Latest Posts

Dapatkan Buku-buku Rohani Terbaru Anda Di Mahanila Store

Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola

Horizontal Random Posts

Today Quotes

Latest News

MyLiveChat

Shoutbox

Guest Book

Welcome, Today's date is : Guestbook

Silahkan Isi Buku Tamu Ini:

Mohon Karunianya

Website ini kami buat dengan mengutip dari berbagai sumber seperti:
1. Bhagavad-gita Menurut Aslinya
2. Srimad Bhagavatam, Purana
3. Krishna Katha, Mahabharata, Ramayana
4. Facebook, Website
5. Dan referensi lainnya

Tujuan kami untuk saling berbagi pengetahuan rohani, dan tidak ada niatan kami untuk menggurui.

Mohon karunianya dari saudara-saudari sekalian untuk saling berbagi demi kehidupan rohani kita yang lebih baik.

Semoga niatan kecil kami ini bisa membantu kita menjalani kehidupan bhakti rohani yang semakin mantap.

Kami menyadari, apa yang kami sajikan disini jauh dari layak apalagi sempurna, marilah kita bersama-sama saling membantu untuk menyempurnakannya.

Terimakasih dan salam sejahtera,
Sanatana Dharma Indonesia
Admin - (Website Developer)


Live Traffics

TOP Commentators
Mahanila Store. Powered by Blogger.

Total Daily Counters (Start 02-Dec-2017)

AmazingCounters.com

Please SMS/WhatsApp or Call Mahanila Store:

WhatsApp SMS

Link menuju sms plus no HP dan body terisi Link menuju sms body terisi Link Telpon Link Telpon(call me)


Our Daily Routine Activities:

1. Chant Mahamantra Hare Krishna (16 Rounds)
2. Mangala Arathi
3. Read Srimad Bhagavatam (1 Chapter)
4. Sandhya Arathi
5. Read Srimad Bhagavad-gita (1 Chapter)
6. Study Srila Prabupada's Books/ Literatures






Sanatana Dharma Ind-Fanpage

Website Rank

Please SMS/WhatsApp or Call Mahanila Store:

WhatsApp SMS

Link menuju sms plus no HP dan body terisi Link menuju sms body terisi Link Telpon Link Telpon(call me)

MAHANILA STORE (HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM)

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll. Hubungi Kami di HP/WA: 0812-7740-3909

SDI Latest News

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)
Terimakasih Telah Berkunjung Ke Website Kami. Kunjungan Anda Berikutnya Sangat Kami Nantikan.

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

Thursday, December 7, 2017

Widgets

Widgets

'

Bhagavad-gita Menurut Aslinya. Bab 4

Bhagavad-gita Menurut Aslinya

Bab 4

Pengetahuan Rohani


4.1

śrī-bhagavān uvāca
imaḿ vivasvatea yogaḿ
proktāvān aham avyayām
vivasvān manave prāha
manur ikṣvākave 'bravīt

Śrī-bhagavān  uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; imām—ini; vivasvatea—kepada dewa matahari; yogam—ilmu pengetahuan hubungan kita dengan Yang Mahakuasa; proktāvān—diajarkan; aham—Aku; avyayām—tidak termusnahkan; Vivasvān—Vivasvan (nama dewa matahari); manave—kepada ayah manusia (bernama Vaivasvata); prāha—memberitahukan; manuḥ—ayah leluhur manusia; ikṣvākave—kepada Rājā  Ikṣvākuabravīt—berkata.

Terjemahan

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, bersabda: Aku telah mengajarkan ilmu pengetahuan yoga ini yang tidak dapat dimusnahkan kepada dewa matahari, Vivasvan, kemudian Vivasvan mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada Manu, ayah manusia, kemudian Manumengajarkan ilmu pengetahuan itu kepada Ikṣvāku.

Penjelasan
Di sini kita menemukan sejarah Bhagavad-gita sejak jaman purbakala waktu Bhagavad-gita disampaikan kepada golongan rājā  dari semua planet, mulai dari planet matahari. raja-raja  seluruh planet khususnya dimaksudkan untuk melindungi penduduknya. Karena itu, seyogyanya golongan rājā  mengerti ilmu pengetahuan Bhagavad-gita agar mereka dapat memerintah warga negara dan melindungi mereka dari ikatan duniawi terhadap hawa nafsu. Kehidupan manusia dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan rohani, dalam hubungan yang kekal dengan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dan para pemimpin pelaksana semua negara dan semua planet wajib menyampaikan pelajaran ini kepada para warga negara melalui pendidikan, kebudayaan dan bhakti. Dengan kata lain, para pemimpin semua negara dimaksudkan untuk menyebarkan ilmu pengetahuan kesadaran Krishna supaya rakyat dapat mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan yang mulia ini, menempuh jalan yang akan mencapai sukses dan mengguna kan kesempatan bentuk kehidupan manusia.
  Pada jaman ini, dewa matahari bernama Vivasvan, rājā  matahari, sumber semua planet dalam tata surya. Dalam Brahma-samhita (5.52) dinyatakan:
yac-cakṣur eṣa savitā sakala-grahāṇāḿ
rājā samasta-sura-mūrtir aśeṣa-tejāḥ
yasyājñayā bhramati sambhṛta-kāla-cakro
govindam ādi-puruṣaḿ tam ahaḿ bhajāmi
Dewa Brahma bersabda, Hamba menyembah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Govinda (Krishna), Kepribadian yang asli. Di bawah perintah Beliau, matahari, rājā  semua planet, mendapat kekuatan yang besar sekali dan suhu yang sangat tinggi. Matahari merupakan mata Tuhan dan melintasi garis putarannya dengan mematuhi perintah Beliau."
   Matahari adalah rājā  planet-planet, dan dewa matahari (saat ini bernama Vivasvan) berkuasa di planet matahari, yang mengendalikan semua planet lainnya dengan menyediakan panas dan cahaya. Matahari berputar di bawah perintah Krishna, dan Sri Krishna semula mengangkat Vivasvan sebagai murid yang pertama untuk mengerti ilmu pengetahuan Bhagavad-gita. Karena itu, Bhagavad-gita bukan suatu makalah angan-angan untuk sarjana duniawi yang remeh, melainkan merupakan buku pengetahuan baku yang turun-temurun sejak sebelum awal sejarah.
   Dalam Mahabhārata  (santiparva) 348.51-52 kita dapat menemukan sejarah Bhagavad-gita sebagai berikut:
tretā-yugādau ca tato
vivasvān manave dadau
manuś ca loka-bhṛty-arthaḿ
sutāyekṣvākave dadau
ikṣvākuṇā ca kathito
vyāpya lokān avasthitaḥ
Pada awal jaman yang bernama Tretayuga ilmu pengetahuan ini yaitu tentang hubungan dengan Yang Mahakuasa disampaikan kepada Manu oleh Vivasvan. Manu, sebagai ayah manusia, mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada puteranya bernama Maharājā  Ikṣvāku, rājā  planet bumi dan leluhur dinasti Yadu. Sri  Ramacandra menjelma dalam keluarga besar Raghu." Karena itu, Bhagavad-gita sudah ada dalam masyarakat manusia sejak masa Maharājā  Ikṣvāku.
   Saat ini kita baru melewati lima ribu tahun dalam Kaliyuga, yang berjalan selama 432.000 tahun. Sebelum jaman Kaliyuga ada Dvaparayuga (800.000 tahun), dan sebelumnya ada Tretayuga (1.200.000 tahun). Jadi, kurang lebih 2.005.000 tahun yang lalu, Manu menyampaikan Bhagavad-gita kepada murid dan puteranya yang bernama Maharājā  Ikṣvāku, rājā  planet bumi ini. Jaman Manu yang berkuasa sekarang diperhitungkan sepanjang 305.300.000 tahun. Dari masa tersebut baru 120.400.000 tahun sudah berlalu. Mengingat bahwa sebelum Manu dilahirkan Bhagavad-gita sudah disampaikan oleh Krishna kepada murid-Nya, yaitu dewa matahari yang bernama Vivasvan, diperkirakan bahwa Bhagavad-gita disabdakan sekurang-kurangnya 120.400.000 tahun yang lalu; dan Bhagavad-gita sudah ada dalam masyarakat manusia sejak dua juta tahun yang lalu. Bhagavad-gita disampaikan oleh Krishna sekali lagi kepada Arjuna kurang lebih lima ribu tahun yang lalu. Demikian perkiraan sejarah Bhagavad-gita, menurut Bhagavad-gita sendiri dan menurut pernyataan Sri Krishna yang bersabda dalam Bhagavad-gita. Bhagavad-gita disampaikan kepada dewa matahari Vivasvan, sebab Beliau juga seorang ksatriya dan beliau ayah semua ksatriya keturunan dari dewa matahari, atau para suryavamsa ksatriya. Bhagavad-gita sebaik Veda, karena disabdakan oleh Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, pengetahuan ini adalah apauruseya, atau melampaui kekuatan manusia. Oleh karena ajaran Veda diakui menurut aslinya tanpa penafsiran manusia, Bhagavad-gita juga harus diakui tanpa penafsiran duniawi. Orang yang bertengkar tentang hal-hal duniawi barangkali berangan-angan tentang Bhagavad-gita dengan caranya masing-masing tetapi itu bukan Bhagavad-gita menurut aslinya. Karena itu, Bhagavad-gita harus diterima menurut aslinya, dari garis perguruan, dan di sini diuraikan bahwa Krishna telah bersabda kepada dewa matahari, dewa matahari bersabda kepada puteranya bernama Manu dan Manu bersabda kepada puteranya bernama Ikṣvāku.



4.2

evaḿ paramparā-prāptam
imaḿ rājarṣayo viduḥ
sa kāleneha mahatā
yogo naṣṭaḥ parantapa

 evam—demikian; paramparā—melalui garis perguruan; prāptam—diterima; imām—ilmu pengetahuan ini; rāja-ṛṣayaḥ—para rājā  yang suci; viduḥ—mengerti; saḥ— pengetahuan itu; kālena—sesudah beberapa waktu; iha—di dunia ini; mahatā—mulia; yogaḥ—ilmu pengetahuan mengenai hubungan antara diri kita dengan Yang Mahakuasa; naṣṭaḥ—terhambur; parantapa—wahai Arjuna, penakluk musuh.

Terjemahan

Ilmu pengetahuan yang paling utama ini diterima dengan cara sedemikian rupa melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian, dan para rājā  yang suci mengerti ilmu pengetahuan tersebut dengan cara seperti itu. Tetapi sesudah beberapa waktu, garis perguruan itu terputus; karena itu, rupanya ilmu pengetahuan yang asli itu sudah hilang.

Penjelasan
Dinyatakan dengan jelas bahwa Bhagavad-gita khususnya dimaksudkan untuk pararājā  rājā  yang suci, karena mereka harus melaksanakan maksud Bhagavad-gita dalam memimpin para warga negara. Tentu saja Bhagavad-gita tidak pernah dimaksudkan untuk orang jahat, yang akan mengaburkan nilai Bhagavad-gita tanpa menguntungkan siapapun dan membuat dengan segala jenis tafsiran menurut selera pribadi. Begitu maksud Bhagavad-gita yang asli dikaburkan oleh motif-motif penafsir-penafsir yang tidak mempunyai prinsip, garis perguruan perlu didirikan kembali. Lima ribu tahun yang lalu Krishna Sendiri mengetahui bahwa garis perguruan terputus; karena itu, Beliau menyatakan bahwa maksud Bhagavad-gita tampaknya telah hilang. Dengan cara yang sama, saat ini juga begitu banyak edisi Bhagavad-gita (khususnya dalam bahasa Inggris), tetapi hampir semuanya tidak sesuai dengan garis perguruan yang dibenarkan. Ada penafsiran-penafsiran yang jumlahnya tidak dapat dihitung hasil kārya sarjana-sarjana duniawi, tetapi hampir semuanya tidak mengakui Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna, walaupun mereka cukup beruntung dengan memperdagangkan kata-kata Sri Krishna. Sikap tersebut merupakan sikap asura, sebab orang yang bersikap asura tidak percaya kepada Tuhan, melainkan mereka hanya menikmati benda-benda milik Tuhan. Oleh karena edisi Bhagavad-gita sebagaimana Bhagavad-gita diterima dari sistem parampara (garis perguruan) sangat dibutuhkan, dengan ini diusahakan agar kebutuhan yang penting ini dipenuhi. Bhagavad-gita—yang diterima menurut aslinyā—adalah berkat yang besar bagi manusia; tetapi kalau Bhagavad-gita diterima sebagai kārya tulis tentang angan-angan filsafat, maka itu hanya memboroskan waktu saja.


4.3


sa evāyaḿ mayā te 'dya
yogaḥ proktāḥ purātanaḥ
bhakto 'si me sakhā ceti
rahasyaḿ hy etad uttamam


saḥ—yang sama; evā—pasti; ayam—ini; mayā—oleh-Ku; te—kepada engkau; adya—hari ini; yogaḥ—ilmu pengetahuan yoga; proktāḥ—disabdakan; purātanaḥ—tua sekali; bhaktaḥ—penyembah; asi—engkau adalah; me—milik-Ku; sakhā—kawan; ca—juga; iti—karena itu; rahasyam—rahasia; hi—pasti; etat—ini; uttamām—rohani.

Terjemahan

Ilmu pengetahuan yang abadi tersebut mengenai hubungan dengan Yang Mahakuasa hari ini Kusampaikan kepadamu, sebab engkau adalah penyembah dan kawan-Ku; karena itulah engkau dapat mengerti rahasia rohani ilmu pengetahuan ini.

Penjelasan
Ada dua golongan manusia; yaitu, penyembah dan orang jahat. Krishna memilih Arjuna untuk menerima ilmu pengetahuan yang mulia ini karena Arjuna adalah penyembah Tuhan, tetapi orang jahat tidak mungkin mengerti ilmu pengetahuan yang gaib dan mulia ini. Ada banyak edisi buku ilmu pengetahuan yang mulia ini. Beberapa di antara edisiedisi tersebut berisi ulasan oleh para penyembah, dan di antaranya berisi ulasan orang jahat. Ulasan para penyembah adalah sejati, sedangkan ulasan orang jahat tidak berguna. Arjuna mengakui Sri Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dan ulasan Bhagavad-gita manapun yang mengikuti langkah-langkah Arjuna adalah bhakti yang sejati demi kepentingan ilmu pengetahuan yang mulia ini. Akan tetapi, orang jahat tidak mengakui Sri Krishna menurut kedudukan Beliau yang sebenarnya; melainkan mereka menafsirkan sesuatu tentang Krishna dan menyesatkan pembaca umum dari jalan ajaran Krishna. Inilah peringatan tentang jalanjalan yang menyesatkan seperti itu. Hendaknya orang harus mengikuti garis dan berusaha untuk mengikuti perguruan dari Arjuna, dan dengan demikian ia akan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan Srimad Bhagavad-gita yang mulia ini.


4.4 
Arjuna uvāca
aparaḿ bhavato janma
paraḿ janma vivasvataḥ
katham etad vijānīyāḿ
tvām ādau proktāvān iti

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; aparam—lebih muda; bhavataḥ—milik Anda; janma—kelahiran; param—lebih dahulu; janma—kelahiran; vivasvataḥ—dewa matahari; katham—bagaimana; etat—ini; vijānīyām—hamba dapat mengerti; tvām—Anda; ādau—pada awal; proktāvān—diajarkan; iti—demikian.

Terjemahan

Arjuna berkata: Vivasvan, dewa matahari, lebih tua daripada Anda menurut kelahiran. Bagaimana hamba dapat mengerti bahwa pada awal Anda mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada beliau?

Penjelasan
Arjuna diakui sebagai penyembah Tuhan. Karena itu, bagaimana mungkin Arjuna tidak percaya kepada sabda Krishna? Sebenarnya Arjuna bertanya tidak untuk Diri-Nya sendiri, tetapi untuk mereka yang tidak percaya kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa atau untuk orang jahat yang tidak suka gagasan bahwa Krishna harus diakui sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Hanya untuk mereka saja Arjuna bertanya tentang hal ini, seolah-olah dia sendiri belum sadar terhadap Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa atau, Krishna. Arjuna menyadari secara sempurna bahwa Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sumber segala sesuatu dan kata terakhir dalam kerohanian. Kenyataan ini akan dijelaskan pada Bab Sepuluh. Memang Krishna juga muncul sebagai putera Devaki di bumi ini. Dalam hal ini manusia biasa sulit sekali mengerti bagaimana Krishna tetap sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang sama, Kepribadian yang kekal dan asli. Karena itu, agar hal ini dijelaskan, Arjuna mengajukan pertanyaan ini kepada Krishna supaya Krishna Sendiri dapat bersabda dengan cara yang dapat dipercaya. Seluruh dunia mengakui bahwa Krishna adalah penguasa yang paling tinggi, bukan hanya pada saat ini, tetapi sejak sebelum awal sejarah, dan hanya orang jahat saja yang menolak Krishna. Bagaimanapun juga, oleh karena Krishna adalah penguasa yang diakui oleh semua orang, Arjuna mengemukakan pertanyaan di hadapan Krishna supaya Krishna menguraikan Diri-Nya tanpa digambarkan oleh orang jahat, yang selalu berusaha memutarbalikkan Krishna dengan cara yang dapat dipahami oleh orang jahat dan para pengikutnya. Semua orang perlu menguasai ilmu pengetahuan tentang Krishna demi kepentingannya sendiri. Karena itu, apabila Krishna Sendiri bersabda tentang Diri-Nya, itu mujur bagi semua dunia. Orang jahat barang kali menganggap penjelasan seperti itu dari Krishna Sendiri kelihatannya aneh, sebab mereka selalu mempelajari Krishna dari segi pandangan pribadi mereka. Tetapi para penyembah dengan senang hati menyambut pernyataan-pernyataan Krishna apabila pernyataan-pernyataan itu disabdakan oleh Krishna Sendiri. Para penyembah akan selalu menyembah pernyataan-pernyataan yang dibenarkan seperti itu dari Krishna karena mereka selalu ingin mengetahui semakin banyak tentang Krishna. Dengan cara seperti ini orang yang tidak percaya kepada Tuhan, yang menganggap Krishna manusia biasa, mungkin akan mengetahui bahwa Krishna melampaui kekuatan manusia. Mungkin mereka akan mengetahui bahwa Krishna adalah sac-cid-anandavigraha—bentuk kekal kebahagiaan dan pengetahuan—bahwa Krishna bersifat rohani, dan bahwa Krishna berada di atas kekuatan sifat-sifat alam material dan di atas pengaruh waktu dan ruang. Seorang penyembah Krishna, seperti Arjuna, tentu saja berada di atas salah paham apapun tentang kedudukan rohani Krishna. Pertanyaan ini yang diajukan oleh Arjuna di hadapan Krishna hanya merupakan usaha seorang penyembah untuk melawan sikap tidak percaya kepada Tuhan dalam hati orang yang menganggap Krishna manusia biasa yang dipengaruhi oleh sifat-sifat alam material.


 4.5


śrī-bhagavān uvāca
bahūni me vyatītāni
janmāni tava cārjuna
tāny ahaḿ veda sarvāṇi
na tvaḿ vettha parantapa

Śrī-bhagavān uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; bahūni—banyak; me—milik-Ku; vyatītāni—sudah melewati; janmāni—kelahiran-kelahiran; tavā—milik engkau; ca—dan juga; Arjuna—wahai Arjunatāni—yang itu; aham—Aku; veda—mengetahui; sarvāni—semua; na—tidak; tvām—engkau; vettha—mengetahui; parantapa—wahai penakluk musuh.

Terjemahan

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Engkau dan Aku sudah dilahirkan berulangkali. Aku dapat ingat segala kelahiran itu, tetapi engkau tidak dapat ingat, wahai penakluk musuh!

Penjelasan
Dalam Brahma-samhita (5.33), kita mendapat keterangan tentang banyak penjelmaan Tuhan. Dalam Brahma-samhita dinyatakan:
advaitam acyutam anādim ananta-rūpam
ādyaḿ purāṇa-puruṣaḿ nava-yauvanaḿ ca
vedeṣu durlābham adurlābham ātma-bhaktau
govindam ādi-puruṣaḿ tam ahaḿ bhajāmi
Hamba menyembah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Govinda, (Krishna), Kepribadian yang asli—mutlak, tidak pernah gagal dan tidak berawal. Walaupun Krishna sudah menjelma menjadi bentuk-bentuk yang tidak terhingga, Beliau tetap sebagai Kepribadian asli yang sama yang paling tua, dan kepribadian yang selalu kelihatan seperti pemuda yang segar. Bentuk-bentuk Tuhan yang kekal, Penuh Kebahagiaan dan Mahatahu pada umumnya dimengerti oleh sarjana-sarjana Veda yang paling baik, tetapi selalu terwujud untuk penyembah-penyembah yang suci dan murni."  Dalam Brahma-samhita (5.39), juga dinyatakan:
rāmādi-mūrtiṣu kalā-niyamena tiṣṭhan
nānāvatāram akarod bhuvaneṣu kintu
kṛṣṇaḥ svayaḿ samabhavat paramaḥ pumān yo
govindam ādi-puruṣaḿ tam ahaḿ bhajāmi
Hamba menyembah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Govinda (Krishna), yang selalu berada dalam berbagai penjelmaan seperti Rāma, Nrsimha dan banyak bagian dari penjelmaan, tetapi Beliau adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang asli bernama Krishna, dan Beliau Sendiri juga menjelma."
   Dalam Veda juga dinyatakan bahwa walaupun Krishna adalah satu dan yang tiada duanya, Beliau mewujudkan Diri-Nya dalam bentuk-bentuk yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Krishna seperti permata bernama vaidurya, yang berubah warna namun tetap satu. Aneka bentuk tersebut dimengerti oleh para penyembah yang suci dan murni, tetapi tidak sematamata dengan cara mempelajari Veda (vedeṣu durlābham adurlābham atmabhaktau). Penyem bahpenyembah seperti Arjuna senantiasa menjadi rekan Krishna. Bilamana Krishna menjelma, penyembah-penyembah yang menjadi rekan Beliau juga ikut menjelma untuk mengabdikan diri kepada Krishna dengan berbagai cara.Arjuna adalah salah satu di antara penyembah-penyembah tersebut. Dalam ayat ini dimengerti bahwa berjuta-juta tahun yang lalu pada waktu Sri Krishna menyampaikan Bhagavad-gita kepada Vivasvan, dewa matahari, Arjuna juga hadir dalam peranan lain. Tetapi perbedaan antara Krishna dan Arjuna ialah bahwa Krishna ingat peristiwa tersebut sedangkan Arjuna tidak dapat ingat. Itulah perbedaan antara Tuhan Yang Maha Esa dan makhluk hidup sebagai-bagian dari Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai sifat sama seperti Tuhan. Walaupun di sini Arjuna disebut sebagai pahlawan agung yang dapat menaklukkan musuh, Arjuna tidak dapat mengenang apa yang telah terjadi dalam berbagai penjelmaannya dahulu kala. Karena itu, betapapun hebatnya makhluk hidup menurut perkiraan material, ia tidak akan pernah sejajar dengan Tuhan Yang Maha Esa. Siapapun yang senantiasa menemani Krishna tentu saja orang yang sudah mencapai pembebasan, tetapi ia tidak mungkin sejajar dengan Krishna. Krishna diuraikan dalam Brahma-samhita sebagai yang tidak pernah gagal (acyuta). Ini berarti bahwa Krishna tidak pernah lupa akan Diri-Nya, meskipun Krishna mengadakan hubungan dengan hal-hal material. Karena itu, Krishna dan makhluk hidup tidak pernah sejajar dalam segala hal, walaupun makhluk hidup sudah mencapai pembebasan seperti Arjuna. Walaupun Arjuna adalah seorang penyembah Krishna, kadang-kadang Arjuna melupakan sifat Krishna. Tetapi atas karunia Tuhan, seorang penyembah dapat segera mengerti kedudukan Krishna yang tidak mungkin gagal, sedangkan orang yang bukan penyembah atau orang jahat tidak dapat mengerti sifat rohani itu. Karena itu, uraian tersebut dalam Bhagavad-gita tidak dapat dimengerti oleh otak-otak yang jahat. Krishna mengenang perbuatan yang dilakukan-Nya berjuta-juta tahun yang silam, tetapi Arjuna tidak dapat ingat, walaupun Krishna dan Arjuna samasama kekal menurut sifatnya. Kita juga dapat memperhatikan di sini bahwa makhluk hidup lupa pada segala sesuatu karena ia menggantikan badannya, tetapi Krishna ingat karena Krishna tidak menggantikan badan-Nya yang bersifat sac-cid-ananda. Krishna bersifat advaita, yang berarti tidak ada perbedaan antara badan Krishna dan Diri Krishna. Segala sesuatu berhubungan dengan Krishna bersifat rohani—sedangkan roh yang terikat berbeda dari badan jasmaninya. Oleh karena badan Krishna dan Diri Krishna identik, kedudukan Krishna selalu berbeda dari kedudukan makhluk hidup biasa, bahkan pada waktu Beliau turun ke tingkat material. Orang jahat tidak dapat menyesuaikan diri dengan sifat rohani Tuhan tersebut, yang dijelaskan oleh Krishna Sendiri dalam ayat berikut.


 4.6

ajo 'pi sann avyayātmā
bhūtānām īśvaro 'pi san
prakṛtiḿ svām adhiṣṭhāya
sambhavāmy ātma-māyayā

 ajaḥ—tidak dilahirkan; api—walaupun; san—adalah seperti itu; avyayā—tidak merosot; ātmā—badan; bhūtānām—terhadap semua insan yang dilahirkan; īśvaraḥ—Tuhan Yang Maha Esa; api—walaupun; san—adalah seperti itu; prakṛtim—dalam bentuk rohani; svām—dari Aku Sendiri; adhiṣṭhāya—mempunyai kedudukan seperti itu; sambhavāmi—Aku menjelma; ātma-māyayā—oleh tenaga dalam-Ku.

Terjemahan

Walaupun Aku tidak dilahirkan dan badan rohani-Ku tidak pernah merosot, dan walaupun Aku Penguasa semua makhluk hidup, Aku masih muncul pada setiap jaman dalam bentuk rohani-Ku yang asli.
Penjelasan
Krishna sudah membicarakan keistimewaan kelahiran-Nya:  walaupun Krishna barangkali kelihatannya seperti orang biasa, namun Krishna ingat segala sesuatu dari banyak kelahirankelahiran-Nya" dari masa lampau, sedangkan manusia biasa tidak dapat ingat apa yang dilakukannya bahkan beberapa jam sebelumnya. Kalau orang biasa ditanya apa yang telahdilakukannya tepat pada jam yang sama sehari sebelumnya, sulit sekali ia menjawab dengan segera. Pasti dia harus memeras ingatannya untuk mengenang apa yang sedang dilakukannya tepat pada jam yang sama satu hari sebelumnya. Namun, manusia seringkali berani mengatakan Diri-Nya adalah Tuhan, atau Krishna. Hendaknya orang jangan disesatkan oleh kata-kata yang tidak berarti seperti itu. Kemudian sekali lagi Krishna menjelaskan tentang prakṛti, atau bentuk Beliau. Prakrti berarti alam" dan juga berarti svarupa, atau bentuk sendiri seseorang." Krishna menyatakan bahwa Beliau muncul dalam badan-Nya Sendiri. Krishna tidak menggantikan badan-Nya, seperti makhluk hidup biasa yang berpindahpindah dari satu badan ke dalam badan lain. Meskipun roh terikat mempunyai salah satu jenis badan dalam penjelmaannya sekarang, tetapi ia mempunyai badan yang berbeda dalam penjelmaan yang akan datang. Di dunia material makhluk hidup tidak mempunyai badan yang tetap, melainkan ia berpindahpindah dari satu badan kedalam badan yang lain. Akan tetapi, Krishna tidak melakukan demikian. Bilamana Krishna muncul, Krishna muncul di dalam badan yang asli yang sama, melalui kekuatan dalam yang dimiliki oleh Beliau. Dengan kata lain, Krishna muncul di dunia material ini dalam bentuk-Nya yang kekal dan asli, berlengan dua, dan memegang seruling. Krishna muncul persis dalam badannya yang kekal, tidak dicemari oleh dunia material ini. Walaupun Krishna muncul dalam badan rohani yang sama dan walaupun Krishna adalah Penguasa alam semesta, kelihatannya Beliau dilahirkan seperti makhluk hidup biasa. Kendatipun badan Krishna tidak merosot seperti badan material, masih ada kesan seolah-olah Sri Krishna mengalami pertumbuhan dari masa bayi sampai masa kanak-kanak dan dari masa kanak-kanak sampai masa remaja. Tetapi anehnya Krishna tidak pernah menjadi lebih tua daripada anak remaja. Pada waktu perang Kuruksetra , cucu Krishna sudah banyak di rumah-Nya; atau dengan kata lain, usia Krishna sudah cukup lanjut menurut perhitungan material. Tetapi badan Krishna masih seperti seorang pemuda yang berumur dua puluh atau dua puluh lima tahun. Kita tidak pernah melihat gambar Krishna dalam usia tua karena Krishna tidak pernah menjadi tua seperti kita, walaupun Krishna adalah Kepribadian tertua dalam seluruh ciptaan—masa lampau, masa sekarang maupun masa yang akan datang. Badan dan kecerdasan Krishna juga tidak pernah merosot atau berubah. Karena itu, cukup jelas bahwa walaupun Krishna berada di dunia material, Krishna adalah bentuk kekal kebahagiaan dan pengetahuan yang sama dan bentuk yang kekal itu tidak dilahirkan. Badan dan kecerdasan rohani Krishna juga tidak pernah berubah. Sebenarnya Krishna muncul dan menghilang bagaikan matahari yang terbit, bergerak di hadapan kita, kemudian hilang dari pengelihatan kita. Apabila matahari tidak kelihatan, kita berpikir bahwa matahari sudah terbenam, dan apabila matahari berada di hadapan mata kita, kita berpikir bahwa matahari berada di kaki langit. Sebenarnya, matahari selalu berada dalam kedudukannya yang tetap, tetapi oleh karena mata kita mempunyai kelemahan dan kurang kuat, kita memperhitungkan muncul dan menghilangnya matahari di langit. Oleh karena muncul dan menghilangnya Sri Krishna sama sekali berbeda dari muncul dan menghilangnya makhluk hidup biasa manapun, terbukti bahwa Krishna adalah pengetahuan kekal penuh kebahagiaan atas kekuatan dalam dari Diri-Nya—dan Beliau tidak pernah dicemari oleh alam material.
Veda juga membenarkan bahwa Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa tidak dilahirkan namun kelihatannya Beliau dilahirkan dalam banyak manifestasi. Kesusasteraan pelengkap Veda juga membenarkan bahwa walaupun tampaknya Krishna dilahirkan, Beliau tetap tidak menggantikan badan-Nya. Dalam sejarah Srimad-Bhagavatam, Krishna muncul di hadapan ibu-Nya sebagai Narayana, berlengan empat lengkap dengan perhiasan, enam jenis kehebatan sepenuhnya. Krishna muncul dalam bentuk kekal Beliau yang asli. Itu merupakan karunia Beliau yang tiada sebabnya, dianugerahkan kepada para makhluk hidup supaya mereka dapat memusatkan pikiran kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk-Nya yang asli, bukan hanya pada angan-angan atau bayangan. Orang yang tidak percaya kepada bentuk pribadi Tuhan menyalahtafsirkan dan menganggap bentuk-bentuk Krishna adalah angan-angan atau bayangan seperti itu. Kata mayā , atau atma-mayā  menunjukkan karunia Krishna yang tiada sebabnya, menurut kamus Visvakosa. Krishna menyadari segala peristiwa pada waktu Beliau muncul dan menghilang dahulu kala, tetapi begitu makhluk hidup biasa mendapat badan lain, ia melupakan segala sesuatu tentang badan yang dimilikinya pada masa lampau. Krishna adalah Tuhan Yang Maha Esa, penguasa semua makhluk hidup karena Krishna melakukan kegiatan ajaib yang melampaui kekuatan manusia selama Beliau berada di bumi ini. Karena itu, Krishna selalu tetap sebagai Kebenaran Mutlak yang sama tanpa perbedaan antara bentuk Beliau dan Diri Beliau, atau antara sifat Beliau dan badan Beliau. Sekarang pertanyaan dapat diajukan tentang mengapa Krishna muncul dan menghilang di dunia ini. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut.


4.7

yadā yadā hi dharmasya
glānir bhavati bhārata
abhyutthānam adharmasya
tadā tmānaḿ sṛjāmy aham

yadā yadā—kapanpun dan di manapun; hi—pasti; dharmasya—mengenai dharma; glāniḥ—hal-hal yang bertentangan; bhavati—terwujud; Bhārata—wahai putera keluarga Bhārataabhyutthānam—merājā lelanya; adharmasya—mengenai hal-hal yang bertentangan dengan dharma; tadā—pada waktu itu; ātmanām—diri; sṛjāmi—berwujud; aham—Aku.

Terjemahan

Kapan pun dan di mana pun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merājā lela—pada waktu itulah Aku Sendiri menjelma, wahai putera keluarga Bhārata.

Penjelasan
Kata sṛjāmi bermakna dalam ayat ini. Srjami tidak dapat digunakan dengan arti ciptaan, sebab menurut ayat tadi, bentuk atau badan Tuhan tidak diciptakan karena segala bentuk Tuhan tetap ada untuk selamanya. Karena itu, sṛjāmi berarti Krishna mewujudkan Diri-Nya dalam bentuk -Nya yang asli. Walaupun Krishna muncul tepat pada jadwal, yaitu pada akhir Dvaparayuga pada jaman kedua puluh delapan selama masa Manu ketujuh dalam satu hari bagi Brahma, Krishna tidak wajib mengikuti aturan dan peraturan seperti itu. Ini karena Krishna bebas sepenuhnya untuk bertindak dengan banyak cara sesuai dengan kehendak Beliau. Karena itu, Krishna muncul atas kehendak-Nya Sendiri bilamana hal-hal bertentangan dengan dharma merajalela dan dharma yang sejati hilang. Prinsip-prinsip dharma digariskan dalam Veda, dan penyelewengan apapun dalam hal pelaksanaan aturan Veda dengan sebenarnya menyebabkan seseorang melanggar dharma. Dalam Srimad-Bhagavatam dinyatakan bahwa prinsip-prinsip seperti itu adalah hukum-hukum Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat menciptakan suatu sistem dharma. Diakui pula bahwa pada permulaan, Veda disabdakan oleh Krishna Sendiri kepada Brahma di dalam hati Brahma. Karena itu, prinsip-prinsip dharma adalah perintah-perintah langsung dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (dharmam tu saksad bhagavat-pranitam). Prinsip-prinsip tersebut ditunjukkan dengan jelas dalam semua ayat Bhagavad-gita. Maksud Veda ialah untuk menegakkan prinsip-prinsip seperti itu di bawah perintah Tuhan Yang Maha Esa. Pada akhir Bhagavad-gita Krishna menyuruh secara langsung bahwa prinsip dharma tertinggi ialah menyerahkan diri hanya kepada Krishna, dan tidak lebih dari itu. Prinsip-prinsip Veda mendorong seseorang menuju penyerahan diri sepenuhnya kepada Krishna; dan bilamana prinsip-prinsip seperti itu diganggu oleh orang jahat, Krishna muncul. Dari Bhagavatam kita dapat mengerti bahwa Sang Buddha adalah penjelmaan yang dikuasakan oleh Krishna yang muncul pada saat keduniawian merajalela dan orang duniawi menggunakan alasan kekuasaan Veda. Walaupun ada aturan dan peraturan batas tertentu mengenai pengorbanan binatang untuk tujuan-tujuan khusus dalam Veda, orang yang mempunyai kecenderungan jahat telah mulai mengorbankan binatang tanpa mengikuti prinsip-prinsip Veda. Sang Buddha muncul untuk menghentikan penyelewengan tersebut dan menegakkan prinsip-prinsip Veda yang mengajarkan supaya orang tidak melakukan kekerasan. Karena itu, setiap avatara, atau penjelmaan Tuhan, mempunyai misi tertentu, dan semua avatara itu diuraikan dalam Kitab-kitab Suci. Hendaknya seseorang jangan diakui sebagai avatara kecuali dia disebut dalam Kitab-kitab Suci. Krishna tidak hanya muncul di India. Krishna dapat menjelma di manapun bilamana Beliau ingin muncul. Dalam setiap penjelmaan, Krishna membicarakan dharma sejauh apa yang dapat dipahami oleh orang tertentu dalam keadaan mereka yang khusus. Tetapi misi Beliau tetap sama—yaitu untuk membawa rakyat sampai mereka sadar akan Tuhan dan mematuhi prinsip-prinsip dharma. Kadang-kadang Beliau Sendiri menjelma, dan kadang-kadang Beliau mengirim utusan-Nya yang dapat dipercaya dalam bentuk putera-Nya, atau hamba-Nya, atau Beliau Sendiri muncul dalam bentuk samaran.
Prinsip-prinsip Bhagavad-gita disabdakan kepada Arjuna, dan juga kepada tujuan-tujuan lain yang sudah maju sekali, sebab Arjuna sudah maju sekali dibandingkan dengan orang biasa di tempat-tempat lain di dunia. Dua ditambah dua sama dengan empat adalah prinsip matematika yang benar, baik di kelas matematika untuk orang yang baru mulai belajar menghitung maupun di kelas matematika tingkat tinggi. Namun matematika tingkat tinggi dan matematika tingkat dasar kedua-duanya tetap ada. Karena itu, dalam semua penjelmaan Tuhan, prinsip-prinsip yang sama diajarkan, tetapi kelihatannya prinsip-prinsip itu lebih tinggi atau lebih bersifat dasar dalam keadaan-keadaan yang berbeda. Prinsip-prinsip dharma yang lebih tinggi mulai dengan pengakuan terhadap empat golongan dan empat status kehidupan masyarakat, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Seluruh tujuan misi penjelmaan-penjelmaan Tuhan ialah untuk membangkitkan kesadaran Krishna di mana-mana. Kesadaran seperti itu terwujud dan tidak terwujud hanya karena keadaan yang berbeda.


 4.8



paritrāṇāya sādhūnāḿ
vināśāya ca duṣkṛtām
dharma-saḿsthāpanārthāya
sambhavāmi yuge yuge

paritrāṇāya—untuk menyelamatkan; sādhūnām—terhadap para penyembah; vināśāya—untuk membinasakan; ca—juga; duṣkṛtām—terhadap orang jahat; dharma—prinsip-prinsip dharma; saḿsthāpana-arthāya—untuk menegakkan kembali; sambhavāmi—Aku muncul; yuge—jaman; yuge—demi jaman.

Terjemahan

Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada setiap jaman.

Penjelasan
Menurut Bhagavad-gita, seorang sadhu (orang suci) adalah orang yang sadar akan Krishna. Barangkali kelihatannya seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dharma, tetapi kalau dia mempunyai kwalifikasi kesadaran Krishna secara keseluruhan dan sepenuhnya, harus dimengerti bahwa dia seorang sadhu. Duskṛta m berarti orang yang tidak mempedulikan kesadaran Krishna. Orang jahat, atau duskṛta m, diuraikan sebagai orang bodoh dan manusia yang paling rendah, walaupun mungkin mereka menyandang pendidikan duniawi, sedangkan orang lain, yang seratus persen tekun dalam kesadaran Krishna diakui sebagai sadhu, meskipun mungkin ia belum berpengetahuan dan belum mempunyai kebudayaan yang tinggi. Tuhan Yang Maha Esa tidak perlu muncul dalam bentuk-Nya yang asli untuk membinasakan orang yang tidak percaya kepada Tuhan, seperti tindakan Beliau terhadap raksasa-raksasa bernama Ravana dan Kamsa. Tuhan mempunyai banyak pesuruh yang sanggup menghancurkan raksasa-raksasa. Tetapi Krishna turun khususnya untuk melegakan hati para penyembah-Nya yang murni, yang selalu disiksa oleh orang jahat. Orang jahat menyiksa penyembah, walaupun kebetulan penyembah itu adalah anggota keluarganya. Prahlada Maharājā  adalah putera Hiranyakasipu , namun Prahlada disiksa oleh ayahnya. Walaupun Devaki, ibu Krishna, adalah adik Kamsa, Devaki dan suaminya bernama Vasudeva disiksa hanya karena Krishna akan dilahirkan sebagai putera mereka. Jadi, Krishna muncul terutama untuk menyelamatkan Devaki, daripada untuk membunuh Kamsa, tetapi kedua maksud itu dilaksanakan sekaligus. Karena itu, dikatakan di sini bahwa untuk menyelamatkan seorang penyembah dan membinasakan orang jahat, Krishna muncul dalam berbagai penjelmaan.
  Di dalam Caitanya-caritamrta hasil kārya Krishnadasa Kavirājā , ayat-ayat berikut (Madhya 20.263-264) meringkas prinsip-prinsip penjelmaan tersebut:
sṛṣṭi-hetu yei mūrti prapañce avatare
sei īśvara-mūrti 'avatāra' nāma dhare
māyātīta paravyome sabāra avasthāna
viśve avatari' dhare 'avatāra' nāma
Avatara, atau penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa, turun dari kerajaan Tuhan untuk perwujudan material. Bentuk khusus Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang turun seperti itu disebut penjelmaan, atau avatara. Penjelmaan penjelmaan seperti itu berada di dunia rohani, kerajaan Tuhan. Apabila mereka turun dalam ciptaan material, mereka diberi nama avatara."
Ada berbagai jenis avatara, misalnya purusa-vatara, guna-vatara, lila-vatara, saktyavesa-avatara, manvantaraavatara, dan yugavatara—semuanya muncul tepat pada jadwal di seluruh alam semesta. Tetapi Sri Krishna adalah Tuhan Yang Mahaabadi, sumber segala avatara. Sri Krishna turun dengan maksud khusus, yaitu untuk menghilangkan rasa cemas di dalam hati para penyembah-Nya yang murni. Para penyembah yang murni ingin sekali melihat Sri Krishna dalam kegiatan-Nya yang asli di Vrndavana. Karena itu, tujuan utama avatara Krishna ialah untuk memuaskan hati para penyembah-Nya yang murni.
Krishna menyatakan bahwa Beliau menjelma pada setiap jaman. Ini menunjukkan bahwa Krishna juga menjelma pada jaman Kali. Sebagaimana dinyatakan dalam Srimad-Bhagavatam, penjelmaan pada jaman Kali adalah Sri  Caitanya Mahaprabhu yang telah menyebarkan cara sembahyang kepada Krishna melalui perkumpulan sankirtana  (memuji nama-nama suci Krishna secara bersama-sama) dan menyebarkan kesadaran Krishna di seluruh India. Sri Caitanya Mahaprabhu meramalkan bahwa kebudayaan sankirtana tersebut akan disebarkan di setiap pelosok dunia, dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Sri  Caitanya sebagai penjelmaan Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, diuraikan secara rahasia tetapi tidak langsung dalam bagian-bagian rahasia Kitab-kitab Suci, misalnya Upanisad-upanisad, Mahabhārata , dan Bhagavatam. Para penyembah Sri Krishna sangat tertarik pada gerakan sankirtana Sri Caitanya. Sri Caitanya Mahaprabhu sebagai avatara Tuhan Yang Maha Esa tidak membunuh orang jahat, melainkan menyelamatkan mereka atas karunia-Nya yang tiada sebabnya.


 4.9

janma karma ca me divyam
evaḿ yo vetti tattvataḥ
tyaktvā dehaḿ punar janma
naiti mām eti so 'rjuna

janma—kelahiran; karma—pekerjaan; ca—juga; me—milik-Ku; divyam—rohani; evam—seperti itu; yaḥ—siapapun yang; vetti—mengenal; tattvataḥ—dalam kenyataan; tyaktvā—meninggalkan; deham—badan ini; punaḥ—lagi; janma—kelahiran; na—tidak pernah; eti—mencapai; mām—kepada-Ku; eti—mencapai; saḥ—dia; Arjuna—wahai Arjuna.

Terjemahan

Orang yang mengenal sifat rohani kelahiran dan kegiatan-Ku tidak dilahirkan lagi di dunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan ia mencapai tempat tinggal-Ku yang kekal, wahai Arjuna.

Penjelasan
Cara Krishna turun dari tempat tinggal rohani-Nya sudah dijelaskan dalam ayat keenam. Orang yang dapat mengerti kebenaran tentang munculnya Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sudah mencapai pembebasan dari ikatan material. Karena itu, ia segera kembali ke kerajaan Tuhan sesudah meninggalkan badan jasmani yang ditempatinya sekarang. Pembebasan makhluk hidup dari ikatan material sama sekali tidak gampang. Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan dan para yogi hanya mencapai pembebasan sesudah bersusah-susah selama banyak penjelmaan. Sesudah itupun pembebasan yang dicapainya—yaitu menunggal ke dalam brahmajyoti yang tidak bersifat pribadi yang berasal dari Tuhan—hanya merupakan pembebasan sebagian, dan masih ada resiko bahwa mereka akan kembali ke dunia material. Tetapi seorang penyembah, hanya dengan mengerti sifat rohani badan dan kegiatan Tuhan, mencapai tempat tinggal Krishna sesudah badan ini berakhir, dan dia tidak harus mengambil resiko bahwa Diri-Nya akan kembali lagi ke dunia material. Dalam Brahma-samhita dinyatakan bahwa jumlah bentuk dan penjelmaan Krishna besar sekali: advaitam acyutam anadim anantarupam. Walaupun ada banyak bentuk rohani Krishna, semuanya satu dan semuanya adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang sama. Seseorang harus mengerti kenyataan ini dengan keyakinan, walaupun kenyataan ini tidak dapat dipahami oleh sarjana-sarjana duniawi dan ahliahli filsafat yang mendasarkan pengetahuan pada percobaan. Sebagaimana dinyatakan dalam Veda (Purusabodhini Upanisad):
eko devo nitya-līlānurakto
bhakta-vyāpī hṛdy antar-ātmā
Kepribadian Tuhan Yang Maha Tunggal dalam banyak bentuk rohani sibuk dalam hubungan-hubungan dengan para penyembah-Nya yang murni untuk selamanya." Sabda Veda tersebut dibenarkan oleh Krishna Sendiri dalam ayat ini dari Bhagavad-gita. Orang yang mengakui kenyataan ini berdasarkan kekuasaan Veda dan kekuasaan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan tidak memboroskan waktunya dalam angan-angan filsafat akan mencapai tingkat pembebasan sempurna yang paling tinggi. Tidak dapat diragu-ragukan bahwa hanya dengan mengakui kenyataan ini berdasarkan keyakinan seseorang dapat mencapai pembebasan. Sabda Veda tat tvām asi sungguh-sungguh digunakan dalam hal ini. Siapapun yang mengerti bahwa Sri Krishna adalah Yang Mahakuasa, atau yang berkata kepada Krishna, Anda adalah Brahman Yang
Paling Utama yang sama, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa," pasti segera mencapai pembebasan. Sebagai hasilnya, terjamin bahwa dia akan masuk dalam hubungan rohani dengan Krishna. Dengan kata lain, penyembah Krishna yang setia seperti itu akan mencapai kesempurnaan, dan hal ini dibenarkan oleh pernyataan berikut dari Veda:
tam eva viditvāti mṛtyum eti
nānyaḥ panthā vidyate 'yanāya
Seseorang dapat mencapai tingkat pembebasan sempurna dari kelahiran dan kematian hanya dengan mengenal Tuhan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada cara lain lagi untuk mencapai kesempurnaan ini." (svetasvatara Upanisad 3.8). Tidak ada pilihan lain. Itu berarti bahwa siapapun yang tidak mengerti Sri Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa pasti dipengaruhi oleh sifat kebodohan, dan sebagai akibatnya dia tidak akan mencapai pembebasan dengan apa yang diumpamakan sebagai hanya menjilat bagian luar botol berisi madu, atau dengan menafsirkan Bhagavad-gita menurut kesarjanaan duniawi. Filosof-filosof yang mendasarkan pengetahuannya pada percobaan seperti itu barangkali mengambil peranan yang penting sekali di dunia material, tetapi belum tentu mereka memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan. Sarjana-sarjana duniawi yang sombong seperti itu harus menunggu karunia yang tiada sebabnya dari seorang penyembah Tuhan. Karena itu, hendaknya orang mengembangkan kesadaran Krishna dengan keyakinan dan pengetahuan, dan dengan cara demikian mencapai kesempurnaan.

4.10
vīta-rāga-bhaya-krodhā
man-mayā mām upāśritāḥ
bahavo jñāna-tapasā
pūtā mad-bhāvam āgatāḥ

vīta—dibebaskan dari; rāga—ikatan; bhaya—rasa takut; krodhaḥ—dan amarah; mat-mayā—sepenuhnya di dalam-Ku; mām—di dalam-Ku; upāśritāḥ—menjadi mantap sepenuhnya; bahavah—banyak; jñāna—dari pengetahuan; tapasā—oleh pertapaan itu; pūtāḥ—dengan disucikan; mat-bhāvam—cinta-bhakti rohani kepada-Ku; āgatāḥ—dicapai.
Terjemahan

Banyak orang pada masa lampau disucikan oleh pengetahuan tentang-Ku dengan dibebaskan dari ikatan, rasa takut dan amarah, khusuk sepenuhnya berpikir tentang-Ku dan berlindung kepada-Ku—dan dengan demikian mereka semua mencapai cinta-bhakti rohani kepada-Ku.

Penjelasan
Sebagaimana diuraikan di atas, orang yang terlalu dipengaruhi oleh hal-hal duniawi sulit sekali mengerti sifat pribadi Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama. Pada umumnya orang yang terikat pada paham hidup yang bersifat jasmani sangat terikat dalam keduniawian sehingga hampir tidak mungkin mereka mengerti bagaimana Yang Mahakuasa adalah kepribadian. Orang-orang duniawi seperti itu tidak dapat membayangkan bahwa ada badan rohani yang tidak dapat dimusnahkan, penuh pengetahuan dan bahagia untuk selamanya. Dalam paham duniawi, badan dapat dimusnahkan, penuh kebodohan dan penuh sengsara. Karena itu, bila rakyat umum diberitahu tentang bentuk pribadi Tuhan, mereka memelihara paham jasmani yang sama di dalam pikiran. Orang duniawi seperti itu, menganggap bentuk manifestasi material yang besar sekali adalah Yang Mahakuasa. Sebagai akibatnya, mereka menganggap Yang Mahakuasa tidak bersifat pribadi. Oleh karena mereka terlalu terikat secara duniawi, paham bahwa kepribadian tetap ada sesudah pembebasan dari alam menyebabkan mereka merasa takut. Apabila mereka diberitahu bahwa kehidupan rohani juga bersifat individual dan pribadi, mereka takut untuk menjadi kepribadian lagi. Karena itu, sewajarnya mereka lebih suka sesuatu seperti meninggal ke dalam kekosongan yang tidak bersifat pribadi. Pada umumnya, mereka mengumpamakan para makhluk hidup sebagai gelembung di dalam lautan, yang menunggal ke dalam lautan itu. Itulah kesempurnaan tertinggi keberadaan rohani yang dapat dicapai tanpa kepribadian individual. Ini merupakan sejenis tahap hidup yang menakutkan, tanpa pengetahuan sempurna tentang keberadaan rohani. Di samping itu, ada banyak orang yang tidak dapat mengerti keberadaan rohani sama sekali. Setelah merasa malu karena begitu banyak teori dan penyangkalan berbagai jenis angan-angan filsafat, mereka merasa kesal atau marah dan menarik kesimpulan secara bodoh bahwa tidak ada sebab yang paling utama dan bahwa pada hakekatnya segala sesuatu adalah kekosongan. Keadaan hidup orang seperti itu bersifat sakit. Ada orang yang terlalu terikat secara material sehingga tidak memperhatikan kehidupan rohani, ada yang ingin menunggal dalam sebab rohani yang paling utama, dan ada yang tidak percaya pada segala sesuatu, karena marah terhadap segala jenis angan-angan rohani akibat rasa putus asa. Golongan manusia terakhir tersebut berlindung kepada sejenis mabuk-mabukan, dan khayalan-khayalan yang mempengaruhi diri mereka kadang-kadang dianggap sebagai wahyu rohani. Seseorang harus menjadi bebas dari ketiga tingkat ikatan tersebut terhadap dunia material; yaitu, kealpaan terhadap kehidupan rohani, rasa takut terhadap identitas pribadi yang rohani, dan paham kekosongan yang berasal dari frustrasi dalam hidup. Untuk dibebaskan dari tiga tahap paham hidup material tersebut, seseorang harus berlindung sepenuhnya kepada Krishna di bawah bimbingan seorang guru kerohanian yang dapatdipercaya, dan mengikuti disiplin dan prinsip-prinsip yang mengatur kehidupan bhakti. Tahap terakhir dalam kehidupan bhakti disebut bhava, atau cinta-bhakti rohani kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut Bhakti-rasamrta-sindhu (1.4.15-16), ilmu pengetahuan bhakti:
ādau śraddhā tataḥ sādhu-
sańgo 'tha bhajana-kriyā
tato 'nartha-nivṛttiḥ syāt
tato niṣṭhā rucis tataḥ
athāsaktis tato bhāvas
tataḥ premābhyudañcati
sādhakānām ayaḿ premṇaḥ
prādurbhāve bhavet kramaḥ
Pada permulaan seseorang harus mempunyai keinginan untuk keinsafan diri sebagai pendahuluan. Ini akan membawa Diri-Nya sampai tahap berusaha bergaul dengan orang yang sudah maju dalam kerohanian. Pada tahap berikutnya, ia diterima sebagai murid oleh seorang guru kerohanian yang mulia, dan di bawah tuntunan dari guru kerohanian seorang murid yang baru mulai belajar memulai proses bhakti. Dengan melaksanakan bhakti di bawah bimbingan guru kerohanian, ia dibebaskan dari segala ikatan material, mencapai kemantapan dalam keinsafan diri, dan memperoleh minat untuk mendengar tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Yang Mutlak, Sri Krishna. Minat ini membawa seseorang hingga lebih maju sampai ikatan terhadap kesadaran Krishna, yang kemudian menjadi matang dalam bhava, atau tingkat pendahuluan sebelum cinta-bhakti rohani kepada Tuhan. Cinta-bhakti yang sejati kepada Tuhan disebut prema, tingkat kesempurnaan hidup tertinggi." Pada tingkat prema seseorang tekun senantiasa dalam cinta-bhakti rohani kepada Tuhan. Demikianlah melalui proses bhakti secara bertahap, di bawah bimbingan sang guru kerohanian yang dapat dipercaya, seseorang dapat mencapai tahap tertinggi, dengan dibebaskan dari segala ikatan material, bebas dari rasa takut terhadap kepribadian rohaninya yang individual, dan bebas dari frustrasi yang mengakibatkan filsafat kekosongan. Akhirnya ia dapat mencapai tempat tinggal Tuhan Yang Maha Esa.

4.11
ye yathā māḿ prapadyante
tāḿs tathāiva bhajāmy aham
mama vartmānuvartante
manuṣyāḥ pārtha sarvaśaḥ
ye—semua orang yang; yathā—sejauh mana; mām—kepada-Ku; prapadyante—menyerahkan Diri-Nya; tān—mereka; tathā—seperti itu; evā—pasti; bhajāmi—Aku menganugerahi; aham—Aku; mama—milik-Ku; vartma—jalan; anuvartante—mengikuti; manuṣyāḥ—semua orang; pārtha—wahai putera Pṛthāsarvāsaḥ—dalam segala hal.

Terjemahan

Sejauh mana semua orang menyerahkan diri kepada-Ku, Aku menganugerahi mereka sesuai dengan penyerahan Diri-Nya itu. Semua orang menempuh jalan-Ku dalam segala hal, wahai putera Pṛthā.

Penjelasan
Semua orang mencari Krishna dalam berbagai aspek manifestasi-manifestasi-Nya. Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, diinsafi sebagian dalam cahaya brahmajyoti-Nya yang tidak bersifat pribadi dan sebagai Roh Yang Utama yang berada di mana-mana dan bersemayam dalam segala sesuatu, termasuk pula butir-butir atom. Tetapi Krishna hanya diinsafi sepenuhnya oleh para penyembah-Nya yang murni. Karena itu, Krishna adalah obyek keinsafan semua orang. Jadi, semua orang dipuaskan menurut keinginannya untuk memperoleh Krishna. Di dunia rohani Krishna juga membalas cinta-bhakti dengan para penyembah-Nya yang murni dalam sikap rohani, sesuai dengan kehendak seorang penyembah untuk memperoleh Beliau. Barangkali seseorang ingin supaya Krishna menjadi atasan yang paling utama. Penyembah lain menginginkan Krishna sebagai kawan pribadinya, penyembah lain menginginkan Krishna sebagai puteranya, dan penyembah lain menginginkan Krishna sebagai kekasihnya. Krishna menganugerahi semua penyembah secara merata, menurut berbagai kekuatan cinta-bhakti mereka terhadap Beliau. Di dunia material, balasan perasaan yang sama juga ada, dan perasaanperasaan itu dibalas oleh Tuhan secara merata dengan berbagai jenis penyembah. Para penyembah yang murni baik di sini maupun ditempat tinggal rohani mengadakan hubungan dengan Krishna secara pribadi dan dapat mengabdikan diri kepada Beliau secara pribadi. Dengan demikian mereka memperoleh kebahagiaan rohani dalam cinta-bhakti kepada Beliau. Krishna juga membantu orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan yang ingin bunuh diri secara rohani dengan meniadakan keberadaan pribadi makhluk hidup. Krishna membantu mereka dengan cara menyerap mereka kedalam cahaya Diri-Nya. Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan seperti itu tidak setuju mengakui Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang kekal dan penuh kebahagiaan. Sebagai akibatnya mereka tidak dapat menikmati kebahagiaan pengabdian pribadi kepada Tuhan yang bersifat rohani karena mereka sudah menghapus individualitasnya. Ada beberapa di antaranya yang belum mantap dengan teguh dalam keberadaan yang bersifat pribadi, dan mereka kembali lagi kelapangan material untuk memperlihatkan keinginan yang terpendam dalam hatinya untuk melakukan kegiatan. Mereka tidak diizinkan memasuki planet-planet rohani, tetapi mereka diberi kesempatan sekali lagi untuk bertindak di planet-planet material. Krishna sebagai yajñesvara menganugerahkan hasil yang diinginkan dari tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan bagi orang yang bekerja untuk menikmati hasil atau pahala. Para yogi yang mencari kesaktian batin dianugerahi kekuatan seperti itu. Dengan kata lain semua orang hanya bergantung kepada karunia Krishna untuk mencapai sukses, dan segala jenis proses rohani hanya berbagai tingkat sukses dalam menempuh jalan yang sama. Karena itu, kalau seseorang tidak mencapai kesempurnaan tertinggi kesadaran Krishna, maka segala usahanya kurang sempurna, sebagaimana dinyatakan dalam Srimad-Bhagavatam (2.3.10):

 akāmaḥ sarva-kāmo vā
tīvreṇa bhakti-yogena

Baik seseorang bebas dari keinginan (keadaan para penyembah), menginginkan segala hasil atau pahala, maupun mencari pembebasan, hendaknya ia berusaha dengan segala upaya untuk menyembah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa untuk mencapai kesempurnaan yang lengkap, yang memuncak dalam kesadaran Krishna."

4.12

kāńkṣantaḥ karmaṇāḿ siddhiḿ
yajanta iha devatāḥ
kṣipraḿ hi mānuṣe loke
siddhir bhavati karma-jā

kāńkṣantaḥ—menginginkannya; karmaṇām—mengenai kegiatan yang membuahkan pahala; siddhim—kesempurnaan; yajante—mereka menyembah dengan korban-korban suci; iha—di dunia material; devatāḥ—para dewa-dewa; kṣipram—cepat sekali; hi—pasti; mānuṣe—dalam masyarakat manusia; loke—di dunia ini; siddhiḥ—berhasil; bhavati—datang; karma-jā—dari pekerjaan untuk membuahkan hasil.

Terjemahan

Orang di dunia ini menginginkan sukses dalam kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil; karena itu, mereka menyembah para dewa. Tentu saja, manusia cepat mendapat hasil dari pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil di dunia ini.

Penjelasan
Ada salah paham besar tentang para dewa atau setengah dewa di dunia material. Walaupun orang yang kurang cerdas menyamar sebagai sarjana-sarjana yang hebat, mereka menganggap dewa-dewa tersebut adalah berbagai bentuk Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya, para dewa bukan berbagai bentuk Tuhan, melainkan bagian-bagian Tuhan yang mempunyai sifat yang sama seperti Tuhan. Tuhan adalah satu, sedangkan ada banyak bagian yang mempunyai sifat yang sama seperti Beliau. Dalam Veda dinyatakan, nityo nityanam: Tuhan adalah satu. īśvaraḥ paramaḥ kṛṣṇah. Tuhan Yang Maha Esa adalah satu—Krishna—dan para dewa dipercayakan dengan kekuatan untuk mengurus dunia material ini. Semua dewa tersebut adalah makhluk-makhluk hidup (nityanam) dengan berbagai tingkat kekuatan material. Mereka tidak mungkin sejajar dengan Tuhan Yang Maha Esa—Narayana, Visnu, atau Krishna. Siapapun yang menganggap Tuhan dan para dewa adalah sejajar disebut orang tidak percaya kepada Tuhan atau pasandi. Bahkan dewa-dewa yang mulia seperti Brahma dan Siva pun tidak dapat disejajarkan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya, Krishna disembah oleh dewa-dewa seperti Brahma dan Siva (sivavirincinutam). Namun anehnya ada banyak pemimpin manusia yang disembah oleh orang bodoh karena salah paham anthropomorphisme (paham yang menganggap bentuk Tuhan seperti seorang manusia) atau zoomorphisme (paham yang menganggap Tuhan seperti seekor binatang). Kata-kata iha devatāḥ, menunjukkan manusia yang perkasa itu dewa di dunia material. Tetapi Narayana, Visnu atau Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, bukan sebagian dari dunia ini. Sripada Sankaracarya, pemimpin orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, menyatakan bahwa Narayana, atau Krishna berada di luar ciptaan material ini. Akan tetapi, orang bodoh (hrtajñāna) menyembah banyak dewa karena mereka menginginkan hasil dengan segera. Mereka mendapat hasil, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa hasil yang diperoleh dengan cara demikian bersifat sementara dan dimaksudkan untuk orang yang kurang cerdas. Orang cerdas sadar akan Krishna, dia tidak perlu menyembah banyak dewa yang remeh untuk segera mendapat hasil yang bersifat sementara.Dewa-dewa di dunia material ini, beserta para penyembahnya, akan lenyap pada waktu peleburan dunia material ini. Berkat-berkat para dewa bersifat material dan sementara. Baik dunia material maupun penduduknya, termasuk para dewa dan penyembahnya, adalah gelembunggelembung dalam lautan jagat. Akan tetapi, di dunia ini masyarakat manusia gila dalam usaha mencari hal-hal sementara seperti kekayaan material, yaitu memiliki tanah, keluarga dan perlengkapan yang dapat dinikmati. Untuk memperoleh benda-benda yang bersifat sementara seperti itu orang menyembah para dewa atau orang perkasa dalam masyarakat manusia. Kalau seseorang diberi jabatan sebagai menteri dalam pemerintahan dengan cara menyembah seorang pemimpin politik, dia menganggap Diri-Nya sudah mendapat berkat yang paling besar sekali. Karena itu, semuanya bertekuk lutut di hadapan orang yang namanya pemimpin atau pembesar" untuk mendapat berkat yang bersifat sementara, dan memang mereka mendapat berkat-berkat seperti itu. Orang bodoh seperti itu tidak tertarik kepada kesadaran Krishna untuk mencapai penyelesaian kekal terhadap kesulitan material. Mereka semua mencari-cari kenikmatan indera-indera, dan untuk mendapat sekedar fasilitas untuk kenikmatan indera-indera mereka tertarik untuk menyembah makhluk-makhlukyang telah dikuasakan yang bernama para dewa. Ayat ini menunjukkan bahwa orang seperti itu jarang tertarik kepada kesadaran Krishna. Mereka kebanyakan tertarik kepada kenikmatan material; karena itu, mereka menyembah suatu makhluk hidup yang perkasa.


4.13

cātur-varṇyaḿ mayā sṛṣṭaḿ
guṇa-karma-vibhāgaśaḥ
tasya kartāram api māḿ
viddhy akartāram avyayām


cātuḥ-varṇyam—empat bagian masyarakat manusia; mayā—oleh-Ku; sṛṣṭam—diciptakan; guṇa—dari sifat; karma—dan pekerjaan; vibhāgaśaḥ—menurut pembagian; tasya—dari itu; kartāram—ayah; api—walaupun; mām—Aku; viddhi—engkau dapat mengetahui; akartāram—sebagai yang tidak melakukan; avyayām—tidak dapat diubah.

Terjemahan

Menurut tiga sifat alam dan pekerjaan yang ada hubungannya dengan sifat-sifat itu, empat bagian masyarakat manusia diciptakan oleh-Ku. Walaupun Akulah yang menciptakan sistem ini, hendaknya engkau mengetahui bahwa Aku tetap sebagai yang tidak berbuat, karena Aku tidak dapat diubah.

Penjelasan
Tuhan adalah pencipta segala sesuatu. Segala sesuatu dilahirkan dari Beliau, segala sesuatu dipelihara oleh Beliau, dan sesudah peleburan, segala sesuatu bersandar di dalam Beliau. Karena itu, Tuhan adalah Pencipta empat bagian susunan masyarakat, mulai dari golongan manusia yang cerdas, yang disebut dengan istilah brahmaṇā karena mereka mantap dalam sifat kebaikan. Golongan kedua adalah golongan administrator, yang disebut dengan istilah ksatriya karena mereka berada dalam sifat nafsu. Para pedagang, yang disebut dengan istilah vaisya, berada dalam sifat-sifat nafsu dan kebodohan, dan para sudra, atau golongan buruh, berada dalam sifat kebodohan alam material. Walaupun Krishna menciptakan empat bagian dalam masyarakat manusia, Beliau Sendiri tidak termasuk salah satu dari bagian-bagian itu, sebab Beliau bukan salah satu di antara roh-roh terikat. Sebagian roh-roh yang terikat itu merupakan masyarakat manusia. Masyarakat manusia mirip dengan masyarakat binatang lainnya, tetapi untuk mengangkat manusia dari tingkat binatang, empat bagian tersebut di atas diciptakan oleh Tuhan untuk mengembangkan kesadaran Krishna secara sistematis. Kecenderungan seorang manusia terhadap pekerjaan ditentukan oleh sifat-sifat alam material yang telah diperolehnya. Gejalagejala kehidupan seperti itu, menurut aneka sifat alam, diuraikan dalam Bab Delapan Belas dari Bhagavad-gita. Akan tetapi, orang yang sadar akan Krishna berada di atas brahmaṇā. Menurut sifatnya, seharusnya seorang brahmaṇā mengetahui tentang Brahman, Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama. Kebanyakan brahmaṇā hanya mendekati Brahman yang tidak berbentuk pribadi sebagai suatu manifestasi dari Sri Krishna. Tetapi hanya orang yang melampaui pengetahuan terbatas yang dimiliki seorang brahmaṇā dan mencapai pengetahuan tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, dapat menjadi orang yang sadar akan Krishna—atau dengan kata lain, seorang vaisnava. Kesadaran Krishna termasuk segala pengetahuan tentang aneka penjelmaan yang berkuasa penuh dari Krishna yaitu; Rāma, Nrsimha, Varaha, dan lain-lain. Akan tetapi, Krishna melampaui sistem tersebut yang terdiri dari empat bagianmasyarakat manusia. Orang yang sadar akan Krishna juga melampaui segala bagian masyarakat manusia, baik bagian menurut masyarakat, bangsa mau pun jenis kehidupan.

4.14

na māḿ karmaṇi limpanti
na me karma-phale spṛhā
iti māḿ yo 'bhijānāti
karmabhir na sa badhyate
na—tidak pernah; mām—Aku; karmaṇi—segala jenis pekerjaan; limpanti—mempengaruhi; na—tidak juga; me—milik-Ku; karma-phale—dalam perbuatan yang membuahkan hasil; spṛhā—cita-cita; iti—demikian; mām—Aku; yaḥ—orang yang; abhijānāti—mengetahui; karmabhiḥ—oleh reaksi dari pekerjaan seperti itu; na—tidak pernah; saḥ— dia; badhyate—menjadi terikat.

Terjemahan

Tidak ada pekerjaan yang mempengaruhi Diri-Ku; Aku juga tidak bercita-cita mendapat hasil dari perbuatan. Orang yang mengerti kenyataan ini tentang Diri-Ku juga tidak akan terikat dalam reaksi-reaksi hasil pekerjaan.

Penjelasan
Seperti halnya ada undang-undang hukum di dunia material yang menyatakan bahwa rājā  tidak dapat disalahkan, atau rājā  tidak dipengaruhi oleh hukum-hukum negara, begitu pula, walaupun Krishna adalah Pencipta dunia material ini, Beliau tidak dipengaruhi oleh kegiatan dunia material. Krishna menciptakan dan tetap menyisih dari ciptaan, sedangkan para makhluk hidup terikat dalam hasil-hasil kegiatan material karena kecenderungan mereka untuk berkuasa atas sumber-sumber alam. Pemilik suatu perusahaan tidak bertanggung jawab atas kegiatan benar dan salah para buruh, tetapi para buruh sendiri bertanggung jawab. Para makhluk hidup sibuk dalam kegiatan kepuasan indera-indera masing-masing, dan kegiatan itu tidak dilakukan atas perintah Krishna. Demi kemajuan kepuasan indera-indera, para makhluk hidup sibuk dalam pekerjaan di dunia ini, dan mereka bercita-cita mendapat kebahagiaan di surga sesudah meninggal. Krishna sempurna dalam Diri-Nya sendiri. Karena itu, Krishna tidak tertarik kepada apa yang hanya namanya saja kebahagiaan di surga. Para dewa di surga hanya hamba-hamba yang sibuk mengabdikan diri kepada Beliau. Pemilik perusahaan tidak pernah menginginkan kesenangan kelas rendah yang barangkali diinginkan oleh para buruh. Krishna menyisih dari perbuatan dan reaksi material. Misalnya, hujan tidak bertanggung jawab untuk berbagai jenis tumbuhan yang muncul di muka bumi, walaupun tanpa hujan seperti itu tidak mungkin ada tumbuhan. Kenyataan ini dibenarkan dalam smrti Veda sebagai berikut:
nimitta-mātram evāsau
sṛjyānāḿ sarga-karmaṇi
pradhāna-kāraṇī-bhūtā
yato vai sṛjya-śaktayaḥ
Dalam ciptaan material, Tuhan hanyalah sebab yang paling utama. Sebab sementara ialah alam material, yang memungkinkan manifestasi alam semesta dapat dilihat." Ada berbagai jenis makhluk hidup yang diciptakan, misalnya para dewa, manusia dan binatang-binatang yang lebih rendah, dan semuanya dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dari kegiatan baik dan kegiatan buruk yang dilakukannya pada masa lampau. Krishna hanya memberikan fasilitas yang benar kepada mereka untuk kegiatan seperti itu serta peraturan dari sifat-sifat alam, tetapi Beliau tidak pernah bertanggung jawab atas kegiatan mereka baik pada masa lampau maupun sekarang. Dalam Vedanta-sutra (2.1.34) dibenarkan, vaisamyanairgh‚nye na sapeksatvat: Krishna tidak pernah berat sebelah terhadap makhluk hidup manapun. Makhluk hidup bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Krishna hanya memberikan fasilitas kepada makhluk hidup, melalui perantara alam material, yaitu tenaga luar. Orang yang menguasai sepenuhnya segala seluk beluk hukum karmatersebut, atau kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala tidak dipengaruhi oleh hasil kegiatannya. Dengan kata lain, orang yang mengerti sifat rohani Krishna adalah orang berpengalaman dalam kesadaran Krishna, dan karena itu, ia tidak pernah dipengaruhi oleh hukum-hukum karma. Orang yang tidak mengetahui sifat rohani Krishna dan berpikir bahwa kegiatan Krishna bertujuan untuk menghasilkan sesuatu, seperti halnya dengan kegiatan para makhluk hidup biasa, pasti akan terikat dalam reaksi-reaksi hasil perbuatan. Tetapi orang yang mengetahui Kebenaran Yang Paling Utama adalah roh yang sudah mencapai pembebasan dan mantap dalam kesadaran Krishna.

4.15

evaḿ jñātvā kṛtaḿ karma
pūrvair api mumukṣubhiḥ
kuru karmaiva tasmāt tvaḿ
pūrvaiḥ pūrvataraḿ kṛtam

evam—demikian; jñātvā—mengetahui dengan baik; kṛtam—sudah dilakukan; karma—pekerjaan; pūrvaiḥ—oleh para penguasa pada masa lampau; api—memang; mumukṣubhiḥ—yang mencapai pembebasan; kuru—lakukanlah; karma—tugas kewajiban yang telah ditetapkan; evā—pasti; tasmāt—karena itu; tvām—engkau; pūrvaiḥ—oleh mereka yang telah mendahului kita; pūrva-taram—pada jaman purbakala; kṛtam—sebagaimana dilakukan.

Terjemahan

Semua orang yang sudah mencapai pembebasan pada jaman purbakala bertindak dengan pengertian tersebut tentang sifat rohani-Ku. Karena itu, sebaiknya engkau melaksanakan tugas kewajibanmu dengan mengikuti langkah-langkah mereka.

Penjelasan
Ada dua golongan manusia. Hati sebagian masyarakat manusia penuh hal-hal material yang kotor, dan sebagian bebas dari hal-hal material. Kesadaran Krishna bermanfaat bagi kedua golongan tersebut secara merata. Orang yang hatinya penuh hal-hal yang kotor dapat mulai mengikuti garis kesadaran Krishna untuk berangsur-angsur menyucikan diri, dengan mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur bhakti. Orang yang sudah disucikan dari hal-hal kotor dapat terus bertindak dalam kesadaran Krishna yang sama supaya orang lain dapat mengikuti kegiatannya sebagai teladan dan dengan demikian mengambil manfaat. Orang bodoh atau orang yang baru mulai belajar kesadaran Krishna seringkali ingin mengundurkan diri dari kegiatan tanpa memiliki pengetahuan tentang kesadaran Krishna. Keinginan Arjuna untuk mengundurkan diri dari kegiatan di medan perang tidak dibenarkan oleh Krishna. Seseorang hanya perlu mengetahui bagaimana cara bertindak. Mengundurkan diri dari kegiatan kesadaran Krishna dan duduk tanpa ikut kegiatan orang lain sambil purapura sadar akan Krishna kurang penting daripada sungguh-sungguh menjadi sibuk di lapangan kegiatan demi Krishna. Di sini Arjuna dinasehati agar dia bertindak dalam kesadaran Krishna, de ngan mengikuti langkah-langkah murid-murid Krishna dari dahulu kala, misalnya Vivasvan, dewa matahari, sebagaimana disebut di atas. Tuhan Yang Maha Esa mengetahui segala kegiatan-Nya dari masa lampau, dan juga segala kegiatan orang yang telah bertindak dalam kesadaran Krishna pada masa lampau. Karena itu, Beliau menganjurkan perbuatan dewa matahari, yang telah mempelajari ilmu pengetahuan ini dari Krishna beberapa juta tahun sebelumnya. Semua murid Sri Krishna seperti itu disebut di sini sebagai orang yang sudah mencapai pembebasan pada masa lampau. Mereka tekun melaksanakan tugas-tugas kewajiban yang diberikan oleh Krishna.

4.16

kavayo 'py atra mohitāḥ
yaj jñātvā mokṣyase 'śubhāt

kim—apa; karma—perbuatan; kim—apa; akarma—tidak melakukan perbuatan; iti—demikian; kavayaḥ—orang cerdas; api—juga; atra—dalam hal ini; mohitāḥ—bingung; tat—itu; te—kepadamu; karma—pekerjaan; pravakṣyāmi—Aku akan menjelaskan; yat—yang; jñātvā—mengetahui; mokṣyase—engkau akan mencapai pembebasan; aśubhāt—dari segala nasib yang malang.

Terjemahan

Orang cerdaspun bingung dalam menentukan apa itu perbuatan dan apa arti tidak melakukan perbuatan. Sekarang Aku akan menjelaskan kepadamu apa arti perbuatan, dan setelah mengetahui tentang hal ini engkau akan dibebaskan dari segala nasib yang malang.

Penjelasan
Perbuatan dalam kesadaran Krishna harus dilaksanakan menurut teladan yang diberikan oleh para penyembah yang dapat dipercaya yang sudah mendahului kita. Hal ini dianjurkan dalam ayat kelima belas. Mengapa perbuatan tersebut seharusnya tidak dilakukan secara sendirisendiri akan dijelaskan dalam ayat berikut.
Untuk bertindak dalam kesadaran Krishna, seseorang harus mengikuti tuntunan orang-orang yang dibenarkan dalam garis perguruan rohani sebagaimana dijelaskan pada awal bab ini. Sistem kesadaran Krishna diuraikan untuk pertama kalinya kepada dewa matahari. Dewa matahari menjelaskan ilmu pengetahuan itu kepada puteranya yang bernama Manu. Manu menjelaskan ilmu pengetahuan itu kepada puteranya yang bernama Ikṣvāku, dan sistem tersebut masih berjalan di bumi ini sejak jaman purbakala itu. Karena itu, seseorang harus mengikuti langkah-langkah para penguasa dari dahulu dalam garis perguruan rohani. Kalau tidak demikian, orang yang paling cerdas sekalipun akan dibingungkan mengenai perbuatan baku kesadaran Krishna.Karena alasan inilah Krishna mengambil keputusan untuk mengajarkan kesadaran Krishna kepada Arjuna secara langsung. Oleh karena pelajaran langsung dari Krishna kepada Arjuna, siapa pun, yang mengikuti langkah-langkah Arjuna pasti tidak bingung.
Dikatakan bahwa seseorang tidak dapat menentukan cara-cara dharma hanya dengan pengetahuan yang kurang sempurna berdasarkan percobaan. Sebenarnya, prinsip-prinsip dharma hanya dapat ditentukan oleh Tuhan Sendiri. Dharmam tu saksad bhagavad-pranitam (Bhag. 6.3.19). Tiada seorang pun yang dapat menciptakan suatu prinsip dharma dengan angan-angannya yang kurang sempurna. Seseorang harus mengikuti langkah-langkah penguasa besar seperti Brahma, Siva, Nārada, Manu, para -Kumara, Kapila, Prahlada, Bhīṣma, Sukadeva Gosvami, Yamarājā , Janaka, dan Bali Maharājā . Seseorang tidak dapat menentukan apa arti dharma ataupun keinsafan diri melalui angan-angan. Karena itu, atas karunia-Nya yang tiada sebabnya terhadap para penyembah-Nya, Krishna menjelaskan secara langsung kepada Arjuna apa arti perbuatan dan apa arti tidak melakukan perbuatan. Hanya perbuatan yang dilakukan dalam kesadaran Krishna dapat menyelamatkan seseorang dari ikatan kehidupan material.

4.17

karmaṇo hy api boddhavyaḿ
boddhavyaḿ ca vikarmaṇaḥ
akarmaṇaś ca boddhavyaḿ
gahanā karmaṇo gatiḥ

karmaṇaḥ—mengenai pekerjaan; hi—pasti; api—juga; boddhavyam—harus dimengerti; boddhavyam—harus dimengerti; ca—juga; vikarmaṇaḥ—mengenai pekerjaan yang terlarang; akarmaṇaḥ—mengenai tidak melakukan perbuatan; ca—juga; boddhavyam—harus dimengerti; gahanā—sulit sekali; karmaṇaḥ—dari pekerjaan; gatiḥ—masuk.

Terjemahan

Seluk beluk perbuatan sulit sekali dimengerti. Karena itu, hendaknya seseorang mengetahui dengan sebenarnya apa arti perbuatan, apa arti perbuatan yang terlarang, dan apa arti tidak melakukan perbuatan.

Penjelasan
Kalau seseorang sungguh-sungguh ingin mencapai pembebasan dari ikatan material, ia harus mengerti perbedaan antara perbuatan, tidak melakukan perbuatan dan perbuatan yang tidak dibenarkan. Seseorang harus menekuni analisis perbuatan, reaksi dan perbuatan yang terputarba lik seperti itu, sebab itu merupakan mata pelajaran yang sulit sekali. Untuk mengerti kesadaran Krishna dan perbuatan menurut sifat-sifatnya, seseorang harus mempelajari hubungan antara Diri-Nya dengan Yang Mahakuasa; yaitu orang yang sudah mempelajari hal ini secara sempurna mengetahui bahwa setiap makhluk hidup adalah hamba Tuhan yang kekal, dan karena itu, ia harus bertindak dalam kesadaran Krishna. Seluruh Bhagavad-gita diarahkan menuju kesimpulan tersebut. Kesimpulan-kesimpulan lain, yang bertentangan dengan kesadaran ini serta perbuatanperbuatan sehubungan dengan kesadaran itu adalah vikarma, perbuatan terlarang. Untuk mengerti segala hal tersebut, orang harus bergaul dengan tujuan-tujuan yang dapat dipercaya dalam kesadaran Krishna dan mempelajari rahasia tersebut dari mereka; ini sama seperti belajar dari Tuhan Sendiri. Kalau tidak demikian, orang yang paling cerdas sekalipun akan dibingungkan.

4.18

karmaṇy akarma yaḥ paśyed
akarmaṇi ca karma yaḥ
sa buddhimān manuṣyeṣu
sa yuktaḥ kṛtsna-karma-kṛt

karmaṇi—dalam perbuatan; akarma—tidak melakukan perbuatan; yaḥ—orang yang; paśyet—melihat; akarmaṇi—dalam tidak melakukan perbuatan; ca—juga; karma—perbuatan yang membuahkan hasil; yaḥ—orang yang; saḥ—dia; buddhi-mān—cerdas; manuṣyeṣu—dalam masyarakat manusia; saḥ—dia; yuktaḥ—berada dalam kedudukan rohani; kṛtsna-karma-kṛt—walaupun sibuk dalam segala kegiatan.  

Terjemahan

Orang yang melihat keadaan tidak melakukan perbuatan dalam perbuatan, dan perbuatan dalam keadaan tidak melakukan perbuatan, adalah orang cerdas dalam masyarakat manusia. Dia berada dalam kedudukan rohani, walaupun ia sibuk dalam segala jenis kegiatan.

Penjelasan
Orang yang bertindak dalam kesadaran Krishna sewajarnya bebas dari ikatan karma. Kegiatan orang yang sadar akan Krishna semua dilakukan untuk Krishna. Karena itu, ia tidak menikmati atau menderita efek manapun dari pekerjaan dan dialah yang cerdas dalam masyarakat manusia, walaupun dia sibuk dalam segala jenis kegiatan untuk Krishna. Akarma berarti tanpa reaksi dari pekerjaan. Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan menghentikan kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala karena takut, supaya perbuatan sebagai akibatnya tidak akan menjadi batu rintangan di jalan menuju keinsafan diri. Tetapi orang yang mengakui bentuk pribadi Tuhan mengetahui dengan benar tentang kedudukannya sebagai hamba Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang kekal. Karena itu, ia menekuni kegiatan kesadaran Krishna. Oleh karena segala sesuatu dilakukan demi Krishna, dia hanya menikmati kebahagiaan rohani dalam pelaksanaan pengabdian ini. Diketahui bahwa orang yang menekuni proses ini bebas dari keinginan untuk kepuasan indera-indera pribadi. Rasa pengabdian kekal kepada Krishna menyebabkan seseorang kebal terhadap segala unsur reaksi dari pekerjaan.

4.19


yasya sarve samārambhāḥ
kāma-sańkalpa-varjitāḥ
jñānāgni-dagdha-karmaṇaḿ
tam āhuḥ paṇḍitaḿ budhāḥ

yasya—orang yang; sarve—segala jenis; samārambhāḥ—usaha-usaha; kāma—berdasarkan keinginan untuk kepuasan indera-indera; sańkalpa—ketabahan hati; varjitāḥ—kekurangan; jñāna—pengetahuan yang sempurna; agni—oleh api; dagdha—dibakar; karmaṇām—orang yang pekerjaannya; tam—dia; āhuḥ—menyatakan; paṇḍitam—bijaksana; budhāḥ—orang yang mengenal.

Terjemahan

Dimengerti bahwa seseorang memiliki pengetahuan sepenuhnya kalau setiap usahanya bebas dari keinginan untuk kepuasan indera-indera. Para resi mengatakan bahwa reaksi pekerjaan orang yang bekerja seperti itu sudah dibakar oleh api pengetahuan yang sempurna.

Penjelasan
Hanya orang yang mempunyai pengetahuan sepenuhnya dapat mengerti kegiatan orang yang sadar akan Krishna. Oleh karena orang dalam kesadaran Krishna bebas dari segala jenis kecenderungan untuk memuaskan indera-indera, dimengerti bahwa dia sudah membakar reaksi pekerjaannya dengan pengetahuan sempurna tentang kedudukan dasarnya sebagai hamba Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang kekal. Orang yang sudah mencapai kesempurnaan pengetahuan seperti itu sungguh-sungguh bijaksana. Mengembangkan pengetahuan ini tentang pengabdian kekal kepada Tuhan diumpamakan sebagai api. Begitu api seperti itu dinyalakan, api itu dapat membakar segala jenis reaksi pekerjaan.

4.20

tyaktvā karma-phalāsańgaḿ
nitya-tṛpto nirāśrayaḥ
karmaṇy abhipravṛtto 'pi
naiva kiñcit karoti saḥ

tyaktvā—setelah meninggalkan; karma-phala-āsańgam—ikatan terhadap hasil atau pahala; nitya—selalu; tṛptaḥ—merasa puas; nirāśrayaḥ—tanpa perlindungan apapun; karmaṇi—dalam kegiatan; abhipravṛttaḥ—dengan menjadi sibuk sepenuhnya; api—walaupun; na—tidak; evā—pasti; kiñcit—sesuatupun; karoti—melakukan; saḥ—dia.
Terjemahan

Dengan melepaskan segala ikatan terhadap segala hasil kegiatannya, selalu puas dan bebas, dia tidak melakukan perbuatan apapun yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala, walaupun ia sibuk dalam segala jenis usaha.
Penjelasan
Kebebasan dari ikatan perbuatan tersebut hanya dimungkinkan dalam kesadaran Krishna, apabila seseorang melakukan segala sesuatu untuk Krishna. Orang yang sadar akan Krishna bertindak berdasarkan cinta bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, dia tidak tertarik sama sekali terhadap hasil perbuatan. Ia tidak terikat untuk memelihara Diri-Nya sendiri, sebab segala sesuatu diserahkan kepada Krishna. Dia juga tidak berhasrat memperoleh benda-benda ataupun untuk melindungi benda-benda yang sudah dimilikinya. Dia melakukan tugas kewajiban sebaikbaiknya menurut kemampuannya dan dia menyerahkan segala sesuatu kepada Krishna. Orang yang tidak terikat seperti itu selalu bebas dari reaksi-reaksi sebagai akibat hal yang baik dan hal yang buruk; seolah-olah dia tidak berbuat apa-apa. Inilah tanda akarma, atau perbuatan tanpa reaksi dari kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala. Karena itu, perbuatan apapun yang lain yang kekurangan kesadaran Krishna akan mengikat orang yang mengerjakannya, dan itulah ciri vikarmayang nyata, sebagaimana dijelaskan di atas.

4.21

nirāśīr yata-cittātmā
tyakta-sarva-parigrahaḥ
śārīraḿ kevalaḿ karma
kurvan nāpnoti kilbiṣam

nirāśīḥ—tanpa keinginan untuk mendapatkan hasil; yata—dikendalikan; citta-ātmā—pikiran dan kecerdasan; tyakta—meninggalkan; sarva—semuanya; parigrahaḥ—rasa memiliki harta benda; śārīram—dalam memelihara jiwa dan raga; kevalam—hanya; karma—pekerjaan; kurvan—melaksanakan; na—tidak pernah; āpnoti—memperoleh; kilbisam—reaksi-reaksi dosa.

Terjemahan

Orang yang mengerti bertindak dengan pikiran dan kecerdasan dikendalikan secara sempurna. Ia meninggalkan segala rasa memiliki harta bendanya dan hanya bertindak untuk kebutuhan dasar hidup. Bekerja dengan cara seperti itu, ia tidak dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dosa.

Penjelasan
Orang yang sadar akan Krshna tidak mengharapkan hasil yang baik maupun buruk dalam kegiatannya. Pikiran dan kecerdasannya terkendalikan sepenuhnya. Dia mengetahui bahwa Diri-Nya adalah bagian dari Yang Mahakuasa yang mempunyai sifat seperti Yang Mahakuasa. Karena itu, peranan yang dimainkannya, sebagai bagian dari keseluruhan yang mempunyai sifat yang sama seperti keseluruhan itu, bukan kegiatannya sendiri, tetapi hanya sedang dilakukan oleh Yang Mahakuasa melalui dia. Apabila tangan bergerak, tangan tidak bergerak sendiri, tetapi karena usaha seluruh tubuh. Orang yang sadar akan Krishna selalu digabungkan dengan keinginan Yang Mahakuasa, sebab dia tidak mempunyai keinginan untuk kepuasan indera-indera pribadi. Dia bergerak persis seperti suku cadang dalam mesin. Suku cadang dalam mesin perlu diberi oli dan dibersihkan untuk dipelihara. Begitupula, orang yang sadar akan Krishna memelihara Diri-Nya dengan pekerjaannya hanya supaya Diri-Nya tetap kuat untuk melakukan perbuatan dalam cinta-bhakti rohani kepada Tuhan. Karena itu, ia kebal terhadap segala reaksi dari usaha-usahanya. Bagaikan binatang dia tidak mempunyai hak milik bahkan atas badannya sendiri. Pemilik binatang yang kejam kadang-kadang membunuh binatang yang dimilikinya, namun binatang itu tidak mengajukan keberatan. Binatang itu juga tidak mempunyai kebebasan yang sebenarnya. Orang yang sadar akan Krishna tekun sepenuhnya dalam keinsafan diri. Karena itu, sedikit sekali waktunya untuk memiliki obyek material manapun secara palsu. Dia tidak memerlukan cara yang tidak halal untuk mengumpulkan uang guna memelihara jiwa dan raganya. Jadi, dia tidak dicemari oleh dosa-dosa material seperti itu. Dia bebas dari segala reaksi perbuatannya.

4.22

yadṛcchā-lābha-santuṣṭo
dvandvātīto vimatsaraḥ
samaḥ  siddhāv asiddhau ca
kṛtvāpi na nibadhyate

yadṛcchā—dengan sendirinya; lābha—dengan keuntungan; santuṣṭaḥ—puas; dvandva—hal-hal yang relatif; atītaḥ—dilampaui; vimatsaraḥ—bebas dari rasa iri; samaḥ—mantap; siddhau—dalam sukses; asiddhau—kegagalan; ca—juga; kṛtvā—melakukan; api—walaupun; na—tidak pernah; nibadhyate—dipengaruhi.

Terjemahan

Orang yang puas dengan keuntungan yang datang dengan sendirinya, bebas dari hal-hal relatif, tidak iri hati, dan mantap baik dalam sukses maupun kegagalan, tidak pernah terikat, walaupun ia melakukan perbuatan.
Penjelasan
Orang yang sadar akan Krishna tidak banyak berusaha bahkan untuk memelihara badannya sekalipun. Dia berpuas dengan keuntungan yang diperoleh dengan sendirinya. Dia tidak mengemis maupun meminjam, tetapi dia bekerja dengan jujur sesuai dengan kekuatannya, dan dia berpuas hati dengan apapun yang diperolehnya dengan pekerjaannya yang jujur. Karena itu, dia bebas dalam pencahariannya. Dia tidak membiarkan pengabdian siapapun mengalangi pengabdian pribadinya dalam kesadaran Krishna. Akan tetapi, untuk pengabdian kepada Krishna dia dapat ikut serta dalam jenis perbuatan manapun tanpa diganggu oleh hal-hal relatif dari dunia material. Hal-hal yang relatif di dunia material dirasakan sebagai panas dingin, atau kesengsaraan dan kebahagiaan. Orang yang sadar akan Krishna berada di atas hal-hal yang relatif karena dia tidak ragu-ragu bertindak dengan cara manapun untuk memuaskan Krishna. Karena itu, dia mantap, baik dalam sukses maupun dalam kegagalan. Tanda-tanda tersebut dapat dilihat kalau seseorang sudah memiliki pengetahuan rohani sepenuhnya.

4.23

gata-sańgasya muktasya
jñānāvasthita-cetasāḥ
yajñāyācarataḥ karma
samagraḿ pravilīyate

gata-sańgasya—mengenai orang yang tidak terikat pada sifat-sifat alam material; muktasya—mengenai orang yang mencapai pembebasan; jñāna-avasthita—mantap dalam kerohanian; cetasāh—orang yang kebijaksanaannya; yajñāya—demi yajñā (Krishna); ācarataḥ—bertindak; karma—pekerjaan; samagram—secara keseluruhan; praviliyate—menunggal sepenuhnya.

Terjemahan

Pekerjaan orang yang tidak terikat kepada sifat-sifat alam material dan mantap sepenuhnya dalam pengetahuan rohani menunggal sepenuhnya ke dalam kerohanian.

Penjelasan
Dengan menjadi sadar akan Krishna sepenuhnya, seseorang dibebaskan dari segala hal yang relatif dan dengan demikian ia dibebaskan dari pencemaran sifat-sifat material. Dia dapat mencapai pembebasan karena dia mengetahui kedudukan dasarnya berhubungan dengan Krishna; jadi, pikirannya tidak dapat ditarik oleh hal-hal di luar kesadaran Krishna. Karena itu, apapun yang dilakukannya, dilakukan untuk Krishna. Krishna adalah Visnu yang asli. Karena itu, semua pekerjaannya dapat disebut dengan istilah korban suci, sebab korban suci bertujuan memuaskan Kepribadian Yang Paling Utama, Visnu, Krishna. Reaksi hasil segala pekerjaan seperti itu tentu saja menunggal ke dalam kerohanian, dan seseorang tidak menderita efek-efek material.

4.24

brahmārpaṇaḿ brahma havir
brahmāgnau brahmaṇā hutam
brahmaiva tena gantavyaḿ
brahma-karma-samādhinā

brahma—bersifat rohani; arpaṇam—sumbangan; brahma—Yang Mahakuasa; haviḥ—mentega; brahma—rohani; agnau—di dalam api penyempurnaan; brahmaṇā—oleh sang roh; hutam—dipersembahkan; brahma—kerajaan  rohani; evā—pasti; tena—oleh dia; gantavyam—untuk dicapai; brahma—rohani; karma—dalam kegiatan; samādhinā—dengan menjadi tekun sepenuhnya.

Terjemahan

Orang yang tekun sepenuhnya dalam kesadaran Krishna pasti akan mencapai kerajaan rohani karena dia sudah menyumbang sepenuhnya kepada kegiatan rohani. Dalam kegiatan rohani tersebut penyempurnaan bersifat mutlak dan apa yang dipersembahkan juga mempunyai sifat rohani yang sama.

Penjelasan
Di sini diuraikan bagaimana kegiatan dalam kesadaran Krishna akhirnya dapat membawa seseorang sampai tujuan rohani. Ada berbagai kegiatan dalam kesadaran Krishna, dan semua kegiatan itu akan diuraikan dalam ayat-ayat berikut. Tetapi, sementara ini, hanya prinsip kesadaran Krishna diuraikan. Roh yang terikat, terjerat dalam pengaruh material, pasti akan bertindak dalam suasana material, namun ia harus keluar dari lingkungan seperti itu. Proses yang memungkinkan roh yang terikat keluar dari suasana material ialah kesadaran Krishna. Misalnya, orang yang menderita sakit perut akibat minum susu terlalu banyak disembuhkan dengan makanan lain terbuat dari susu, yaitu susu asam. Roh yang terikat dan terlibat sepenuhnya dalam keduniawian dapat disembuhkan oleh kesadaran Krishna sebagaimana dikemukakan di sini dalam Bhagavad-gita. Proses tersebut pada umumnya dikenal sebagai yajñā, atau kegiatan (korban suci) yang hanya dimaksudkan untuk memuaskan Visnu, atau Krishna. Makin banyak kegiatan dunia material yang dilakukan dalam kesadaran Krishna, atau hanya untuk Visnu saja, makin suasana dirohanikan dengan cara penyerapan sepenuhnya. Kata brahma (Brahman) berarti rohani." Tuhan bersifat rohani, dan sinar dari badan rohani Beliau disebut brahmajyoti, cahaya rohani Beliau. Segala sesuatu yang ada terletak dalam brahmajyoti itu, tetapi apabila jyoti ditutupi oleh khayalan (mayā ) atau kepuasan indera-indera itu disebut material. Tirai material tersebut dapat segera dihilangkan oleh kesadaran Krishna. Jadi, persembahan demi kesadaran Krishna, unsur yang memakan persembahan atau sumbangan seperti itu, proses makan, orang yang menyumbang, dan hasilnyā—semua digabungkan bersama-sama—adalah Brahman, atau Kebenaran Mutlak. Kebenaran Mutlak yang ditutupi oleh mayā  disebut alam. Apabila alam digabungkan demi Kebenaran Mutlak, alam memperoleh kembali sifat rohaninya. Kesadaran Krishna adalah proses untuk mengubah kesadaran khayalan menjadi Brahman atau Yang Mahakuasa. Apabila pikiran khusuk sepenuhnya dalam kesadaran Krishna, dikatakan bahwa pikiran berada dalam samadhi, atau semadi. Apapun yang dilakukan dalam kesadaran rohani seperti itu disebut yajñā, atau korban suci demi Sang Mutlak. Dalam kesadaran rohani seperti itu, orang yang menyumbang, sumbangan, cara sumbangan itu dimakan, pelaksana atau pemimpin pelaksanaan, serta hasil atau keuntungan pada akhirnya—segala sesuatu—menjadi satu dalam Sang Mutlak, Brahman Yang Paling Utama. Itulah cara kesadaran Krishna.

4.25

daivam evāpare yajñaḿ
yoginaḥ paryupāsate
brahmāgnāv apare yajñaḿ
yajñenaivopajuhvati

daivam—dalam menyembah para dewa; evā—seperti ini; apare—beberapa yang lain; yajñām—korban-korban suci; yoginaḥ—para ahli kebatinan; paryupāsate—menyembah secara sempurna; brahma—mengenai Kebenaran Mutlak; agnau—di dalam api; apare—orang lain; yajñām—korban suci; yajñena—oleh korban suci; evā—demikian; upajuhvati—mempersembahkan.
Terjemahan

Beberapa yogi menyembah para dewa yang sempurna dengan cara menghaturkan berbagai jenis korban suci kepada mereka, dan beberapa di antaranya mempersembahkan korban-korban suci dalam api Brahman Yang Paling Utama.

Penjelasan
Sebagaimana diuraikan di atas, orang yang tekun melaksanakan tugas-tugas kewajiban dalam kesadaran Krishna juga disebut seorang yogi yang sempurna atau ahli kebatinan kelas utama. Tetapi ada juga orang lain yang melakukan korban-korban yang serupa dalam sembahyang kepada para dewa, dan ada orang lain lagi yang berkorban kepada Brahman Yang Paling Utama, atau aspek bukan pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, ada berbagai jenis korban suci menurut golongan-golongan yang berbeda. Aneka golongan korban suci yang dilakukan oleh berbagai jenis pelaksana seperti itu hanya menggariskan aneka jenis korban suci secara lahiriah. Korban suci yang sejati berarti memuaskan Tuhan Yang Maha Esa, Visnu, yang juga bernama yajñā. Segala jenis korban suci terdiri dari dua golongan utama yaitu; mengorbankan harta benda material dan korban suci dalam usaha mencari pengetahuan rohani. Orang yang sadar akan Krishna mengorbankan segala harta benda material untuk memuaskan Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan orang lain, yang ingin mendapatkan kesenangan material yang bersifat sementara mengorbankan harta bendanya untuk memuaskan para dewa, misalnya Indra, dewa matahari, dan sebagainya. Orang lain, yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, mengorbankan identitasnya dengan cara menunggal ke dalam keberadaan Brahman yang tidak bersifat pribadi. Para dewa adalah makhluk-makhluk hidup perkasa yang dikuasakan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk memelihara dan mengawasi segala fungsi material seperti memanaskan, menyirami dan menerangi alam semesta. Orang yang tertarik untuk mendapat keuntungan material menyembah para dewa dengan berbagai korban suci menurut ritual-ritual Veda. Mereka disebut bahv-Isvara
vadi, atau orang yang percaya kepada banyak dewa. Tetapi orang lain, yang menyembah aspek tak pribadi Kebenaran Mutlak dan menganggap bentuk-bentuk para dewa bersifat sementara mengorbankan diri individualnya ke dalam api yang paling utama. Dengan demikian mereka mengakhiri keberadaan individualnya melalui cara menunggal ke dalam keberadaan Yang Mahakuasa. Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan seperti itu mengorbankan waktunya dalam angan-angan filsafat untuk mengerti sifat rohani Yang Mahakuasa. Dengan kata lain, orang yang bekerja dengan tujuan mendapat hasil atau pahala untuk dinikmati mengorbankan harta benda materialnya untuk kenikmatan material, sedangkan orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan mengorbankan julukan materialnya dengan maksud menunggal ke dalam keberadaan Yang Mahakuasa. Tempat menghaturkan korban suci dengan api adalah Brahman Yang Paling Utama bagi orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan. Yang dipersembahkan ialah sang diri yang dimakan oleh api Brahman. Akan tetapi, orang yang sadar akan Krishna seperti Arjuna, mengorbankan segala sesuatu untuk memuaskan Krishna, dan dengan demikian, harta benda materialnya berikut Diri-Nya sendiri—segala sesuatu—dikorbankan untuk Krishna. Karena itu, orang yang sadar akan Krishna adalah yogi kelas satu; tetapi ia tidak kehilangan keberadaan pribadinya.

4.26

śrotrādīnīndriyāṇy anye
saḿyamāgniṣu juhvati
śabdādīn viṣayān anya
indriyāgniṣu juhvati

śrotra-ādīni—seperti proses mendengar; indriyāṇi—indera-indera; anye—orang lain; saḿyama—mengekang; agniṣu—di dalam api-api; juhvati—mempersembahkan; śabda-ādīn—getaran suara dan sebagainya; viṣayān—obyek-obyek kepuasan indera-indera; anye—orang lain; indriya—indera-indera; agniṣu—di dalam api-api; juhvati—mereka mengorbankan.

Terjemahan

Beberapa orang [para brahmacari yang tidak ternoda] mengorbankan proses mendengar dan indera-indera di dalam api pengendalian pikiran, dan orang lain [orang yang berumah tangga yang teratur] mengorbankan obyek-obyek indera ke dalam api indera-indera.

Penjelasan
Para anggota empat bagian kehidupan manusia, yaitu, brahmacari, grhastha, vanaprastha, dan sannyāsī, semua dimaksudkan untuk menjadi yogi atau rohaniwan yang sempurna. Oleh karena kehidupan manusia tidak dimaksudkan untuk menikmati kepuasan indera-indera seperti binatang, empat tingkat kehidupan manusia tersusun sedemikian rupa agar seseorang dapat menjadi sempurna dalam kehidupan rohani. Para brahmacari, atau murid-murid di bawah pengawasan guru kerohanian yang dapat dipercaya, mengendalikan pikiran dengan berpantang kepuasan indera-indera. Seorang brahmacari hanya mendengar kata-kata tentang kesadaran Krishna. Mendengar adalah prinsip dasar untuk pengertian; karena itu, seorang brahma cari yang murni sepenuhnya menekuni harer namanukirtanam—memuji dan mendengar kebesaran Tuhan. Dia mengekang Diri-Nya dari getaran suara material. Dengan demikian, pendengarannya digunakan untuk menekuni getaran suara rohani Hare Krishna, Hare Krishna. Begitu pula, orang yang berumahtangga, yang mempunyai sejenis izin untuk kepuasan indera-indera, melakukan perbuatan seperti itu dengan sangat mengendalikan diri. Hubungan suami isteri, mabuk-mabukan dan makan daging adalah kecenderungan umum masyarakat manusia, tetapi orang berumah tangga yang teratur tidak melakukan hubungan suami-isteri maupun kepuasan indera-indera lainnya secara tidak terbatas. Karena itu pernikahan berdasarkan prinsip-prinsip hidup beragama masih ada dalam semua masyarakat yang beradab, sebab itulah cara untuk mengadakan hubungan suami-isteri secara terbatas. Hubungan suami isteri yang terbatas dan tidak terikat seperti ini juga merupakan sejenis yajñā, sebab orang berumah tangga yang mengendalikan diri mengorbankan kecenderungan umum kepuasan indera-indera dalam hatinya demi kehidupan rohani yang lebih tinggi.

4.27

sarvāṇīndriya-karmaṇi
prāṇa-karmaṇi cāpare
ātma-saḿyama-yogāgnau
juhvati jñāna-dīpite
sarvāni—dari semua; indriya—indera-indera; karmaṇi—fungsi-fungsi; prāṇa-karmaṇi—fungsi-fungsi nafas hidup; ca—juga; apare—orang lain; ātma-saḿyama—mengenai pengendalian pikiran; yoga—proses penyambungan; agnau—di dalam api; juhvati—mempersembahkan; jñāna-dīpite—karena keinginan untuk keinsafan diri.

Terjemahan

Orang lain, yang berminat mencapai keinsafan diri dengan cara mengendalikan pikiran dan indera-indera, mempersembahkan fungsi-fungsi semua indera, dan nafas kehidupan, sebagai persembahan ke dalam api pikiran yang terkendalikan.

Penjelasan
Sistem yoga yang disusun oleh Patanjali disebut di sini. Di dalam Yoga-sutra  Patanjali, sang roh disebut pratyagatma dan paragatma. Selama sang roh terikat pada kenikmatan indera-indera, sang roh disebut paragatma, tetapi begitu roh yang sama lepas dari ikatan terhadap kanikmatan indera-indera seperti itu, ia disebut pratyagatma. Sang roh dipengaruhi oleh fungsi-fungsi sepuluh jenis angin yang bekerja di dalam tubuh, dan ini dapat dirasakan melalui sistem nafas. Sistem yoga Patanjali mengajarkan orang tentang bagaimana cara mengendalikan fungsi-fungsi angin di dalam badan dengan cara tekhnis supaya akhirnya semua fungsi angin di dalam menguntungkan untuk menyucikan sang roh dari ikatan material. Menurut sistem yoga tersebut, pratyagatma adalah tujuan terakhir. Pratyagatma tersebut ditarik dari kegiatan di lingkungan alam. Ada hal saling mempengaruhi antara indera-indera dengan obyek-obyek indera, misalnya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, hidung untuk mencium, lidah untuk merasakan, tangan untuk meraba, dan semuanya sibuk seperti itu dalam kegiatan di luar sang diri. Itu disebut fungsi-fungsi praṇavayu. Apanavayu turun ke bawah, vyanavayu bertindak untuk menciutkan dan untuk memperbesar, samanavayu mengatur keseimbangan, udanavayu naik ke atas—dan apabila seseorang sudah dibebaskan dari kebodohan, ia menggunakan segala unsur tersebut dalam usaha mencari keinsafan diri.

4.28

dravya-yajñās tapo-yajñā
yoga-yajñās tathāpare
svādhyāya-jñāna-yajñāś ca
yatayaḥ saḿśita-vratāḥ
dravya-yajñāḥ—mengorbankan harta benda; tapaḥ-yajñāḥ—korban suci dalam pertapaan; yoga-yajñāḥ—korban suci dalam kebatinan terdiri dari delapan bagian; tathā—demikian; apare—orang lain; svādhyāya—korban suci dalam mempelajari Veda; jñāna-yajñāḥ—korban suci dalam memajukan pengetahuan rohani; ca—juga; yatayaḥ—orang yang dibebaskan dari kebodohan; saḿśita-vratāḥ—mengikuti sumpahsumpah dengan tegas.

Terjemahan

Setelah bersumpah dengan tegas, beberapa di antara mereka dibebaskan dari kebodohan dengan cara mengorbankan harta bendanya, sedangkan orang lain dengan melakukan pertapaan yang keras, dengan berlatih yoga kebatinan terdiri dari delapan bagian, atau dengan mempelajari Veda untuk maju dalam pengetahuan rohani.

Penjelasan
Korban-korban suci tersebut terdiri dari berbagai bagian. Ada orang yang mengorbankan harta bendanya dalam bentuk berbagai jenis kedermawanan. Di India, masyarakat pedagang yang kaya atau golongan rājā  membuka berbagai jenis lembaga sosial, misalnya dharmasala, annaksetra, atithisala, anathalaya, dan vidyapitha. Di negaranegara lain juga ada banyak rumah sakit, rumah jompo dan lembaga-lembaga sosial yang serupa yang dimaksudkan untuk membagikan makanan, pendidikan dan pengobatan secara cumacuma untuk orang miskin. Segala kegiatan kedermawanan tersebut disebut dravyamāyayā jñā. Ada pula orang lain yang rela menjalani banyak jenis pertapaan, misalnya candrayana, dan caturmasya untuk naik tingkat dalam kehidupan atau untuk diangkat sampai planet-planet yang lebih tinggi di alam semesta. Proses-proses tersebut menyangkut sumpahsumpah yang tegas untuk hidup di bawah aturan yang ketat. Misalnya, menurut sumpah caturmasya, calon pertapa tidak mencukur jenggot dan kumisnya selama empat bulan dalam satu tahun (Juli sampai Oktober), berpantang makanan tertentu, tidak makan lebih daripada sekali sehari, dan tidak meninggalkan rumahnya. Mengorbankan kesenangan hidup seperti itu disebut tapomāyayā jñā. Ada orang lain lagi yang menekuni berbagai jenis yoga kebatinan, misalnya sistem Patanjali (untuk menunggal ke dalam keberadaan Yang Mutlak), atau hatha-yoga atau astanga-yoga (untuk mencapai kesempurnaankesempurnaan tertentu). Ada beberapa orang yang berjalan ke semua tempat perziarahan yang suci. Segala latihan itu disebut yogayajñā, yaitu berkorban untuk mencapai jenis kesempurnaan tertentu di dunia material. Ada orang lain yang tekun mempelajari berbagai sastera Veda, khususnya Upanisad-upanisad dan Vedanta-sutra, atau filsafat Sāńkhya. Semua kegiatan itu disebut svādhyāyayajñā, atau kesibukan dalam korban suci pelajaran. Semua yogi tersebut tekun dengan setia dalam berbagai jenis korban suci dan mereka mencari status hidup yang lebih tinggi. Akan tetapi, kesadaran Krishna lain daripada kegiatan tersebut, sebab kesadaran Krishna adalah pengabdian langsung kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran Krishna tidak dapat dicapai dengan salah satu di antara jenis-jenis korban suci tersebut di atas, tetapi hanya dapat dicapai atas karunia Tuhan dan para penyembah Tuhan yang dapat dipercaya. Karena itu, kesadaran Krishna bersifat rohani.



4.29

apāne juhvati prāṇaḿ
prāṇe 'pānaḿ tathāpare
prāṇāpāna-gatī ruddhvā
prāṇāyāma-parāyaṇāḥ
apare niyatāhārāḥ
prāṇān prāṇeṣu juhvati

apāne—di dalam udara yang bergerak ke bawah; juhvati—mempersembahkan; prāṇam—udara yang bergerak ke luar; prāṇe—di dalam udara yang bergerak ke luar; apānam—udara yang bergerak ke bawah; tathā—seperti itu juga; apare—lain-lain; prāṇa—mengenai udara yang bergerak ke luar; apāna—dan udara yang bergerak ke bawah; gatī—gerak; ruddhvā—menghentikan; prāṇa-āyāma—semadi yang diprakarsai dengan cara menghentikan segala nafas; parāyaṇāḥ—berminat seperti itu; apare—orang lain; niyata—setelah mengendalikan; āhārāḥ—makan; prāṇān—udara yang keluar; prāṇeṣu—di dalam udara yang keluar; juhvati—korban suci.

Terjemahan

Ada orang lain yang tertarik pada proses menahan nafas agar tetap dalam semadi. Mereka berlatih dengan mempersembahkan gerak nafas ke luar ke dalam nafas yang masuk, dan nafas yang masuk ke dalam nafas yang ke luar, dan dengan demikian akhirnya mereka mantap dalam semadi, dengan menghentikan nafas sama sekali. Orang lain membatasi proses makan, dan mempersembahkan nafas ke luar ke dalam nafas yang ke luar sebagai korban suci.

Penjelasan
Sistem yoga tersebut untuk mengendalikan proses nafas disebut pranayama, dan pada tahap permulaan, sistem itu dipraktekkan dalam sistem hatha-yoga melalui berbagai sikap duduk (āsana). Semua proses tersebut dianjurkan untuk mengendalikan indera-indera dan kemajuan dalam keinsafan rohani. Latihan tersebut menyangkut mengendalikan udara di dalam badan agar arah jalan udaraudara itu dibalikkan. Udara apana bergerak ke bawah, dan udara prana bergerak ke atas. Seorang pranayama yogi melakukan latihan tarik nafas secara terbalik sampai akhirnya arus-arus udara dinetralisir hingga menjadi puraka, keseimbangan. Mempersembahkan nafas yang dihembus ke dalam nafas ditarik disebut recaka. Apabila kedua arus udara telah dihentikan sama sekali, dikatakan seseorang berada dalam kumbhaka-yoga. Dengan berlatih kumbhakayoga, seseorang dapat memperpanjang usia hidup untuk mencapai kesempurnaan dalam keinsafan rohani. Seorang yogi yang cerdas berminat mencapai kesempurnaan dalam hidup ini, tanpa menunggu sampai penjelmaan yang akan datang. Dengan berlatih kumbhaka-yoga, para yogi memperpanjang usia hidup selama bertahun-tahun. Akan tetapi, orang yang sadar akan Krishna selalu mantap dalam cinta-bhakti rohani kepada Tuhan; karena itu, dengan sendirinya ia mengendalikan indera-inderanya. Indera-indera  seorang penyembah selalu tekun dalam pengabdian kepada Krishna. Karena itu, tidak mungkin indera-indera itu mempunyai kesibukan lain. Jadi, pada akhir riwayatnya, secara wajar seorang penyembah dipindahkan ke alam rohani Sri Krishna. Karena itu, seorang penyembah tidak berusaha memperpanjang umurnya. Dia segera diangkat sampai tingkat pembebasan, sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavad-gita (14.26):
māḿ ca yo 'vyabhicāreṇa
bhakti-yogena sevate
sa guṇān samatītyaitān
brahma-bhūyāya kalpate
Orang yang menekuni bhakti yang murni kepada Krishna segera melampaui sifat-sifat alam material dan diangkat sampai tingkat rohani." Orang yang sadar akan Krishna mulai dari tingkat rohani, dan dia senantiasa berada dalam kesadaran seperti itu. Karena itu, dia tidak akan jatuh, dan akhirnya dia segera memasuki tempat tinggal Tuhan. Latihan membatasi makanan dilakukan dengan sendirinya kalau seseorang hanya memakan Krsna-prasādam, atau makanan yang telah dipersembahkan kepada Krishna lebih dahulu. Membatasi proses makan sangat membantu dalam usaha mengendalikan indera-indera. Tanpa mengendalikan indera-indera, tidak mungkin seseorang ke luar dari ikatan material.

4.30

sarve 'py ete yajña-vido
yajña-kṣapita-kalmaṣāḥ
yajña-śiṣṭāmṛta-bhujo
yānti brahma sanātanam

sarve—semuanya; api—walaupun kelihatan lain; ete—ini; yajña-vidaḥ—menguasai tujuan untuk melaksanakan korban-korban suci; yajña-kṣapita—dengan disucikan sebagai hasil pelaksanaan kegiatan seperti itu; kalmaṣāh— dari reaksi-reaksi dosa; yajña-śiṣṭa—dari hasil pelaksanaan yajñā seperti itu; amṛta-bhujaḥ—orang yang sudah merasakan manis yang kekal seperti itu; yānti—mendekati; brahma—Yang Mahakuasa; sanātanam—alam yang kekal.

Terjemahan

Semua pelaksana kegiatan tersebut yang mengetahui arti korban suci disucikan dari reaksi-reaksi dosa, dan sesudah merasakan rasa manis yang kekal hasil korban-korban suci, mereka maju menuju alam kekal yang paling utama.

Penjelasan
Dari penjelasan tersebut di atas tentang berbagai jenis korban suci (yaitu mengorbankan harta benda, mempelajari Veda atau ajaran filsafat, dan pelaksanaan sistem yoga), ditemukan bahwa tujuan semuanya ialah untuk mengendalikan indera-indera. Kepuasan indera-indera adalah akar kehidupan material. Karena itu, kalau seseorang belum mantap pada tingkat diluar kepuasan indera-indera, maka tidak ada kemungkinan dia akan diangkat sampai tingkat kekal dengan pengetahuan penuh, kebahagiaan yang penuh dan kehidupan yang penuh. Tingkat tersebut berada dalam lingkungan yang kekal, atau lingkungan Brahman. Segala korban suci tersebut di atas membantu seseorang supaya Diri-Nya disucikan dari reaksi-reaksi dosa kehidupan material. Dengan kemajuan tersebut dalam kehidupan, seseorang tidak hanya berbahagia dan kaya dalam hidup ini, tetapi pada akhirnya dia juga memasuki kerajaan Tuhan yang kekal, baik ia menunggal ke dalam Brahman yang tidak bersifat pribadi maupun ia bergaul dengan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna.


















 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.31

 

nāyaḿ loko 'sty ayajñasya
kuto 'nyaḥ kuru-sattama

na—tidak pernah; ayam—ini; lokaḥ—planet; asti—ada; ayajñasya—bagi orang yang tidak melakukan korban suci; kutaḥ—dimanakah; anyaḥ—yang lain; kuru-sat-tama—wahai yang paling baik di antara para Kuru.


Terjemahan

Wahai yang paling baik dari keluarga besar Kuru, tanpa korban suci seseorang tidak pernah dapat hidup dengan bahagia baik di planet ini maupun dalam hidup ini: Kalau demikian bagaimana tentang penjelmaan yang akan datang?


Penjelasan

Dalam bentuk kehidupan material manapun, seseorang pasti tidak mengetahui kedudukannya yang sebenarnya. Dengan kata lain, kehidupan di dunia material disebabkan reaksi berganda dari kehidupan kita yang berdosa. Kebodohan menyebabkan kehidupan yang berdosa, dan kehidupan berdosa menyebabkan orang terus berada dalam kehidupan material. Kehidupan manusia ialah satu-satunya jalan yang memungkinkan seseorang keluar dari ikatan tersebut. Karena itu, Veda memberikan kesempatan kepada kita untuk keluar dengan menunjukkan jalanjalan kegiatan keagamaan, kesenangan ekonomi, kepuasan indera-indera yang teratur, dan akhirnya, sarana untuk keluar dari keadaan sengsara sepenuhnya. Jalan keagamaan, atau berbagai jenis korban suci yang dianjurkan di atas, dengan sendirinya memecahkan masalah-masalah ekonomi kita. Dengan pelaksanaan yajñā, kita dapat memperoleh makanan secukupnya, susu secukupnya, dan sebagainya—walaupun jumlah penduduk meningkat. Apabila kebutuhan badan disediakan sepenuhnya, sewajarnya tahap berikutnya ialah memuaskan indera-indera. Karena itu, dalam Veda dianjurkan pernikahan yang suci untuk kepuasan indera-indera secara teratur. Dengan demikian, berangsur-angsur seseorang diangkat sampai tingkat pembebasan dari ikatan material, dan kesempurnaan tertinggi kehidupan pembebasan ialah pergaulan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kesempurnaan dicapai dengan pelaksanaan yajñā (korban suci), sebagaimana diuraikan di atas. Nah, kalau seseorang tidak berminat melakukan yajñā menurut Veda, bagaimana mungkin ia dapat mengharapkan kehidupan yang bahagia bahkan dalam badan ini, apalagi dalam badan lain di planet yang lain? Ada berbagai tingkat kesenangan material di aneka planet surga, dan dalam segala hal, ada kebahagiaan yang tinggi sekali bagi orang yang tekun melakukan berbagai jenis yajñā. Tetapi jenis kebahagiaan tertinggi yang dapat dicapai seseorang ialah Diri-Nya diangkat sampai planet-planet rohani dengan berlatih kesadaran Krishna. Karena itu, kehidupan kesadaran Krishna adalah penyelesaian segala masalah kehidupan material.




4.32

 

evaḿ bahu-vidhā yajñā
vitatā brahmaṇo mukhe
karma-jān viddhi tān sarvān
evaḿ jñātvā vimokṣyase

evam—demikian; bahu-vidhāḥ—berbagai jenis; yajñaḥ—korban suci; vitatāḥ—tersebar; brahmaṇaḥ—dari Veda; mukhe—melalui mulut; karma-jān—dilahirkan dari pekerjaan; viddhi—engkau harus mengetahui; tān—mereka; sarvān—semua; evam—demikian; jñātvā—dengan mengetahui; vimokṣyase—engkau akan mencapai pembebasan.


Terjemahan

Segala jenis korban suci tersebut dibenarkan dalam Veda, dan semuanya dilahirkan dari berbagai jenis pekerjaan. Dengan mengetahui jenis-jenis korban suci tersebut dengan cara seperti itu, engkau akan mencapai pembebasan.


Penjelasan

Berbagai jenis korban suci, sebagaimana dibicarakan di atas, disebut dalam Veda supaya cocok dengan berbagai jenis orang yang bekerja. Oleh karena orang begitu terikat secara mendalam dalam paham jasmani, korban-korban suci tersebut disusun sedemikian rupa supaya seseorang dapat bekerja dengan badan, pikiran atau dengan kecerdasan. Tetapi semuanya dianjurkan supaya akhirnya membawa pembebasan dari badan. Kenyataan ini dibenarkan oleh Krishna di sini dengan sabda dari bibir Beliau Sendiri.



4.33

 

śreyān dravya-mayād yajñāj
jñāna-yajñaḥ parantapa
sarvaḿ karmakhilaḿ pārtha
jñāne parisamāpyate
śreyān—lebih baik; dravya-mayāt—dari harta benda material; yajñāt—daripada korban-korban suci; jñāna-yajñāḥ—korban-korban suci dalam pengetahuan; parantapa—wahai penakluk musuh; sarvam—semua;karma—kegiatan; akhilam—secara keseluruhan; pārtha—wahai putera Pṛthājñāne—dalam pengetahuan; parisamāpyate—memuncak.
                        

Terjemahan

Wahai penakluk musuh, korban suci yang dilakukan dengan pengetahuan lebih baik daripada hanya mengorbankan harta benda material. Wahai putera Pṛthā, bagaimanapun, maka segala korban suci yang terdiri dari pekerjaan memuncak dalam pengetahuan rohani.


Penjelasan

Segala korban suci dimaksudkan untuk mencapai status pengetahuan yang lengkap, kemudian memperoleh pembebasan dari kesengsaraan material, dan akhirnya menekuni cinta-bhakti rohani kepada Tuhan Yang Maha Esa (kesadaran Krishna). Walaupun demikian, ada rahasia mengenai segala kegiatan korban suci tersebut, dan hendaknya orang mengetahui tentang rahasia ini. Kadang-kadang ada berbagai bentuk korban suci menurut kepercayaan tertentu yang dianut oleh pelaksana korban-korban suci itu. Apabila kepercayaan seseorang mencapai pada tahap pengetahuan rohani, maka harus dianggap orang yang melakukan korban-korban suci itu lebih maju daripada orang yang hanya mengorbankan harta benda material tanpa pengetahuan seperti itu; sebab tanpa mencapai pengetahuan, korban-korban suci tetap pada tingkat material dan tidak menganugerahkan berkat rohani. Pengetahuan yang sejati memuncak dalam kesadaran Krishna, tahap pengetahuan rohani tertinggi. Tanpa peningkatan pengetahuan, korban suci hanya merupakan kegiatan material. Akan tetapi, apabila kegiatan tersebut diangkat sampai tingkat pengetahuan rohani, maka segala kegiatan seperti itu memasuki tingkat rohani. Tergantung pada perbedaan kesadaran, kegiatan korban suci kadang-kadang disebut karma-kanda, (kegiatan yang membuahkan hasil) dan kadang-kadang disebut jñānakanda, (pengetahuan dalam usaha mencari kebenaran). Lebih baik apabila tujuan korban suci adalah pengetahuan.


4.34

 

tad viddhi praṇipātena
paripraśnena sevayā
upadekṣyanti te jñānaḿ
jñāninas tattva-darśinaḥ

tat—pengetahuan itu tentang berbagai korban suci; viddhi—cobalah untuk mengerti; praṇipātena—dengan mendekati seorang guru kerohanian; paripraśnena—dengan bertanya secara tunduk hati; sevayā—dengan mengabdikan diri; upadekṣyanti—mereka akan menerima sebagai murid; te—engkau; jñānam—ke dalam pengetahuan; jñāninaḥ—orang yang sudah insaf akan diri; tattva—mengenai kebenaran; darśinaḥ—orang yang melihat.

Terjemahan

Cobalah mempelajari kebenaran dengan cara mendekati seorang guru kerohanian. Bertanya kepada beliau dengan tunduk hati dan mengabdikan diri kepada beliau. Orang yang sudah insaf akan Diri-Nya dapat memberikan pengetahuan kepadamu karena mereka sudah melihat kebenaran itu.


Penjelasan

Jalan keinsafan diri tentu saja sulit. Karena itu, Krishna menasehati kita agar kita mendekati seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya dalam garis perguruan dari Tuhan Sendiri. Tidak seorangpun dapat menjadi guru kerohanian yang dapat dipercaya tanpa mengikuti prinsip garis perguruan rohani tersebut. Krishna adalah guru kerohanian yang asli, dan orang yang termasuk garis perguruan dapat menyampaikan amanat Krishna menurut aslinya kepada muridnya. Tidak ada orang yang menjadi insaf secara rohani dengan membuat proses sendiri, seperti yang telah menjadi mode di kalangan orang bodoh yang berpura-pura. Di dalam Bhagavatam (6.3.19) dinyatakan, dharmam tu saksad-bhagavat-pranitam: jalan dharma diajarkan langsung oleh Tuhan Yang Maha Esa Sendiri. Karena itu, angan-angan atau argumentasi yang hambar tidak dapat membantu untuk membawa seseorang ke jalan yang benar. Seseorang juga tidak dapat maju dalam kehidupan rohani dengan cara mempelajari buku-buku  pengetahuan sendirian. Orang harus mendekati seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya untuk menerima pengetahuan. Seorang guru kerohanian seperti itu harus diterima dengan penyerahan diri sepenuhnya, dan sebaiknya orang mengabdikan diri kepada sang guru kerohanian seperti hamba yang rendah, bebas dari kemasyhuran yang palsu. Memuaskan sang guru kerohanian yang sudah insaf akan Diri-Nya adalah rahasia kemajuan dalam kehidupan rohani. Pertanyaan dan sikap rendah hati merupakan gabungan yang benar untuk mencapai pengertian rohani. Kalau tidak ada sikap rendah hati dan pengabdian diri, maka pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada sang guru kerohanian yang bijaksana tidak akan berhasil. Seseorang harus sanggup lulus ujian sang guru kerohanian dan apabila sang guru kerohanian melihat keinginan yang tulus di dalam hati sang murid, dengan sendirinya beliau menganugerahi murid itu dengan pengertian rohani yang sejati. Dalam ayat ini, mengikuti secara buta dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal, disalahkan. Hendaknya orang tidak hanya mendengar dengan tunduk hati dari guru kerohanian, tetapi ia juga harus mendapat pengertian yang jelas dari beliau, dalam sikap tunduk hati, pengabdian dan pertanyaan. Sewajarnya guru kerohanian sangat murah hati kepada muridnya. Karena itu, apabila sang murid tunduk dan selalu bersedia mengabdikan diri, maka balasan pengetahuan dan pertanyaan menjadi sempurna.


4.35

 

yaj jñātvā na punar moham
evaḿ yāsyasi pāṇḍava
yena bhūtāny aśeṣāṇi
drakṣyasy ātmany atho mayi

yat—yang; jñātvā—mengetahui; na—tidak pernah; punaḥ—lagi; moham—kepada khayalan; evam—seperti ini; yāsyasi—engkau akan pergi; pāṇḍava—wahai putera Pāṇḍu yena—yang memungkinkan; bhūtāni—para makhluk hidup; aśeṣāṇi—semua; drakṣyasi—engkau dapat melihat; ātmani—dalam Roh Yang Utama; atha u—dengan kata lain; mayi—di dalam Diri-Ku.


Terjemahan

Setelah memperoleh pengetahuan yang sejati dari orang yang sudah insaf akan Diri-Nya, engkau tidak akan pernah jatuh ke dalam khayalan seperti ini, sebab dengan pengetahuan ini engkau dapat melihat bahwa semua makhluk hidup tidak lain daripada bagian Yang Mahakuasa, atau dengan kata lain, bahwa mereka milik-Ku.


Penjelasan

Kalau seseorang sudah menerima pengetahuan dari orang yang sudah insaf akan diri, atau orang yang mengetahui tentang hal-hal menurut kedudukannya yang sebenarnya, maka hasilnya ialah bahwa dia mengetahui semua makhluk hidup adalah bagian dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, yang mempunyai sifat yang sama seperti Beliau. Rasa seolah-olah ada kehidupan yang terpisah dari Krishna disebut mayā  (ma—tidak, yā—ini). Ada beberapa orang yang berpikir bahwa tidak ada hubungan antara diri kita dengan Krishna dan mereka menganggap bahwa Krishna hanya tokoh besar dalam sejarah, dan bahwa Yang Mutlak adalah Brahman yang tidak bersifat pribadi. Sebenarnya, sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavad-gita, Brahman yang tidak bersifat pribadi tersebut adalah cahaya pribadi Krishna. Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, adalah sebab segala sesuatu. Dalam Brahma-samhita dinyatakan dengan jelas bahwa Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sebab segala sebab. Berjuta-juta titisan dari Tuhan hanyalah berbagai penjelmaan dari Beliau. Begitu pula, para makhluk hidup juga titisantitisan dari Krishna. Para filosof Mayāvadi mempunyai anggapan yang salah seolah-olah Krishna kehilangan kehidupan pribadi-Nya karena Beliau menjadi banyak dalam banyak penjelmaan-Nya. Anggapan tersebut bersifat material. Di dunia material kita mengalami bahwa apabila sesuatu diceraiberaikan, maka benda itu kehilangan identitasnya yang asli. Tetapi para filosof Mayāvadi tidak mengerti bahwa mutlak berarti satu ditambah satu sama dengan satu, dan satu dikurangi satu sama dengan satu. Inilah kenyataan di dunia mutlak.
   Oleh karena kita kekurangan pengetahuan yang cukup di bidang ilmu pengetahuan yang mutlak, saat ini kita ditutupi dengan khayalan. Karena itu, kita berpikir bahwa diri kita berpisah dari Krishna. Walaupun kita bagian-bagian yang terpisah dari Krishna namun sifat kita tidak berbeda dari Krishna. Perbedaan jasmani para makhluk hidup adalah mayā , bukan kenyataan. Kita semua dimaksudkan untuk memuaskan Krishna. Hanya karena mayā  belaka Arjuna berpikir bahwa hubungan jasmani yang bersifat sementara dengan sanak saudaranya lebih penting daripada hubungan rohaninya yang kekal dengan Krishna. Inilah sasaran seluruh ajaran Bhagavad-gita; yaitu bahwa makhluk hidup, sebagai hamba Krishna yang kekal, tidak dapat dipisahkan dari Krishna, dan apabila makhluk hidup merasakan Diri-Nya sebagai identitas yang tidak mempunyai hubungan dengan Krishna, maka itu disebut mayā. Para makhluk hidup, sebagai bagian-bagian dari Yang Mahakuasa, yang mempunyai sifat sama seperti Yang Mahakuasa, mempunyai tujuan yang harus dipenuhi. Oleh karena mereka melupakan tujuan itu sejak sebelum awal sejarah, mereka berada dalam berbagai jenis badan, sebagai manusia, binatang, dewa, dan berbagai jenis kehidupan lainnya. Perbedaan jasmani seperti itu timbul karena mereka lupa akan pengabdian rohani kepada Tuhan. Tetapi apabila seseorang menekuni pengabdian rohani melalui kesadaran Krishna, ia segera dibebaskan dari khayalan tersebut. Seseorang dapat memperoleh pengetahuan seperti itu hanya dari seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya, dan dengan demikian ia dapat menghindari khayalan bahwa makhluk hidup sejajar dengan Krishna. Pengetahuan sempurna ialah bahwa Roh Yang Utama, Krishna, adalah pelindung utama bagi semua makhluk hidup, dan setelah meninggalkan perlindungan itu, para makhluk hidup dikhayalkan oleh tenaga material dan membayangkan Diri-Nya sendiri mempunyai identitas tersendiri. Jadi, mereka lupa pada Krishna di bawah berbagai taraf identitas material. Akan tetapi, apabila makhluk-makhluk hidup yang berkhayal seperti itu menjadi mantap dalam kesadaran Krishna, dimengerti bahwa mereka sedang menempuh jalan menuju pembebasan, sebagaimana dibenarkan dalam Bhagavatam (2.10.6): muktir hitvanyatharupam svarupena vyavasthitiḥ . Pembebasan berarti menjadi mantap dalam kedudukan dasar sendiri sebagai hamba Krishna yang kekal (kesadaran Krishna).


4.36

 

api ced asi pāpebhyaḥ
sarvebhyaḥ pāpa-kṛt-tamaḥ
sarvaḿ jñāna-plavenaiva
vṛjinaḿ santariṣyasi

api—walaupun; cet—kalau; asi—engkau adalah; pāpebhyaḥ—di antara orang yang berdosa; sarvebhyaḥ—dari semua;  pāpa-kṛt-tamaḥ—orang yang paling berdosa; sarvam—segala reaksi dosa seperti itu; jñāna-plavena—oleh kapal pengetahuan rohani; evā—pasti; vṛjinam—lautan kesengsaraan; santariṣyasi—engkau akan menyeberangi sepenuhnya.


Terjemahan

Walaupun engkau dianggap sebagai orang yang paling berdosa di antara semua orang yang berdosa, namun apabila engkau berada di dalam kapal pengetahuan rohani, engkau akan dapat menyeberangi lautan kesengsaraan.


Penjelasan

Pengertian yang benar tentang kedudukan dasar kita berhubungan dengan Krishna begitu baik sehingga dapat segera mengangkat diri kita dari perjuangan hidup yang berjalan terus di dalam lautan kebodohan. Dunia material ini kadang-kadang diumpamakan sebagai lautan kebodohan dan kadang-kadang sebagai kebakaran di hutan. Akan tetapi di dalam lautan, meskipun seseorang ahli sekali berenang, perjuangan hidup tetap sangat keras. Kalau ada orang yang sedang berjuang untuk berenang, tetapi hampir tenggelam, lalu seseorang datang dan mengangkat orang itu dari lautan, maka yang mengangkat orang itu dari lautan, adalah juru selamat yang paling mulia. Pengetahuan yang sempurna, diterima dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, adalah jalan menuju pembebasan. Kapal kesadaran Krishna sederhana sekali, tetapi sekaligus paling mulia.


4.37

 

yathaidhāḿsi samiddho 'gnir
bhasma-sāt kurute 'rjuna
jñānāgniḥ sarva-karmaṇi

yathā—sebagaimana halnya; edhāḿsi—kayu bakar; samiddhaḥ—berkobar; agniḥ—api; bhasma-sāt—abu; kurute—menjadikan; Arjuna—wahai Arjunajñāna-agniḥ—api pengetahuan; sarva-karmaṇi—segala reaksi terhadap kegiatan material; bhasma-sāt—menjadi abu; kurute—ia menjadikan; tathā—seperti itu.


Terjemahan

Seperti halnya api yang berkobar mengubah kayu bakar menjadi abu, begitu pula api pengetahuan membakar segala reaksi dari kegiatan material hingga menjadi abu, wahai Arjuna.


Penjelasan

Pengetahuan sempurna tentang sang diri dan Diri Yang Utama serta hubungannya diumpamakan sebagai api dalam ayat ini. Api tersebut tidak hanya membakar reaksi dari kegiatan yang tidak saleh, tetapi juga reaksi kegiatan yang saleh, dan mengubah segala reaksi itu menjadi abu. Ada banyak tingkat reaksi; reaksi yang sedang dibuat, reaksi yang sedang berbuah, reaksi yang sudah dicapai dan reaksi a priori. Tetapi pengetahuan tentang kedudukan dasar makhluk hidup membakar segala sesuatu hingga menjadi abu. Apabila pengetahuan seseorang sudah lengkap, maka segala reaksi, baik a priori maupun a posteriori, dibakar. Dalam Veda (Brhadaranyaka Upanisad 4.4.22) dinyatakan, ubhe uhaivaisa ete taraty amatah sadhv asadhuni: Seseorang mengatasi reaksi yang saleh maupun tidak saleh dari pekerjaan."


4.38

 

na hi jñānena sadṛśaḿ
pavitram iha vidyāte
tat svayaḿ yoga-saḿsiddhaḥ
kālenātmani vindati

na—tidak sesuatupun; hi—pasti; jñānena—dengan pengetahuan; sadṛśam—di dalam perbandingan; pavitram—disucikan; iha—di dunia ini; vidyāte—berada; tat—itu; svayam—Diri-Nya sendiri; yoga—dalam bhakti; saḿsiddhaḥ—orang yang sudah matang; kālena—sesudah beberapa waktu; ātmani—dalam Diri-Nya; vindati—menikmati.


Terjemahan

Di dunia ini, tiada sesuatupun yang semulia dan sesuci pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi. Pengetahuan seperti itu adalah buah matang dari segala kebatinan. Orang yang sudah ahli dalam latihan bhakti menikmati pengetahuan ini dalam Diri-Nya sesudah beberapa waktu.

Penjelasan

Apabila kita membicarakan pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi, kita membicarakan hal itu menurut pengertian rohani. Karena itu, tiada sesuatupun yang semulia dan sesuci pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi. Kebodohan menyebabkan ikatan kita, dan pengetahuanlah yang menyebabkan pembebasan kita. Pengetahuan ini adalah buah matang dari bhakti, dan apabila seseorang sudah mantap dalam pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi, maka ia tidak perlu mencari kedamaian ditempat lain, sebab dia menikmati kedamaian dalam Diri-Nya. Dengan kata lain, pengetahuan dan kedamaian ini memuncak dalam kesadaran Krishna.  Itulah kata terakhir Bhagavad-gita.


 

4.39

 

śraddhāvāl labhate jñānaḿ
tat-paraḥ saḿyatendriyaḥ
jñānaḿ labdhvā parāḿ śāntim
acireṇādhigacchati

śraddhā-vān—orang yang setia; labhate—mencapai; jñānam—pengetahuan; tat-paraḥ—sangat terikat padanya; saḿyata—dikendalikan; indriyaḥ—indera-indera; jñānam—pengetahuan; labdhvā—setelah mencapai; param—rohani; śāntim—kedamaian; acireṇa—dalam waktu yang dekat sekali; adhigacchati—mencapai.


Terjemahan

Orang setia yang sudah menyerahkan diri kepada pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi dan menaklukkan indera-inderanya memenuhi syarat untuk mencapai pengetahuan seperti itu, dan setelah mencapai pengetahuan itu, dengan cepat sekali ia mencapai kedamaian rohani yang paling utama.


Penjelasan

Pengetahuan tersebut dalam kesadaran Krishna dapat dicapai oleh orang yang setia yang percaya dengan teguh kepada Krishna. Seseorang disebut setia kalau ia berpikir bahwa hanya dengan bertindak dalam kesadaran Krishna ia dapat mencapai kesempurnaan tertinggi. Keyakinan tersebut dicapai dengan pelaksanaan bhakti, dan dengan mengucapkan mantra Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare / Hare Rāma, Hare Rāma, Rāma Rāma, Hare Hare, yang menyucikan segala hal material yang kotor dari hati seseorang. Di samping ini, terutama seseorang harus mengendalikan indera-inderanya. Orang yang setia kepada Krishna dan mengendalikan indera-inderanya dengan mudah dapat segera mencapai kesempurnaan dalam pengetahuan kesadaran Krishna.


4.40

 

ajñaś cāśraddadhānaś ca
saḿśayātmā vinaśyati
nāyaḿ loko 'sti na paro
na sukhaḿ saḿśayātmanaḥ

ajñaḥ—orang bodoh yang tidak memiliki pengetahuan tentang Kitab-kitab Suci yang baku; ca—dan; aśraddadhānaḥ—tanpa kepercayaan terhadap Kitab-kitab Suci; ca—juga; saḿśaya—mengenai keragu-raguan; ātmā—seseorang; vinaśyāti—jatuh kembali; na—tidak pernah; ayam—di dalam ini; lokaḥ—dunia ini; asti—ada; na—tidak juga; paraḥ—dalam penjelmaan berikut; na—tidak; sukham—kebahagiaan; saḿśaya—ragu-ragu; ātmanāḥ—mengenai orang.


Terjemahan

Tetapi orang yang bodoh dan tidak percaya yang ragu-ragu tentang Kitab-kitab Suci yang diwahyukan, tidak akan mencapai kesadaran terhadap Tuhan Yang Maha Esa; melainkan mereka jatuh. Tidak ada kebahagiaan bagi orang yang ragu-ragu, baik di dunia ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.


Penjelasan

Di antara banyak Kitab Suci baku yang diwahyukan dan dapat dipercaya, Bhagavad-gita adalah yang paling baik. Orang yang hampir seperti binatang tidak mempercayainya, atau ia tidak mengetahui tentang Kitab-kitab Suci yang baku. Walaupun beberapa di antara orang-orang itu sudah mempunyai pengetahuan tentang Kitab-kitab Suci, ataupun dapat mengutip ayat-ayat dari Kitab Suci, sebenarnya mereka tidak percaya kata-kata ini sama sekali. Walaupun orang lain barangkali percaya kepada Kitab-kitab Suci seperti Bhagavad-gita, mereka tidak percaya atau tidak menyembah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna. Orang seperti itu tidak dapat mencapai kedudukan apapun dalam kesadaran Krishna. Mereka jatuh. Di antara semua orang tersebut di atas, dan orang yang tidak percaya selalu ragu-ragu tidak maju sedikitpun. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan sabda Beliau yang diwahyukan tidak menemukan kebaikan apapun di dunia ini, ataupun dalam penjelmaan yang akan datang. Tidak ada kebahagiaan sama sekali bagi mereka. Karena itu, sebaiknya orang mengikuti prinsip-prinsip Kitab-kitab Suci yang telah diwahyukan dengan keyakinan, dan dengan demikian mereka akan diangkat sampai tingkat pengetahuan. Hanya pengetahuan inilah yang akan membantu seseorang agar dia dapat di angkat sampai tingkat-tingkat yang melampaui keduniawian dalam pengertian rohani. Dengan kata lain, orang yang ragu-ragu tidak mempunyai status sama sekali dalam pembebasan rohani. Karena itu, hendaknya seseorang mengikuti langkah-langkah para ācārya yang mulia dalam garis perguruan dan dengan demikian mencapai sukses.



4.41

 

yoga-sannyasta-karmaṇaḿ
jñāna-sañchinna-saḿśayam
ātmavantaḿ na karmaṇi
nibadhnanti dhanañjaya

yoga—oleh bhakti dalam karma-yogasannyasta—orang yang sudah melepaskan ikatan; karmaṇām—hasil perbuatan; jñāna—oleh pengetahuan; sañchinna—dipotong; saḿśayam—keragu-raguan; ātma-vān tam—mantap dalam sang diri; na—tidak pernah; karmaṇi—pekerjaan; nibadhnanti—mengikat; dhanañjaya—wahai perebut kekayaan.


Terjemahan

Orang yang bertindak dalam bhakti, dan melepaskan ikatan terhadap hasil perbuatannya, dan keragu-raguannya sudah dibinasakan oleh pengetahuan rohani sungguh-sungguh mantap dalam sang diri. Dengan demikian, ia tidak diikat oleh reaksi pekerjaan, wahai perebut kekayaan.


Penjelasan

Berkat pengetahuan rohani, orang yang mengikuti ajaran Bhagavad-gita, sebagaimana diajarkan oleh Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sendiri, dibebaskan dari segala keragu-raguan. Sebagai bagian dari Krishna yang mempunyai sifat yang sama seperti Krishna, dia sadar akan Krishna sepenuhnya dan sudah mantap dalam pengetahuan tentang sang diri. Karena itu, tidak dapat diragukan lagi bahwa dia berada di atas ikatan terhadap perbuatan.



4.42

 

tasmād ajñāna-sambhūtaḿ
hṛt-sthaḿ jñānāsinātmanaḥ
chittvāinaḿ saḿśayaḿ yogam
ātiṣṭhottiṣṭha bhārata


tasmāt—karena itu; ajñāna-sambhūtam—dilahirkan dari kebodohan; hṛt-stham—terletak di dalam hati; jñāna—pengetahuan; asinā—oleh senjata; ātmanāḥ—dari sang diri; chittvā—memutuskan; enam—ini; saḿśayam—keragu-raguan; yogam—dalam yoga; ātiṣṭha—jadilah mantap; uttiṣṭha—bangunlah untuk bertempur; Bhārata—wahai putera keluarga Bhārata.


Terjemahan

Karena itu, keragu-raguan yang telah timbul dalam hatimu karena kebodohan harus dipotong dengan senjata pengetahuan. Wahai Bhārata, dengan bersenjatakan yoga, bangunlah dan bertempur.


Penjelasan

Sistem yoga yang diajarkan dalam bab ini disebut Sanatana-yoga, atau kegiatan kekal yang dilakukan oleh makhluk hidup. Di dalam yoga tersebut ada dua bagian perbuatan korban suci; yang satu disebut mengorbankan harta benda, dan yang lain disebut ilmu pengetahuan tentang sang diri, yang merupakan kegiatan yang bersifat rohani murni. Jika kegiatan mengorbankan harta benda material tidak digabungkan demi keinsafan rohani, maka korban suci seperti itu akan bersifat material. Tetapi orang yang melakukan korban suci seperti itu dengan tujuan rohani, atau dalam bhakti, adalah melakukan korban suci yang sempurna. Apabila kita meneliti kegiatan rohani, kita menemukan bahwa kegiatan rohani juga dibagi menjadi dua yaitu; pengertian tentang diri sendiri (atau tentang kedudukan dasar kita), dan kebenaran mengenai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengikuti jalan Bhagavad-gita menurut aslinya dengan mudah sekali dapat mengerti dua bagian penting tersebut dalam pengetahuan rohani. Orang itu tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh pengetahuan sempurna tentang sang diri sebagai bagian dari Krishna yang mempunyai sifat sama seperti Krishna. Pengertian tersebut bermanfaat, sebab orang seperti itu dapat mengerti kegiatan rohani Krishna dengan mudah. Pada awal bab ini kegiatan rohani Krishna dibicarakan oleh Tuhan Yang Maha Esa Sendiri. Orang yang tidak mengerti ajaran Bhagavad-gita tidak mempunyai keyakinan, dan dianggap menyalahgunakan sebutir kebebasan yang telah dianugerahkan kepadanya oleh Tuhan. Walaupun ada pelajaran seperti itu, orang yang tidak mengerti sifat yang sejati Tuhan sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang kekal, penuh pengetahuan dan Mahatahu, pasti adalah orang bodoh nomor satu. Kebodohan dapat dihilangkan secara berangsur-angsur dengan menerima prinsip-prinsip kesadaran Krishna. Kesadaran Krishna dibangkitkan dengan berbagai jenis korban suci kepada para dewa, korban suci kepada Brahman, korban suci dalam berpantang hubungan suami-isteri, dalam hidup berumah tangga, dalam mengendalikan indera-indera, dalam berlatih yoga kebatinan, dalam pertapaan, dalam melepaskan ikatan terhadap harta benda material, dalam mempelajari Veda, dan dengan ikut serta dalam lembaga masyarakat yang disebut varnasramadharma. Segala macam hal tersebut dikenal sebagai korban suci, dan semuanya berdasarkan perbuatan yang teratur. Tetapi dalam semua kegiatan tersebut, unsur yang penting adalah keinsafan diri. Orang yang mencari tujuan itu adalah murid Bhagavad-gita yang sejati, tetapi orang yang ragu-ragu tentang kekuasaan Krishna akan jatuh kembali. Karena itu, dianjurkan agar seseorang mempelajari Bhagavad-gita, atau kitab suci yang lain di bawah bimbingan seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya dengan pengabdian dan penyerahan diri. Seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya, termasuk garis perguruan sejak jaman purbakala, dan dia tidak menyimpang sedikitpun dari ajaran Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana diajarkan berjuta-juta tahun yang lalu kepada dewa matahari. Ajaran Bhagavad-gita telah turun-temurun ke dalam kerajaan di bumi dari dewa matahari. Karena itu, hendaknya orang mengikuti ajaran Bhagavad-gita, sebagaimana diungkapkan dalam Bhagavad-gita sendiri dan waspada terhadap orang yang mementingkan Diri-Nya sendiri, mencari pujian pribadi dan menyesatkan orang lain dari jalan yang sejati. Krishna pasti Kepribadian Yang Paling Utama, dan kegiatan Krishna bersifat rohani. Orang yang mengerti kenyataan ini adalah orang yang sudah mencapai pembebasan sejak awal ia mulai mempelajari Bhagavad-gita.
Demikianlah selesai penjelasan Bhaktivedanta mengenai Bab Empat Srimad Bhagavad-gita perihal Pengetahuan Rohani."

Visit Related Posts Below:















  • Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
    Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
    0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

    SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                           : 0819-9109-9321 (Mahanila)
    WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
    BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

    Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

    Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

    Ditulis Oleh: I Wayan Mesra Ariyawan

    Saat ini anda sedang membaca artikel yang berjudul: " Bhagavad-gita Menurut Aslinya. Bab 4". Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan berguna untuk kita semua. Kami menunggu tanggapan untuk saling berbagi melalui komentar di bawah ini. Mari kita bersama-sama saling berbagi pengetahuan kerohanian untuk meningkatkan kualitas hidup kita yang sesungguhnya. Kami sangat berterimakasih atas semua pihak yang telah berkenan membantu mengembangkan website ini. Semoga usaha kita ini membuahkan hasil yang baik.

    :: Thank you for visiting Sanatana Dharma Indonesia! ::

    Follow him on:

    Reaksi:

    Post a Comment

    Sanatana Dharma Indonesia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk saling berbagi Pengetahuan Kerohanian. Silahkan memberikan masukan positif yang membangun demi kemajuan rohani kita bersama semuanya. Terima kasih atas kunjungan Anda.

    Ads

    • Hare Krishna

      Hare Krishna

    • Hare Krishna

      Hare Krishna

    • Hare Krishna

      Hare Krishna

    • Hare Krishna

      Hare Krishna

    • Hare Krishna

      Hare Krishna

    Please SMS/WhatsApp or Call Mahanila Store:

    WhatsApp SMS

    Link menuju sms plus no HP dan body terisi Link menuju sms body terisi Link Telpon Link Telpon(call me)

    Admin Control Panel

    New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

     

    Horizontal Random Posts


    Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

    Dapatkan Koleksi Terbaru Buku-buku Rohani Di Mahanila Store

    Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola Cakadola

    New Crosscol Bottom



    Mari Kita Saling Membantu Misi Srila Prabhupada Dengan Menyebarkan Buku-buku Rohani

    Semua Buku Ini Dapat Dipesan Di MAHANILA STORE HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM

    Hubungi: Mahanila Das di HP/WA: 0812-7740-3909

    Mahanila Store

    Bhagavad Gita.

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    Krishna Jilid 3

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    Brahmacari

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    Usaha Mencari Pembebasan

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    Upadesamrta

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    A Second Chance

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Dengan Membaca Buku-buku Karya Srila Prabhupada Kita Akan Mendapatkan Pemahaman Spiritual Yang Lebih Mendalam

    Semua Buku Ini Dapat Dipesan Di MAHANILA STORE HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM

    Hubungi: Mahanila Das di HP/WA: 0812-7740-3909

    Mahanila Store

    Bhagavad Gita.

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    Sri Caitanya Caritamrta

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    Kesempurnaan Yoga

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    Gita Mahamatya

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    Upadesamrta

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    Mahanila Store

    A Second Chance

    Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

    DAPATKAN KOLEKSI BUKU TERBARU KAMI

    MAHANILA STORE (SAHABAT BELANJA ANDA)

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Sahabat Belanja Anda

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Sahabat Belanja Anda

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Sahabat Belanja Anda

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Sahabat Belanja Anda

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Sahabat Belanja Anda

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Sahabat Belanja Anda

    DAFTAR BUKU-BUKU TERLARIS

    TELAH TERJUAL DI DISELURUH INDONESIA

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Sahabat Belanja Anda

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Sahabat Belanja Anda

    Mahanila Store

    Avatara

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Di Luar Kelahiran dan Kematian

    Sahabat Belanja Anda

    Mahanila Store

    Dharma Menurut Veda

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Mahanila Store

    Sahabat Belanja Anda

    Today Quotes

    Srimad Bhagavad-gita

    Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

    Iklan Kolom 1

    Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

    Caitanya Caritamrta

    Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

    Iklan Kolom 2

    Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

    The Nectar Of Devotion

    Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

    Iklan Kolom 3

    Mahanila Store Mahanila Store Mahanila Store

    A Second Chance

    Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

    Iklan Kolom 4

    Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

    Related Posts

    Tambahan Crosscol Bawah

    he krishna karuna-sindho dina-bandho jagat-pate gopesa gopika-kanta radha-kanta namo 'stu te
    O Sri Krishna yang hamba cintai, Andalah kawan bagi orang yang berdukacita, Andalah sumber ciptaan. Andalah tuan bagi para gopi dan Andalah yang mencintai Radharani. Hamba bersujud dengan hormat kepada Anda.


    Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

    Bouncing ball Bouncing ball Bouncing ball Sanatana Dharma Indonesia Visit Mahanila Store at http://mahanilastore.blogspot.com
    [Mahanila].. [Mahanila Store].. [Sanatana Dharma Indonesia].. [Mahanila Rent Car Batam].. [Cakadola Store].. [Sadhu Guru Sastra].. [Nityam Bhagavata Sevaya]
    [Cara Belanja].. [Kontak].. [About Us].. [Testimonial]..
    Silahkan Preview Website Favorit Anda!
    Latest Posts

    Copyright © 2013-17 Sanatana Dharma Indonesia. All Rights Reserved.