingga porak poranda. Melihat Krishna bersma gopa dan gopi di dalam hutna, banteng itu pun siap menantang. Segera banteng itu ngamuk kian kemari mengajar gopa dan gopi. Mereka panik ketakutan sambil memangil Krishna mohon perlindungan. Sikap mereka menyedihkan sekali. Dengan senyum yang lembut, Krishna melihat sang banteng raksasa. Sambil bertpeuk tangan tanda menantang dan membangkitkan kemarahan Arishtasura, Krishna menunggu dengan sigap. Marah luar bias,a Arishtasura berlari menuju Krishna. Bumi bergonang, sementara banmteng raksasa itu melirik musuhnya dengan pandangan yang menyala-nyala. Dengan kecekatna dan penuh keagungan, secepat kilat Krishna menangpa kedua tanduk Arishtasura serta mendorongnya mundur delapan belas langkah, seperti Gajah terdesak mundur. Beringat dan napas terngah-engah, Arishta mendongkrakkan kaki belakangnya mengatur posisi dan dengan kecepatan kilat maju menyerang Krishna sekali lagi. Saat itu, Krishna menangkap tanduk Aristha dan membantingnya ke bumi. Badannya yang besar itu diinjak oleh kaki padma Krishna yang luhur, lehernya yang perkasa itu dipilin, tak buahnya seperti tukang guci memilin kain seprei. Sebuah tanduknya ditarik dari kepalanya, allu dengan tanduk itulah Krishan menghantam raksasa itu hingga mati di atas tanah. Tak sedikit pun nampak rasa payah di pihak Krishna. Dari peristiwa ini saya teringat akan arca Durghamahisasuramardhini di Pura Kutri Gianyar, yang melukiskan Dhurga membunuh raksasa dalam wujud banteng. Memang Krishna tidak sama dengan Durgha, tetapi ada kesamaan tema.

Narada menjelaskan kepada Kamsa segala kejadian yang Berhubungan dengan Kelahiran Krishna
Kini semua kejadian berlangsung lebih cepat untuk mencapai titik puncak, mendekatkan Krishna kepada Kamsa di Mathura. Pada suatu hari, resi agung Narada , agent provocateur dalam banyak peristiwa yang hampir-hampir berbau mythos, pergi ke istana Kamsa dengan laporan sekitar tipu daya penukaran bayi Krishna dengan Bayi Yashoda, sesaat sesudah lahir. Krishanalh bersama Balarama, kata Narada, yang telah membunuh semua raksasa yang ditugaskna oleh Kamsa. Mendengar laporan ini, dengan napsu marah yang bergolak luar biasa, Kamsa mengambil pedang untuk membunuh Vasudeva yang licik. Payah sekali Kamsa menahan marah, yang akhirnya kembali menahan Vasudeva dan Devaki di penjara dalam tanah.

Krishna Membunuh Raksasa Keshi yang Berbentuk Seekor Kuda
Mulailah Kamsa dilandan demam untuk membunuh Krishna. Dipanggilnya Keshi, salah seorang raksasa terkuat di wilayahnya. Diberikan tugas yang amat sederhana : “Bunuhlah Krishna dan Balarama” Sesudah itu Kamsa mengadakan sidang darurat. Pokok pembicaraan tunggal, bagaimana Krishan dan Balarama hidup di Vraja, dan bagaimana rencana membuju mereka supaya datang ke Mathura untuk dibunuh. Sementara itu, rencana ini pun belum mendesak, karena dia percaya atas kesaktian Keshi. Demikianlah Keshi berubah menjadi kuda yang besar dan perkasa, terbang melebihi angin. Bumi pun berdentam kala dia menginjakkan kakinya, awan di langit pun berserakan akibat kencang terbangnya dan kereta dan kendaraan sorga pun berserakan akibat gulungan ombak bulu tengkuk kuda itu. semua makhluk merasa ngeri mendengarkan ringkikan suara Keshi.
Demikianlah Keshi melesat menuju Vraja kampung Nanda Maharaja. Sementara setiap orang bengong tak tahu apa yang diperbuat, gemetar ketakutan, Krishna menantang Keshi. Mendengar tantangan itu, kuda betina melenguh dahsyat seperti singa. Mulutnya terbuka lebar dan dengan kecepatan sangat tinggi, maju menghantam Krishna dengan kedua kaki belakangnya. Krishna menahan tendangan itu dan dengan geram menangkap kedua kaki belakang Keshi, lalu diputar-putarnya cepat sekali, menyerupai putaran seratus buah busur dan akhirnya dilempar sejauh seratus depa. Sesudah itu Krishna tetap tenang berdiri seperti sebelumnya. Setelah pulih kesadarannya, Keshi maju menyerang kembali. Tanpa rasa takut, Krishna tersenyum sambil melemparkan tangan kiri-Nya ke mulut Keshi yang terbuka lebar, persis seperti keris masuk sarungnya. Keshi berjuang untuk menggigit tangan Krishna, tetapi semau giginya rontok karena tangan Krishna, tetapi semua giginya rontok karena tangan Krishna luar biasa panasnya yang kini memancarkan sinar. Di waktu yang sama, tangan itupun mekar besar sekali di mulut Keshi. Pernapasan Keshi tersumbat ketat sekali, matanya melotot kesaktian, dan sambil menendang-nendangkan kedua kaki belakangnya, sekujur tubuhnya pun mandi keringat. Semua itu sia-sia saja bagi Keshi, karena memang Krishna tidak mau melepaskannya. Sesudah mengeluarkan kotoran bulat seperti bola, Keshi pun mati tergeletak di atas tanah menyambut kematian Keshi yang perkasa itu, semua rakyat bersorak sorai tanda gembira. Begitu pula para dewa di angkasa sibuk memuji keperwiraan Krishna. Salah seorang yang bersujud itu adalah Narada yang sengaja menemui Krishna sambil memberitahukan kejadian yang menanti Krishna di Mathura.

Usaha Kamsa untuk Membunuh Krishna dan Balarama
Misi yang Diemban Akrura
Di Mathura terjadi kesibukan luar biasa untuk mempersiapkan turnamen besar dengan undangan yang sangat banyak. Semua itu diawali dengan upacara yang berhubungan dengan penghormatan kepada sebuah busur raksasa. Berhati-hati sekali Kamsa mempersiapkan semua itu. dua tokoh pegulat besar, Mushtika dna Chanura di persiapkan untuk membunuh Krishna dan Balarama di tengah arena. Kamsa juga menugaskan para menterinya untuk mempersiapkan Gajah khusus, Kuvalayapida sebesar bukti di pintu masuk lapangan, dilengkapi dengan sebuah potongan baja besar di belalainya untuk membunuh kedua anak Vasudeva. Sesudah mempersiapkan semua rencana sebaik-baiknya, Kamsa mengundang Akrura yang terhormat, salah seorang keluarga Yadu, dan dalam nada yang ramah memintanya pergi ke Vraja menjemput kedua anak Vasudeva dengan sebuah kereta. Kamsa memberitahu Akrura tentang adanya ramalan kematian Kamsa di tangan seorang anak Vasudeva dan menyakinkan dia dengan semau rencana itu untuk melindungi dirinya. Juga diberitahukan agar Nnada dan yang lain-lainya datang dengan upeti sebagaimana biasa, karena saat itu juga dilaksanakan upacara “penghormatan kepada busur” yang bisa disaksikan oleh setiap orang dan sama sekali bukan akal licik sekedar untuk membujuk Krishna dan Balarama, ke Mathura. Mendengarkan rencana Kamsa untuk membunuh Krishna dan Balarama, Akrura adalah penyembah kaki padma Krishna menyadari apa yang akan terjadi, siap melaksanakan perintah sang raja. Kamsa kembali ke istana dna Akrura pulang ke rumahnya mempersiapkan keberangkatannya ke Vraja.
Dalam perjalanannya ke Gokula keesokan harinya, Akrura yang mulia dibanjiri dengan rasa cinta kepada Krishna, merasa heran mendapat kesempatan yang bagus sekali untuk menjemput Krishna. Kerinduan untuk bersua dengan Krishna menggebu-gebu di hatinya setiap saat. Demikianlah Akrura tiba di Gokula dan menghentikan keretanya di depan pintu rumah Nanda. Begitu memperhatikan  bekas injakan telapak kaki Krishna di atas tanah yang suci itu, tubuh Akrura gemetar dilanda rasa bahagia, bulu romanya meremang tiada hentinya dan tak disadarinya air matanya meleleh di pipinya. Kemudian dilihatnya Krishna dna Balarama dekat pagar bersama sapi-sapi yang sedang diperah susunya, Krishna berpakaian kuning saffron dan Balarama berkain biru muda. Tidak kuasa menahan diri, Akrura pun segera bersujud lurus-lurus di depan kaki padma mereka. Selanjutnya Krishna dan Balarama bergantian memeluk Akrura, memberikan penghormatan sebagaimana mestinya dalam penerimaan tamu, membasuh kakinya dan mengajaknya ke rumah.  Berbahagia sekali Nanda memperhatikan Yadava yang mulia.
Malam itu Akrura tidur di rumah Nanda. Keesokan harinya, di pagi yang cerah Akrura menyampaikan pesan yang dibawanya. Mendengarkan pesan itu, dan menyadari rencana Kamsa di balik itu, Krishan dan Balarama tertawa, sedangkan Nanda berpikir serius dan menyuruh semua gembala mengumpulkan sapi dan upeti lainnya yang akan diserahkan ke Mathura.

Krishna Meninggalkan Gokula dan Para Gopi Sedih
Ada semacam kegembiraan menyongsong apa yang akan terjadi, namun para gopi sedih setelah mengetahui Krishna akan pergi ke kota untuk urusan yang penuh tantangan. Bergegas mereka berkumpul di rumah Nanda, berkeluh kesan dan meratap sambil mengerumuni kereta Krishna. “Mengapa anda meninggalkan kami, O Penguasa Vraja, keluh mereka. “Apakaha salah kami kepada-Mu ?”
Mereka mencomel Akrura yang menjemput Krishna. Mereka pun berbicara sesamanya : “Jika Govinda berangkat ke Mathura, kapan dia kembali ke Gokula ? Dia akan tenggelam dalam pelukan wanita kota. Kalau sudah demikian, maukah Dia kembali ke desa ?” Krishna memberitahu mereka bahwa memang tidak ada pilihan lain dan permohonan mereka tetap diperhatikan. Sambil menatap wajah Hari yang cantik bagi kelopak bunga padma, air mata mereka bercucuran dan rambutnya pun lepas hampir menutupi wajah mereka masing-masing. Kereta pun bergerak, menimbulkan debu di roda kereta, meninggalkan para gopi yang menggeletak pingsan di atas tanah, seperti ikan dikeluarkan dari air.

Akrura melihat Lila Tuhan dan Krishna memperlihatkan sifat Spiritual-Nya
Dalam perjalanan menuju Mathura, sambil mengemudikan kereta bersama Krishna dan Balarama, Akrura heran sekali memandang kedua bersaudara itu, tak puas-puasnya Akrura melirik mereka. Hatinya bahagia dan Akrura merasa seperti kena bius. Di tepi sungai Yamuna, AKrura menghentikan kereta sejenak karena akan mandi. Begitu Akrura  menghentikan kereta sejenak karena akan mandi. Begitu Akrura menyelam ke dalam air, ditemuinya Krishna dan Balarama keduanya di dalam air juga. Cepat Akrura menyembulkan kepalanya dari dalam sungai dan heran sekali, Krishna dan Balarama masih duduk di atas kereta. Untuk menyakinkan dirinya sendiri terhadap keajaiban yang disaksikannya, sekali lagi dia membenamkan kepalanya ke dalam sungai, sambil berpikir, “Adakah penglihatanku tadi itu semu atau nyata ?” Lalu, di air yang sama Akrura melihat ular besar Naga Shesha dipuja oleh ribuan makhluk kahyangan, dengan kepala meruntuk memberikan salut. Dilihatnya pula di atas gulungan Naga Shesha itu Vishnu berbaring, warna kulit-Nya gelap seperti awan menjelang hujan, berkaitan sutra kuning, bertangan empat. Menyaksikan pandangan yang dahsyat tersebut Akrura mencakupkan kedua belah telapak tangannya dekat dadanya sambil berdoa dalam hati, mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Sesudah memperlihatkan bentuk Vishnu kepada Akrura di dalam air, Krishna menarik kembali karunia-Nya. Pandangan itu lenyap, Akrura pun muncul dari dalam sungai. Tetap saja dia teringat akan apa yang dilihatnya tadi. Seolah menggoda, Krishna bertanya kepada Akrura : “Apakah anda melihat sesuatu yang aneh di dalam air atau di darat, Akruraji ? Hal itu mungkin timbul akibar pikiranmu yang binggung !” Terhadap godaan itu, Akrura menjawab : “Keajaiban yang ada di bumi, di ari maupun di langit, semuanya ada pada-Mu Yang Mulia, penyangga seluruh alam semesta. Berikanlah hamba berlindung di bawah kekuasaan-Mu yang tak bertepi”. Lalu Akrrura duduk kembali di karetanya siap mengantar Krishna dan Balarama ke Mathura. Nanda an rombongan sudah tiba lebih dahulu melalui rute yang lain. Tiba di kota, Krishna turun dari kereta dan menyuruh Akrura kembali kerumah, katanya : “Selamat berpisah sampai bersua kembali”. Aku akan datang bersua dengan teman-teman sambil bersuka ria,” kata-Nya.
Sehari sesudah itu, Krishna dan Balarama beserta teman-teman-Nya jalan-jalan di kota Mathura, menyaksikan istana yang terbuat dari tembaga dihiasi taman dan kebun lengkap dengan gedung-gedung besar untuk pertunjukkan kesenian yang bermacam-macam. Rumha penduduk pun indah dikeliling iparit yang penuh dengan air mengalir pelan, ditumbuhi bunga-bungaan di pigngir parit. Menyelusuri jalinan di kota, cepat sekali kedua bersaudara itu menarik perhatian para wanita Mathura, yang bergegas keluar rumah untuk menyaksikan Krishna dan Balarama yang luar biasa tampannya. Tetapi Krishna dan Balarama memang mempunyai maksud tersendiri.

Krishna membunuh tukang cuci Pakaian
Dalam perjalanan menuju istana tempat upacara besar diselenggarakan oleh Kamsa, Krishna dan Balarama bertemu dengan seorang tukang cuci. Mengenakan pakaian yang tidak semewah pakaian orang kota, Krishna dan Balarama bertanya kepada tukang cuci apakah bisa menukar pakaian agar sesuai dengan pakaian orang kota. Pelayan Kamsa yang sombong itu menghina dan meremehkan permintaan Krishna. Krishna marah. Dengan sekali tebasan tangan kiri-Nya, putuslah leher tukang cuci angkuh itu. bungkusan pakaian yang dibawah tukang cuci diambil alih dan setiap orang memilih dan mekaia pakaian yang mereka sukai.
Selanjutnya, Mereka datang ke rumah tukang bunga yang menerimanya dengan sangat hormat karena tahu siapa Krishna dan Balarama itu, sambil mempersembahkan karangan bungan indah yang Mereka bawa ke tangan-Nya.

Krishna menyembuhkan kubja
Sejenak kemudian, Krishna melihat seorang wanita muda yang tubuhnya buruk sekali pada hal wajahnya cantik. Wanita itu membawa kendi kecil terbuat dari kuningan berisi serbuk kayu cendana dan wewangian lainnya. Secara berkelakar, Krishan tersenyum sambil menegur gadis itu : “Siapakah engkau wahai gadis yang berpaha mulus ? Untuk siapakah periuk kuningan itu ?” Gadis itu, yang dikenal bernama Kubnja sesuai dengan penampilannya yang buruk, namun selalu menyediakan wewangian lebih baik dari siapa pun juga di kota Mathura. Melihat Krishna, gadis itu terpesona sekali akan ketampanan-Nya, senyum-Nya yang aduhai, lirikan mata-Nya yang mendebarkan dewi asmara, dengan murah hati menyerahkan semua dagangannya kepada Krishna dan rombongan. Merasa puas terhadap sikap gadis itu, Krishna ingin mengembalikan kecantikan tubuh wanita itu seperti aslinya. Demikianlah Krishna menginjakkan kaki padma-Nya di atas ujung jari kaki Kubja dan dengan dua buah jari-Nya menarik dagu gadis itu dengan sentakan yang tiba-tiba sehingga tubuh gadis itu pun pulih kembali seperti semula, mulus tanap cela. Demikianlah sentuhan Krishan telah mengembalikan kecantikan gadis Kubja sepenuhnya. Dengan pulihnya bentuk tubuh Kubnja, dia merasakan debaran cinta bangkit dalam hatinya, melukis Krishan di ujung sleendangnya, melihat kepada Krishna dengan sebuah undangan agar sudi datang ke rumahnya. Krishna berjanji memenuhi undangan itu sesudah tugas utamanya ke Mathura selesia dilakukan. Lalu Krishna meninggalkan Kubja bersama teman-teman-Nya.

Kresna mematahkan busur
Tiba di tempat upacara penghormatan busur, Krishna memasuki tembok luar dan menyaksikan busur yang hebat itu, indah dan melengkung seperti pelanggi. Walaupun dikawal, dengan cepat Krishna menuju tempat busur itu lalu diambil dengan tangan kiri, talinya dipasang dan ditarik dengan kuat sehingga patah menjadi dua, tak buahnya seperti tebu diinjak Gajah mabuk. Ketika busur itu patah menjadi dua, suaranya menggelegar memenuhi angkasa, sehingga Kamsa yang duduk di dalam istananya takut mendengar suara itu. para pengawal ketakutan sekali bercampur marah, berteriak memanggil Krishna seolah-olah maum menangkap-Nya. Krishna dan Balarama memikul mundur parap engawal itu. sesudah itu Krishna dan Balarama kembali ke tempat pemondokan-Nya untuk istirahat sejenak.
Sementara itu, Kamsa panik akibat patahnya busur besar itu, seolah memberikan firasat buruk. Tidak bisa tidur, tidak bisa jaga, di mana-mana dia melihat tanda-tanda buruk. Dia tidak melihat bayangannya di dalam air : matahari dilihatnya kembar ; bayangannya berubah menjadi lubang dan ketika telinganya ditutup dia tidak bisa mendengarkan suara pernapasannya sendiri. Inilah beberapa tanda buruk itu dan dengan ketakutan Kamsa memberi komando kepada pangawal dan pegulat agar waspada menghadapi nasib keesokan harinya. Keesokan harinya, sejak pagi penduduk Mathura dan sekitarnya berbondong-bondong menuju tanah lapang yang menampung banyak pengunjung. Mereka duduk ditempat ketinggian yang khusus dibuat untuk keperluan itu, sedangkan para putera mahkota, Menteri dan pegawai Pengadilan dan jasak menempati kursi bagian pusat lingkaran di samping Kamsa, yang duduk di atas kursi Kerajaan. Terpisah dari arena telah didirikan tempat untuk untu para putri keraton, dan kaum wanita kebanyakan. Nanda dan rombongannya mendapat tempat khusus. Di ujung barisan itu duduklah Akrura dan Vasudeva. Seluruh arena dibayang-bayangi oleh berbagai perkiraan.

Pembunuhan Kuvalayapida, Gajah mabuk
Berjalan seperti biasa ditemani oleh para gopa, Krishna tiba di pintu masuk arena. Di sanalah mereka dihadap oleh Gajah raksasa, Kuvalayapida yang berdiri kokoh membaja dijaga oleh pengasuhnya. Sambil membelitkan lebih kencang pakaian-Nya di pinggang-Nya, Krishna menyuruh penjaga Gajah memindahkan Gajah itu ke samping supaya mereka bisa masuk. Pawing Gajah itu memang diberi perintah untuk membunuh Krishna, sehingga dia tidak memindahkan gajahnya ke samping, tetapi sebaliknya mendorong Gajah itu untuk menyerang Krishna. Gajah itu pun menjerit keras sekali dan sangat berang. Segera Krishna menangkap belalai Gajah dan mengadahkan Gajah raksasa itu, kakinya ke atas punggungnya ke bawah, dengan hati-hati agar tidak tertindih. Dengan cepat Krishna melompat ke perut Gajah tepat di antara kedua kaki depan dan kaki belakangnya. Gajah itu marah sekali karena tidak bisa melihat musuhnya, lalu memutar tubuhnya, mencari-cari Krishna. Cepat Krishna meloncat, menangkap ekor Kuvalayapida dan menariknya sejauh dua puluh lima busur, seperti Garuda menggiring kobra. Dengan memilin ekornya, Gajah itu pun berguling-guling bolak-balik dari samping kiri ke kanan dan dari samping kakan ke krii. Akhirnya Krishna menahan Gajah besar itu dengan pukulan tangan kosong. Dengan geram dan sesudah sanggup berdiri akibat tahanna tangan kosong Krishna, Gajah itu pun siap mengajar  Krishna. Sekali lagi Krishna menangpa belalainya, menekan kepala Gajah itu dengan kaki kiri-Nya, lalu kedua gading Gajah itu pun dicabut oleh Krishan dari mulutnya. Dengan salah satu gading yang berlumuran darah inilah Krishna membunuh Gajah dan pawangnya sekaligus. Gading yang sebuh lagi diberikan kepada Balarama. Sesudah itu, Krishna dan Balarama masuk ke dalam arena.

Adu Gulat
Begitu Krishna dan Balarama memasuki arena, hadirin dilanda ombak kebahagiaan yang besar sekali. Setiap penoton menatap wajh Krishan dan Balarama sepuas-puasnya. Krishan dan Balarama bersinar lembut. Mengingat usia Krishan dan Balarama yang sangat mudah jika dibandingkan dengan pegulat besar Chanura dan Musthika, para penonton merasa takut dan ragu-ragu. Sesudah terompet dibunyikan, suasana pun hening. Chanura maju menuju Krishna dan Balarama, mengejek mereka sambil menantang untuk memperlihatkan kekuatan-Nya sekarang juga. Krishna berdiri dengan tenanga menunggu agar Chanura yang memulai pertandingan, sementara Balarama setuju  bergulat dengan Mushtika. Segera tengan dan kaki sama-sama terkunci rapat, lutut beradu dengan lutut, kepala beradu dengan kepala, dada beradu dengan dada. Dengan tarikan yang gigih sekali para pegulat berjuang untuk saling menguasai. Segala tipu daya dikeluarkan, saling putar, saling remas, saling pelintur, tinju, saling dorong, maju dan mundur. Seluruh arena menahan napas dan banyak yang berdoa secara diam-diam untuk kemenangan Krishna dan Balarama. Tiba-tiba cepat sekali, seperti cepatnya elang menyambar mangsa, demikianlah Krishna mengujani Chanura dengan pukulan. Hampir saj Chanura jatuh pingsan. Sesudah pulih kembali kekuatannya, Chanura bangkit menantang Krishna. Saat ini enak dan ringan sekali Krishna menangkap Chanura lalu diputarnya berkali-kali sampai mati. Sesudah mati dibantingnya ke tanah telentang lurus seperti tingkat. Perhiasan dan karangan bunga yangdipakainya berhamburan. Di pihak laibn, Balarama gemas sekali menghantam Musthika, yang mula-mula pingsan, lalu muntah darah banyak sekali dan jatuh ke tanah, seperti pohon ditumbangkan angin prahara tuntas sampai keakar-akarnya. Sesudah itu maju lagi pegulat cadangan untuk menuntut balas, tetapi tidak seberat kedua pecundang. Sesudahnya, Krishna dan Balarama mengundang teman-teman-Nya para gembala sapi agar turun ke tengah arena bergerak keliling lapangan. Chanura kakinya berdenting nyaring langkahnya yang anggun memberikan kepuasan dan bahagia di hati para hadirin. Betapa pun juga Kamsa sangat takut dan sia-sia saja memberikan komando kepada para pengawalnya untuk menghalau kedua anak Vasudeva yang jahat itu keluar kota.

Krishna membunuh Kamsa
Krishna marah sekali. Dengan sekali loncat dia sudah ada di panggung tinggi tempat raja yang busuk itu duduk bersama para pembesar Kerajaan lainnya. Kamsa merasa didadak sehingga tidak sempat menyentuh pedangnya sama sekali, apa lagi perisai pengaman, karena Krishna yang tak terkalahkan sudah ada di hadapannya, seperti elang menukik menyambar mangsa. Mahkota Kamsa terpental. Krishna menjambak rambut Kamsa dan menurunkannya dari kursi Kerajaan dan menyeretnya ke tengah lapangan. Kamsa tak berdaya. Sedu-sedan para istrinya memenuhi suasana. Sementara itu Balarama menaklukan orang-orang lain yang mengepungnya, sedangkan para gopa siap mengambil gendering dan menabuhnya. Terjadi kebingungan yang besar sekali karena tirani sudah berakhir. Dengan kematian Kamsa, beban ibu pertiwi musnah. Semua dewa, para resi dan manusia bergembira. Kamsa mati. Krishna dan Balarama mendekati orang tua sebenarnya, Vasudeva dan Devaki, bersujud di depannya dengan menyentuh kaki mereka dengan kepala-Nya. Sekejap terjadi keganjilan, yang karena “Nasib” perpisahan yang sekian lama antara anak dan ayah dan dalam pertemuan itu tidak terjadi pelukan kasih sayang. Merasakan “jarak” itu, segera Krishan menyingkap tabur maya yang membalut dunia, sehingga kini Krishna dan Balarama muncul kembali di depan kedua orang tuanya persis sebagai anak. Pada saat itu, Vasudeva dan Devaki tidak kuasa menahan diri dan memeluk mereka, sambil berurai air mata bahagia.

Ugrasena dinobatkan kembali menduduki tahta Mathura
Kedua orang tuanya bebas. Sesudah minta pertimbangan banyak orang, Krishan menobatkan kakek-Nya, Urgrasena menduduki tahta Kerajaan Mathura. Kemudian, berpaling kepada Nanda dan bersujud, Krishna meminta agar Nanda kembali ke Vraja beserta rombongan dengan janji Krishna menyusul kemudian. Inilah saat yang sulit sekali. Nanda bersujud sambil menyerahkan upeti dengan perasaan. Penuh cinta. Sesudah menyadari situasi yang tak bisa dihindari, Nanda kembali ke Vraja.

Krishna dan Balarama berguru kepada Sandipani Muni
Kemudian, Vasudeva memanggil pendeta keluarga untuk Memimpin upacara upayana, pemberian tali suci kepada kedua anaknya. Diserakanlah dana-punya, mantra diucapkan dan upacara itu dihayati sepenuhnya. Krishna dan Balarama ditempatkan di bawah asuhan guru besar Sandipani Muni, memberikan segala ilmu yang diketahui-Nya : Veda, Upanishad, fonetik, tatabahasa, kesusasteraan (prosody), astronomi, upacara, etimologi dan sebagainya. Juga diajarkan ilmu penggunaan senjata dan semau ilmu pengetahuan lainnya. Logika dengan enam cabang utamanya, juga mereka terima dna dalam waktu 64 hari siang malam ke dua bersaudara itu dengan teguh memusatkan perhatian-Nya kepada semua materi pelajaran dan menguasai 64 jenis seni dan kerajinan tangan. Sesudah menamatkan pelajarannya, seperti biasanya Krishna dan Balarama bertanya kepada guru-Nya, apa yang bisa mereka perbuat sebagai guru dakshina. Mengetahui siapa sebenarnya kedua orang muridnya itu, Sandipani Muni menceritakan anaknya yang mati di lautan Prabhasa, jauh di Saurashtra. Kalau bisa hidupkanlah anakku, katanya. Dengan mengucapkan “semoga terjadi”. Kedua muridnya naik ke atas kereta menuju Prabhasa dan menunggu sampai lautan bersujud kepada-Nya.

Krishna membunuh raksasa Panchajana dan menghidupkan anak Sandipani Muni
Sesudah mendengarkan dari Lautan bahwa raksasa Panchajanalah yang membawa anak itu, lalu Krishna terjun ke dalam air. Ternyata yangdicarinya sudah ada di kawasan Dewa Maut, Yamaraja, tidak gentar sedikit pun, Krishna mengambil sebuah berang, sisa-sisa badan Panchajana dengan cepat tiba di pintu gerbang Kerajaan Yamaraja. Krishan meniup kerang-Nya dengan keras sekali. Krishna meminta anak Sandipani Mani kepada Yamaraja, dan demikianlah Mereka mengajak kembali anak-anak guru-Nya itu kehadapan Sandipani. Guru-Nya puas sekali dan sebaliknya memberikan semua rakhmat kepada muridnya. Sesudah itu Krishna dan Balarama kembali ke Mathura dengan keretanya yang hebat karena sanggup berlari kencang seperti angin.

Misi Uddhava ke Vraja
Meskipun tinggal di kota, Krishna tidak melupakan masa anak-anak-Nya di desa, begitu pula semua teman sepergaulan-Nya. Dipanggil-Nyalah Uddhava, teman kepercayaan dan penyembah-Nya, disuruh ke Vraja menyampaikan pesan untuk orang tua-Nya Nanda dan Yashoda, juga kepada para gopi kesayangan-Nya, dengan pesan-pesan mereka mengabdikan jiwa raganya kepada-Ku dan menganggap aku sebagai jiwanya. Karena jauh, tidak henti-hentinya kaum wanita Vraja memikirkan aku, dan karena perpisahan ini mungkin mereka sangat sedih. Jangan-jangan mereka melupakan kewajiban hidup sehari-hari. “Demikianlah pesan yang patut disampaikan kepada mereka. Menerima tanggung jawab ini, keesokan harinya Uddhava berangkat ke kampung Vraja dengan kereta. Ditemuinya di sana kampung Gokula yang rindang dan indah beserta para pendukungnya para gembala, ternak sapi, anak-anak sapi yang putih mungil berkejar kejaran di sekitar induknya. Setiap orang sibuk melaksanakan tugas sucinya, menghormati sapi dan brahmana. Uddhava menyampaikan keadaan Krishna, Nanda dan yang lain-lainnya berkumpul mengelilingnya, dibanjiri rasa rindu dan kagum. Mendengarkan berita tentang kejadian anaknya tercinta, Yashoda sangat berbahagia dan penuh kasih sayang, sehingga tidak dirasakannya air suusnya mengalir deras sekali.

Uddhava menyampaikan pesan Krishna kepada para Gopi yang kesepian
Uddhava belum bertemu dengan para gopi karena mereka belum tahu kedatangannya. Keesokan harinya, menjelang fajar para gopi sudah bangun, menyalakan lampu dan sesudah mandi meuja Arca di rumahnya masing-masing. Sesudah itu mereka mengaduk susu. Dengan lampu perhiasan mereka nampak berkilau. Kalung di lehernya bergerak ritmik ssuai dengan gerak tangan mereka menarik tlai tingkat pengaduk susu berganti-ganti. Gelang tangan dan kakinya pun berbunyi berdentang-denting merdu sekali, mengiringi posisi tangan kaki mereka masing-masing. Sesudah matahari terbit, para gopi menyaksikan kereta berlapis emas dan mulailah menerka siapa konon yang datang ke desa mereka. Mereka pun memperhatikan bahwa bukanlah Akrura yang “jahat” itu datang kembali yang merampas Uddhava tentang Krishna. Pertanyaan mereka sederhana sekali, tetapi dibalik itu terselip- rindu yang mendalam, bahkan rasa putus asas. Mendengarkan jawaban Uddhava, mereka mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kasar dan sinikal karena pujaan mereka tidak ditempat. Mereka pun menyatakan kepada Uddhava telah ditinggal begitu saja oleh Krishna, tak buahnya seperti pohon ditinggal pergi oleh burung karena buahnya sudah habis. Demikianlah mereka menyindir, bertanya dan menolak semacam perdamaian dengan kata-katanya. Selanjutnya para gopi mengungkapkan keadaan dirinya, seperti tidak ada Uddhava di sampingnya. Salah seorang gopi yang asyik memikirkan Krishna, melihat lebah hitam berderung di sekitar dirinya. Hal itu ditanggapinya sebagai utusan kekasihnya, lalu berbicara kepada lebah itu yang sebenarnya ditujukan langsung kepada Uddhava, dalam untaian kata-kata yang cukup panjang, yang disusun dengan cekatan : “O Lebah hitam ! Teman dari kekasih kami yang kasar ! Menggapa engkau bernyanyi disini, di depan kami, wanita desa yang miskin, melantumkan nyanyian tentang keagungan Krishna, tokoh Pujaan Semesta. Semua itu sudah kami ketahui. Pergilah dari sini. Biarkanlah Krishna, pemimpin Madhu, yang engkau wakili menyikat habis wanita kota Mathura. Biarkanlah mereka memberikan berkahnya kepadamu, karena mereka sudah dipeluk oleh Krishna, dan bukan kami. “Ada lagi yang lain : “O lebah hitam yang lembut ! Begitulah engkau terbang dari satu bungak e bunga lainnya sambil mengisap madu, karen engkau tidak milik siapa pun, seperti Krishna yang tidak milik perseorangan. “Demikianlah mereka melampiaskan tekanan sanubarinya, dan Uddhava mengerti perasaan para gopi. Karena sulit sekali menghibur mereka, tetapi betapa pun juga, Uddhava menyampaikan segala pesna Krishna. Krishna sadar, Uddhava memberitahukan mereka, bahwa mereka telah melepaskan segala-galanya untuk berlindung ke kaki padma Krishna. Krishna meminta kalian merenungkan Dia, yang ada di hatimu, seperti tanah, air, api udara dan ether ada di dalam badan. Tetapi memang sulit menghibur para gopi. Terhadap pertanyaan mereka, “Mengapa tidak Krishna sendiri yang datang untuk memberitahukan, kami sehingga sudah kami merenungkan. Dia dalam bentuk yang bagaimana supaya meditasi tepat guna. Uddhava tidak bisa menjawab. Kata-kata Uddhava kini tidak ada artinya bagi mereka, juga kepada Uddhava sendiri. Secara diam-diam Uddhava pun iri kepada para gopi yang demikian kuatnya terikat kepada Krishna. Sementara Uddhava tidak ada ditempat, Krishna memenuhi dua buah janji yang dia ucapkan setiban-Nya di Mathura. Dikunjungilah rumah Kubja, yang keburukan tubuhnya sudah di rawat. Kubja menunggu di rumahnya siap dengan serbuk cendana yang paling bagus, lengkap dengan kalung permata dan karangan bungan indah untuk dipersembahkan kepada Krishna. Begitu melihat Krishna datang, Kubja terburu-buru bangkit dari duduknya maju menyongsong kedatangan Krishna, sedikit gugup dan malu-malu. Krishna menyambut tangan Kubja dan berkata bahwa kedatangan-Nya untuk memenuhi janji sebelumnya. Tidak lama di rumah Kubja, Krishna pun minta diri karena akan melakukan kunjungan serupa ke rumah Akrura yang sebelumnya telah diberikan tugas ke Hastinapura menemui raja buta Dhritarashtra serta ingin mendapat berita tentang keluarga Kurava dan sepupu tercinta, Pandava.

Raja Jarasandha yang perkasa mengumumkan perang dengan Yadaya
Sebelum Krishna menerima berita apa pun dari tuan rumah, banyak peristiwa terjadi di sekitar sana. Kedua istri Kamsa yang kini menjanda adalah putri Jarasandha yang perkasa, raja Magadha di sebelah timur. Sesudah mendengar berita kematian menantunya dibunuh oleh Krishna, Jarasandha bersumpah menuntut belas dan bertekad menumpas habis keluarga Yadava dari muka bumi. Memimpin pasukan yang hebat sekali, Jarasandha menggempur Mathura dari segala penjuru. Tanpa mengenal kasihan mereka membasmi apa saja, seperti obak melanda pantai. Tetapi Krishna tenang saja, sedikit pun tidak merasa risau. Bersama kakak-Nya, Balarama, Krishna mempersenjatai diri dengan senjata kahyangan dan berdiri di atas kereta, bersinar seperti surya, siap mendada musuh dan melindungi rakya-Nya, Yadava yang gagah berani. Pasukan Jarasandha bergerak dengan gagah perkasa. Sementara pertempuran berjalan seimbang. Kemudian Krishna mendetingkan busur-Nya yang luhur, sharanga, membabat habis kekuatan musuh. Gajah-gajah bergelimpangan, kereta ebrserakan, para prajurit terbunuh dan tiang-tiang bendera remuk bertaburan. Darah membanjiri melanda perisai dan pedang berhamburan. Balarama dengan kekuatan-Nya yang prima memberondong pasukan musuh yang tak terhitung banyaknya, kemudian menangkap Jasarandha, persis seperti singa menangkap singa lainnya. Ternyata kemudian, Jarasandha dilepaskan kembali. Menyesali dan malu, Jarasandha mengumumkan sikapnya untuk mengundurkan diri dari kehidupan duniawi. Ternyata kemudian, hal itu dilupakannya, pikirannya berubah, kembali ke Magadha dan bersumpah untuk siap membalas dendam. Tujuh belas kali dia mengepung kota Mathura tahun berikutnya. Tentu setiap gempurannya berhasil dilumpuhkan.

Kalayayana menyerang Yadaya :
Yadaya pindah dari Mathura ke Dravaka
Perang yang tak henti-hentinya itu terasa sekali bagi keuangan Mathura, sehingga baik rakyat maupun Krishna sendiri sedikit sekali mempunyai waktu luang.
Berdekatan dengan perang yang digencarkan oleh Jarasandha, datang lagi serbuan lain dari pihak luar, Kalayavana, yang tak tertandingi dalam ilmu peperangan. Dengan pasukannya yang berjumlah tiga ratus juta berbarian, di kepungnya Mathura secara berlarut-larut. Menyadari bahaya yang dihadapi, Krishna dan Balarama mengadakan perundingan dan mengambil keputusan untuk memindahkan seluruh penduduk Mathura ke suatu tempat yang jauh sekali. Di sana, jauh di pantai barat sekitar dua belas mil dari pantai, yang kini disebut Dravaka, mereka membangun sebuah benteng yang tkda dimasuki manusia dan tak tunduk oleh kekuatan apa pun juga. Kita itu dibangun dengan dasar cinta dan kewaspadaan, puncak gedungnya berlapis emas menyentuh langit, ruang atasnya terbuat dari abtu kristal memancarkan sinar ke segala prajuru, yang diperoleh dari persembahan semua dewa. Tetapi secepati itu Kalayavana sudah berdiri di pintu gerbang kota dengan pasukannya yang mengepung seluruh kota.

Pengejaran Kalayayana
Krishna melancarkan taktik tipu daya untuk memindahkan pengepungan pimpinan Yavana. Krishna keluar dari benteng tanpa melibatkan diri dalam pertempuran , dengan sikap yang amat menyolok, tetapi tanpa senjata. Kalayavana melihat dan menganlnya dan tentu saja segera membuntuti. Mengelak dari Kalayavana, tetapi di waktu yang sama mengarahkannya ke suatu tempat, sesudah beberapa lama dikejar kini Krishna masuk ke sebuah gua. Krishan tahu di dalam gua yang gelap itu tidurlah Raja Muchukunda yang masyhur. Tanpa curiga sedikit pun, kalayavana masuk kedalam gua. Di dalam gua samar-samar dilihatnya seorang sedang tidur di atas tanah. Kalayavana tidak berpikir panjang, dihantamnya orang yang tidur dengan dugaan itulah Krishna. Segera Muchukunda bangun dari tidurnya yang panjang dan lelap, menatap tajam si penyerang. Seketika Kalayavana handur menjadi abu, dilahap habis oleh api sakti kekuatan Muchukunda. Jauh sebelumnya, di jaman yang sangat lampau, Muchukunda membantu para dewa melawan para raksasa dan menang. Karena terlalu payah, dia hanya mohon sebuah karunai, agar bisa istirahat panjang, “ucap para dewa. “Siapa pun yang menggangu tidurmu segera ludes menjadi abu dibakar api sakit yang keluar dari tubuhmu ! Krishna mengetahui karunia ini dan dengan cerdik memanfaatkannya untuk kepentingan-Nya Sendiri.
Menyaksikan Krishna berdiri di sampingnya sambil tersenyum. Muchukunda bertanya siapa dia, karena telah tidur sekian lama. Segera Krishna memperlihatkan identitas diri-Nya. Segera Muchukunda bersujud sambil mengucapkan doa pujaan sambil mengajukan sebuah permohonan, agar dibebaskan dari lingkaran pubarbhava, bebas dari lingkaran kelahiran dan kematian yang berulang-ulang yang telah sekian lama ditempuhnya. Sesudah itu, Krishna kembali ke pasukan Kalyavana sudah jauh. Banyak sekali Krishna mengumpulkan emas permata yang diambil dari perhiasan musuh. Semuanya diserahkannya kepada Urgasena di Mathura.

Balarama Mengunjungi Vrindavana dan para gopi serta mengubah aliran Yamuna
Dalam kunjungan-Nya ke Mathura, Balarama singgah ke Vraja  melihat keluarga-Nya untuk menggugah kenangan lama dan tinggal beberapa hari “asyik dalam pusaran kasih sayang tak bertepu. “Menerima kunjungan Balarama, Vraja dilanda rasa bahagia yang bukan main besarnya. Sampai larut malam dia asyik berbincang-bincang dengan para gopa, tertawa bersama-sama sambil mengenang kembali masa kanak-kanaknya di kawasan hutan Gokula dan Vrindavana. Namun para gopi tetap “terbakar api perpisahan” dengan Krishna, dan menanyakan khabar Krishna di tengah-tengah wanita Mathura. Eskipun mereka berbicara dengan sikap irihati dan sedikit marah, namun hati sanubarinya meluap dengan kasiah sayang, karena diatas segala-galanya, Krishna adalah Govinda dan Damodaranya. Sama seperti Uddhava sebelumnya, kini Balarama juga menyampaikan salah kangen Krishna kepada para gopi yang luas tanpa tepi. Bagaimana pun juga, dengan para gopa, gembala sapi laki-laki, Balarama lebih cepat merasakan kegembiraan dan kembali lagi berkelana di seluruh kawasan Vraja, memuaskan kenangan lamanya. Ada suatu hari, tatkala berada di tengah hutan, Balarama menyaksikan cairan keluar dari sebuah pohon. Cairan itu berbau harum dan rasanya enak tetapi menyebabkan mabuk. Minuman itu sengaja ditaruh di sama oleh dewi anggur. Balarama merasa senang, mengumpulkan cairan anggur itu, membersihkannya dari pohon kedamba, sesudah itu diminumnya bersama-sama para gopa. Terasa sedikit mabuk, anggota badan Balarama keringatan berbintik-bintik kemilau seperti mutiara. Tiba-tiba Balarama berteriak memanggil-manggil Sungai Yamuna. “Hai Yamuna, kemarilah. Aku ingin mandi”. Sungai Yamuna tidak menghiraukan panggilan itu karena Yamuna menganggap panggilan itu igauan orang mabuk. Balarama pun marah, mengambil bajak-Nya, ditancapkan-Nya di tepi sungai lalu ditarik-Nya, sambil berseru : “Kau tidak menuruti perintah-ku ?” Hai sungai yang penuh lumut ? Beranikah kau menentang kehendakku ?” Sambil berkata demikian, Balarama menetapkan untuk mengajak sungai itu sekehndak hati-Nya, keluar dari aliran yang biasa, berkelana diseluruh hutan. Yamuna gemetar ketakutan, berubah bentuk menjadi manusia, mendekati Balarama, mohon ampun. Sulit sekali Balarama ditenangkan, meskipun belum seluruh kawasan hutan itu dialiri, diberikan-Nya Yamuna ampun. Dan mandilah Balarama berami-mai bersama para gopa dan gopi di sungai Yamuna.

Persiapan perkawinan Rukmini dengan Shishupala
Sementara itu, di Dvaraka, Krishna mendengar rencana perkawinan Rukmini tercinta, putri raja Bhishmaka di Kundinapura. Kakak Rukmini, yang bernama Rukmin berkeras hati untuk mempertemukan adiknya dengan Shishupala, Raja Chedi yang perkasa, sekutunya yang gagah berani. Pada hal mempelai putri jatuh hati kepada Krishna, yang kekuatan dan tingkah laku-Nya sangat masyhur ke mana-mana. Karena perkawinanya sudah diumumkan dan tidak ada harapan sama sekali, Rukmini memutuskan untuk mengirim utusan brahmana terpercaya kepada Krishna dengan pesan darurat agar Krishna datang secepat mungkin untuk menyelamatkan Rukmini. Di Dvraka, sang brahmana diantar ke tempat Krishna serta diterima dengan penghormatan surat Rukmini kepada Krishna, yang berbunyi, “dengan penuh rasa malu saya nyatakan bahwa hatiku telah terpatri kepangkuan Anda yang Abadi”. Surat itu juga memberikan informasi bahwa Shishupala beserta semua sekutunya termasuk Jarasandha sudah siap ke Kundinapura untuk menghadiri peserta perkawinan Kerajaan itu. Surat Rukmini diperhatikan Krishna dengan keseimbangan sempurna dan sesudah mendapat keyakinan penuh dari sang Brahmana yang membawa surat itu segala seluk beluk berkenaan upacara perkawinan itu, Krishan mempersilakan utusan itu kembali dengan permintaan agar Rukmini “tidak usah bersedih hati”. Dalam pada itu, persiapan perkawinan di Kundinapura berlangsung dengan penuh derap. Seluruh Jalanan di kota diperciki air kumkuma yang wangi, gapura dihias indah sehingga dari kejauhan pun sudah kentara, karena banyak raja dari berbagai tempat hadiri di sana. Krishna dan Balarama segera tiba di sana, pura-pura ikut dalam upacara yang bertuah itu. mendengarkan kedatangan Krishna, musuh-musuh-Nya mendidih kemarahan. Penduduk Kundinapura bergerombol-gerombol menyaksikan Krishna, “permata dunia”.
Begitu mereka melihat Krishna, rakyat pun berbisik sesamanya : “Hanya Rukmini yang pantas mendampingi-Nya !”

Penculikan Rukmini
Sebagai upacara permulaan sebelum perkawinan dilangsungkan, Rukmini bersembahyang di pura Dewi Ambika yang terletak di luar kota. Dalam perjalanan menuju tempat suci tersebut, yang dikawal oleh pasukan bersenjata, bersama teman-teman dan dayang-dayang, hatinya selalu terbenam memikirkan Krishna. Di pura, sementara gendering dan kerang dibunyikan dan ditiup bertalu-talu ditingkah dengan lagu-lagu yang berkenaan dengan upacara perkawinan, tiba-tiba Krishna muncul.
Disaksikan oleh semua hadirin, Krishna menangkap lengan Rukmini lalu naik ke atas kereta dengan kibaran bendera bertanda Garuda. Demikianlah, dengan tidak merasa takut sedikit pun, seperti singa menangkap mangsanya dari kerumunan serigala. Krishna segera berangkat menuju Dvaraka, meninggalkan Balarama plus angkatan bersenjatanya untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dari pihak Shispala beserta sekutunya. Mendengarkan Rukmini diculik, banyak raja merasa terhina dan naik pitam serta siap di atas kereta untuk mengajar Krishna, tetapi sia-sia, karena Krishan sudah jauh. Pasukan pengejar dihadapi oleh Balarama, dekat sebuah teluk. Terjadilah perang dahsyat yang sangat sengit. Dalam waktu yang sangat singakt bumi telah merah dibasahi darah musuh. Bahkan Jarasandha yang kokoh pun terpukul mundur. Hanya kakak Rukmini, yang bernama Rukmin sangat besar tenanganya berhasil mengajar Krishan pada saat menyeberangi sungai Narmada. Terjadilah pergulatan sengit, namun segera Krishna menghancurkan busur Rukmin serta menembaknya dengan enam panah sakti. Semau senjata Rukmin pecah berantakan. Meloncat turun dari kereta, Rukmin menghunus pedang. Tentu saja hal itu tak buahnya seperti laron menyerbu api. Tepat saat itu Rukmini mohon kepada Krishna untuk menyelamatkan jiwa kakaknya. Akhirnya Rukmin selamat jiwanya, sesudah kepala dan kumisnya digundul habis oleh Krishna.

Krishna mengawini Rukmini
Dengan selama sejahtera Krishna tiba di Dvaraka. Perkawinan-Nya dengan Rukmini dirayakan secara besar-besaran, disaksikan oleh seluruh rakyat yang dengan kagum mengikuti jalannya upacara yang luar biasa megahnya.

Pradyumna dilemparkan ke lautan oleh raksasa Shambara, ditelan seekor ikan
Pada saatnya, Rukmini melahirkan seorang anak tampan, Pradyumna, inkarnasi Kama, dewa asmara. Seorang raksasa yang bernama Shambara mengincer Pradnyumna lalu melemparkannya ke lautan. Di dalam lautan Pradnyuma dicaplok oleh seekor ikan besar hidup-hidup. Beberapa hari kemudian ikan besar itu tertangkap pelaut. Ketika ikan itu dibelah perutnya, tepat di dapur Shambara raksasa yang membuang Pradyumna ke laut, keluarkan Pradyumna tercinta. Salah seorang istri Shambara, Mayavati, tidak lain dari perwujudan Kama dalam bentuk yang lain merasa sayang kepada bayi itu.
Mayavatilah yang membesarkan Pradyumna. Kemudian atas bantuan Mayavati, Pradyumna membunuh Shambara.
Akhirnya Pradyumna, yang ahli dalam yoga dan kesaktian terbang kek Dvraka. Segera penduduk Dvraka mengenalinya sebagai Krishna kedua. Tentu saja Krishna dan Rukmini sangat berbahagia menerima “si anak yang hilang”.

Ceritera Narakasura
Dalam karier Krishna, ada lagi kejadian yang lain. Pada suatu hari, Indra, dewa surga datang menemui Krishna mengadukan raksasa Narakasura, yang meskipun tangannya sudah dihancurkan indra, tetapi terus saja menyiksa semua makhluk, menangkap pelayan para dewa, raksasa dan raja, disekapnya di sebuah tempat di kawasan istana Narakasura. Payung kebesaran deva Varuna pun dirampasnya, termasuk permata besar puncak Mandara, begitu pula anting-anting Aditi, ibu Indra, yang gemerlap seperti tetesan madu sorga. Kesombongan Narakasura demikian rupa, ucap Indra, sehingga menuntut Gajah kendaraan Indra, Airavata. Mendengarkan hal ini, Krishan bangkit dari kursi tahta-Nya, menjabat tangan Indra memberikan jaminan : siap untuk memberikan pelajaran yang setimpal kepada raksasa tersebut. Krisha memanggil Sang Garuda, naik di atas bahunya, dan terbang ke Dana RPagjyotisha, ibu kota Kerajaan Narakasura. Pragitoshapura dipertahankan kuat sekali. Di samping penjuru dibatasi dengan benteng bersenjata tinggi menjulang, dibatasi parit berair yang dalam sehingga tidak mungkin kota itu dimasuki dari segala penjuru. Api yang menyala besar dengan angin kencang mengawal kota itu di segala arah. Perangkap yang sangat kuat telah dipasang oleh para arsitek Narakasura. Tetapi Krishna, tiba di sana dengan kecepatan prahara, mengubrak-abrik benteng di sekitar Pragjyotishapura dengan gada dan cakra-Nya yang kuat perkasa. Dengan tiupan kerang-Nya yang dahsyat Krishna menantang mekanisme pertahanan Narakasura. Terjadilah perang besar antara pasukan Narakasura dengan Krishna. Mula-mula matilah jendral Narakasura dan kemudian disusul oleh anak-anaknya. Menyaksikan Krishan duduk di atas Garuda, seperti awan dihias halilintar di atas cakra matahari, Narakasura tertegun membatu.
Sejenak dia pun sadar dan dengan keras memanggil Krishan sambil maju dengan gempita, namun tiba-tiba lehernya sudah putus ditebas cakra Sudarshana. Anting-anting Aditi, Ibu Dewa Indra masih terpasang di telingganya, yang kini berguling-guling di atas tanah. Sesudah mengumpulkan semua perhiasan milik dewata lalu Krishna kembali. Terjadilah kegembiraan yang besar sekali di bumi, begitu pula di sorga dan segala pujian tertuju kepada Krishna. Dalam benteng Pragjyotishapura, Krishna menemukan tidak kurang dari enam belas ribu wanita, anak raja dan pelayan para dewa yang disekap Narakasura sejak lama. Semuanya kini dibebaskan, namun semuanya menyerahkan diri kepada Krishan dengan harapan diperistri. Krishna memenuhi keinginan mereka. Semuanya kembali ke Dvaraka.

Krishna menyelematkan permata Syamantaka dari Jambayan Raja Beruang
Pada suatu hari Krishna terlibat dalam sebuah episode yang rumit sekitar permata syamantaka, yang tak ternilai harganya. Permata itu milik Satrajit, teman intim dewa matahari. Satrajit selalu memakai permata itu di lehernya yang cemerlang demikian rupa sehingga tak seorang pun sanggup menatap wajah Satrajit. Krishna mengetahui permata tersebut, dan pernah ada suatu hari meminta agar Satrajit menyerahkan permata itu kepada Ugrasena, raja Yadava, tetapi Satrajit menolaknya. Demikianlah halnya, sehingga pada suatu hari, saudara Satrajit meminjam permata itu dan pergi berburu. Di tengah htuan saudara Satrajit diterkanm singa. Singa itu pun tidak lama memiliki permata itu, karena dibunuh oleh Jambavan, raja beruang, dalam sebuah pertempuran sengit di luar sebuah gua di kaki Gunung. Jambavan ini tidak lain dari Jambavan yang pernah mengabdi kepada Rama, inkarnasi Tuhan yang ketujuh, yang menaklukan Lanka. Memiliki permata luar biasa itu, Jambavan memberikannya kepada anaknya sebagai barang mainan. Demikianlah sementara itu tersebar desus-desus bahwa permata itu dicuri oleh Krishna. Terdengar berita yang tidak enak itu, Krishna berniat untuk membersihkan nama-Nya dari fitnah keji itu. Diajaknya beberapa orang untuk mencari permata mahal itu pada waktu Krishan masuk kedalam gua tempat tinggal Jambavan, teman-teman Krishan menunggu di luar gua. Disanalah didalam gua sangat menakutkan itu, Krishna melihat seorang anak bermain-main dengan permata itu. begitu Krishan mengambil permata dari anak itu, majulah Jambavan dengan sifat marah sekali. Terjadilah pertengkaran yang seru, sepertu dua ekor elang memperebutkan sekerat daging. Tentu saja Jambavan tidak mempan menandingi Krishna. Seluruh tubuh Jambavan remuk dan keringat bercucuran hebat sekali. Tahulah dia ini bahwa musuknya tidak lain dari Vishnu. Sebagai penyembah Rama yang masih tetap bertahta di hatinya, Jambavan bersujud kepada Krishna mohon karunia-Nya. Saat itu juga dia menyerahkan permata syamantaka berlian harganya. Permata itu milik Satrajit, teman intim dewa matahari. Satrajit selalu memakai permata itu di lehernya yang cemerlang demikian rupa sehingga tak seorang pun sanggup menatap wajah Satrajit. Krishna mengetahui permata tersebut, dan pernah ada suatu hari meminta agar Satrajit menyerahkan permata itu kepada Ugrasena, raja Yadava, tetapi Satrajit menolaknya. Demikianlah halnya, sehingga pada suatu hari, saudara Satrajit meminjam permata itu dan pergu berburu. Di tengah hutan saudara Satrajit diterkam singa. Singa itu pun tidak lama memiliki permata itu, karena dibunuh oleh Jambavan, raja beruang, dalam sebuah pertempuran sengit di luar sebuh gua di kaki Gunung. Jambavan ini tidak lain dari Jambavan yang pernah mengabdi kepada Rama, inkarnasi Tuhan yang ketujuh, yang menaklukan Lanka. Memiliki permata luar biasa itu, Jambavan memberikannya kepada anaknya sebagai barang mainan. Demikianlah sementara itu tersebar desas-desus bahwa permata itu dicuri oleh Krishna. Mendengar berita yang tidak enak itu, Krishna berniat untuk membersihkan nama-Nya dari fitnah keji itu. diajaknya beberapa orang untuk mencari permata mahal itu. pada waktu Krishan masuk kedalam gua tempat tinggal Jambavan, teman-teman Krishan menunggu di luar gua. Di sanalah dia dalam gau sangat menakutkan itu, Krishna melihat seorang anak bermain-main dengan permata itu. begitu Krishna mengambil permata dari anak itu, majulah Jamabvan dengan sifat marah sekali. Terjadilah pertengkaran yang seru, seperti dua ekor elang memperebutkan sekerat daging .tentu saja Jambavan tidak mempan menandingi Krishna. Seluruh tubuh Jambavan remuk dan keringat bercucuran hebat sekali. Tahulah dia kini bahwa musuknya tidak lain dari Vishnu. Sebagai penyembah Rama yang masih tetap bertahta di hatiny, Jambavan bersujud kepada Krishna mohon karunia-Nya. Saat itu juga dia menyerahkan permata syamantaka berhak milik Indra sejak pertama kali pohon itu keluar dari Lautan susu yang diaduk dahulu oleh para dewa. Pohon itu berkulit emas, berduan muda berwarna tembaga, sarat dengan buah yang berbau harum mewangi. Tatkala Saryabhama melihat pohon tersebut, didesaknya Krishna untuk memindahkan pohon itu ke Dvaraka, kalau Krishna memang cinta kepadanya. Katanya : “Sering sekali Anda mengatakan kepadaku, bahwa Anda mencintai-ku, melebihi Rukmini dan Jambavati !” Demikianlah Satyabhama mohon agar kebunnya di Dvaraka dihias dengan pohon parijata, memperlihatkan kepada madunya sambil menyunting bunganya di rambutnya.
Di desak seperti itu oleh Satyabhama, Krishna tersenyum dalam hati, mencabut pohon itu dari kebun Indra dan menaruhnya di ekor Garuda. Tentu saja penjaga kebun sorgan mengajukan protes kepada Krishna, karena pohon itu adalah kesayangan istri bossnya. Menerima laporan kejadian itu, Indra marah sekali dan mengerahkan pasukan pertahanan sorga untuk mengembalikan pohon itu ke temapt semula. Terjadilah pertarungan sengit dan seru yang membuktikan keunggulan Krishna, Dewa dari semua dewa, dalam membunuh dan menaklukan semwau dewa. Dalam waktu yang singat bala tentara Indra cerai berai berserakan seperti serat-serat bunga kapuk keluar dari kelopak buahnya disapu angin kencang. Garuda aktif dalam pertempuran itu dengan mempergunakan paruh, sayap dan cakarnya yang kokoh perkasa. Indra melemparkan halilintarnya yang dahsyat ke arah Krishna, tetapi sia-sia saja menghadapi cakra Shudarshana Krishna. Kesudahan pertempuran itu jelas sekali. Indra bersujud dengan rendah hati dan penuh hormat. Satyabhama terus terang mengutarakan kata hatinya, memang merasa sedikit tersinggung terhadap perlakuan tidak sopan dari Shachi, istri Indra dan tidak semata-mata menginginkan pohon parijata. Tetapi indra dengan segera menyerahkan pohon itu agar tetap ditanam dikebun Dvaraka, “Biarlah pohon ini ada di bumi selama Anda tinggal di dunia”. Desak Indra. Demikianlah Krishna kembali ke Dvaraka penuh kejayaan. Dengan lengkingan tiupan kerang-Nya, Seluruh penduduk Dvaraka bergembira ria menyongsong “jiwa” mereka. Pohon parijata ditanam di kebun Satyabhama dan baunya semerbak mewangi sejauh tiga kali dua ratus satu meter. Siapa pun yang berhasil mendekati pohon itu mendapat kesempatan untuk lahir dalam kehidupan yang lebih agung dan utama.



Krishna membunuh Nikumbha
Sekali lagi Krishna berhadapan dengan raksasa sakti. Dialah Nikumba, yang datang menemui brahmana. Brahmadatta, teman Vasudeva. Nikumbha ingin, kut serta dalam upacara suci yang dilakukan Brahmadatta dan mengawini putri Brahmadatta yang 500 orang banyaknya. Karena permintaannya ditolak, Nikumbha menghancurkan upacara yang dilaksanakan Brahmadtata dan melarikan semau putrinya. Pradyumna, anak Krishna memberikan bantuan dengan menciptakan lima ratus gadis palsu dengan kekuatan yoganya menggantikan anak-anak Brahmadatta dalam sekapan Nikumbha, dan anak-anak Brahmadatta dikembalikan kepada ayahnya. Demikianlah kesulitan bisa diatasi. Sang Brahmana mulai lagi melaksanakan upacara. Dalam pada itu, datanglah Krishna dan Aniruddha beserta bala pasukan siap melindungi upacara tersebut. Nikumbha datang lagi untuk mengacaukan upacara. Dalam pertempuran yang hebat itulah Krishna memotong leher Nikumbha dengan cakra-Nya yang spritual itu.

Ceritera Aniruddha, cucu Krishna dan Usha, putri Banasura, raja raksasa
Pada suatu hari Krishna terlibat dalam perselisihan dengan Dewa Shiva, yang disebabkan oleh Aniruddha, anak Pradyumna, cucu Krishna. Di Shonitpura bertahtalah seorang raksasa, Banasura, anak tertua Maharaja Bali. Maharaja Bali pernah berhadapan dengan Vamana, inkarnasi Tuhan yang kelima. Banasura adalah penyembah besar Shiva. Karena banyak sekali menerima karunia dari Deva Shiva, Banasura telah congkak tak terhingga. Banasura mempunyai seorang putri, bernama Usha yang demikian cantiknya sehingga bulan pun menyembunyikan sinarnya karna malu menatap wajah Usha. Suatu malam, Usha mimpi bertemu dengan jejaka putra mahkota yang tampan sekali duduk bersama dalam pelaminan. Dengan malu-malu mimpinya yang luar biasa itu diungkapkannya seara rahasia kepada Chitralekha, teman Usha, yang memiliki kesaktian yoga. Identitas yang diutarakan Usha tentang pria idamannya, sangat meragukan, “berkulit gelap, bermata seperti bunga padma dengan lengan yang panang”. Dengan dasar itualh CHitralekha melukis semua wajah dewa, gandharva, raja dan putra mahkota, untuk memastikan pria mana yang dilihat Usha dalam mimpinya. Begitu melihat protet Aniruddha, Usha berseru penuh semangat : “Ya, itu dia !” Mengetahui bahwa itu adalah cucuk Krishna, Chitralekha terbang ke Dvaraka dan menculik Aniruddha yang tidur lelap di atas tempat tidurnya yang terbuat dari intan permata kelas satu, dibawanya ke Shonitpura di hadapan Usha. Bahagia bercampur rasa malu, Usha membangunkan inkarnasi dewa asmara itu, yang dengan sendirinya kaget sekali terhadap lingkungan barunya. Tetapi cintanya kepada Usha pun tak diingkarinya, demikianlah kedua insan itu terlibat asyik masuk dalam adegan cinta yang panjang dan teguh. Betapapun juga, Aniruddha harus hidup secara rahasia di kamar Usha, takut kepada Banasura. Sekian lama telah berlalu, dan karena seluruh tingkah laku Usha berubah sekali, maka para pengawalnya pun merasa curiga. Mereka melaporkan kepada Banasura, yang segera curiga dan marah sekali. Tanpa pemberitahuan Banasura masuk ke kamar Usha untuk mendapatkan fakta. Banasura melihat teman-teman bahwa keduanya saling mencintai, diperintahkan pengawal istana menangkap Aniruddha. Ternyata hal ini tidak semudah yang diperkirakan. Akhirnya terpaksa Banasura langsung turun tangan menangkap Aniruddha dengan nagapasha, tali ular sakti. Usha sedih sekali.

Banasura takluk
Chitralekha segera melapor kepada Krishna. Segera Krishna, Balarama dan pasuka-Nya berangkat ke benteng Kerajaan Banasura. Melihat penyembahnya ketakutan seperti itu, Dewa Shiva beserta anak buahnya yang luar biasa banyaknya siap membantu Banasura. Terjadilah kontak senjata yang maha dahsyat. Tak terhitung banyaknya tentara yang gugur. Akhirnya terpaksa Krishna melepaskan cakra-Nya kepada Shiva, yang secepat kilat keluar menghindarkan diri dari ajang pertarungan itu. tetapi Banasura bertahan dengan gagah berani. Sesudah ribuan pasukannya dibantai oleh cakra Shudarshana Krishna, dan Krishna melumpuhkan semua senjata yang ditembakkan ke pasukan Yadava, barulah Banasura mohon ampun. Tepat pada saat itu, Shiva pun ikut mengetengahi sambil mengingatkan bahwa Banasura adalah keturunan Prahlada, penyembah besar Vishnu dalam wujud Narasingha, inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa. Atas permohonan ampun itu kemarahan Krishna pun reda. Selamatlah nyawa Banasura. Krishna lalu kembali ke Dvaraka bersama Aniruddha dan Usha yang dilepas oleh Banasura dengan upacara perkawinan, sesuai dengan ucap Veda. Terjadilah upacara besar di Dvaraka. Rukmini memeluk Usha diirngi nyanyian suci upacara perkawinan selama beberapa hari.

Narada mengunjungi Krishna di Dvaraka dan Heran terhadap Kekuatan-Nya yang luar biasa.
Di Dvaraka Krishna menempuh kehidupan keluarga yang berbahagia. Dengan banyak istri, Krishna menempuh kehidupan sehari-harinya dengan penuh bahagia, dikerumuni cinta dan pengabdian. Pada suatu hari berkunjunglah resi Narada ke Dvaraka ingin menyaksikan dari dekat bagaimana Tuhan melaksanakan urusan hidupnya sehari-hari. Di perbatasan Dvaraka, Narada kagum melihat keindahan kota dan istana Krishna, yang berlimpah dengan kebahagiaan di mana-mana. Narada masuk kediaman Rukmini untuk bertemu dengan Krishna. Di sanalah Krishna duduk di atas nursi emas didampingi permaisuri, dikpisai dengan bulu ekor sapi bertangkai emas, dalam lingkungan yang serba memukau indahnya sehingga sangat sulit dibayangkan. Melihat Narada masuk, Krishna bangkit dari tempat duduk-Nya dan bersujud penuh hormat kepada sang resi. Sejenak mereka berbicara, dan sesudah bersujud kepada Krishna, Narada pun minta diri. Selanjutnya Narada masuk ke kediaman Satyabhama. Ditemuinya Krishna sedang asyik bermain dadu bersama Satyabhama. Melihat Narada masuk, Krishna berdiri, sujud kepada sang resi sambil menyodorkan tempat duduk yang mewah. Menanyakan keselamatannya, Krishna berkata : “Kapankah anda datang, O resi yang mulia ?” seolah-oalh Krishna tidak tahu kedatangan Narada. Heran dan kagum luar biasa, Narada pun bangun dari tempat duduknya, minta diri tanpa berkata sepatah kata pun, dan pergi ke istana istri Krishna yang lain. Disana dilihatnya Krishna sedang bermain-main dengan anak-anaknya. Kemana pun Narada pergi, dilihatnya Krishna sibuk dengan aktivitasnya yang berbeda-beda. Di sebuah istana dilihatnya Krishna sedang mandi, di istana yang lain sedang melaksanakan upacara pemujaan api suci. Dilihatnya Krishna ada di mana-mana dalam saat bersamaan, ada yang sedang melakukan upacara api suci, sedang menjamu para Brahmana, menggembalakan sapi, kuda, Gajah, mempersiapkan perang, berunding dengan para konsul-Nya, mendengarkan ceritera bertuah yang terdapat di dalam Purana, duduk sendirian dalam meditasi yang khususk. Tidak ada istana tanpa Krishna. Menyaksikan Kehebatan yoga Tuhan, Narada berteriak keras-keras : “O Tuhan Yang Maha Esa ! Penguasa seluruh yoga ! kekuatan maya-Mu tak terpikirkan”. Saat itu Krishan pun muncul di depan Narada, kata-Nya : “Narada ! janganlah bingung. Kekuatan maya-Ku memenuhi seluruh ciptaan, bahkan memukau-Ku juga !” Sesudah menerima karunia Krishna, Narada mohon diri.
Kehidupan Krishna penuh dengan kebahagiaan. Berhari-hari dia bercanda dengan istri-Nya yang tak terhitung banyaknya di istana-Nya yang luar biasa gemulai, kecantikannya mempesona apsara sorga. Terawa dan bercanda, dada Krishna senantiasa penuh dengan serbuk cendana berwarna kuning berasal dari buah dada para permaisuri-Nya pada waktu memeluk Dia. Ketika musim panas tiba, Krishan asyik bermain-main di kolam rennag istana, yang airnya bening mengkristal, penuh dengan serbuh tepung sari padma berwarna-warni. Krishan basah kuyup ditempat air oleh para permaisuri-Nya, diiringi derai tawa dan godaan cumbu rayu. Sebaliknya entah darimana datangnya, Krishna pun membalas dengan semprotan air kepada para istri-Nya dengan jumlah yang banyak sekali.  Mengherankan, Kalau sudah demikian, keindahan bentuk tubuh para istri-Nya, pahanya yang mulus, dadanya yang indah dan pinggangnya yang ramping serta bokongnya yang besar dan bulut nampak mempesona, karena pakaian mereka basah kuyup. Merekpun beramai-ramai mengajar Krishna di dalam air dna memeluknya. Gairah cinta dan kebahagiaan meresap di seluruh Dvaraka.
Sudama Berkunjung ke Istana Krishna
Krishna menyediakan waktunya untuk teman-teman, meskipun berasal dari rakyat miskin paling rendah yang datang ke rumah-Nya. Salah seorang teman sepermainan-Nya waktu kecil, Sudama datang berkunjung, Sudama, seorang brahmana, pikirannya bersih dan tulus, yang sepenuhnya mengendalikan diri dalam arti kata yang sebenarnya. Kehidupannya sangat suci dan tentu saja sangat melarat. Sudah kawin tinggal di dan di sebuah gubuk yang luar biasa sederhananya. Pakaiannya Cuma yang melekat di badan, kadang-kadang makan kadang-kadang tidak. Suatu hari istrinya bertanya, apakah Sudama tidak ada niat berkunjung kerumah Krishna, teman masa kecilnya, yang menurut kabhar kini sudah menjadi raja besar dengan kemewahan tak bertepi. “Krishna tentu maklum keadaan kita dan siapa tahu, barangkali ada nasib baik sehingga dia ringan tangan membantu kita,” kata istrinya. Dengan permohonan seperti itu dari istrinya, meskipun sedikit enggan, Sudama setuju bertamu ke Dvaraka menemui Krishn,a sekedar untuk bertemu pandang dengan Tuhan Yang Maha Suci. Supaya tidak datang dengan tangan kosong, istrinya mempersiapkan sekedar beras remuk, hasilnya mengemis di toko penjual beras, dibungkus dengan kain kumal, sebagai oleh-oleh untuk Krishna. Dengan mengepit bungkusan itu di ketiaknya, berangkatlah Sudama yang sopan itu ke Dvaraka, sambil memikirkan cara agar bisa masuk ke istrana untuk bertemu dengan seahabat karibnya. Begitu tiba di sana, Sudama tidak sulit masuk ke istrana. Saat itiu Krishna sedang santai bersama Rukmini. Melihat kedatangan sang Brahmana dari kejauhana, Krishan segera bangkit dari tempat duduk-Nya dan maju menyongsong tamu-Nya. Tahu bahwa tamu itu tidak lain Sudama teman-Nya semasa kecil, dengan gembira Krishna memeluknya dengan sangat akrab ; keduanya saling berurai air mata karena kangen. Diantarkan-Nya padma ke tempat duduk Krishna. Sesudah Sudama duduk, dicucuinya kakinya oleh Krishna. Air pencuci Brahmana itu dipercikkan-Nya ke atas kepala Krishna. Lalu dijamu-Nya Sudama makan, juga dikipasi langsung oleh Krishna sendiri dengan kipas bulu ekor sapi khusus yang dipakai-Nya sehari-hari. Menyaksikan adegan itu, para penghuni istana herna sekali sambil berpikir di hatinya masing-masing, perbuatan luhur apakah yang dilaksanakan oleh brahmana kurus itu sehingga memperoleh perlakuan seperti raja besar. Hal itu tidak diperhatikan oleh Krishna. Bahkan Krishan asyik sekali berbincang-bincang dengan Sudama panjang lebar dan lama, tentang masa lalu mereka berdua, di ruang belajar Krishna, tatkala Krishna berguru. Dalam pembicaraan itu, kedua tangan Sudama di pegang oleh Krishna dengan mesra dan lembut. Demikianlah pertemuan itu berla ngsung, tak buahnya seperti kedatangan tamu besar. Kemudian, Sudama Krishna pun bertanya sambil bermain-main,” Apakah gerangan yang dibawanya itu ?” Melihat Sudama sedikit malu, langsung saja Krishna meraih bungkusan itu dan membukanya. Melihat isinya segenggam beras remuk, Krishna senang sekali dna demikianlah beras itu pun dikunyah-Nya dengan nikmat. Setiap penghuni istana bertambah kagum. Malam tiba dan Sudama disediakan sebuah kamar untuk bermaam. Keesokan harinya, Sudama siap untuk mohon diri sesudah sehari dijamu sebagai raja besar oleh Krishna yang luar biasa itu. bagaimana pun juga, Sudama yang miskin itu tidak berani meminta apa pun kepada tuan rumah dan merasa puas sempat bertemu dengan Krishna. Baginya itu saja sudah lebih dari cukup. Krishna melepas tamu-Nya itu sampai di gerbang istana. Dengan pikiran seperti itu, Sudama tiba di rumahnya sendiri. Ternyata dia bingung sekai, karena sama sekali gubuknya sudah tidak ada lagi. Di atas tanah tempat gubuknya berdiri kini sudah menjadi istana bertingkat, cemerlang seperti matahari, dikelilingi parit di segala penjuru. Di sebelah istana itu terbentang sebuah taman lengkap dengan burung-burung berkicau merdu. Banyak pelayan, laki-perempuan siap memberikan pelayanan. Tidak percaya dengan penglihatannya, Sudama berdiri tertegun, heran dan takjud. Ternyata kedatangan Sudama diperhatikan oleh istrinya dan segera menyongsongnya dari dalam istana. Penuh cinta dan rasa ingin tahu, disambutnya tangan Sudama dan diantarkannya ke dalam istrana yang besar itu, yang temboknya terbuat dari kristal murni bertahtakan mutiara sehingga terang dengan sendirinya karena sinarnya. Semua ini terjadi seperti dalam mimpi, tetapi Sudama dna istrinya maklum, itulah hadiah dari Krishna. Tanap berkata sepatah pun, Krishna telah mengetahui maksud kedatangan Sudama, dan memenuhinya.

Pertemuan Krishna dengan para Gopi di Kurukshetra
Pada waktu Krishna dan Balarama tinggal di Dvaraka terjadilah gerhana matahari total. Itulah saat yang khusus bagi setiap orang untuk datang ke tempat suci Kurukshetra, mandi di sungai suci dalam saat gerhana berlangsung. Krishna datang ke Kurukshetra bersama rombongan yang besar terdiri dari para permaisiuri, anak-anak dan cucu-cucu-Nya. Berkumpulah di sana keluarga Yadava yang besar. Setiap orang sibuk menyucikan diri dengan mandi selama terjadi gerhana sambil menyerahkan hadiah kepada para Brahmana. Mendengarkan berita kehadiran Krishna di sana, raja-raja dari keempat penjuru datang ke sana bersama sanak keluarganya. Begitu pula Nnada beserta para gopa dan gopi. Di sanalah mereka menatap Krishna sepuas-puasnya. Semuanya saling berpelukan, suara tersendat-sendat karena luapan emosi, tersalur dalam ekspresi tubuh. Vasudeva dan Devaki bertemu dengan Nanda dan Yashoda. Sambil berlinang air mata, Krishna bersujud ke semua orang tua-Nya. Para gopi tak dan berkata sepatah kata pun, saking bahagianya bertemu dengan Krishna, tokoh pujaannya. Krishna berbicara kepada mereka, mengingatkan kenangan bahagia masa lalunya ketika masih bersama-sama di kawasan Vrindavana. Betapapun juga, Krishna ingin memberikan secuil kebenaran mutlak itu kepada mereka. Diungkapkan-Nya sendiri betapa besar-Nya masih sayang Krishna kepada mereka, namun semuanya itu tak dapat mereka pahami, meskipun nilainya tak tepermanai luhurny.a kemudian dia berkata : “O para gadis Vraja yang tercinta, seperti unsur-unsur ruang angkasa, udara api, air dan tanah membentuk seluruh kehidupan di jagat raya ini awal dan akhir semua objek material, akulah awla dan akhir segala sesuatu yang meresap di mana-mana, di luar dan di dalam”. Dengan kata-kata seperti ini Krishna memberikan upacara diksa kepada gopi untuk bisa menghyati misteri kehidupan dan melalui keditasi kepada Krishna para gopi mengatasi belenggu badan jasmaniah, badan halus berupa pikiran, kecerdasan ego dan waktu sehingga mencapai keabadian bersama Krishna, Pribadi Tuhan Yang Maha Esa.

Krishna menghidupkan kembali anak-anak Vasudeva dan Devaki yang lain
Pada saat itulah Krishyna menghidupkan kembali Keenam anak Vasudeva yang lain. Dengan demikian selamatlah mereka dari kutukan Brahma dan sesudah bersujud kepada orang tuanya, Vasudeva dan Devaki, mereka pun naik ke sorga.

Permusuhan antara Kaurava dengan Pandava
Selama pemerintahan-Nya di Dvaraka, salah satu yang menjadi perhatian-Nya ialah kesejahteraan Pandava, lima pahlawan besar Mahabrata, saudara sepupu-Nya. Hubungan sepupu itu terjadi karena ibu dari ketiga bersaudara Pandava yang lebih senior, Yudhisthira, Bhima dan Arjuna, tidak lain adalah Kunt, adik Vasudeva, jadi bibi Krishna. Sejak masih di Mathura, dan kemudian dari Dvaraka, Krishan selalu mengirimkan utusan untuk mengetahui keadaan bibi-Nya, tetapi pertemuan antara Pandava dengan Krishna terjadi sesudah memakan waktu yang cukup lama. Ayah Pandava sudah lama meninggal dan kerjaan yang luas itu diperayakan kepada pamannya, Dhritasarshtra yang butak sejak lahir. Kekuasaan yang sebenarnya ada di tangan Duryodhana, putra sulung Dhritarashtra yang sangat sombong dna perkasa, dibantu oleh adik-adiknya serta orang-orang kepercayaanya. Duryodhana sangat khawatir akan kedudukan dirinya. Secara sah Pandava yang berhak atas kedudukan dirinya, tetapi Duryodhana sangat iri kepada mereka sejak masa kanak-kanak, khususnya kepada Arjuna dna Bhima, pemegang busur dan gada termasyhur, yang melebihi kemampuan Duryodhana. Karena itulah tak henti-hentinya Duryodhana bersekongkol untuk membasmi mereka dengan berbagai cara. Usaha-usahanya tidak kepalang tanggung bengisnya, sampai-sampai di luar batas perikemanusiaan. Pada suatu hari, pernah Duryodhana melancarkan tipu daya pembunuhan kepada semua Pandava termasuk ibunya, Kunti dalam sebuah rumah lilin di dalam hutan, yang sayan sekali bocor diketahui oleh Vidura, Paman Durgodhana, yang sangat sayang kepada Pandava. Berkali-kali rencana jahat Duryodhana, menimpa Pandava sehingga Pandava pun sadar tidak diterima baik di istana Dhritarashtra, Pandava pun berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Arjuna memenangkan sayembara Draupadi dengan menembak Mata Ikan yang Berputar
Dalam perjalanan yang penuh bahaya dan dalam keadaan menyamar, tibalah mereka di Kerajaan Drupada. Dalam perlewatan yang rumit, Arjuna berhasil memenangkan sayembara putri Draupada, Draupadi yang bermata indah seperti mata kijang kencana.
Arjunalah satu-satunya peserta yang mampu membidikkan panah tepat mengenai mata ikan yang berputar di langit-langit ruang sayembara, dengan melihat bayangan ikan di dalam sebuah tempayan penuh berisi air di lantai ruangan. Dalam upacara sayembara itulah untuk pertama kalinya Krishna melihat Bhima dna Arjuna, di tengah-tengah kehadiran para mahkota yang gagah perkasa. Semua Pandava saat itu muncul sebagai Brahmana. Pandava berhasil mengalahkan para peserta sayembara yang menyerbu raja Draupada dengan tuduhan sayembara itu tidak jujur. Melihat ketangkasan dan kecerdasan Pandava menguyasai musuh, Krishna dengan tepat menduga, tentu mereka itu anak-anak Kunti, bibi Krishna. Tepat di sana dalam peran sebagai penasehat bijaksana, sebuah peran yang dengan sempurna juga dilakukan-Nya kemudian, Krishan berkata kepada hadirin, menanyakan pendapat sang dewi dengan salah satu pertimbangan. Mendengar jawaban Draupadi terhadap jalannya sayembara Krishan berkata, bahwa “sang putri telah dimenangkan secara sah “Sesudah itut Krishna berkunjung ke tempat Pandava menginap, bertemau dengan yang muliah Yudhisthira. Pandava sangat gembira bersua dengan Krishna dan herna sekali bagaimana Krishan bisa mengikuti pengembaraan dan penyamaran Pandava yang demikian berbelit itu. krishan tersenyum sambil menjawab : “O raja, meskipun tersembunyi, api selalu kentara. Siapakah selain Pandava yang bisa memenangkan sayembara demikian rupa persyaratannya ?” Sesudah memberikan doa restu kepada para Pandava, Krishna mohon diri bersama Balarama.

Krishna menjadi Sekutu Pandava dan mengawinkan adik-Nya dengan Arjuna
Pada waktunya, Krishna menjadi Sekutu Pandava yang dekat sekali, bahkan menjadi penasehat tetap Pandava. Khususnya Krishna dekat sekali dengan Arjuna, persis seperti hubungan Nara dan Narayana, resi agung inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa, Vishnu Sendiri. Bahkan Krishna mengawinkan Subhadra, adik-Nya dengan Arjuna, yang pertama kali bertemu pandang dalam perjalanan suci yang panjang, dan jatuh hati keras sekali.

Pandava pindah ke Indraprastha
Dalam pada itu, paling tidak untuk sementara, atas pertimbangan Vidura, Dhritarasthra yang tua setuju berdamai dengan Pandava dengan menyerahkan separo Kerajaan. Yudhistira memilih Indraparastha sebagai pusat pemerintahan. Dibangunlah di sana istana mewah dan besar dan disusun persiapan Sehubungan dengan penobatan Yudhistira, Pandava yang tertua. Biasanya Krishan tentu hadir, tetapi saat itu dia masih ada sedikit urusan dengan Jarasandha, yang tetap bersikap tindak tinduk Jararasandha, yang sampai kepada Krishna. Demikianlah Krishan ingin menyelesaikan kemelut itu dengan tuntas. Tetapi, untuk langsung bertempur dengan Jarasandha, Yadava merasa enggan karena biayanya sangat mahal. Akhirnya disusunlah sebuah siasat : Jarasandha ditawar untuk perang tanding. Rencana itu sudah mantap dan Krishna pun berangkat menuju Indraprastha.

Persiapan Rajasuya, Upacara Kerajaan
Di Indraprastha, Krishna disambut dengan segala keagungan dan penuh hormat oleh Yudhistira dan Pandava, sambil saling berpelukan. Seluruh Kota berpesta pora. Rakyatpun berlomba-lomba untuk menyaksikan Krishna, jiwa alam semesta. Di hadapan seluruh rakya,t Yudhistira mengumumkan niatnya untuk menyelenggarakan upacara yang paling utama, rajasuya dan sebagai penghormatan yang paling tinggi, pimpinan upacara diserahkan pada Krishna. Yudhistira berkata kepada Krishna : “O Govinda, Pribadi Tuhan Yang Maha Esa ! Saya mempersembahkan kehormatan ini kepada-Mu dalam pelaksanaan upacara rajasura nanti. Semoga Anda senang membantu kami dalam mewujudkan kerja keras ini”. Krishna menerima kehormatan itu, dengan memberitahukan Yudhistira, bahwa “pilihannya tepat sekali, karena hal itu akan menyebarluaskan keharuman Pandava ke seluruh jagat”. Kemudian ditetapkan untuk mengirim adik-adik Yudhistira ke seluruh penjuru mata angin untuk menaklukan seluruh dunia, sebagia pelengkap upacara rajasuya. Krishna, Bhima dan Arjuna menyamar sebagai brahmana berangkat ke Ibu Kota Magadha, bersua dengan Jarasandha.

Bhima bertanding dengan Jarasandha
Jarasandha selalu murah hati kepada brahmana. Kepada brahmana khusus ini, dia pun berkata, “silakan apa yang kalian inginkan, saya siap memenuhi. “Terhadap tawaran murah hati seperti itu Krishna berkata bahwa sebenarnya mereka bukan Brahmana, tetapi ksatriya yang sengaja datang untuk berperang tanding. Mereka membuka kedok penyamarannya dan minta agar Jarasandha bertanding dengan Bhima. Yakin akan kekuatannya. Jarasandha menerima ajakan itu dan menyerahkan sebuah gada besar kepada Bhima dan sebuah lagi untuk dirinya dan perang tanding pun siap dimulai. Sesuidah ada di luar kota, dalam sebuah arena khusus untuk itu, kedua musuh bebuyutan itu pun sibuk dalam kontes yang sangat menengangkan. Dengan perisai diri kanan dan kiri, terjadilah tindakan saling serang dan saling balas yang dahsyat. Tentu saja adegan itu merupakan kejadian yang luar biasa. Suara gada saling berbenturan terdengar gemuruh memenuhi angkasa. Dua puluh tujuh hari perang berlangsung dengan tidak ada kepastian siapa yang keluar sebagai pemenang. Mengetahui bahwa Jarasandha hanya bisa dibunuh dengan merobek tubuhnya dari pangkal paha, dengan hati-hati Krishna menyampaikan rahasia itu kepada Bhima, dan demikianlah keesokan harinya, Bhima menghantam paha Jarasandha. Jarasandha jatuh lunglai ke tanah. Dengan sigap Bima menangkap kaki kiri Jarasandha. Kaki kanannya diinjak Bhima, dan demikianlah dengan sekali tarik, matilah Jarasandha, dirobek tubuhnya oleh Bhima, seperti Gajah membelah cabang pohon tebu. Atas kematian Jarasandha, sebagian rakyatnya bersedih, tetapi sebagian lagi merasa lega. Raja-raja yang disekap dibebaskan dari ruang tahanan di bawah tanah, ratusan jumlahnya. Mereka pun ikut bersama Bhima dan Arjuna.

Rajasunya upacara penobatan dilangsungkan
Sekarang kita kembali ke Indraprastha. Di sana perlengkapan upacara Rajasuya sudah komplit. Timbunan hadiah menggunung untuk diserahkan kepada para Brahmana yang sudah diundang. Pada hari persembahan air soma, upacara pun dimulai oleh Yudhistira dengan sepenuh hati. Kemudian dia menyatakan kembali pernyataannya untuk mempersembahkan kehormatan tertinggi kepada Krishna, “Tuhan dan pemimpin Yadava. “Krishna bukan sekedar tokoh utama, tetapi Pribadi Tuhan Yang Maha Esa, termasuk Ruang dan Waktu”, upaca yudhistira. Hadirin menyambut pernyataan Yudhistira itu dengan baik, lalu Yudhistira maju untuk mencuci kaki padma Krishna sebagaimana mestinya. Tiba-tiba, bangkitlah Shishupala, pacar Rukmini yang ditinggal kawin bersama Krishna, mengangkat tangan dan berbicara kasar di tengah-tengah hadirin”. Bagaimana seorang gembala sapi, bisa menerima penghormatan setinggi itu ? Mengapa burung gagak di berikan kemuliaan seperti itu ?” ujar Shishupala lantang, jelas sekali melampiaskan rasa marah dan dendam kesumatnya. Shishupala maju dengan tuduhan keji kepada Krishna langsung memuntahkan seluruh rasa dongkolnya di depan Krishna. Krishna di luar semua kasta, kata Shispula,a tidak termasuk kasta mana pun dan kelahiran-nya tidak terhormat. Kelakuannya tidak senonoh dan sering tanpa alasan, serta tidak ada nilainya sama sekali. Mengapa orang seperti itu diberikan pemujaan ?”.


Shishupala dibunuh
Kata-kata Shishupala bergema di ruang sidang mulia itu. semua hadirin menutupi telingga supaya tidak mendengar cacian yang meremehkan Krishna. Tidak tahan mendengat fitnah kasar dan keji itu, Pandava serentak maju dna segera Shishupala mencabut pedang. Tepat saat itu, Krishan berdiri dan menahan semua orang, kata-Nya : Biarlah cakra Shudarsana yang memengal kepala Shishupala.” Lalu seperti meteor jatuh ke bumi, secercah sinar lembut keluar dari dada Shishupala meloncat ke ujung tumit padma Krishna” Bahkan orang yang dilanda benci dan marah pun, bisa bebas dari rantai kelahiran dna kematian jika dia disentuh oleh Krishna. Sesudah itu rajasuya berlangsung dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Nampak Yudhistira cemerlang seperti Indra, pemimpin para dewa ini di depan sidan para Brahmana dan Ksatriya yang berkumpul di sana.

Judian yang pertama
Sementara setiap orang memuji Yudhistira karena keagungan upacara rajasuy,a Duryhodana digergoti irihati. Kembali ke Hastinapura, dia tidak sanggup melupakan arti upacara yang disaksikannya di indraprastha, termasuk ejekan tertawa adik-adik Yudhistira kepada dirinya, dalam peristiwa tersebut. Istana Pandava banyak sekali berisi tipu muslihat yang dengan sempurna ditata oleh ariteknya. Pertama-tama Duryodhana keliru melihat lantai kolam yang transparan, lalu jatuh masuk air basah kuyup, yang dikiranya lantai marmer berbunga-bunga padam mekar berwarna-warni. Melihat Duryodhana yang agung terjebak seperti itu, semua Pandava, khususnya Drupadai tertawa kecil, menganggap lucu. Duryodhana tersingung dna bersumpah untuk membalas dendam. Dengan bantuan pamannya, Shakuni, ahli main judi, Duryodhana merancang sebuah rencana terinci untuk Pandava yang rendah hati. Dia tahu Yudhistira berwatak luhur, sedikit berminat dalam perjudian, tetapi tentu saja tidak senonoh kalau dipasang dengan Shakuni yang memang ahlinya. Demikianlah Yudhistira diundang untuk pertandingan judi persahabatan yang memang dirancang demikian rupa sehingga Yudhistira merasa terlanjur mempertaruhakn segala kekayaannya dan kalah dalam pertandingan yang dilangsungkan di balai rung Duryodhaan yang bertiang seribu, aula kolosak khusus dibangun untuk keperluan itu. bukan Kerajaan dan segala kekayaannya saja yang dipakainya taruhan, tetapi semua adiknya, dirinya sendiri, bahkan juga Draupadi yang berpinggang langsing itu.

Penghinaan Drupadi
Itulah saat yang manis sekali untuk melampiaskan dendam kesumat Duryodhana. Sebagai puncak penghinaan kepada Pandava, yang kini duduk lunglai, Duryodhana menyuruh Duhshasan menangkap Draupadi ke tengah arena, sambil memperlihatkan pahanya sendiri. Dengan menjambak rambutnya, Draupadi pun diseret ke tangah aula. Mulailah Dushana menelanjangi Draupadi di depan hadirin yang diam membatu. Segera hujan protes bergema, tetapi Pandava diam saja karena seluruh haknya sudah hilang. Melihat Duhsahana semangat sekali menelanjangi Draupadi, Pandava menahan diri dengan mengkatupkan gigi-giginya. Drupadi, yang tidak pernah muncul di depan publik kecuali pada waktu svayamvara, manangis keras mohon bantuan Krishna yang berkulit gelap, yang kini entha dimana, agar datang memberikan perlindungan-Nya justru dalam keadaan yang sangat mendesak. Isak permohonan Draupadi bergema di sleuruah ruangan dan tiba-tiba terjadialh keajaiabn. Sari yang dipakainya semakin panjang tak habis-habisnya. Setiap orang herna, karena ujung sari Druapadi tidak muncul-muncul, sedangkan tumpukan kain sudah memenuhi ruangan di tengha sidang. Memang, Krishna telah ikut campur ! Akhirnya Duhshasana payah dna bingung, melepaskan niat jahatnya lalu duduk termangu. Sebelum drama itu berakhir, Bhima, si pemakan yang lalap dna pelaku tugas-tuga hebat bersumpah agar suatu hari di masa depan akan menghancurkan paha Duryodhana yang diperlihatkan sehingga menyebabkan Draupadi terhina seperti itu.


Permainan dadu yang kedua, menyebabkan Pandava terbuang
Terjadilah hal yang paling buruk untuk Pandava. Mereka dibebaskan. Tetapi diundang sekali lagi oleh Duryodhana untuk perjudian yang kedua. Taruhannya, yang kalah terbuang dua belas tahun ditambah setahun penuh dalam persembunyian. Tentu saja Pandava kalah. Demikianlah mereka melepaskan pakaian Kerajaan menggantinya dengan kulit rusa dan masuk hutan. Satu-satunya teman mereka saat itu dan seterusnya hanya Krishna. Dalam tahun-tahun tersebut banyak sekali pengalaman ynag menimpa Pandava, namun dapat mereka atasi dan jaya dalam pembuangan. Akhirnya tibalah saat berbahagia, Pandava meminta Hastinapura dan menuntut Kerajaan dari Duryodhana.

Persiapan Perang Besar
Disaksikan oleh Krishna, rencana-rencana terwujud. Teman-teman Pandava menyakinkan bahwa Duryodhana tidak mau menyerahkan hak mereka. Bahkan Kaurava telah mempersiapkan perang dan mencari Sekutu. Ada pula pihak yang secara sukarela menjadi utusan perdamaian ke pihak Duryodhana. Dengan kecerdikan-Nya yang sangat menonjol, Krishna menasehati kedua belah pihak. “Jika para pimpinan Kaurava setuju berdamai, “ ujar Krishna” tidak terjadi bencana antara persahabatan Kaurava dan Pandava. Jika tetap sombong dan tolol, maka marilah sama menari Sekutu”.

Duryodhana dan Arjuna mohon bantuan Krishna dalam Perang Besar nanti
Terjadilah kegembiraan yang sangat besar Sehubungan dengan akan terjadinya perang secara besar-besaran yang tak pernah terjadi sebelumnya. Kedua pihak mengadakan konsolidasi teman-teman lama dan mencari Sekutu baru. Duryodhana pergi ke Dvaraka untuk meminta bantuan Krishna sebagai Sekutu. Pada hari yang sama Arjuan pun tiba untuk mohon bantuan atas nama Pandava, secara resmi. Keduanya bersmaaan masuk istana dan saat itu Krishna sedang tidur siang. Sambil menunggu, Duryodhana duduk di atas kursi bagus dekat kepala Krishna. Arjuna dengan tangan tercakup di dada berdiri dengan sikap sujud dekat kaki padma Krishna menunggu beliau bangun. Tatkala Krishna bangun, jelas yang pertama kali dilihat-Nya ialah Arjuna dan baru kemuduian Duryodhana. Setelah mengetahui maksud kedatangan mereka berdua dan tentu saja setelah selesai upacara penyambutan sebagia adat Kerajaan, Krishna mengatakan karena Arjuna yang pertama kali dilihat-Nya, maka ialaha menjatuhkan pilihan pertama kali. Karena kedua minta bantuan, Krishna pun setuju memberikan bantuan, tetap merekalah yang harus memilih : sepuluh juta gopa yang siap tempur atau Krishna sendiri tanpa senjata dan tidak ikut bertempur. Pilihan pertama disodorkan kepada Arjuna, yang sedikit pun tidak sangsi dan ragu untuk memilih Krishna sebagai sekutunya. Duryodhana memperoleh pasukan Dvaraka seluruhnya, dan gembira sekali karena memperoleh sepuluh juta tentara. Setelah Duryodhana mohon diri, Krishna bertanya kepada Arjuna : “Duhai putra Kunti, mengapa engkau memilih-ku, pada hal aku tidak aktif dalam perang ?” Arjuna tersenyum sambil menjawab : “Sejak lama aku merindukan engkau sebagai sasi keretaku dan semoga kerinduanku tercapai. “Arjuna pun menjelaskan bahwa tidak sekedar memegang tali kekang kereta. Tetapi hendaknya Krishna membimbing pikiran, kata-kata dan perbuatan Arjuna seutuhnya.

Krishna Duta
Krishna bertindak sebagai utusan Pandava ke istana Kaurava. Kedatangan-Nya disambut meriah. Semua rakyat berkumpul mengelu-elukan pahlawan yang bermata padma memasuki istana Dhritasarasthra yang berwarna abu dapur. Tetapi suasana di dalam istrana sangat berbeda. Diterima dengan hroamt dan duduk di depan sidang kerjaaan yang agung, Krishna berkata dengan suara dalam penuh kepastian : “Aku datang untuk mencari perdamaian di antara Kauvara dan Pandava, tanpa bertumpaahn darah setetes pun di kedua belah pihak”. Kepada Dhristarashtra Krishna berkata penuh kebijaksanaan dan perdamaian. Mengingatkan bahwa anaknya telah berbuat kejam dan licik, tidak mematuhi pertimbangan moralitas dan aturan pergaulan dunia, Krishna berkata : “Serahkanlah bagian hak Kerajaan sesuai dengan warisan leluhur kepada Pandava dan hiduplan tenteram dan damai bersama anak-anakmu. Bagiku, O Bharata, aku ingin engkau sejahtera, begitu pula yang lain-lainnya”. Tetapi Dhritarasthra tidak sanggup mengendalikan anaknya, Duryodhana yang berkata kasar kepada Krishna, dengan mengatakan bahwa Pandava tidak akan memperoleh apa pun dari Kauvara, meskipun Cuma secuil tanah sekedar untuk mengubur sebatang jarum. Melepaskan amarah-Nya, dengan mata merah Krishna berbicara kepada Duryodhana : “Adalah keinginanmu untuk mati sebagai pahlawan dan itu akan segera terjadi. “Terjadi ketegangan yang lenggang di dalam istana. Kemudian Duryodhana telah siap untuk menangkap Krishna dan para petugas pun serentak maju. Tiba-tiba Krishan tertawa keras sekali dan berbarengan dengan itu badan-Nya pun membesar dan membesar serta memancarkan sinar cemerlang memenuhi ruang sidang yang besar itu. setiap hadirin terpukau kagum. Tak seorang pun berani bergerak. Lalu sesudah mengajak teman-teman-Nya untuk membantu Pandava, Krishna keluar dari ruang sidang Kaurava, segar bugar. Segala sesuatu kini sudah jelas. Hanya ada satu jalan yang terbuka. Dengan gagalnya misi Krishna ke Kaurava, cepat sekali terjadi pengelompokan pasukan, kereta, Gajah dan kuda. Angkasa penuh dengan gemap tiupan suara kerang dan derap pasukan yang menggebu maju menuju medna laga, seperti deru ombak menerjang pantai. Pandava memiliki empat puluh ribu kereta, dua ratus ribu kuda, sepuluh kali banyak pasukan infrateri dna enam puluh ribu Gajah. Di antara mereka terdapat para prajurit besar dan Gajah berani, para raja yang masyhur keberanian tempurnya dna para prajurit yang tak tertandingi kekuatnanya. Kaurava Memimpin sebelas akshauhini dan dengan alasan yang dapat diterima Duryodhana mengawasi pasukan yang besar itu dengan penuh kebangaan, karena dipihaknya berdiirlah para kesatria terhormat, Bhisma yang besar, kakek Pandava dan Kaurava, Drona yang tak terkalahkan, Karna dna juga lain-lainnya. Udara sudah penuh dengan bau pembunuhan besar-besaran. Perang saudara yang sangat besar Mahabhrata segera dimulai.

Perang Besar ; Bhagavad Gita : Krishna sebagai sais Kereta Arjuna
Pada hari pertama, pasukan yang amat besar ditempatkan di masing-masing pihak. Suasana gemuruh dengan suara tiupan kerang yang gemuruh, begitu pula gendering dan terompet. Di pihak Pandava, berdirilah Arjuna yang perkasa di atas kereta perkasa di tarik oleh empat ekor kuda putih, dengan Krishna sebagia saisnya. Semuanya sudah siap dimulai. Tiba-tiba, sesudah melihat anak-anak Dhritarasthra dipihak musuh dna menyaksikan tokoh-tokoh terhormat di pihak Kauvara seperti Bhisma, Dronacarya guru mereka dan yang lain-lainnya, ayah, kakek, paman, saudara, anak cucuk dan sahabat, Aruna dilanda rasa sedih dan kasihan. Dia pun berbicara dengan suara berat penuh kesedihan : “Tatkala aku melihat orang-orang tersusun dalam barisan siap bertempur, O Krishna, anggota badanku gemetar, mulutku kering, tubuhku kaku dan bulu romaku meremang”. Busurnya lepas dari tangannya, seluruh tubuhnya seperti terbakar. “ Aku tidak sanggup berdiri lebih lama lagi, O Tuhanku ! Pikiranku bingung !”.

Krishna mengajar Arjuna
Dalam saat itulah Krishna menyampaikan ajaran yang sangat besar kepada Arjuna, yang terkanl dengan sebutan Bhagavad-Gita. Menyaksikan kebingungan yang menimpa Arjuna, Krishna memulai ajaran-Nya, dengan keindahan yang prima, dalam bahasa yang manis dan vital, dijelaskannya sifat perbuatan dan tidak berbuat, tujuan kehidupan, dan aspek-aspek perubahan diri yang kekal. Krishna mengungkap hubungan antara manusia dengan Tuhan dan jalan untuk mencapai moksa, pembebasan. Dialog itu padat dan kompleks, dengan Krishna sebagai pembicara utama. Pertanyaan diajukan dengan jelas dan jawabannya pun terang benderang. Dalam kalimat yang berisi etika dan metaphisik, ilmu realitas dan seni untuk mencapai pergaulan dengan realitas itu, Krishna berbicara kepada Arjuna tentang jalan untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa : Meditasi, pengetahuan, Perbuatan ynag tidak mementingkan pamrih pribadi. Intinya ditekankan sekali kepada Arjuna tentang pengbadian suci kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang lurus, personal, penuh perhatian dan mudah sekali serta dilaksanakan dengan riang gembira.

Krishna memperlihatkan bentuk Vishvarupa-Nya
Karena Krishna membicarakan Diri-nya Sendiri sebagai Jiwa Yang Tertinggi, dengan rendah dan tunduk hati Arjuna bertanya dan mohon agar Krishna memrplihatkan bentuk itu. kemudian, sesudah memberikan penglihatan spritual kepada Arjuna khusus untuk menyaksikan bentuk itu Arjuna pun melihat bentuk Krishna yang spritual. “Kini perhatikanlah seluruh dunia, yang bergerak dan yang tidak bergerak semuanya ada di dalam tubuh-Ku, “kata Krishna. Arjuna menatap bentuk yang besar itu, perwujudan Krishna sebagai Jiwa Alam Semesta. Dengan penuh bahagia Arjuna berkata :
Jika seribu matahari terbit bersamaan di angkasa
Sinar itulah menyerupai sinar-Mu
Aku meihat Engkau ada di mana-mana
Dalam bentuk yang tak terbatas
Tanpa awal, tanpa pertengahan dan tanpa akhir
Aku melihat bentuk Alam Semesta Dewa dari semua dewa.
Bermahkota, membawa berbagai senjata.
Bersinar ke segala penjuru
Bersama api yang menjilat berkobar-kobar.
Arjuna sujud berlutut sambil berkata :
Engkau kekal abadi, tujuan akhir Ilmu Pengetahuan
Engkau tempat peristirahatan terakhir dari segala-galanya.
Engkau pelindung yang tak tertaklukan dan hukum yang abadi.
Engkau adalah jiwa Yang pertama dan utama
Kemudian di depan Arjuna bentuk itu berubah kian mengerikan karena Krishna memperlihatkan Diri-nya sebagai waktu kepada Arjuna, Sebab dari kehancuran seluruh dunia, “Inilah yang menghancurkan dunia”, Meskipun engkau tidak bertindak, “Kata Krishna kepada Arjuna, semua kesatria yang berada di pihak lawan akan terbantai”. Diarahkan oleh kebenaran seperti ini dan didukung dengan semngat yang besar sekali dan tekad bulat, Arjuna mengambil busurnya yang besar, Gandiva dan siap bertindak. Jadi, demikianlah perang besar dan dahsyat itu berlangsung selama delapan belas hari tanpa pandang bulu. Pembunuhan besar-besaran itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Dari hari ke hari nasib berubah dan hasilnya berimbang. Di setiap yang menyelamatkan Pandava dari berbagai kemelut. Krishna tidak langsung terlibat dalam pertempuran, karena dia didampingi Pandava tanpa senjata, tanpa musuh seperti yang diumumkan-Nya sejak semula.

Bhisma berhadapan dengan Krishna di dalam laga
Hanya sekali dia terlibat dalam kemarahan demikian rupa sehingga dicabutnya roda kereta, diputar-Nya dengan jari-jari-Nya seperti cakra untuk ditembakkan kepada Bhisma. Tetapi amarah-Nya reda tatkala Arjuna mohon agar hal itu dibatalkan dan Arjuna pun bertempur dengan semangat baja. Ketika anak Arjuna gugur terjebak siasat curang oleh beberapa gabungan Kaurava, Arjuna membuat perhitungan dengan si pembunuh, Brihadratha jatuh ke tanah, maka kepala orang itu pun hancur berkeping-keping secara misteris. Arjuna memotong kepala Brihadratha, tetapi selamat dari kutukan ajaib itu, karena dengan tehnik sentakan ujung panah yang berganda secara beruntun, kepada Brihadratah akhirnya jatuh di pangkaun ayah Brihadrata yang sedang tapakur, yang dengan terkejut melemparkan kepala anak-nya ke tanah dan secepat itu pula dia berdiri belah jiwa. Sekali lagi, tatkala guru besar Dronacharya mengkocarkacirkan kekuatan Pandava, Krishan menasehati Yudhistira, putra Dewa Dharma, Dewa Keadilan untuk mengucapkan kata-kata bersayap setengah benar dengan pengumuman keras-keras bahwa Ashvattama telah terbunuh. Ashvatthama adalah anak Dronacharya, tetapi juga nama seekor Gajah yang benar mati terbunuh. Iniah yang menyebabkan Drona patah siku, sehingga Pandava pun sempat menghantamnya. Sekiranya Krishna tidak memberikan nasehat, tentu Pandava kalah : namun akhirnya menang juga. Memang Krishna bersama Pandava lahir batin seperti dinyatakan-Nya. Peranan-Nya dipertanyakan, bahkan Duryodhana pun mempersoalkan hal itu sambil berbaring menunggu ajal, sesudah duel dengan Bhima yang dengan ganas menghantam paha Duryodhana. Krishan pun menjelaskan hal itu dengan sudut pandangan moralita tersendiri. Terhadap seorang resi yang belakangan melancarkan tuduhan kepada Krishna, dijawabnya demikian : “Di setiap jaman aku turun untuk menegakkan kebenaran, lahir dalam berbagai bentuk untuk melindungi makhluk-ku yang saleh. Kalau aku lahir di sorga, aku bertindak sebagai Deva. Kalau lahir di antara Gandharva, aku bertindak sangat sopan sebagai Gandharva. Karena kini aku lahir di tengah-tengah manusia, aku pun mohon agar Kaurava betindak sebagai manusia. “Tetapi karena Kaurava jahat, kata Krishna, sejak awal pembicaraan pembagian wilayah Kerajaan, maka terimalah sekarang akibatnya.

Kematian Bhisma
Kini perang sudah usai. Bahkan dari ranjang panahnya. Sambil memberikan wejangan permintaan yang damai kepada Yudhistira, Bhisma yang agung itu pun sujud kepada Krishna, Pribadi Tuhan Yang Maha Esa, lalu mati. Jutan prajurit yang gugur di medan laga. Angkasa penuh dengan isak tangis para janda. Gagak dan burung hering riuh gemuruh mencari mangsa. Kemudian Krishna mengaja Pandava kembali ke Hastinapura memberikan penghormatan kepada Dhritarashtra yang tua dna buta bersama istrinya, Gandhari, yang semua anaknya gugur di dalam perang. Karena Dhritarastha sudah tua dan tidak kuat lagi untuk melancarkan tugas roda pemerintahan, akhirnya dia pun mengundurkan diri.

Kutukan Gandhari kepada Krishna dan Yadava
Bagaimanapun juga, Gandhari sulit sekali ditenteramkan hatinya. Dengan jujur dia berpaling kepada Krishna, menjatuhkan kutukan : “Karena Engkau tetap acuh meskipun Kaurava dan Pandava saling bunuh, maka Engkau Sendiri, O Krishna, menjadi sebab pembunuhan keluarga-Mu. Tiga puluh enam tahun mendatang keluarga-Mu pun akan saling bunuh dengan bengis”. Setiap orang diam membatu mendegarkan kutukan itu, sambil tertekan rasa takut dan heran.
Mungkin ada semacam rencana yang sudah disusun Krishna. Sekian tahun kemudian, sesuai dengan kutukan yang diucapkan Gandhari, Krishna pun “menyusun kehancuran itu dikalangan keluarga-Nya, Yadava. Pada saatnya, kemelut itu berkembang demikian rumit dan kematian pun terjadi.

Shamba memperolok-olok Narada dan Lahirlah gada Baja
Kelompok suku bangsa Yadu, penuh kecongkakan dan semangat muda, pada suatu hari menghina beberapa resi termasuk Narada. Mereka menghias Shamba dengan dandanan wanita hambil, menuntunnya ke hadapan sang resi sambil menayakan apakah bayi yang lahir nantinya laki-laki atau perempuan. Sang resi yang memiliki pandangan spritual merasa sedikit tersinggung akibat ulah para Pemuda itu. sambil mengutuk, sang resi berkata : “Yang lahir sebuah gada yang menghancurkan suku Yadava”. Para Pemuda itu ketakutan mendengarkan kutukan resi itu dan melaporkan seluruh kejadian itu kepada Ugrasena. Benar saja, beberapa waktu berselang, Shamba melahirkan senjata gada yang sangat besar. Ugrasena menyuruh para Menteri menghancurkan gada itu menjadi tepung dan menebarkannya ke tanah. Tetapi aneh sekali, erbuk baja itu tumbuh menjadi rumput dan perdu dimana-mana. Sebagian dari gada itu, tajam seperti ujung tombak, tidak bisa dihancurkan lalu dibuang ke laut. Ujung tombak itu ditelan ikan yang kemudian tertangkap jaring. Besi itu dikeluarkan dari perut ikan dan diambil oleh Jara, seorang pemburu.

Krishna kembali ke dunia spritual
Dalam pada itu datanglah utusan para dewa menghadap Krishna yang sedang duduk sendirian. Utusan bersujud kepada Krishna seraya berdatang sembah : “Aku di utus oleh para dewa untuk menyampaikan apa yang disampaikan oleh para dewa, Vishnu, Marut, Aditya, Sandhya, Rudra dan Indra, bahwa telah lebih dari seratus tahun berlalu sejak Anda turun ke bumi dengan maksud meringankan beban itu pertiwi. Raksasa telah terbunuh dan beban bumi pun telah sirna. Kini tiba saatnya Anda kembali ke dunia asal yang spritual. “Krishna menjawab Semua sudah diketahui-Nya dan siap untuk kembali”. Diberitahukannya kepada utusan itu bahwa Dia masih menunggu kehancuran Hafava, sesudha itu dia pun naik ke tempat asal-Nya. Itu akan terjadi tujuh hari lagi.

Ziarah ke Prabhasa : Yadava mabuk dan hancur
Segera Krishna yang mata-nya lembut seperti kelopak bunga padma melihat tanda-tanda buruk, baik di bumi maupun di langit, mengisyaratkan kehancuran bangsa Yadava dan Dvaraka. Bermaksud memberitahukan hal itu kepada Yadava, dengan cepat Krishna menyarankan agar mereka berziarah ke Prabhasa. Uddhava disuruh-Nya berangkat sendirian ke tempat suci di pegunungan. Lalu Yadava segera berangkat dengan kereta bersama Krishna, Balarama dan tokoh-tokoh lainnya. Di sanalah mereka mandi dan minum-minum.adalah dalam kejadian itu, salah seorang diantara mereka menyulut nyala kehancuran, mula-mula kecil berupa olok-olok, meningkat menjadi perselisihan, dikpias dna diminyaki dengan makian, sehingga semakin berkobar. Dengan gerak mereka saling hantam dengan senjata. Setelah senjata habis, mereka pun mencabut rerumputan dan perdu yang tumbuh di sekitar sana, yang adalah bekas tepung-teung gada ampuh yang keluar dari perut Shamba beberapa puluh tahun yang lampau. Deikianlah rumput dan perdu itu mereka cabut dna segera berubah menjadi halilintar di tangan bangsa Yadava. Demikianlah mereka saling baku hantam dengan senjata fatal itu. semuanya garang, saling bunuh dna dalam sekejap mereka pun hancur, tak seorang pun ada tersisa. Yang hidup cuka Krishna, Bahkan senjata cakra Shudarshana, kerang, gada dan emblim yang dipakai oleh Krishna sesudah mengelilingi Krishna tujuh kali, lalu terbang ke dunia spritual.

Balarama dan Krishna Berpulang, Dvaraka tenggelam
Selanjutnya Krishna masuk hutan. Di sana dilihat-Nya Balarama duduk bersandar di bawah pohon. Dari mulut Balarama keluarlah seekor naga putih yang besar terus melaju menuju samudra, diiringi oleh para resi besar dan ular-ular raksasa lainnya karena Balarama tidak lain dari Nagashesha Vishnu yang kini kembali ke dasar samudra alam semesta. Kembali ke kereta, Krishna menyuruh sasi-Nya kembali dan melaporkan seluruh kejadian ini kepada Vasudeva dan Ugrasena. “Kini aku siap meditasi, “Krishna menambahkan, dan kembali kedunia spritual, sangkan paraning sarat”. Sesudah sujud dan mengelilingi Krishna tujuh kali, sais-Nyapun minta diri. Lalu Krishna duduk di bawah pohon, kaki kiri-Nya bertumpu di atas lutut kanan yang menjulur lurus. Saat itu seorang pemburu yang bernama Jara tiba, membawa sebuah panah yang ujungnya dibuat dari serpihan gada baja yang keluar dari perut Shamba. Serpihan itu tak bisa hancur, dibuang ke luat, dicaplok ikan dan ikannya tertangkap nelayan. Waktu perut ikan dibelah keluarlah serpihan baja tadi. Itulah yang dipakai ujung tombak yang dibawah Jara. Melihat kaki kanan Krishna dari kejauhan bersinar menyilaukan di malam purnama, Jara mengira itu kijang. Segera panah di tembakkan dan menancap di tumit padma Krishna Jara maju mengajar sasaran. Ketika diwaspadai, ternyata Krishna, junjungannya yang mulia. Berulang-ulang jatuh bersujud di kaki padma Krishna, Jara mohon ampun beribu ampun sambil tersedu sedan terhadap kelancangannya. Tetapi Krishna kalem dan tenang lalu berkata kepada Jara : “Jangan berduka, Jara. Kembalilah ke dunia spritual, tempatku yang kekal abadi, bertemu dan kumpul kembali dengan orang-orang saleh dan suci “Sesudha itu Krishna Sendiri langsung kembali ke tempat asli-Nya, yang tak terpikirkan. Tidak tercela dan tak terjangkau oleh triguna material. Pada saat Krishna kembali ke dunia spritual, lautan pasang dan seluruh Dvaraka tenggelam. Pada saat itu pula pembabatan dunia mulai dengan jaman kali, jaman serba palsu dan pura-pura, jaman besi yang serba dingin, yang istilahnya diputar balik sehingga enak di dengar, jaman teknologi tetapi hakekatnya sama saja Kaliyuga. Dalam lingkaran waktu yang tanpa akhir dan berputar-terus, sebuah noktah sudah terjangkau dan sedang dilalui.




Post a Comment

Sanatana Dharma Indonesia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk saling berbagi Pengetahuan Kerohanian. Silahkan memberikan masukan positif yang membangun demi kemajuan rohani kita bersama semuanya. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Post a Comment

Sanatana Dharma Indonesia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk saling berbagi Pengetahuan Kerohanian. Silahkan memberikan masukan positif yang membangun demi kemajuan rohani kita bersama semuanya. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Ads

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

Visit Your Favorite Website Below

New Comments Box

Admin Control Panel

New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

 

Mari Kita Saling Membantu Misi Srila Prabhupada Dengan Menyebarkan Buku-buku Rohani

Semua Buku Ini Dapat Dipesan Di MAHANILA STORE HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM

Hubungi: Mahanila Das di HP/WA: 0812-7740-3909

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Sri Caitanya Caritamrta

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Kesempurnaan Yoga

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Gita Mahamatya

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Upadesamrta

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

A Second Chance

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mari Kita Saling Membantu Misi Srila Prabhupada Dengan Menyebarkan Buku-buku Rohani

Semua Buku Ini Dapat Dipesan Di MAHANILA STORE HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM

Hubungi: Mahanila Das di HP/WA: 0812-7740-3909

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Sri Caitanya Caritamrta

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Kesempurnaan Yoga

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Gita Mahamatya

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Upadesamrta

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

A Second Chance

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

DAPATKAN KOLEKSI BUKU TERBARU KAMI

MAHANILA STORE (SAHABAT BELANJA ANDA)

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

DAFTAR BUKU-BUKU TERLARIS

TELAH TERJUAL DI DISELURUH INDONESIA

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Today Quotes

Srimad Bhagavad-gita

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 1

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Caitanya Caritamrta

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 2

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

The Nectar Of Devotion

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 3

Mahanila Store Mahanila Store Mahanila Store

A Second Chance

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 4

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)
Bouncing ball Bouncing ball Bouncing ball Sanatana Dharma Indonesia Visit Mahanila Store at http://mahanilastore.blogspot.com
[Mahanila].. [Mahanila Store].. [Sanatana Dharma Indonesia].. [Mahanila Rent Car Batam].. [Cakadola Store].. [Sadhu Guru Sastra].. [Nityam Bhagavata Sevaya]
[Cara Belanja].. [Kontak].. [About Us].. [Testimonial]..
Silahkan Preview Website Favorit Anda!

Copyright © 2013-17 Sanatana Dharma Indonesia. All Rights Reserved.